Jumat, 16 November 2018

~ Biarkan orang berkata apa ~


Jangan menengok ke belakang, kecuali Anda bermaksud menuju ke sana.” 
Marck Holm



Perkenalkan, aku Eva dari Padangsidimpuan. Saat ini aku berusia 26 tahun. Itu artinya aku tak lagi muda dan aku menyadari itu. Di usia seperti ini, sudah seharusnya aku memiliki pekerjaan tetap dengan penghasilan lumayan. Ya, aku setuju dengan hal itu. Namun, ketika orang-orang di sekitarku menyarankan agar aku kerja di perusahaan, kantor, dan sebagainya, itulah yang membuatku tidak setuju. Mengapa harus kerja pada orang kalau kita bisa mencari penghasilan sendiri?
            Tahun 2010, ketika aku menyelesaikan pendidikan SMA, aku sudah bekerja menjadi karyawan salah satu perusahaan swasta di kota tempat tinggalku. Saat itu, gaji yang aku dapatkan lumayan banyak untuk ukuran remaja berusia 18 tahun. Aku juga menikmati pekerjaanku. Setahun kemudian, aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah sambil bekerja. Tugas kuliah yang semakin banyak membuatku harus menentukan pilihan. Kuliah atau kerja! Dua-duanya sama penting buatku. Namun di tahun ketiga kuliah, aku memutuskan untuk fokus pada pendidikan. Lantas bagaimana aku harus membiayai seluruh kebutuhan hidupku?
            Allah memang Maha Tahu. Sejak tahun 2012, hobi menulis yang kutekuni mulai membuahkan hasil. Awalnya menang lomba, hingga akhirnya aku berhasil menerbitkan berbagai novel yang kutulis di penerbit mayor. Tentu saja honornya lumayan besar. Jauh lebih besar dibanding gaji yang kudapatkan ketika bekerja sebagai karyawan.
            Lantas, aku memilih fokus kuliah sembari tetap menulis. Biasanya menulis hanya sebagai hobi, namun kini hobi tersebut harus bisa menghasilkan, minimal sebanyak gaji yang kudapatkan ketika bekerja dulu.
Berakit-rakit ke hulu
Berenang-renang kemudian
Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian
           
            Tidak mudah mendapatkan penghasilan dari menulis. Apalagi waktu itu aku pindah kampus ke Medan, tidak lagi di kota tempat tinggalku. Itu artinya biaya yang kubutuhkan semakin banyak. Biaya kost, transportasi, makan, uang kuliah, dan sebagainya. Pagi hingga sore, aku fokus belajar. Lalu malamnya kembali menulis. Tidak ada waktu untuk berleha-leha. Sebab aku harus berjuang untuk hidupku.
            Hasil memang berbanding lurus dengan pengorbanan dan perjuangan. Aku berhasil menyelesaikan kuliah dengan IPK Cumlaude, bahkan salah satu terbaik di kampusku. Maha Besar Allah dengan segala bantuan yang Ia berikan padaku.
            Hidup tidak sampai di situ. Aku kembali pulang ke kampung halaman dan memutuskan untuk tetap fokus pada bidang kepenulisan. Saban hari, aku fokus dengan laptop. Kalau tidak perlu, aku tidak keluar rumah. Jika orang kantoran bekerja 8 jam perhari, maka aku juga harus bisa seperti itu. Awalnya tidak mudah. Butuh niat, disiplin, dan kerja keras.
            Namanya penulis or freelancer, penghasilan yang didapatkan tidak tetap setiap bulannya. Kadang dapat jutaan, kadang malah ratusan ribu. Meski begitu, aku menikmati dan mensyukuri apa yang telah aku dapatkan hingga kini.
            Namun, ada saja yang julid dan kepo kepadaku.
            “Kapan kerja? Kok di rumah melulu?”
            “Sekolah tinggi-tinggi jatuhnya cuma di rumah melulu. Tuh si A, teman SDmu dulu sudah kerja di bank.”
            “Tamat SMA kamu diterima di perusahaan swasta. Lah, ini cuma ngeram di rumah. Harusnya kamu malu dong, Va. Adek-adekmu masih kecil. Butuh banyak biaya. Sebagai anak pertama kamu kudu kerja dan dapat penghasilan banyak.”
            Jangankan masyarakat tempat tinggalku. Guru, dosen, bahkan saudara-saudaraku menyayangkan keputusanku yang menurut mereka lebih memilih ‘ngeram’ di rumah. Ya Allah, pengen banget teriak kalau aku di rumah juga cari duit. Bukan berleha-leha atau malas-malasan. Setiap aku jelaskan kalau aku ini penulis, mereka tidak pernah mengerti.
            “Kapan bisa kaya kamu kalau nulis?”
            “Emangnya dapat berapa sih kalau nulis buku?”
            “Ngapain kuliah kalau ilmunya tidak dipergunakan?”
            “Kuliah mahal-mahal tapi tidak membuahkan hasil.”
            “Udah, nulisnya jadi hobi aja. Mumpung kamu masih dua puluhan, masih ada kesempatan buat jatuhin lamaran kerja.”
            Seberapa keras aku berusaha untuk ngejelasin, semakin sering mereka kepoin aku. Kadang aku mikir, mereka nggak ada kerjaan lain, apa? Tapi kalau diambil pusing, jatuhnya malah stress. Entar malah nggak bisa nulis. Nggak bisa dapat penghasilan. Jadi, seiring berjalannya waktu, aku cuma kasih senyuman buat mereka yang bertanya kapan aku kerja.
            Sayangnya hal itu tidak berhenti sampai di situ. Mereka malah beralih pada emak. Bertanya mengapa putri sulungnya dibiarkan menentukan hidup sesuka hati. Untungnya emak bukan tipe beperan. Dengan santai emak menjawab,
            “Zaman sekarang kerja nggak cuma di kantor. Di rumah juga bisa dapat penghasilan. Lagian kasihan kalau dia kerja kantoran kalau gajinya nggak seimbang dan dia nggak bisa mencintai pekerjaannya. Sebagai orangtua, kita harus mendukung keputusan anak. Apalagi yang saya lihat, anak saya benar-benar mencintai pekerjaannya. Masalah rezeki, sudah diatur yang di Atas.”
            Duuuhh emak, selalu terharu dengar ucapan emak. Makasih sudah bela putrimu ini, mak. Emak merupakan single parent. Bapak sudah pergi menghadapNya delapan tahun lalu. Itulah mengapa kami berjuang semaksimal mungkin untuk keluarga kami. Kami memang bukan keluarga berada. Namun kami punya harga diri. Kami tidak pernah meminta-minta. Seberapa pun rezeki yang kami dapatkan, insyaAllah halal dan berkah.
            So, guys, jangan terlalu mudah nge-judge seseorang dalam bidang apapun, termasuk pekerjaan, ya. Kita tidak pernah tahu sejauh apa perjuangannya dalam mencari pekerjaan, ataupun sejauh apa proses yang telah ia lalui untuk itu.

