Sabtu, 08 Desember 2018

pixabay.com


Harian Analisa Medan, Rubrik Rebana. Minggu, 12 Oktober 2014.
Eva Riyanty Lubis

            Olin, begitu aku dipanggil. Sedang nama lengkapku sendiri adalah Aulina Fazrina. Seorang perempuan berusia 22 tahun dan masih berstatus mahasiswi di salah satu perguruan tinggi swasta. Aku tinggal di Padangsidimpuan, kota kecil di Sumatera Utara. Kalau kamu tanya apa impianku, aku ingin mengelilingi Indonesia, bahkan dunia. Aku selalu ingin menikmati bentangan alam nan indah hadiah dari Sang Pencipta ini. Mungkin bagimu itu terdengar mustahil. Apalagi aku bukan anak yang terlahir dari pasangan kaya raya.
            Asal kamu tahu, aku bahkan seorang yatim. Memiliki tiga orang adik dan ibuku hanyalah seorang pedagang kelontong kecil-kecilan. Namun seseorang tetap boleh bermimpikan? Dan aku selalu ingin menggapai impian dengan caraku sendiri.
            “Kamu yakin akan pergi ke Batam?” Tanya emak[1] khawatir.
            Sejak bapak masih ada, aku sudah sering melanglang buana sendiri kemana-mana. Sudah pasti dengan danaku sendiri. Bisa dari hadiah perlombaan yang sering kuikuti atau jajan yang selalu kusisihkan.
            “Mak, aku kan sudah sering bepergian. Jadi Mak nggak usah khawatir.” Aku mencoba menenangkan emak.
            “Ya Mak tahu. Tapi kita tidak ada saudara di Batam, Olin. “
            Memang biasanya aku jalan-jalan sekalian mengunjungi saudara. Tapi aku sudah dewasa dan aku yakin bisa menjaga diri.
            “Olin bisa jaga diri, Mak. Mak tenang aja.” Ucapku dibarengi sebuah senyuman tipis.
            Sebenarnya Mak tahu, tujuan kepergianku saat ini selain berjalan-jalan adalah menghilangkan rasa sedih karena ditinggal pergi sang kekasih. Aria. Dengan teganya dia bermain di belakangku. Padahal kami sudah bersama sejak masih SMP. Bahkan kami sudah bertunangan dua bulan yang lalu.
*
            Akhirnya malam ini aku berangkat menuju Dumai dengan menaiki bus besar. Karena kotaku masih kota kecil, jadi bandara belum ada disini. Makanya bus selalu menjadi pilihan utama jika hendak pergi ke suatu tujuan.
            Malam sudah menunjukkan pukul sembilan ketika bus berangkat. Perlahan demi perlahan meninggalkan kota kecilku bersama asa menyedihkan yang tadinya hinggap di dalam dada.
            “Mau kemana, Dek?” Tanya perempuan berwajah sendu yang duduk tepat di sampingku. Membuat aku tersadar kalau aku memiliki teman sebangku yang kutaksir berusia empat puluh tahunan.
            “Eh, mau ke Batam, Bu.” Jawabku seramah mungkin.
            “Panggil Kakak saja. Kakak juga mau ke Batam.”
            “Ohh baik, Kak.” Aku menganggukkan kepala.
            “Kakak hendak menemui suami kakak. Dia merantau ke Batam lima tahun yang lalu. Namun sejak merantau, tak sekalipun dia pulang menemui kakak dan anak-anaknya.” Tiba-tiba perempuan itu meluapkan perasaannya padaku.
            Aku pun mendengar cerita perempuan itu dengan seksama. “Memangnya Kakak tinggal di mana? Padangsidimpuan juga?” Tanyaku menyela.
            “Kakak di Sibolga, Dek.”
            Aku pun menganggukkan kepala lalu kakak itu kembali menceritakan kisahnya.
            “Kakak memang bersyukur karena suami kakak selalu mengirimi kebutuhan materi kepada kami. Namun yang lebih penting dari itu, Kakak ingin dia datang menjumpai kami, keluarganya. Kamu tahu Dek, beberapa minggu yang lalu beredar kabar dari tetangga yang juga merantau di Batam kalau Abangmu sudah memiliki istri lain di sana.” Suara kakak itu pun berubah serak dengan air mata yang mulai menetes satu-persatu.
            Aku terhenyak mendengar kisahnya. Aku tidak memberi komentar apa-apa sebab aku tahu kakak itu hanya ingin berbagi perasaan yang sedang dia alami padaku. Namun tiba-tiba saja di dalam hatiku bersarang rasa benci mendalam kepada yang namanya kaum Adam.
            Malam itu pikiranku melayang antara Aria, kisah kakak yang duduk di sampingku, dan perjalanan yang hendak kulalui. Ah, hidup memang tak selamanya indah seperti yang selalu dibayangkan. Aku mendesah panjang sebelum mulai memejamkan mata sebab malampun sudah semakin larut.

