Minggu, 17 Februari 2019


Eva Riyanty Lubis

Horas Tapteng! Negeri Sejuta Pesona Pariwisata.
*
            Ketika memasuki wilayah Tapanuli Tengah, kita akan menemukan banyak bacaan seperti itu di pinggiran jalan. Memang benar adanya. Tapanuli Tengah pantas disebut sebagai tempat gudangnya pariwisata.



            Menurut Pendit (1994), pariwisata dapat dibedakan menurut motif wisatawan untuk mengunjungi suatu tempat. Jenis-jenis pariwisata tersebut adalah wisata budaya, wisata bahari, wisata cagar alam, wisata konvensi, wisata pertanian, wisata buru, dan wisata ziarah. Dapat disimpulkan kalau hampir kesemua jenis wisata itu ada di Tapanuli Tengah.



Kali ini saya akan berbagi pengalaman tentang Pantai Bosur. Mungkin belum banyak orang yang tahu dengan jelas tentang Pantai Bosur. Salah satu pantai indah yang terletak di Pandan, Tapanuli Tengah. Dibuka sejak 07 Desember  2013. Jadi masih tergolong sebagai salah satu tempat pariwisata baru. Berbeda halnya dengan Pantai Pandan dan Pantai Kalangan yang sudah ada sejak lama.

Waktu itu saya dan kesebelas teman kampus lainnya yang mencintai “jalan-jalan” memutuskan untuk menjajaki keindahan Pantai Bosur. Dari Padangsidimpuan kami mengendarai sepeda motor masing-masing, hingga tiba di tempat tujuan yang memakan waktu kurang lebih dua jam.



            Rasa lelah dan dahaga terbayar lunas ketika tiba di Pantai Bosur. Aroma laut memanggil-manggil kami untuk merasakan keindahannya. Hanya bermodal parkir Rp 2.000 per sepeda motor, kami sudah bebas berkeliaran di sana sepuasnya.

            Pantai Bosur memang tidak seperti Pantai Ancol atau Pantai terkenal di Indonesia bahkan dunia yakni Pantai Losari. Namun Pantai ini memberikan kenyamanan, ketenangan dan kepuasan yang tiada terkira. Letaknya yang mudah ditemukan yakni merupakan jalanan umum yang selalu ramai dilalui masyarakat, membuat Pantai ini selalu ramai pengunjung.



            Di kawasan Pantai Bosur, kita juga bisa menemukan food court yang dilengkapi tempat makan yang unik namun berkelas, dagangan souvenir dengan berbagai jenisnya yang bisa menarik hati, mainan anak-anak seperti luncuran, dan rumah tua angker yang dilengkapi dengan berbagai jenis hantu khusus untuk orang-orang yang ingin menguji adrenalin.

            Pantai ini juga semakin cantik karena dibuat dua anjungan dengan menguruk ribuan kubik batu-batu besar ke laut. Ada juga jembatan beton dan kayu yang sengaja dibangun di atas laut. Semuanya masih dengan kondisi yang sangat bagus. Karena hal itu, anjungan selalu ramai dikunjungi oleh pengunjung yang hendak menikmati suasana pantai. Makanya tidak heran juga kalau pengunjung akan mengabadikan momen-momen istemewanya di atas anjungan.



            Dari Pantai Bosur, kita juga bisa berangkat menuju Pulau Mursala. Salah satu pulau yang kini sudah tidak asing lagi bagi masyarakat sebab dulunya pulau itu dijadikan sebagai salah satu setting film “Mursala” yang diperankan oleh artis ibukota Rio Dewanto dan Titie Rajo Bintang.

            Dulunya Pantai Bosur hanyalah sebuah tempat kotor nan menjijikkan sebab dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah. Belakangan pemerintahnya berinisiatif untuk membuat wilayah tersebut menjadi tempat pariwisata. Dan akhirnya sekarang ini kita bisa menikmati keindahan alam yang tiada terkira itu.




            Pantai Bosur juga merupakan tempat yang tepat bagi pengunjung yang ingin menikmati matahari terbenam. Senja di Pantai Bosur membuat kita semakin bersyukur atas keindahan alam yang diberikan oleh Sang Pencipta. Oleh karena itu, bagi teman-teman yang pusing memikirkan tujuan wisata, Pantai Bosur layak untuk dikunjungi.