“Pergilah dengan keyakinan menuju cita-citamu. Jalanilah hidup yang kau bayangkan.” 
Henry David Thoreau



Eva Riyanty Lubis 
Barangkali ditulis beberapa bulan lalu ~

Kamis, 15 November 2018




Saya baru tahu ada yang namanya Jambore Literasi sejak bekerja di Dinas Perpustakaan Kota Padangsidimpuan. Saya kira Jambore cuma ada buat anak Pramuka. Ke mana aja ane yak? Jambore Literasi pertama yang saya ikuti ini dihadiri oleh puluhan pegiat literasi dari setiap kota dan kabupaten yang ada di Sumatera Utara. 



Nah, ane sendiri merupakan perwakilan Dinas Perpustakaan Kota Padangsidimpuan bersama dengan Ibu Kadis, Ibu Dijah, Ibu Halima, dan Bang Putra. Selain dari Dinas, kita juga mengajak teman-teman dari Rumah Baca Bercahaya, Bang Syapar, Vina, dan Kak Irdes. Ditambah dengan dua penulis produktif, Bang Budi Hutasuhut dan Sunaryo Jw. Kuota undangan sepuluh orang pun terpenuhi. 



Jambore Literasi 2018 kali ini diadakan di Hotel Torsibohi Sipirok. Acara diadakan sejak Kamis, 01 November 2018 s/d Sabtu, 03 November 2018. 

Satu kata yang saya beri buat panitia acara ini adalah : TERLALU.

Sorry jika terlalu kasar. But, panitia acara memang tidak mempersiapkan acara dengan baik. Koordinasi kepada undangan tidak dilakukan secara menyeluruh. Alhasil, kita yang berasal dari Padangsidimpuan tidak tahu menahu seputar penginapan yang seharusnya di Hotel Torsibohi berubah menjadi Hotel Sitamiang Padangsidimpuan. Hellow? Itu artinya kita bolak-balik dong setiap harinya? 



Beberapa buku di pameran. Penulisnya rata-rata teman facebook semua ☺

Memang hal ini tidak hanya dialami oleh undangan dari Kota Padangsidimpuan saja. Beberapa undangan dari kota/kabupaten lain juga mengalami hal sama. Ini bukan acara main-main, lho. Yang mengadakan Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sumatera Utara. Gubernur dan Bupati Tapanuli Selatan saja diundang. Masa segala persiapan tidak dilakukan dengan matang?

Untunglah dihari kedua, kekesalan di hari pertama sedikit terobati. Meskipun kita harus 'kehilangan' Bang Budi Hutasuhut dan Sunaryo JW yang tidak ingin lagi menghadiri acara ini. 


Sedari kita tiba di lokasi, hujan terus menetes. Belum lagi suhu udaranya yang dingin, membuat saya dan teman-teman bergegas untuk mencari makanan hangat. Alhamdulillah, ketemu juga Uak penjual lontong yang ramah tamah di pasar tradisional di belakang Alun-Alun Sipirok. Karena kita tiba lebih awal di lokasi, bolehlah kita sarapan sejenak di sana.

Selesai sarapan, kami kembali menuju Alun-Alun Sipirok, tempat dilangsungkannya pembukaan acara Jambore Literasi. Segala persiapan telah dilakukan. Mulai dari karpet merah, stand per kota/kabupaten, MC, penari dengan pakaian adatnya, tempat duduk undangan, dan sebagainya. 

Setelah pembukaan oleh beberapa tokoh dan akhiri dengan dongeng oleh Aldi, acara pun diakhiri dengan jepret sana-sini. Pukul 15.00Wib, talkshow seputar literasi diadakan di Gedung Serbaguna Kantor Bupati Tapanuli Selatan.