Senin, 03 Desember 2018


“I love deadlines. 
I love the whooshing noise 
they make as they go by.”
  Douglas Adams, The Salmon of Doubt



pixabay.com
Eva Riyanty Lubis 

Mungkin ada banyak di antara kita yang ingin menjadi penulis namun tidak tahu bagaimana cara memulainya. Sebenarnya mau jadi apapun kita, tak perlu ada yang dipusingkan. Mengapa? Karena semua info ada di internet. Tinggal luangkan waktu untuk memperoleh info tersebut. Jadi, harus ada niat, tekad, dan kesungguhan. 

Strategi menjadi penulis dapat dibagi menjadi empat, yakni:
  • Temukan Potensi
  • Kembangkan
  • Tentukan Positioning
  • Konsisten
Semakin sering Anda menulis, Anda akan semakin tahu di mana letak kekuatan dan kelemahan dalam menulis. Misalnya saya lebih produktif menulis bila sudah melakukan jalan-jalan terlebih dahulu. Nggak sanggup jalan-jalan jauh, cukup memandang hamparan sawah. Nah, bagaimana dengan Anda?

Minggu, 02 Desember 2018


pixabay.com


Pernah nggak sih kesal karena sudah kirim naskah ke satu penerbit namun tak ada kabarnya? Boro-boro kabar baik, kabar naskah sudah diterima redaksi saja tidak ada. Sedih? Pasti. Kecawa? Lumayanlah. Apalagi jika penantian panjang hingga bertahun-tahun. Saya sendiri pernah merasakan hal ini. Bahkan sering banget. Dulu pernah ngirim novel ke penerbit A. Mereka balas email sih. Katanya tunggu sampai enam bulan untuk mendapatkan kepastian diterima tidaknya. Tiba di hari H, nggak ada email masuk dari mereka. Saya mencoba bersabar dan terus menunggu hingga sembilan bulan--kalau hamil udah ngelahirin ini mah. Hehehe

Karena tetap tidak ada kabar, saya pun berinisiatif untuk mengirim email terlebih dahulu. You know, mereka malah balas kurang lebih seperti ini: 


Haduh, Mbak. Sepertinya naskah Mbak kelelep saking banyaknya naskah masuk. Bisa kirim ulang?


Hellow? Sudah nunggu berbulan-bulannya nasibnya malah setragis ini. Alhasil saya memutuskan untuk menarik naskah yang telah saya kirimkan kepada mereka, kemudian memutuskan untuk mengirimkan 'anak' saya tersebut ke penerbit lain. 

Dari pengalaman di atas saya bertekad untuk menarik naskah yang sudah lebih enam bulan tidak ada kabar. Kecuali penerbitnya memang kelas kakap yang butuh waktu hingga satu tahun untuk memberikan kabar diterima tidaknya tulisan kita. Contoh: Gramedia. Namun menurut teman-teman penulis di sana, terkadang malah dapat keputusan diterima tidaknya hanya dalam tiga bulan. Rezeki penulisnya masing-masinglah ya. 

Surat penarikan naskah yang saya kirim tidak terlalu rumit, malah sederhana sekali. Silahkan kamu cek di bawah ini.

Sabtu, 01 Desember 2018

pixabay.com


Majalah Gadis edisi 25, 16 - 25 September 2014. 
 
Eva Riyanty Lubis

            Hari yang melelahkan bagi Indri. Karena setiap hari Sabtu mereka ada pelajaran olahraga. Dan seperti hari ini, anak cewek dapat bagian bermain basket dan yang cowok bermain sepak bola. Indri yang memang menyukai olahraga tentu tidak akan ketinggalan bagian.
            Indri sedang duduk di salah satu bangku kantin sekolah ketika Gina datang menghampirinya.
            “Indri, masih ingat kan janji kita dua minggu yang lalu?” Tanya Gina dengan wajah sumringah.
            Indri mengerutkan keningnya. “Janji yang mana?”
            “Kamu nginep di rumah aku. Kan Kak Aldo bakalan datang dari Singapura. Dia cuma sehari lho ke sininya. Gimana sih? Kok bisa lupa? Kamu sudah nggak naksir kakak aku lagi?” Tatap Gina dengan mata menyipit.
            Indri menepuk jidatnya. “Ya ampunnnn…. Aku sampai lupa. Jadi dong. Masa nggak jadi?”
            “Oke deh.” Gina kembali tersenyum. “Habis pulang sekolah kamu langsung ikut aku atau masih pulang dulu ke rumahmu?”
            “Aku nyusul deh Gin. Kamu duluan aja. Eh, Kak Aldo datangnya jam berapa?”
            “Kalau nggak ada halangan sore dia udah sampai rumah.”
            “Oke oke. Aku harus ketemu sama Kak Aldo.” Ucap Indri bersemangat.
            Gina menganggukkan kepalanya. “Baik kalau begitu.”
            Indri sudah suka dengan kakak kecenya Gina sejak dua tahun yang lalu. Sayangnya Kak Aldo memutuskan untuk melanjutkan study di Negara tetangga. Jadinya kesempatan untuk jumpa apalagi pedekate sangat sedikit.