Sabtu, 16 Februari 2019


Eva Riyanty Lubis
SD Muhammadyah

            Belitung adalah pulau di bagian timur  Sumatera Selatan. Sejak 2002, Bangka Belitung lepas dari Sumatera Selatan dan memutuskan untuk menjadi provinsi sendiri. Belitung sendiri sejak 2003 dibagi menjadi dua kabupaten, yakni Belitung Timur dan Belitung Barat. Awalnya Belitung terkenal sebagai penghasil timah terbesar di Indonesia. Namun tidak semua orang tahu akan hal itu sebelum Belitung terkenal dengan Laskar Pelanginya.

Empat Sekawan

            Siapa yang tidak tahu Laskar Pelangi? Sebuah novel best seller yang ditulis oleh penulis asli dari Belitung, Andrea Hirata. Novel yang hingga kini masih diminati dan dicintai oleh para penikmat sastra. Bahkan novel yang penuh inspirasi ini telah difilmkan dan dicetak dalam berbagai macam bahasa di dunia ini. Sungguh prestasi yang sangat luar biasa.

Selamat Datang ke Belitung 

            Makanya, Belitung sekarang ini menjadi pusat perhatian Indonesia bahkan dunia. Para wisatawan berbondong-bondong untuk menikmati keindahan pulau penghasil timah ini. Dalam Laskar Pelangi, memang dipaparkan sebahagian keindahan pulau Belitung. Namun yang pasti, keindahan Belitung tidak hanya diseputar tulisan itu.


            Pulau kecil seluas 4.800 km2 ini memiliki deretan pantai pasir putih dengan air yang sangat jernih dan dihiasi batu granit berserakan dari ukuran besar hingga sangat besar dengan bentuk-bentuk yang sangat menakjubkan.



            Kalau dari Sumetera Utara menuju Belitung, kita harus dua kali menaiki pesawat. Pertama dari Medan ke Jakarta, transit di Jakarta sebentar, lalu dari Jakarta terbang ke Tanjung Pandan. Perjalanan yang melelahkan itu sungguh akan sirna secara sempurna setelah kita menapaki kaki di bandara H.A.S Hanandjoeddin. Suhu udaranya yang segar membuat kita langsung jatuh cinta.


            Bagi yang terbiasa tinggal di tempat yang penuh polusi dan macet, maka Bangka Belitung adalah obat yang bagus untuk menenangkan diri sendiri. Keluar dari bandara yang tergolong mungil ini, kita akan menemukan orang-orang yang menawarkan jasa penumpangan menuju tempat yang kita inginkan. Oh ya, di Belitung kita tidak akan menemukan angkot, becak ataupun bus. Ojek juga hanya ada beberapa. Jadi transportasi yang utama di sana adalah mobil pribadi yang bisa kita carter. Ada banyak tempat peminjaman mobil di Belitung. Kita hanya harus mengeluarkan kocek kurang lebih Rp 250.000/hari untuk satu mobil. Biaya supir Rp 100.000/hari dan bensin sesuai yang kita dibutuhkan.



            Belitung, meski daerah ini termasuk daerah yang tingkat perekonomian penduduknya kaya, namun kita tidak akan menemukan fasilitas yang biasa kita temukan di kota-kota besar Indonesia di sana. Misalnya mall, alfamart, indomaret, dsb. Pemerintahnya benar-benar memikirkan usaha penduduk sekitar. Sehingga di Belitung banyak kita temukan produksi-produksi menarik dari masyarakat.

Laut dan Batu

            Percayalah, salah satu pantai terindah dan tercantik di Indonesia ada di Belitung. Sebahagian pantai yang ingin kita masuki, tidak memungut bayaran. Sebahagiannya lagi hanya untuk biaya parkir kendaraan. Pantai-pantai di Belitung sangatlah bersih. Penjual makanan berdagang dengan teratur. Sama sekali jauh dari semberawut sehingga pantai disini amatlah enak buat dipandang mata. Belum lagi batu-batu besar yang menghiasi pantai dengan berbagai bentuk menakjubkan.

            Ada batu yang mirip dengan perahu, ada yang mirip dengan sepatu, mirip dengan penyu, burung dan sebagainya. Pokoknya semua memiliki ciri khas sendiri.



            Tak komplit rasanya jika kita pergi ke Belitung namun tidak mengelilingi pulau-pulau kecilnya yang tergolong banyak. Dengan mencarter sebuah perahu kecil yang bayarannya sekitar Rp 400.000 untuk seharian, kita sudah puas menikmati pulau-pulau kecil nan eksotisnya.