Talkshownya lumayan bermanfaat. Apalagi narasumbernya sudah berkompeten dan professional dibidangnya. Hanya saja bagi saya yang tidak terlalu suka talkshow nuansa formal, kegiatan ini terbilang boring or membosankan. Sangat kaku khas acara pemerintahan. Untung ada Kak Irdes dan Vina yang bisa diajak sharing seputar banyak hal.  



Bagaimanapun ceritanya, saya tetap mengajak masyarakat Indonesia, khususnya remaja muda kreatif, untuk terus bergiat dalam dunia literasi. Mari budayakan baca sejak dini. Ajak adek-adek untuk cinta buku. Jangan biarkan mereka larut dalam kecanggihan teknologi hingga lupa budaya dan membaca buku. Menebar kebaikan itu tidak sulit asal ada niat dan kemauan.

Salam Literasi, Ayo Membaca!


Selasa, 13 November 2018


Mencari Pekerjaan Tidak Semudah Membalikkan Kedua Telapak Tangan. Butuh niat, usaha, dan kerja keras. 

Mencari pekerjaan bisa terasa sulit bagi banyak orang di Indonesia. Sudah ke sana kemari, belum tentu juga menemukan pekerjaan sesuai keahlian. Tak heran ada banyak pekerja yang harus banting setir untuk bekerja apa saja, yang penting tidak dicap sebagai pengangguran. Masih lekat dibenak saya kala menemukan banyak pekerja di salah satu perusahaan swasta tempat saya dulu bekerja. Mereka sangat bahagia bisa bekerja di perusahaan tersebut, padahal ketika saya mengetahui latar belakang pendidikan mereka, saya benar-benar heran dan tak habis pikir. Bayangkan saja, seorang lulusan keperawatan bekerja sebagai penjaga gudang. Lulusan sarjana hukum sebagai supir, dan sebagainya. 

            Menjadi pengangguran memang tidak menyenangkan. Sudah susah payah menyelesaikan pendidikan, eh malah tidak mendapat pekerjaan yang sesuai dengan keahlian. Apalagi bila Anda tinggal di tempat yang minim fasilitas. Tidak banyak perusahaan, berarti tidak banyak lowongan yang tersedia. Tempat tinggal saya juga demikian. Lowongan pekerjaan sangatlah terbatas. Bisa saja skill yang dimiliki hilang ditelan waktu sebab ketidaktersediaan pekerjaan yang sesuai. 

            Alhamdulillah pada Tuhan Yang Maha Esa karena seiring dengan perkembangan teknologi, mencari pekerjaan juga bisa dilakukan secara online. Jika Anda jeli, ada banyak situs pencari lowongan kerja di internet. Berbagai lowongan kerja ditampilkan. Tinggal bagaimana kita berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan lowongan pekerjaan tersebut.

            Mencari pekerjaan secara online? Memang ada? Yap. Sebut saja JobStreet, salah satu website terbesar di Indonesia yang menampilkan lowongan kerja terbaru. Situs loker lainnya yang direkomendasikan pada Anda selain JobStreet adalah JobsDb, Karir.com, Kalibrr, dan Glints.

Bekerja Membuat Hidup Lebih Berarti 

Mengapa Harus JobStreet?
            JobStreet merupakan salah satu situs pencari kerja online terbesar di Indonesia, bahkan Asia. Selain di Indonesia, situs ini juga membuka cabang di Malaysia, Filipina, Singapura, dan Vietnam. Hadir sejak tahun 1997, JobStreet tercatat memiliki lebih dari 800 tim professional yang terus berusaha mengembangkan situs ini untuk menjadi yang terbaik. Adapun kelebihan lainnya berupa: 


  1. Lowongan kerja yang ditampilkan sangatlah up to date.
  2. Puluhan ribu lowongan kerja yang bisa dipilih sesuai dengan skill dan background.  
  3. Anda bisa memilih lokasi kerja berikut dengan posisi yang ingin diperoleh. 
  4. Ketika lamaran kerja online diajukan, Anda bisa mengetahui apakah perusahaan tersebut telah melihat CV Anda. 
  5. Ketika perusahaan memberikan undangan untuk melakukan interview, infonya akan dikirim melalui email atau sms.


            Untuk mendapatkan pekerjaan dari JobStreet, Anda harus berjuang semaksimal mungkin. Tidak jauh berbeda kala Anda mencoba mendapatkan pekerjaan secara offline. Bedanya, persaingan dalam mendapatkan pekerjaan dari banyak perusahaan berkualitas dari JobStreet jauh lebih tinggi. Bayangkan saya, Anda harus bersaing dengan ratusan pelamar online lainnya. Apalagi lowongan kerja dari perusahaan paling terpercaya alias perusahaan top brand. Sebut saja PT. Astra, PT. Telkom, PT. Mitsubishi, PT. Sharp, dan sebagainya. Pelamar untuk setiap posisi bisa mencapai ribuan! Nah, siapkah Anda bersaing dengan mereka?

