Thursday, December 19, 2019

Perjuangan Hidup di Puncak Jaya Papua




Bicara keindahan Puncak Jaya, tak ada bandingannya. 



Hidup di daerah baru, tentu fisik sekaligus jiwa raga wajib beradaptasi. Tak mudah memang, karena lokasi tempat residensi yang saya tuju berada di salah satu pedalaman Papua, tepatnya Puncak Jaya.

Suhu dingin siang malam menyapa tubuh. Belum lagi bila rasa dinginnya semakin esktrim! Huh, pegang air saja tak sanggup. Dinginnya sedingin es! Pantas saja masyarakat asli di sini banyak yang jarang mandi. ๐Ÿ˜

Air yang ditampung adalah air hujan. Makin dingin ya, kan. Jadi kalau mau mandi, ya menggunakan air hujan yang ditampung ini. Mata air pegunungan juga ada. Tapi tak setiap rumah dialiri air mata air pegunungan. Solusi lain adalah mandi di sungai. Aih, perjalanan menuju sungai saja saya sudah tak sanggup. Jauhh, bo'! 

Dua minggu saya di sini, hujan selalu menyapa. Air pun melimpah ruah. Meski dinginnya menusuk kalbu sampai buat tubuh bergetar hebat, mau tak mau saya tetap harus 'bersentuhan' dengan air. Wong biasa mandi malah tak mandi, kan tak seru! Belum lagi harus cuci pakaian dan wudhu buat salat. 

Selpih pakai filter biar agak mulusan sedikit ๐Ÿ˜€

Setiap nyentuh air, bibir tak henti-hentinya minta dikuatkan oleh Allah. Ternyata perjuangan selama di sini sangat luar biasa!

Selama 24 jam, saya tak bisa minum kalau bukan air panas. Hampir setiap sore saya menghangatkan tubuh dari panas hasil bakaran kayu atau sampah.

Hari pertama fisik belum menunjukkan tanda-tanda perubahan. Namun keesokan harinya pas bangun tidur, hidung mulai berdarah. Ini terjadi selama dua minggu. Rambut rontok parah hingga ketombean. Padahal sudah lama saya tak ketombean. Terakhir ketombean pas kuliah dulu.  Enam atau tujuh tahun lalu. 

Kepolosan dunia anak

Wajah kering dan terkelupas. Mau pakai bedak? Oh yang ada malah makin buruk tampilan wajah ini. Untungnya saya bawa pelembab wajah. Lumayan menutupi kulit terkelupas, tapi lama-kelamaan terasa perih.

Besoknya, tak hanya wajah yang ganti kulit. Seluruh tubuh pun dapat bagian tanpa terkecuali.๐Ÿ˜”

Belum lagi tangan dan kaki yang mengkerut. Kata suami sudah macam nenek-nenek. Haha. Padahal doi juga sama. Mengkerut sekaligus menua. Menghitamnya sudah pasti dong ya. Tak ada tuh pendatang yang terlihat putih mulus di sini. Semua birong alias malomlom alias menghitam. Hehe. ๐Ÿ˜€

Berlanjut tubuh terkena bentol-bentol merah yang gatalnya luar biasa. Saya berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menggaruk meskipun rasa buat garuk besaaaaar sekali. Huhuhu

Bagaimana dengan bibir? Selama di sini terkelupas parah. Boro-boro pakai sedikit polesan lipstik. Mau bicara saja malu karena terkelupasnya cukup parah. Biasanya dua tiga hari tubuh akan beradaptasi dengan baik selama di tempat baru. Tapi di Papua ini beda, bo! Residensi hampir berakhir, fisik belum kembali seperti sedia kala.

Mana saya tak bawa madu dari rumah. Di sini, saya coba cari madu tapi tak ketemu. Untungnya masyarakat di sini membesarkan hati saya dan berkata, "Itu biasa, Mama!"
Hampir seluruh masyarakat asli yang saya temui menyebut saya, "Mama", karena telah menikah. Memang, di sini semua perempuan yang telah menikah akan dipanggil dengan sebutan Mama.

Bagaimanapun kondisinya, wajib kita nikmati dan syukuri. Betul, toh? Alhamdulillah meski dengan kondisi demikian, saya tidak sampai 'tepar' di atas kasur. Alhamdulillah tak terhingga pada Sang Pencipta. Tugas dapat dilaksanakan dengan baik, petualangan pun terus berlanjut.

Jum'at, 29 November 2019
Jalan Trans Mulia - Wamena
Kabupaten Puncak Jaya

4 comments:

  1. Makiiin seruu ceritanya vaa, btw kupikir dengan suhu udara yang dingin malah bisa buat kulit kita makin putih kaya bule2 gitu, tp ternyata engga yaa. Tapi dinginnya di Puncak Jaya anggap sebagai latihan buat kamu nanti bisa menjelajah bumi Allah yang bersalju. Aamiin ya Rabb

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya teteh. Hitamnya pun gosong. Tapi entah kalau di luar negeri bersuhu dingin lainnya seperti Korea.
      Tapi kita aminkan ya teh.
      Semoga kita bisa menjelajah luasnya ciptaan Allah ini ya teh.

      Delete
  2. Kalau pake domain .com bayarnya gimana mba ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Transfer ke penjual domain, De. Nanti dipandu mereka kok

      Delete

Instagram