            Salah satu pulau yang paling terkenal adalah Pulau Lengkuas. Dari kejauhan, sebelum perahu merapat ke pulau tersebut, puncak mercusuar setinggi 62 meter terlihat menjulang tinggi. Mercuar ini sendiri didirikan oleh Belanda pada tahun 1882 yang hingga kini menjadi simbol Pulau Lengkuas. Bermodal Rp 5.000/orang, kita sudah bisa menaiki mercusuar tersebut dan menikmati keindahan yang tiada tara dari puncaknya.

            Lautan yang jernih berwarna biru dan tosca yang karangnya dapat dilihat dengan jelas membuat kita betah untuk memandang. Belum lagi anginnya yang sepoi-sepoi. Sungguh pemandangan alam yang luar biasa.



            Kalau kita ingin melihat matahari terbit ataupun tenggelam, Pantai Tanjung Tinggi bisa menjadi pilihan. Menaiki batu-batu besarnya sambil menunggu proses muncul atau menghilangnya matahari adalah salah satu anugrah yang luar biasa. Makanya tak heran meski bukan hari libur, tempat ini selalu dipadati pangunjung. Apalagi dulunya tempat ini menjadi salah satu setting di film Laskar Pelangi.

Replika SD Muhammadiyah

            Tempat ini menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi jika datang ke Belitung. Sebuah tempat yang kita kenal dari buku Laskar Pelangi. Tempat Ikal dan kawan-kawan menimba ilmu. Dengan penuh semangat dan tidak pernah putus asa meski banyak cobaan menghadang. Sebelum tiba di Replika SD Muhammadiyah, kita akan disambut dengan hamparan pasir putih. Lalu ada tiang dengan bendera Indonesia di sana.

Museum

            Salah satu museum terkenal di Belitung adalah Museum Kata milik Andrea Hirata yang terletak di Jalan Laskar Pelangi, desa Linggang, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur. 

            Museum ini didirikan Andrea Hirata dari hasil royalty novel-novelnya. Di dalamnya kita akan menemukan bagaimana proses penulisan Laskar Pelangi. Tulisan-tulisannya yang bertebaran di media, Laskar Pelangi dengan berbagai cover berbeda di setiap Negara yang menerbitkannya, penghargaan yang di dapatkan Andrea Hirata, dan masih banyak lainnya.



            Di dapur museum ini juga ada Warung Kuli Kupi lho. Kita boleh memesan kopi seharga Rp 7.000/gelas yang langsung dimasak di tempat itu. Ada juga ruangan untuk belajar menulis. Pokoknya museum ini sangat komplit. Membuat kita sebagai pengunjung terpesona dan percaya kalau kita sendiri pun bisa seperti beliau. Asal selalu memupuk mimpi, bekerja keras dan tidak lupa berdoa pada Sang Pencipta.

            Oh ya, yang susah mendapatkan tulisan Andrea Hirata, di museum ini disediakan novel-novelnya lho. Ada juga baju, bros, dan tempat minum yang berhubungan dengan Andrea Hirata atau Laskar Pelangi.



            Yang pasti masih banyak tempat pariwisata lainnya yang wajib kita kunjungi di Belitung. Jadi kenapa Belitung dikatakan sebagai Balinya Sumatera? Sebab Belitung kaya akan pariwisata. Wisata bahari, wisata underwater, wisata seni dan budaya, wisata agama, dan wisata kuliner. Penginapan di sini juga banyak. Dari yang murah sampai yang berbintang. Belum lagi adat dan budayanya yang masih kental. Makanya jangan heran kalau dikemudian hari para wisatawan lokal maupun luar negeri akan lebih banyak mengunjungi Belitung ketimbang Bali. Sebab Belitung menakjubkan dan luar biasa indahnya.

            Kuakrabi lautmu, Belitung. Panggil aku lagi di hari lain saat kau berkenan.


Belitung, November 2014

Jumat, 15 Februari 2019

What a wonderful view!