Tips Sukses Mendapatkan Pekerjaan di JobStreet 

  1. Pastikan Anda mengisi informasi secara detail. Mulai dari CV, pengalaman, keahlian, kelebihan, posisi yang diinginkan, gaji, dan sebagainya. 
  2. Banyak lowongan berkualitas di JobStreet namun tidak menerima pelamar yang baru saja menyelesaikan kuliah. Jadi, jangan sia-siakan waktu untuk apply lamaran, karena kemungkinan Anda tidak akan diterima. Pastikan Anda memiliki pengalaman dibidang tersebut sebelum memutuskan untuk apply lamaran kerja. Lain halnya bila mereka mencantumkan bahwa mereka terbuka bagi seluruh pelamar, termasuk fresh graduate. 
  3. Pastikan Anda mencantumkan gaji sesuai keahlian dan keinginan. Gaji dari perusahaan yang satu dengan lainnya pasti tidak sama, apalagi dengan perbedaan lokasi. Cari tahu hal ini lebih dahulu. Sebagai contoh, sangat tidak mungkin Anda meminta gaji sebesar Rp 20.000.000 perbulan pada perusahaan baru buka, sedang Anda juga belum memiliki pengalaman pekerjaan pada posisi tersebut.
  4. Banyak berdoa dan tidak menyerah ketika lamaran pekerjaan belum diterima.


Bagaimana Dengan Website Pencari Kerja Lainnya?

  1. JobsDb juga termasuk salah satu situs pencari online yang banyak diminati di Indonesia. Yang menjadi pembeda dengan JobStreet adalah, JobSteet memiliki lowongan pekerjaan lebih banyak dibanding JobsDb.
  2. Karir.com juga dipercaya sangat professional sebab sudah beroperasi sejak tahun 1999. 
  3. Kalibrr berdiri sejak tahun 2012. Meski tergolong baru, situs ini sudah berhasil menarik banyak minat pelamar. Go-Jek, PT. Bank Central Asia, dan sebagainya telah bergabung menjadi mitra Kalibrr.
  4. Glints berpusat di Singapura dan menjadi yang termuda di antara JobStreet, JobsDb, Karir.com, dan Kalibrr. Berdiri sejak tahun 2013 dan terus berusaha membantu pekerja menemukan karir impian mereka.
   

Jumat, 09 November 2018

pixabay.com

Pernah nggak sih kamu ngerasa rezekimu seret? Buat yang dapat gaji bulanan pasti jarang mengalami hal ini. Palingan mereka bermasalah dengan cara mengelola pemasukan. Baru gajian, eh duit wes entek kabeh.

Lain cerita bagi mereka yang memilih  bekerja sebagai freelance. Gaji masuk tak menentu. Kudu dapat proyek dulu. Saya sudah merasakan hal ini. Kadang satu bulan hanya dapat beberapa ratus ribu, bulan berikutnya dapat jutaan. Pokoknya enggak tentu. Kudu pintar cari job. Alhamdulillah kalau ditawari job tiap bulan. Itu artinya ada penghasilan yang diharapkan kedatangannya.

Sebagai penulis, saya harus kirim tulisan ke berbagai media. Baik itu media online, lokal dan nasional. Tidak cukup sampai di situ, saya juga fokus menulis buku. Alhamdulillah selain 'nyodorin' tulisan ke penerbit, saya juga dapat job menulis buku dari mereka setiap bulan. Tak kemanalah saya menuntaskan satu buku satu bulan.

Cukupkah mendapat penghasilan dari situ?

Cukup, pasti cukup. Tergantung bagaimana kita mengelola keuangan. Hanya saja selagi saya masih bisa melakukan banyak hal dan mencintai pekerjaan itu, maka saya akan terus berusaha lebih dan lebih.

Selain menulis di media dan buku, saya juga banting setir *maafkan bahasa saya*  menjadi seorang blogger. Masih junior banget memang. Tapi alhamdulillah memyenangkan. Dari blog sederhana ini,  Allah telah memberi saya pemasukan yang bisa dibilang lumayan.

pixabay.com


Dari beberapa proses yang saya lalui, saya percaya hasil tidak akan mengingkari proses. Tidak ada perjuangan yang sia-sia. Rezeki tidak akan tertukar, kalau tertukar bukan rezeki namanya.

Mengapa saya memaparkan sedikit bagaimana proses saya memperoleh pemasukan?  Karena malam ini saya memperoleh 'hal' yang jauh dari nalar.

Seseorang mengatakan saya telah mengambil rezekinya. Karena saya dia kehilangan pekerjaan. Sakit?  Tentu saja. Padahal saya tidak pernah mengemis meminta kerja. Toh selagi kita baik dan menjalin hubungan kerja sama profesional, pekerjaan akan datang menghampiri.  Saya percaya hal ini sejak dulu. Hukum sebab akibat akan terus berlaku.

Yang ingin saya tekankan di sini, jangan sampai memaksakan sesuatu yang sudah jelas bukan milik kita. Bekerjalah secara profesional. Perjuangankan sesuatu yang memang pantas diperjuangkan. Kalau kali ini bukan rezeki kita, bersabar saja dan tetap terus melakukan yang terbaik.

Misal, saya sudah nulis puluhan buku. Lempar ke penerbit yang satu dan lainnya namun tetap tidak mendapat kabar baik. Sedihkah saya?  Padahal saya rasa tulisan saya sudah bagusss banget. Pasti!  Hanya saja tidak larut di dalamnya. Kalau saya terus-menerus bersedih, belum tentu buku saya berhasil terbit mayor dan bisa didapatkan di seluruh Gramedia. Benar,  tidak?

Begitu juga dengan 'kasus' yang saya hadapi di atas. Menjelaskan panjang lebar juga tidak ada guna bagi mereka yang sudah terkotak-kotak otaknya.

Mari menanggapi segala hal dengan bijak. Terus bekerya and be the best in your life.

