Selasa, 10 Desember 2019


 Berangkat dari Bandara Nabire
"Naik pesawat kecil takut goyang-goyang"

Ingat penggalan lagu di atas, tak? Alhamdulillah bisa juga saya merasakan sensasi naik pesawat kecil ini. 😇

Perjalanan dari Nabire menuju Puncak Jaya dilalui menggunakan pesawat kecil, Susi Air, yang jumlah penumpangnya hanya sembilan orang. Naik pesawat kecil seperti ini merupakan pengalaman pertama bagi saya. Awalnya sangat bersemangat, namun ketika pesawat telah mengudara, awan menutupi seluruh pemandangan. Wew! Kita terjebak di antara awan. Sepanjang mata memandang, hanya ada putih. Inikah yang dinamakan negeri di atas awan? 😍

Dapat roti gratis, lho. Enak pula rasanya 😍

Dalam hati saya berdoa, semoga perjalanan ini aman jaya sentosa sampai tujuan. Tak henti sampai di situ, setengah perjalanan kemudian (perkiraan waktu tiba di lokasi adalah 1 jam 45 menit), napas saya sesak sesesak-sesaknya. Oh My God! Mengapa seperti ini? 

Ini awannya belum seberapa. Pas seluruh pemandangan tertutup awan, saya malah lupa jepret.


Saya butuh oksigen! Saya lihat sekeliling, penumpang lain tampak baik-baik saja. Saya lihat suami yang duduk di sebelah saya, doi malah asik tidur.

Ya Allah, bagaimana ini? Saya benar-benar butuh oksigen! Apa karena saya tengah hamil muda makanya seperti ini? 

Saya coba bernapas semampunya, rasanya tetap menyakitkan. 
Saya coba bawa tidur, tak bisa. 
Saya lihat pemandangan di luar jendela, tak ternikmati.

Dalam hati saya terus berdoa, semoga pesawat  segera mendarat secepatnya. Tak ada yang bisa saya lakukan selain berdoa dan dzikir, memohon pertolongan kepada Sang Pencipta.

Penampakan Puncak Jaya.
Kepala pening, perut mual, ingin rasanya teriak melepaskan seluruh 'sakit' mendadak yang didera. Tapi tak mungkin. Apa karena saya pendatang makanya merasakan hal demikian? Sebab penumpang lain merupakan asli masyarakat Papua.

Keindahan di balik jendela pesawat tak ternikmati dengan baik. Padahal kapan lagi bisa melihat pemandangan pedalaman Papua dari udara?

"De, pesawat sudah mau landas," ucap suami menyadarkan saya.

Alhamdulillah Ya Rob.
Alhamdulillah.

Pesawat meliuk kesana kemari dengan cepat, sampai saya berpikir ini pesawat hampir nabrak pegunungan. Maklum saja, pegunungan ada di mana-mana. Namanya saja Puncak Jaya, salah satu pedalaman Papua yang dikelilingi oleh banyak gunung.

Dari atas pesawat, tampak rumah penduduk yang tertata rapi. Sungai nan jernih, honai di mana-mana, dan pepohonan yang sangat rindang. Pesawat landas di salah satu bandara kecil, bernama bandara Ilu. Saya memang memutuskan untuk memilih Distrik Ilu sebagai lokasi residensi. Jadi, saya tak mendarat di bandara ibukota Puncak Jaya, Kota Mulia.

Ketika pintu pesawat dibuka, saya langsung bernapas lega. Alhamdulillah tak terhingga kepada Sang Pencipta. Udara segar nan sejuk langsung penuhi paru-paru. Secepat kilat saya ambil posisi duduk di salah satu sudut bandara. Suami dengan sigap mengangkat seluruh barang bawaan.

Setelah barang bawaan diletakkan di dekat saya, suami pun berujar, "De, tadi pas di atas, napas sesak, tak?"

"Kok tahu, Bang? Sesak kali pun. Sudah mau nangis rasanya," jawab saya agak mewek.

Alhamdulillah mendarat dengan sukses.

"Aih, Abang kira abang doang yang kekurangan oksigen. Alhamdulillah kita sudah sampai. Sudah bisa hirup oksigen sebanyak yang kita mau," tukasnya sembari mengelus kepala saya beberapa kali.

Pengalaman naik pesawat kecil memang sangat luar biasa sekaligus menegangkan. Alhamdulillah mampu dijalani dengan baik. Apakah saya bakalan kapok naik pesawat kecil? InsyaAllah tidak. Semoga ada rezeki sekaligus kesempatan untuk merasakan kembali pengalaman berharga ini.

Selamat datang di Puncak Jaya.
Dingin mulai menyergap, tawa bocah cilik masyarakat asli Papua membuat saya sejenak melupakan 'kejadian' luar biasa selama di atas pesawat tadi. Oke, saatnya bertualang! 

Nb:
Pilotnya ganteng sangat, lho! Bule muda tinggi besar dengan kacamata hitam bertengger di wajahnya. Persis tokoh dalam komik. Apalagi dengan seragamnya itu. Dududu... 😁

Jum'at, 29 November 2019
Distrik Ilu - Tanah Puncak Jaya

Minggu, 08 Desember 2019


 
My Ponakan Fitri Ani Wonda. Miss you so much.
Menjadi salah satu peserta residensi tahun 2019 adalah mimpi yang akhirnya menjadi nyata. Residensi oleh KBN dan Kemendikbud telah diadakan sejak tahun 2016. Tentu saja penulis terpilih bukan penulis sembarangan. Mereka memiliki segudang prestasi yang sudah tidak diragukan lagi. Saya baru tahu program ini setelah penulis residensi 2016 terpilih. Terbersit dalam hati, "Kapan ya bisa terpilih seperti mereka?"