Sudah sejak dulu Sumatera Utara hadir dengan sejuta pesona. Berbagai panorama alam ada di sini. Sebut saja Danau Toba sebagai salah satu danau terluas di dunia. Siapa yang tidak tahu Danau Toba? Siapa yang tidak jatuh cinta pada pesonanya? Nah, selain Danau Toba, masih ada Danau lain yang tak kalah indah. Ia adalah Danau Siais yang berada di Batang Toru, Tapanuli Selatan.
Danau Siais adalah panorama alam yang memiliki keindahan tiada terkira. Sayangnya masih banyak masyarakat Sumatera Utara yang belum mengetahui hal ini. Saya sendiri sudah tahu Danau Siais sejak tahun 2013. Ketika itu teman-teman saya berangkat menuju Danau Siais menggunakan sepeda motornya masing-masing. Sayangnya dikarenakan jalanan yang buruk, salah satu sepeda motor teman saya malah terbelah menjadi dua alias tidak bisa lagi digunakan. Hihihi. Belum sempat menikmati keindahan Danau Siais, sudah mendapat cobaan yang otomatis membutuhkan uang banyak untuk menderek sepeda motornya. Karena pengalaman teman-teman saya tersebut, alhasil saya belum berani untuk menginjakkan kaki ke Danau Siais.
Meskipun jalanan ke Danau Siais belum memadai, tetap saja impian untuk menginjakkan wisata alam ini tetap ada di hati. Minggu, 25 November 2018, ketika saya bingung harus melakukan apa di hari libur, saya dan rekan memutuskan untuk melakukan perjalanan menuju Siais. Padahal waktu itu sudah menunjukkan pukul 16.00 Wib. Sebelumnya kita sudah keliling Padangsidimpuan ke sana-kemari, namun tak jua merasakan kepuasan dalam berlibur.
“Bagaimana kalau kita ke Danau Siais?” tanya rekan saya cepat.
“Mauuuu. Let’s go!” teriak saya cepat.

Perjalanan Menuju Danau Siasis, Singgah Sebentar Buat Jepret Cantik 

Perjalanan Menuju Danau Siais
Jadilah kita melakukan perjalanan mendadak menuju Danau Siais dari Sirappak, berlanjut ke Simarpinggan Napa, dan terus berjalan tanpa ada belokan. Ikuti saja jalan setapak yang banyak melewati kebun, hutan, dan rumah penduduk. Dari Simarpinggan, jalanan yang dilalui sudah lumayan bagus. Menurut perkiraan rekan saya yang sudah pernah ke sana, perjalanan ke Danau Siais dari Simarpinggan memang lebih cepat dibanding dari Batang Toru. Kami hanya butuh waktu 1,5 jam ke sana. Selama satu jam perjalanan, jalanan masih lumayan bagus. Nah, setengah jam berikutnya baru penuh bebatuan dan lumpur. Maklum saja, Padangsidimpuan hingga Tapanuli Selatan sedang musim hujan. Makanya jalanan yang belum disemen sangat becek dan penuh lumpur. Selain itu di sepanjang jalan kami banyak menemui pepohonan yang ambruk dan sisa-sisa tanaman bekas banjir bandang.

Air Terjun Sekitaran Danau Siais 

Ternyata beberapa hari yang lalu telah terjadi banjir bandang yang menyebabkan tumbuhan dan tanaman di sini pada tumbang. Memang daerah yang kami lewati sangat rawan banjir dikarenakan banyaknya sungai besar yang melewati daerah ini. Info daerah ini yang sering terkena rawan banjir juga banyak kita temukan di sepanjang jalan. Jadi, kita bisa lebih hati-hati bila tengah melakukan perjalanan kala musim hujan tiba.
Perjalanan kami ini bisa dibilang ekstrim karena sepanjang jalan, hanya kami saja yang lewat. Sepi sekali! Paling hanya mobil berisi sawit. Itu pun terhitung. Belum lagi ketika melewati jalanan becek dan penuh bebatuan. Dalam hati kami berdoa agar sepeda motor yang kami tunggangi tidak mengalami masalah. Tak lucu kalau ban sampai bocor. Mau tempel di mana di tengah hutan begini?
Meskipun perjalanan ini terbilang menantang, tetap saja kami merasa bahagia. Sepanjang mata memandang ada beberapa gunung yang menyapa dengan keindahannya. Mereka tampak indah, agung, anggun, dan dekat untuk diraih. Belum lagi burung-burung indah yang berterbangan dengan suaranya yang merdu, ditambah desiran air sungai yang membuat suasana menjadi lebih syahdu. Sungguh panorama alam yang sangat indah.
“Sebentar lagi kita sampai. Danau Siaisnya ada di belakang gunung ini,” tunjuk rekan saya penuh semangat.
Tentu saja saya juga semakin bersemangat. Embusan angin menerpa wajah kami. Udara yang sangat baik buat paru-paru. Sungguh berbeda dengan di kota, khususnya Padangsidimpuan yang udaranya sudah banyak terkontaminasi polusi.