Minggu, 28 Oktober 2018


Tulisan Karya Eva Riyanty Lubis ini telah dimuat pada 
Harian Analisa, Rubrik Rebana. Minggu, 12 Januari 2014.

***

Malam itu kamu hadir di hadapanku. Seperti biasa, kamu selalu tampil dengan sangat cantik. Gaun merah polos selutut dipadukan dengan cardigan hitam. Melekat dengan pas dibadanmu yang langsing. Lalu high hells dengan panjang kira-kira 15 sentimeter terpasang di kakimu yang jenjang. Rambut lurus panjangmu kamu biarkan terurai indah. Sesekali kuliat angin merecoki rambutmu. Tapi itu membuatmu semakin cantik di mataku.
            “Bud,” ucapmu pelan. Tapi bisa kusadari ada gores luka di sudut matamu. Nada suaramu juga menyiratkan kecemasan mendalam. Ah, aku tidak pernah bisa melupakan tatapan mata itu. Kedua bola mata terindah yang pernah kutemi.
            “Ada apa, Nisa? Untuk apa kamu datang ke rumahku?” Tanyaku karena kehadirannya yang tiba-tiba. Ini kali pertama kami bertemu sejak putus hubungan lima tahun yang lalu. Aku pikir aku telah salah menerima pesan beberapa jam yang lalu.
            Kamu menggelengkan kepalamu. Tiba-tiba saja ada kristal bening di kedua bola matamu. Aku tercekat. Kaget. Apa ada sesuatu yang menyakitimu, Nisa? Aku tidak pernah melihat hal seperti itu sebelumnya. Bahkan hingga kamu pergi meninggalkanku. 

pixabay.com

Tapi, angin apa yang telah membawamu datang ke rumah kecilku ini? Bagaimana kamu tahu kalau aku ada di sini? Dan tidakkah kamu takut ketahuan olehnya? Ya, dia. Seseorang yang telah merebutmu dariku. Ah, entahlah. Mungkin tidak pantas aku mengatakan atau sekedar membayangkan perihal tersebut.
            “Boleh aku masuk ke dalam rumahmu?” Tanyamu tidak menjawab pertanyaanku.
            Tiba-tiba saja aku tersadar. Kami berdua masih berdiri di teras rumahku. “Oh iya. Silahkan masuk.” Ucapku masih dengan nada pelan.
            Kamu melangkahkan kakimu dengan langkah bak model. Sangat anggun. Menyita seluruh perhatianku. Seperti masa-masa dulu. Bayangan masa lalu tiba-tiba menghantui pikiranku.
            *
            “Kamu yang namanya Budi?”
            Aku mendongakkan wajah kemudian menemukan seorang cewek cantik telah berdiri cukup dekat denganku. Aku sampai keringat dingin dibuatnya. Kaca mataku yang seharusnya dalam kondisi pas di hidung, tiba-tiba saja menjadi longgar sehingga aku harus berulang kali membetulkan letaknya.
            Kamu tersenyum. Sangat manis. Hatiku sampai bergetar di buatnya. Aku tahu siapa kamu. Celia Khoirunnisa. Mahasiswi jurusan komunikasi. Idola mahasiswa di kampus. Selain aktif di bidang sosial, kamu juga jago olahraga, enerjik dan juga ramah. Dan sudah pasti sangat cantik.
            “Budi….” Kamu memandangku lebih dekat. Berusaha menyadarkanku yang masih melongo dengan mimik ndesonya.
            Aku terkesiap. Menjauhkan wajahku darimu. Hal itu membuatmu tertawa kecil. Ah, cantik sekali.
            “A… a… ada apa?” Tanyaku tergugu. Akhirnya bisa juga keluar kalimat kecil itu dari mulutku. Aku berusaha sekuat mungkin untuk menetralisir keadaan. Jujur, aku tidak ingin degupan jantungku yang kencang menimbulkan keributan di dalam perpustakaan ini.
            “Aku dengar-dengar kamu itu seorang penulis ya?” Tanyamu dengan senyum ramah. Cowok mana yang tidak bergetar hatinya di berikan senyum manis seperti itu?
            Aku tidak menjawab. Hanya memberikan anggukan ringan.
            “Wow…. Great! Kamu bisa bantu aku nggak, Bud? Pleaseee….” Kamu memelas dengan wajah penuh harap.
            “Bantu a… apa, Nisa?” Tanyaku kemudian.
            “Bantu aku buat pidato dong. Aku butuh nih. Bisa kan, Bud?”
            Melihat wajahnya yang memelas, aku tak kuasa menolak. Lalu kuanggukkan kepalaku seraya mencoba memberikan sebuah senyuman tipis padanya. Dia tersenyum lebar dan berteriak kegirangan. Ibu perpustakaan sampai melerai kami. Tapi aku sangat bahagia. Bahagia melihat dia bahagia. Rasa-rasanya pada hari itu aku adalah cowok paling beruntung di dunia. Tuhan memang baik. Mengabulkan keinganku untuk bisa melihatmu secara dekat. Aih, ini sudah kuidam-idamkan sejak lama. Aku... aku mengagumimu.
            Sejak pertemuan pertama kami, aku dan dia mulai melakukan pertemuan-pertemuan selanjutnya. Ada saja yang kami bahas. Aku juga ikut dalam kegiatan sosialnya. Dan dia juga ikut dalam seminar-seminar kepenulisan yang selalu kuikuti. Bersama Nisa, aku yang pendiam menjadi banyak bicara dan tersenyum.
            Nisa menularkan energy positif dalam hidupku. Tidak bertemu sehari dengan dia saja rasa-rasanya hariku menjadi hambar. Kami berjanji menjadi sahabat selamanya. Nisa yang mengatakan itu. Padahal sungguh dalam hatiku, aku ingin memilikinya. Ah, pantaskah aku? Aku hanya bisa tersenyum membayangkan itu.
            Sudah menjadi sahabatnya saja merupakan anugrah terindah dalam hidupku.
            “Kamu siapanya Nisa, hah? Asal kamu tahu ya. Saya cowoknya! Jangan dekati dia kalau kamu masih ingin hidup bebas di kampus ini!”
            Sandi membentakku kala aku tengah asyik dengan buku-buku tekhnik di tanganku. Semua penghuni perpustakaan memandang kami dengan penasaran. Ibu Mila sampai memelototkan matanya padaku. Ah nyaliku seketika menciut. Aku tidak ada apa-apanya dibanding cowok itu. Dia tampan dan kaya raya. Sedang aku, hanya seorang manusia yang biasa-biasa saja.
            Sejak saat itu aku mulai menjauhi Nisa. Ah, sakit sekali perasaanku melakukan hal tersebut. Harusnya aku lebih dewasa dan bisa melawan Sandi. Bukankah kami memiliki hak dan dan kewajiban yang sama di kampus ini? Ya, seharusnya aku tidak takut padanya. Pun kepada orang lain. Tapi bisakah aku? Kalau bukan karena Nisa, mungkin aku masih menjadi mahasiswa yang kehadirannya tidak pernah dinggap.
            Tiba-tiba kalimat Nisa terngiang di benakku.