Tidak ada yang tidak mungkin. Mereka terpilih karena proses panjang yang telah dijalani. Maka saya bertekad untuk menulis lebih giat, membaca lebih banyak, tak lupa menyelipkan doa atas mimpi-mimpi tersebut. 

https://islandsofimagination.id/web/author-n-artist/eva-riyanty-lubis

Tahun 2018, saya memberanikan diri untuk pertama kalinya mengajukan proposal residensi. Tidak main-main, saya langsung pilih India sebagai negara tujuan. Maklum, saya termasuk salah satu pecinta India. Saya pikir negara itu unik, berikut adat budayanya. Saat itu saya sangat berharap menjadi salah satu peserta residensi yang lolos seleksi. Terlalu berharap memang tidak baik. Alhamdulillah saya belum lolos. Lolos tak lolos tetap harus disyukuri, kan?

Apakah saya menyerah pada mimpi? Tidak! Tidak ada kata menyerah. Saya kembali menulis dan membaca lebih banyak. Meskipun aktivitas semakin padat karena tiga jenis pekerjaan yang harus saya jalani. Kerja di Dinas Perpustakaan Padangsidimpuan (akhirnya memutuskan berhenti setelah bekerja sekian purnama tanpa gaji 😆) , Apotek Bintang, dan sesekali ke salah satu kantor partai membantu bagian administrasi. Lelah? Mana ada hidup yang tak lelah? Waktu menulis dan membaca sangat terbatas. Tapi dari segala pekerjaan yang saya jalani, menulis tetap aktivitas nomor satu yang membuat saya bahagia. 

Meski waktu tidur hanya beberapa jam, semua aktivitas bisa dijalani. Ketika pengumuman seleksi residensi penulis 2019 dibuka, saya masih belum ngeh. Seorang teman sudah mengingatkan saya untuk ikut seleksi. "Ikut saja, Va. Lolos tak lolos urusan belakangan," ucapnya kala itu.

Saya mengiyakan, tapi tidak langsung apply karena banyaknya pekerjaan. Suatu malam, saya tersadar kalau waktu seleksi residensi penulis 2019 tinggal hitungan hari. Ya ampun, ke mana saja saya?


Dengan cepat saya masukkan segala data yang dibutuhkan untuk seleksi residensi penulis 2019. Ketika memilih tujuan residensi, saya sempat berhenti. "Pilih dalam atau luar negeri, ya? Ah, Bahasa Inggris juga pas-pasan. Dalam negeri saja lah. Tapi ke mana?"

Saya mengetukkan jari beberapa kali. Mencoba 'menemukan' lokasi residensi yang saya inginkan.

Setelah merenung beberapa saat, muncullah jawaban. "Papua!" 


Senyum merekah di wajah saya. Saya memang memiliki mimpi untuk menginjakkan kaki di Tanah Papua, ujung Indonesia. Eits, tunggu. Tapi, Papua di mananya? Papua kan luas?

Saya langsung buka peta Papua. Terpilihlah beberapa daerah, yakni Wamena, Nabire, dan Puncak Jaya. Saya masih bingung memilih di antara ketiganya. Berulang kali saya mengetikkan nama ketiga daerah itu di proposal residensi penulis 2019, lalu menghapusnya.

Setelah berpikir puluhan menit, terpilihlah Puncak Jaya. Puncak Jaya, kan, pedalaman? Iya. Karena Puncak Jaya pedalaman, maka "Papua-nya" masih sangat kental. Meskipun untuk tiba ke sana butuh perjuangan panjang.

Bismillah.
Kalau Allah Swt. berkehendak, akan mudah bagi Beliau meloloskan saya. Pokoknya isi proposal residensi penulis 2019 telah usai, maka tinggal berdoa. Serahkan pada Allah Swt. Tidak seperti tahun kemarin, kali ini saya tidak memberi tahu keluarga atau teman terdekat lainnya kalau mengikuti program ini. Hanya Bang T. Sandi Situmorang saja yang tahu. Beliau juga merupakan penulis yang mengingatkan saya untuk ikutan seleksi. Bang Sandi memang paling baik soal info-info lomba. Makasih, Kak Sandi.... Semoga selalu diberi kesehatan 🙏

Malam 17 Agustus 2019 dini hari, Bang Sandi T. Situmorang chat lewat inbox FB. Katanya saya jadi penulis terpilih. WHAT??????? SERIUS KAH????


Pengumuman https://www.islandsofimagination.id/web/articles/hasil-seleksi-residensi-penulis-2019

Saya baru baca chat dari beliau pagi harinya pas bangun tidur. Maha Suci Allah Swt, saya memang terpilih bersama 33 penulis lainnya. Bayangkan, dari 437 proposal, terpilihlah 34 penulis. Saya menangis haru sembari memeluk emak. Eh, emak ikut-ikutan nangis.

Kemudian saya langsung kasih tahu kabar bahagia ini pada calon suami (sekarang sudah jadi suami). Jadi deh informasi ini jadi salah satu kado pernikahan kami yang sangat luar biasa. Lolos residensi penulis 2019 pada 17 Agustus 2019, menikah 26 Agustus 2019, dan alhamdulillah langsung diberi anugerah kehamilan.

Berangkat ke Puncak Jayanya gimana? Alhamdulillah suami setia menemani. Apalagi dengan kondisi saya saat ini. Semua proses dapat berjalan dengan baik. Ada saja orang-orang baik yang menolong kala kami butuh pertolongan.

Puncak Jaya dengan segala keindahan di dalamnya
 
Tadaaaaa....
Selamat datang di Puncak Jaya - Papua. Kepingan surga yang membuat siapa saja jatuh cinta 💖



Rabu, 20 November 2019

Distrik Ilu - Tanah Puncak Jaya

Follow Me @evariyantylubis