Selamat Datang di Danau Siais
Pegununangan di Sepanjang Mata Memandang 

Tepat pukul 17.30 Wib, Danau Siais sudah tampak di depan mata. Masya Allah! Luar biasa indah. Ucapan syukur dan takjub terus keluar dari bibir ini. Betapa luar biasanya Allah dengan segala ciptaanNya. Sungguh saya bersyukur bisa melihat Danau Siais yang keindahannya berhasil membuat saya jatuh hati. Sudah sewajarnya tempat wisata ini memiliki tempat di hati masyarakat. Sebelum jalan-jalan mengunjungi tempat wisata yang jauh di sana, mengapa tidak menikmati Danau Siais terlebih dahulu?
Kami berkeliling Danau Siais untuk menemukan tempat yang pas buat rihat sekaligus menikmati keindahannya. Eh, pas di perjalanan, rekan saya bersua dengan tetangga samping rumah. Jadi deh kita singgah sebentar bersama mereka. Waktu itu mereka lagi duduk manis di salah satu warung yang letaknya dekat dengan air terjun. Sewaktu rekan saya bercengkrama dengan mereka, saya langsung berlari kecil menuju air terjun tersebut. What a wonderful place! Danaunya ada, air terjunnya ada, gunungnya indah, ahh komplit sekali.
Lima belas menit kemudian kita berpamitan dengan mereka.
“Kalian sih datang ke Siais pas matahari sudah terbenam. Orang sudah pulang main dari sini, kalian malah baru sampai,” ucap salah seorang kepada kami.
Kami hanya membalasnya dengan senyuman. Namanya juga perjalanan mendadak. Tapi kami senang karena Danau Siais serasa milik pribadi. Tidak banyak orang. Hihi. Namun kami melihat banyak orang yang asyik memancing di danau ini. Sebelum memutuskan duduk di pinggir Danau, kita memesan makanan terlebih dahulu di salah satu warung yang bisa ditemukan di seputaran Danau Siais. Kita pun membawa makanan ini untuk dihalap di pinggir Danau.
Makan di pinggir Danau Siais memang memiliki kenikmatan tiada terduga. Bersama semilir angin, danau yang tenang, dan suasana asri. Siapa yang tidak suka? Siapa yang tidak jatuh cinta? Rasanya betah di tempat ini. Meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 Wib, hari masih terlihat terang. Tetapi kita tidak bisa berlama-lama di sini. Jadi waktu yang ada memang benar-benar dinikmati dan disyukuri.
Kalau misalkan kita masih ada waktu, pasti kita tidak melewatkan untuk pergi melihat ikan keramat. Sayangnya hari sudah gelap. Mungkin di lain waktu kami akan kembali ke tempat ini dan meng-explore segala tempat wisata yang ada.

Kembali ke Padangsidimpuan
Menatap Danau Siais 

Jalan-jalan singkat nan berkesan harus diakhiri. Selesai magrib, kita pun mulai jalan untuk pulang. Untuk rute pulang, kita memilih melalui Batang Toru, sebab jalannya lebih bagus, aman, dan ramai pengendara. Meskipun memakan waktu lebih lama. Lagian kalau pulang dari jalan datang sebelumnya, kami tidak berani. Selain sepi, jalanan rusak, lampu jalannya juga belum ada. Pukul 21.00 Wib, kami tiba di Padangsidimpuan.

Feel Free

Kalau kata saya, Danau Siais wajib buat kamu junjungi. Dijamin pesona Danau Siais akan mampu membuatmu jatuh hati. Alhamdulillah sekali saya sudah berhasil menginjakkan kaki di sini. Tunggu apalagi? Yuk liburan ke Danau Siais.
Padangsidimpuan, 02 Desember 2018

Kamis, 03 Januari 2019

pixabay.com

Assalamualaikum  Warahmatullahi Wabarokatuh.