Sumber : pixabay.com

            “Apa sih yang kamu takutkan, Bud? Kenapa harus jadi orang pendiam? Kamu boleh saja nulis semua apa yang ada di dalam pikiranmu, tapi bukankah akan lebih terasa lega kalau kamu mengungkapkannya secara langsung? Ada hal-hal yang lebih baik diungkapkan langsung ketimbang ditulis lho kalau menurut aku.”
            Aku hanya tersenyum malu mendengar ucapan Nisa kala itu. Dan detik itu juga aku berjanji untuk mulai memberanikan diri buka suara. Aku ingin kehadiranku di kampus dirasakan oleh mahasiswa lain. Jujur, sendiri itu sebenarnya tidak pernah mengasikkan.
            Beberapa hari setelah Sandi mengancamku agar tidak berhubungan dengan Nisa, gadis cantik itu malah muncul di teras rumahku.
            “Kenapa ngejauh dari aku sih, Bud? Aku ada salah sama kamu? Aku telpon nggak di angkat. Di sms apa lagi. Aku cek di kelas kamu nggak pernah ada. Kamu ada masalah?” Nisa memberiku pertanyaan bertubi-tubi. Dari sudut hatiku aku merasa kalau dia benar-benar perhatian padaku. Dan aku senang akan hal itu.
            Aku menggelengkan kepala seraya memberikan senyum tipis padanya.
            “Ih kamu gitu banget sama aku. Kita kan sahabatan, masa kamu nggak mau jujur sama aku, Bud? Atau perlu aku tanya sama ibu kamu?”
            “Eh eh jangan. Ibu lagi masak di dapur. Jangan di ganggu.”
            “Ya udah! Makanya cerita.”
            “Nggak ada apa-apa, Nisa.”
            “Bohong!”
            “Suer!”
            “Sandi bilang apa sama kamu?”
            Brrr…. Tubuhku seperti disiram dengan air dingin. Kenapa Nisa bisa tahu?
            “Udah aku bilang. Aku ini sahabat kamu meski baru beberapa bulan. Jadi aku nggak suka kalau kamu diemin aku. Aku bilangin ya Bud. Sandi itu memang pacar aku. Tapi aku lebih percaya kamu dibanding dia. Oke! Ingat itu. Sahabat segala-galanya bagi aku. Soalnya dapet sahabat itu susah!”
            Ya Tuhan…. Apa dia sadar dengan ucapannya? Ucapannya membuatku melayang tinggi. Jauh. Begitu bahagia. Semua penat di dadaku mendadak sirna. Hanya bahagia.
            Setahun persahabatan kami, tiba-tiba Nisa meninggalkanku. Tidak ada kata perpisahan dari mulutnya. Yang aku tahu, dia sudah pergi. Meninggalkan aku, kampus, Sandi, dan teman-temannya. Dan tidak ada seorang pun yang mau memberitahukan keberadaannya padaku. Termasuk orang tuanya.
*

Jumat, 26 Oktober 2018

Xpander Tons of Real Happiness

Haloooo selamat malam 😊 Alhamdulillah kali ini saya akan bercerita sedikit tentang Mitsubishi Xpander, mobil pilihan keluarga bahagia Indonesia. Sudah pada tahu belum Xpander itu seperti apa? Hayoo coba diingat. Mungkin teman-teman pernah melihat iklannya yang kian wara-wiri diberbagai media. Nah, saya sendiri pas melihat Xpander di televisi, langsung jatuh cinta. Desain dan ruang kabinnya benar-benar pas buat keluarga. Dalam hati saya berdoa, "Ya Allah, semoga saya bisa memiliki mobil sekeren ini. Kalau bukan sekarang, dua tiga tahun mendatang juga enggak apa-apa. Pasti bahagia banget bisa bawa keluarga jalan-jalan naik Xpander." 