Alhamdulillah kita masih bisa bersua di tahun 2019. 2018 adalah tahun penuh warna. Ada banyak suka dan duka yang saya alami. Pun demikian dengan Anda yang saya yakini juga merasakan hal sama.
Bagi saya sendiri 2018 itu:
  • Masa kelam karena berakhirnya pernikahan. Nikah muda merupakan salah satu impian saya yang berhasil terwujud. Namun menjadi janda tidak pernah terbersit sama sekali. Syukur tak terhingga saya berhasil lepas dari jerat yang membelenggu. Meski demikian ada banyak pelajaran yang berhasil saya ambil dari pernikahan yang pernah saya rasakan. Biarlah orang berkata apa atas takdir yang saya alami, yang jelas saya sudah sah cerai secara hukum dan agama. Life must going on.
  • Job ini itu. Sudah seperti Drama di Korea ya. Saat si tokoh yang biasanya cewek punya beberapa job part time dalam satu hari. Dari jam sekian, kerja di sini. Lanjut ke sini, dan lainnya. Saya pun berhasil mengalaminya. Bekerja di Dinas Perpustakaan Kota Padangsidimpuan, Apotik Bintang, lanjut nulis buku, dan beberapa proyek yang waktu pekerjannya tidak menentu. It’s amazing sih sebenarnya. Hanya saja ada banyak waktu yang harus dihabiskan ketika bekerja di Dinas Perpustakaan Kota Padangsidimpuan. Sedangkan materi yang diperoleh tidak seberapa. Yang namanya bekerja pastilah kita mengharapkan penghasilan. Apalagi ada banyak kebutuhan dan pengeluaran buat keluarga. Alhasil saya sering kekurangan waktu buat nulis. Padahal nulislah pekerjaan utama saya. So sad.
  • Menulis paling tidak produktif. Mungkin hanya ada 2 buku yang terlesesaikan. Padahal saya menargetkan minimal 1 buku dalam dua bulan.
  • Cinta seutuhnya dari keluarga. Emak adalah orang selalu ada buat saya dalam suka dan duka. Ya Allah, nggak terbayang gimana saya bisa menghadapi masa-masa sulit tanpa ada emak.
  • Kembali melakukan hobi jalan-jalan. 2017 mungkin kehitung jari ke luar kota. Kalaupun ke luar kota, biasanya karena ada kerjaan.
  • Menjadi blogger dan dapat penghasilan dari blog. Yummy dan very amazing!
  • Ikutan test CPNS yang awalnya tidak pernah ada niat buat ikutan. Alhamdulillah berhasil melaju sampai tahap SKB. Tinggal nunggu pengumuman. Minta doanya ya semoga diberi yang terbaik, ya.
Yang jelas, 2018 penuh dengan tantangan. Sebagai perempuan mandiri, saya harus bisa melalui satu demi satu tantangan yang datang menghampiri. Tidak mudah memang, namun siapa bilang tak bisa? 

Kita adalah perempuan tangguh.

Kita adalah perempuan mandiri.

Kita adalah perempuan yang mampu melakukan berbagai hal.

Kita bisa dan kita sangat spesial.

Hanya orang-orang dengan mata tertutup saja yang tak bisa melihat keistimewaanmu.

Just believe your self. 


Semoga 2019 membuat versimu yang jauh lebih baik ke depannya. Mari menyongsong masa depan dengan penuh semangat dan terus berdoa meminta kekuatan pada Allah. Harapan saya sih tidak muluk-muluk.
  1. Bisa nulis buku lebih produktif. 
  2. Kembali mengirim tulisan ke media lokal dan nasional. 
  3. Menjadi blogger produktif. 
  4. Travel around city –sebelum travel around world. 
  5. Lebih banyak waktu buat orang-orang tercinta. 
  6. Do what I love and Love what I Do.