"Jangan ngimpi punya mobil! Ntar nggak dapat, jatuhnya sedih, galau, kecewa," ucap adik saya Winny yang punya hobi usilin kakaknya. 

Tapi enggak apa-apa dong mimpi. Kan berawal dari mimpi dulu. Siapa tahu mimpi ini akan dijabah olehNya di waktu mendatang. Who knows? 

Dan taadaaaaaa..... 

Allah menjabah doa saya dengan memberikan kesempatan menghadiri event otomotif dari Mitsubishi Xpander di Medan.



Mitsubishi Xpander : Tons of Real Happiness
Jadi pengen cepat lulus nyetir biar bisa bawa mobil keren ini 😙



Saya memang belum memiliki Xpander, tapi foto bareng mobil kece ini saja sudah bahagia banget. Berawal dari kiriman info untuk mengikuti event otomotif buat blogger wilayah Medan oleh teteh saya Septia Khoirunnisa, saya pun mencoba mendaftarkan diri. Eh .... beberapa hari kemudian dapat info bahagia dari Mas Dzulfikar Al-A'la kalau saya terpilih menjadi salah satu blogger yang diundang untuk menghadiri event keren ini.

Ini pengalaman pertama diundang sebagai blogger, jadi rasanya luar biasa kereeeen!


Tidak hanya saya yang joget-joget kegirangan, emak pun turut bersuka cita. Soalnya emak kan tahu kalau saya suka banget pada mobil keluaran Mitsubishi yang satu ini. Alhasil dari kota Padangsidimpuan, berangkatlah saya ke Medan. Terdengar gila kalau kata teman saya. Soalnya kan Padangsidimpuan - Medan butuh waktu kurang lebih 9 jam menggunakan mobil. But, saya benar-benar bahagia. Ini acara keren banget! 

Xpander Tons of Real Happiness merupakan event kelima yang diselenggarakan di Medan lho, guys. Sebelumnya event yang diselenggarakan oleh Mitsubishi Motors ini telah diadakan di Bekasi, Semarang, Surabaya, dan Makassar. Lantas, apakah event ini telah berakhir di Medan? 

Blogger Invasion Medan 19 - 21 Oktober 2018 😍
Pic by Bang Dzul.


No! No! No!
Xpander Tons of Real Happiness oleh Mitsubishi Motors masih bisa kamu nikmati di empat kota lagi. Pekanbaru, Bandung, Palembang, dan Tangerang. Wahhhh.... keren banget yaa. Buat warga Pekanbaru, siap-siap bergabung dengan kita di SKA Mall Pekanbaru, Jl. Soekarno - Hatta, RT.03/RW.03, Delima, Tampan, Kota Pekanbaru, Riau, 28292 tepatnya 02 - 04 November 2018.

Blogger Invasion Medan bareng Bang Rifat Sungkar
Pic by Bang Dzul.



Siapa saja yang bisa gabung event keren ini? Berikut ketentuannya:  

Pemilik unit Xpander. (masuk melalui loket pendaftaran 1)
  • Pemilik unik Xpander menunjukkan STNK original Xpander.  
  • Petugas ToRH akan mengecek STNK original dan mengambil gambar STNK tersebut.  
  • Pemilik unit Xpander mengisi form yang telah disediakan.  
  • Petugas ToRH akan menyerahkan tiket yang nantinya berlaku untuk maksimal 4 orang.   

Pemegang SPK Xpander (masuk melalui loket pendaftaran 1)
  • Pengunjung menunjukkan kode booking via SMS/SPK Original dan KTP/SIM. 
  • Nama pengunjung harus sesuai dengan yang tertera di SPK dan ID.
  • Petugas ToRH mengambil gambar SPK dan ID.
  • Pengunjung pemegang SPK mengisi form registrasi. 
  • Petugas Menyerahkan tiket yang berlaku untuk maksimal 4 orang. 

Pengunjung yang sudah mendaftar melalui WEB ID sebelum mendaftar ke venue (masuk melalui loket pendaftaran 2 - 5)
  • Pengunjung sudah mendaftar dan mempunyai WEB ID sebelum datang ke lokasi acara. 
  • Menunjukkan WEB ID kepada petugas ToRH untuk dilakukan pengecekan. 
  • Setelah data sesuai, pengunjung akan mendapat tiket berlaku maksimal empat orang. 

Pengunjung datang langsung dan belum memiliki WEB ID (masuk melalui loket pendaftaran 2 - 5) 
  • Buka halaman www.tonsofrealhappiness.com 
  • Isi formulir data diri dengan lengkap. 
  • Screen capture halaman "Terima Kasih" setelah register berhasil. 
  • Tunjukkan tiket kepada loket pendaftaran serta mengisi formulir yang telah disediakan. 
  • Petugas ToRH akan menyerahkan tiket yang berlaku maksimal 4 orang.

Kode registrasi alias WEB ID itu contohnya seperti apa sih? 
MPVKURDW adalah kode WEB ID yang saya gunakan ketika hadir di event bergengsi ini. 


Seperti yang saya sebutkan di atas, event ini merupakan event otomotif pertama yang saya ikuti, baik secara umum ataupun blogger. Rasanya sangat bersemangat, fantastis, wonderfull, dan berharap akan terus merasakan ke-luarbiasa-an ini hingga di masa mendatang. 