Sabtu, 29 Desember 2018



pixabay.com

 Harian Analisa Medan Rubrik Rebana. Minggu, 07 Desember 2014.
Eva Riyanty Lubis

Mimosa, bagian dari bumi yang lebih tepatnya tidak dianggap ada.
*
Menjelang pagi di bawah kolong jembatan, udara dingin mengalah pada nyala api di atas unggun. Aku hidup di kota yang menampakkan sejuta cerita. Manis dan pahit. Namun pahit ternyata lebih unggul. Akulah, Mimosa. Mereka anggap, diriku seperti sampah kota. Pun aku memang tak mempunyai rumah tetap. Apalagi harta benda lainnya. Miskin? Ah, kamu bahkan boleh menyebut lebih dari itu.
Bagiku, kota ini palsu. Sebab, kota yang tumbuh bersama jelang harapan telah sakit. Hiruknya cakap orang terpecah bagai layar terkembang. Pagi ini, kumulai hariku tuk meraup rupiah. Aku berdiri di dekat halte pada penghujung kabut seraya membawa kotak kayu yang kukalungkan pada leher. Kotak kayu itu berisi aksesoris, hasil buatan tanganku sendiri. Aku tengah menanti orang yang berlalu lalang di depanku. Setidaknya, aku selalu berandai-andai agar daganganku terjual habis untuk hari ini. Meski itu sangat susah terjadi. Atau bahkan tidak pernah terjadi.
Dalam pandangan mataku, kabut menjadikan gedung-gedung, jembatan layang, dan pertokoan tampak samar. Seolah-olah seperti hendak mengepungku.
Lalu kulihat seorang lelaki berpakaian serba putih sedang duduk di halte. Lelaki itu tengah membaca koran hari ini seraya menghisap sebatang rokok. Asap rokok itu kian mengepul dan berarak membelai raut wajahku. Asapnya yang kata orang bisa menjalar penyakit teramat parah bila hisapan itu berkelanjut. Aku menghela napas. Sudah terbiasa. Lalu kucoba untuk mendekatinya. Berharap ada harapan untuk hari ini.
Kini aku telah berdiri tepat di hadapannya. “Pak, apakah Bapak mau membeli dagangan saya?” lelaki itu mengalihkan pandangan kepadaku, lalu melirik sebentar produk yang tengah kuperlihatkan. “Mungkin bisa diberi kepada istri atau putri Bapak.” Tambahku dibarengi sebuah senyuman termanis yang pernah kumiliki.
“Dek, mereka sudah terbiasa membeli aksesoris bermerek,” ucapanya dengan nada lemah lembut, namun tajam. Lelaki itu memeriksa arlojinya. “Saya sedang buru-buru,” ia beranjak pergi. Masuk ke dalam bis yang berhenti di depan kami.
Pada tepian hari sungguh terasa membosankan. Sepanjang hari aku selalu termangu di tepi jalan. Seperti hari-hari sebelumnya, aku harus terbiasa merasakan penatnya hidup ini. Aku bahkan tidak ingat kapan uang benar-benar berpihak kepadaku. Dan dingin pun mulai menyatu bersama kabut, mengiringi rumpun dedaunan yang tertimpa embun.
“Andai saja kedua orangtuaku masih hidup. Mungkin hidupku takkan seperti ini. Yang kulalui dengan kesendirian. Luntang-lantung tak terarah.”
Kulangkahkan kaki menyusuri jalanan kota di atas trotoar basah. Inilah Kota Metropolitan. Kota yang kejam. Cukup aku saja yang merasakan kekejaman ini. Dulu, bapak meninggal di kota ini karena amukan masa. Gara-gara dituduh sebagai maling, tapi itu tidak benar. Malah yang menuduh bapak adalah maling sebenarnya.
Lalu, aku mulai memasuki area rumah yang begitu kumuh dan terpencil. Melewati gang rumah yang panjangnya sekitar satu meter. Rumah itu diapit oleh gedung-gedung yang menjulang tinggi bak permadani istana. Jalanan becek. Genangan air mengapung di atas jalan yang berkerikil. Sejenak, kutajamkan pendengaran. Aku mendengar senandung nyanyian yang mengurai sunyi. Sangat merdu. Lalu kulangkahkan kakiku lebih jauh ke dalam gang sempit. Pula melewati area perkebunan luas.
Di beranda rumah, kulihat sosok perempuan tua yang sedang duduk di atas dipan kayu. Perempuan itu begitu renta. Rambutnya tergelung ke atas. Tampak tumbuh uban pada rambutnya. Kuperhatikan perempuan itu tengah memandangi pakaian yang sudah tak layak pakai. Nampak raut wajahnya sedang bersedih. Kuputuskan tuk menghampirinya. Sekedar bercengkerama, bilamana ia mau membagi kisah sedihnya padaku.

Sabtu, 22 Desember 2018

pixabay.com


Harian Waspada Rubrik Cemerlang. Minggu, 30 November 2018.
Eva Riyanty Lubis

            “Besok aku pulang kampung. Mungkin akan menetap selamanya disana. Kamu ikut, Merlyn?”
            Sosok lelaki bertubuh tambun itu tampak melongo.
Kanua[1] nggak salah? Kanua sudah jadi orang terkenal di Jakarta ini. Masa mau kembali ke kampung Simirik yang jadul itu? Gimana dengan kelanjutan mimpi kanua yang mau go International?” Merlyn menatap gadis cantik di hadapannya tanpa berkedip.
“Aku capek, Merlyn. Aku kangen kampung,” ucap gadis itu pelan.
“Untuk mendapatkan uang ya musti capek. Gimana sih kanua? Akika[2] juga banting tulang tau!” Merlyn menatap gadis itu kesal.
“Uang bukan segalanya. Harusnya kamu ngerti itu!” gadis itu membentak Merlyn dan kemudian berlalu dari hadapannya.
“Deeeevv!!! Jangan pergi! Kontrak kita belum habis!” teriak Merlyn. Sayang, gadis manis itu telah menghilang di balik pintu.
Sejak tamat SMA, Devi diboyong Merlyn, pemilik music production terkemuka di Jakarta. Sebenarnya Merlyn juga berasal dari kampung Simirik. Hanya saja sejak ia sukses, ia tidak lagi mengakui kampung Simirik sebagai kampung halamannya.
Ketika itu Devi sedang bermain gitar sembari bernyanyi, Merlyn yang kebetulan lewat di depan Devi, langsung tertarik dan mengajak Devi bekerja sama. Awalnya Devi menolak. Tetapi karena paksaaan bapak, akhirnya Devi mengiyakan tawaran Merlyn.