Xpander Tons of Real Happiness yang diadakan di Plaza Medan Fair 19 - 21 Oktober 2018 berlangsung dengan sukses. Saya sendiri hadir pada hari kedua, 20 Oktober 2018. Tepatnya pada pukul 14.00 Wib. Kebayang dong cuaca lagi panas-panasnya. Biasanya di tempat saya tinggal, anak mudanya lebih memilih berlindung dari paparan sinar matahari. Lah, di sini masyarakat Medan antusias menikmati segala yang dihadirkan oleh Mitsubishi Xpander. Baik itu dari wahana permainan yang telah disediakan, test drive Xpander secara langsung, dan sebagainya. Semua menikmati acara ini tanpa kenal lelah apalagi panas! Sangat luar biasa bagi saya! 

 
Event keren ini pas banget buat ngisi waktu weekend-mu. Bisa bareng keluarga, teman, atau pasangan.


Semangat masyarakat Medan dan juga teman-teman sesama blogger turut tersampaikan pada saya yang masih sangat baru didunia per-blogger-an ini. Bersama adik saya, Winny Khodijah, kami menikmati wahana yang tersedia dengan penuh tawa. Saya jadi ingat pas mencoba permaianan Swing Carousel. Jadi kan seumur hidup saya belum pernah naik wahana ini. Nah, karena penasaran, saya coba naik. Olalaala.... di saat adik saya tersenyum bahkan cekikikan sambil video call bareng temannya, saya malah pusing tujuh keliling dan teriak kepada abang yang bertugas buat hentiin ini wahana. Hahaha.... si abang sampai tertawa geli melihat saya. But, pengalaman ini indah buat dikenang. Hihi.

Ada banyak wahana yang tersedia, lho. Mulai dari Ferrish Wheel, Carousel, Swing Carousel, Mini Xpander Traffict Park, Balloon Pool, Balloon Castle, 360 photo booth, dan berbagai aktivitas seru lainnya. 

Permainan seru buat si kecil

Selain wahana yang tersedia, event keren ini juga turut menghadirkan Keluarga Sasono sebagai "Agent of Happiness", Rifat Sungkar, DJ Yasmin, Zara Leola, Fitra Eri, Ridwan Hanif, dan Diandra Gautama. Penyelenggaranya keren, bintang tamunya berkelas, acaranya menyenangkan. Tak heran dong kalau saya sebut acara ini luar biasa fantastis? 💗

Keluarga Sasono sebagai Agent of Happiness
Pic by Bang Dzul.


Bareng Bang Rifat Sungkar

Mitsubishi Xpander dengan campaign "Xpander Tons of Real Happiness" muncul di televisi sejak 01 Juli 2018. Jadi, masih terbilang baru. Event yang diadakan di sembilan kota besar dalam rangkaian roadshow ini bertujuan untuk menunjukkan keunggulan Xpander sebagai satu-satunya small MPV dengan fitur lengkap, tenaga besar, dan mampu membawa berton-ton kebahagiaan bagi keluarga Indonesia. 

Mengapa harus Mitsubishi Xpander?


Xpander merupakan small MPV yang diperkenalkan pada gelaran GIIAS 2017 dengan keunggulan sebagai berikut: 

  1. Desain atraktif, kombinasi desain eksterior tangguh dan dinamis. Sedangkan desain interior bergaya mewah, modren, lapang, dan memiliki banyak fungsi dan kegunaan. Selain itu, Xpander memiliki body kuat, kokoh, headlamp atraktif, LED position lamp, sekaligus desain Dynamic Shield.  
  2. Ruang kabin lapang dan nyaman, membuatnya menjadi mobil keluarga bahagia pilihan terbaik di Indonesia. 
  3. Interior fungsional dengan ketersediaan penyimpanan serbaguna, sistem operasi, dan berbagai penunjang suasana kabin yang baik untuk penumpang dan pengemudi di dalamnya. 
  4. Kenyamanan dan keamanan berkendara, ditunjang dengan performa berkendara stabil dan nyaman. Ruang kabin senyap, mesin bertenaga efisien, dan beragam fitur keamanan yang tersedia. 



Penghargaan yang Diterima Xpander
  1. Favorite Car by Survey, Gridito Awards 2018. 
  2. Best Low MPV, Gridito Awards 2018. 
  3. Car of The Year, Forum Wartawan Otomotif (FORWOT) Awards 2018.
  4. Car of The Year, Otomotif Awards 2018. 
  5. Carvaganza Editor's Choice Awards 2018. 
  6. Best of The Best MPV, Otomotif Awards 2018. 
  7. Best Low MPV, Otomotif Awards 2018.
  8. New Kid on The Road of The Year, ICar Asia People's choice Awards 2017. 
  9. 1st Winner Favorite Car, GIIAS 2017. 


Pada akhirnya, saya dan adik saya sangat menikmati acara yang diselenggarakan oleh PT. Mitsubishi Motors ini. Saya berharap semoga bisa semakin banyak keluarga yang bisa turut berbahagia bersama Mitsubishi Xpander : Tons of Real Happiness berton-ton kebahagiaan yang dibawa oleh Mitsubishi Xpander untuk keluarga Indonesia. 

Jaya selalu Mitsubishi Xpander 💓

Mitsubishi Xpander: Tons of Real Happiness!

Sampai jumpa di Pekanbaru 02 - 04 November 2018 yaaaa.  😘
 

Follow Me @evariyantylubis