Kampung Simirik
Devi menginjakkan kakinya di kampung yang telah lima tahun ia tinggalkan. Masih sama seperti dulu. Hamparan sawah yang tengah menguning menyambut kedatangan Devi. Devi tersenyum dalam hati. Beberapa menit kemudian bocah- bocah kecil serta teman sepermainannya dulu datang menyerbunya. Mereka adalah Riski, Juliana, Basuki, Fitri, dan Mara.
Ya, mereka teman Devi. Teman senasib seperjuangan yang Devi tinggalkan. Mereka berpelukan. Tertawa bersama-sama. Sampai tidak sadar kalau mereka masih berada di pinggir jalan.
“Deviiiiiii!!!”
Devi menoleh ke arah datangnya suara.
“Kak Lamtiur, Kak Butet,” seru Devi sumringah.
“Wah…. Ternyata benaran kamu. Kamu dah besar ya. Makin cakep. Suer dah, aku aja sama Butet tadi kebingungan. Takut salah orang. Gimana di Jakarta? Katanya kamu udah jadi musisi terkenal? Wih, kirain nggak mau lagi pulang kampung,” Kak Lamtiur mengoceh panjang lebar. Sedangkan Kak Butet hanya angguk-angguk kepala.
Devi tersenyum manis. “Kak, Devi kan asli dari kampung. Devi bukan kacang lupa kulitnya.” 
“Ok, ok. Kami percaya sama kamu. Nanti kita harus foto-foto. Adek-adekmu di rumah pada ngefans sama kamu. Sanalah cepat ke rumah. Mereka pasti kaget melihat artis terkenal pulang kampung.”
Devi tersenyum manis.
“Teman-teman, reuniannya kita sambung nanti aja ya. Devi udah kangen ama Emak dan Bapak. Nggak apa-apa kan?”
*
Devi memandang rumah megah di hadapannya. Ya, rumah termegah di kampung Simirik. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan yang ia tinggalkan lima tahun lalu.
Assalamua’laikum.”
Waa’laikumsalam. Tunggu sebentar....” teriak seseorang dari balik pintu.
“Deviiii?” Emak menatap putri sulungnya nanar. Matanya seketika berkaca-kaca. Dan keduanya berpelukan dengan erat. Menumpahkan rasa rindu yang tidak terbendung.
“Devi?” kemudian seseorang memanggil Devi.
Devi melepaskan melukannya dari emak lalu beralih kepada lelaki tua yang tak jauh dari hadapannya. Devi bersimpuh di kaki lelaki itu.
“Pak, Devi udah nggak kuat. Devi pengen jadi orang biasa. Devi kangen masa-masa dulu,”
“Tidak bisa! Kamu harus kembali ke Jakarta. Kamu harus tetap menjadi penyanyi! Jangan sia-siakan kesempatan emas ini, Devi! Bapak udah bilang, ini bukan waktunya kamu menghentikan karirmu,” bentak Bapak.
Devi bangkit dan menatap bapaknya dengan sendu.
“Devi capek, Pak.”
“Keputusan Bapak sudah bulat. Kamu kembali ke Jakarta!”
“Sudahlah, Pak. Biarkan Devi memustuskan jalan hidupnya sendiri. Dia sudah dewasa,” ujar emak buka suara.
“Alah.... Kamu jangan bela dia. Kamu masih pengen dibelikan mobil terbaru kan? Kalau Devi nggak kerja, kita nggak akan punya! Makanya suruh anakmu itu kembali ke Jakarta. Kalau semua apa yang kita inginkan udah ada, baru dia boleh pulang!” Bapak menatap Devi tajam.
Hati Devi benar-benar teriris. Apa yang dia pikirkan ternyata benar. Orang tuanya gila harta. Dan dia yang menjadi korban. Memang sejak kecil Bapak tidak begitu suka dengan Devi. Katanya sejak Devi lahir, kehidupan mereka menjadi susah.
“Bapak benar-benar egois. Nggak pernah mikirin perasaan Devi!” benta Devi membuat bapak naik pitam dan hendak mendaratkan tangannya ke pipi mulus Devi.
Untunglah Salsabila muncul dari balik pintu. Akhirnya bapak tidak jadi melaksanakan aksi gilanya.

Follow Me @evariyantylubis