Jumat, 30 November 2018


pixabay.com

Eva Riyanty Lubis 

Dapatkah Hidup Dari Menulis?

Sebagai seorang penulis atau yang ingin terjun di dunia ini, pasti pernah bertanya-tanya apakah menulis dapat dijadikan sebagai pemasukan utama. Kalau di luar negeri, seorang penulis malah bisa hidup sangat berkecukupan dan dipandang luar biasa. Coba lihat J.K. Rowling, Collins, Daniel Keyes, Stephen King, dan masih banyak lainnya. 


Kalau di Indonesia sendiri seperti apa?

Jika kamu suka menulis dan ingin full time dibidang ini, maka lakukanlah! Hadapi segala rintangan yang ada dan jangan pernah lelah untuk berhenti belajar agar kualitas tulisanmu lebih baik lagi ke depannya. Masalah rezeki mah sudah ada yang ngatur. Semakin produktif kamu menulis, insyaAllah rezeki juga bakalan ngalir.


Kalau kamu ingin memperoleh penghasilan dari menulis, maka jadilah penulis produktif. Bayangkan kalau kamu tidak menulis, maka kamu nggak bakalan dapat penghasilan. Lah, kalau nggak dapat pengasilan gimana mau makan? Bayar kontrakan rumah? Dan segala pengeluaran lainnya? Apalagi kalau kita sudah menikah.


Yakinkan dirimu kalau kamu harus mampu memperoleh penghasilan yang sama besarnya dengan pekerja kantoran. Bisa? Bisa dong. Pasang target. Misal satu bulan ini kudu dapat 4juta. Caranya dengan menulis satu buku, lima cerpen, tiga artikel, bla bla bla. Pasang sendiri targetmu. Mau nulis buku, cerpen, artikel, puisi, semua terserah padamu. 


Berapa sih penghasilan penulis di Indonesia?

  • Mas Bambang Irwanto, dalam sepekan terkadang ada dua tulisannya yang masuk majalah Bobo. Misalkan satu kali muat mendapat honor Rp 250.000. Berarti sebulan sudah dapat 2juta, kan? Belum lagi dari honor tulisan di media lain dan ngajar menulis cerita anak secara online.

  • Mbak Tanti Amelia merupakan mami cantik yang yang aktif ngeblog. Di Jakarta, seorang blogger tidak boleh dianggap sepele. Sekali datang diacara bisa dapat uang saku minimal Rp 500.000 lho. Belum lagi produk yang dikasih secara gratis. Katakanlah kalau dalam sebulan dapat 10 kali undangan. Gajinya sudah seimbang dengan PNS, kan?

  • Kang Ali Muakhir yang merupakan penulis yang berhasil memegang rekor MURI dengan buku terbitnya yang sangat banyak. Bila satu buku saja dapat royalti Rp 200.000 dalam enam bulan, kalikan dengan 200 buku terbit.  Bisa cepat punya rumah, kan?

  • Mbak Watiek Ideo yang beberapa bukunya masuk bestseller. Jika dirata-rata dalam sebulan beliau bisa memperoleh 5juta. Belum lagi pemasukan dari mengisi acara. Wahh .... luar biasa, kan?

pixabay.com


Dimuat pada Harian Analisa Rubrik Rebana. Minggu, 22 Juni 2014.
Eva Riyanty Lubis

            Aku seorang istri yang kehidupannya begitu bahagia. Memiliki suami yang sangat mencintaiku dan dua orang putri yang melengkapi kebahagiaan kami. Kami memang bukan keluarga yang kaya raya, namun dengan suamiku bisa mencukupi kebutuhan keluarga kami, itu sudah lebih dari cukup. Suamiku seorang pedagang kelontong. Sedang aku disibuki dengan pekerjaan rumah tangga yang tidak pernah selesai. Selain itu aku selalu mengikuti perkembangan para putriku dengan seksama. Aku ingin memastikan kalau mereka tidak kekurangan kasih sayang dan pengajaran.
            Kami tinggal di sebuah perkampungan kecil, yang artinya banyak hal yang harus aku ajarkan pada putriku sebab keterbatasan sarana dan prasarana di kampung ini. Kampung suamiku. Aku tidak mengeluh atas semua ini sebab ketika aku memutuskan untuk menikah dengannya, aku harus siap untuk ikut kemana pun dia bawa.
            Masih lekat diingatanku bagaimana pertemuanku dengan Bang Hotman. Waktu itu aku masih duduk di bangku universitas semester satu. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama ketika melihat dia berjualan di pasar tradisional kota kami, Padangsidimpuan. Parasnya yang sangat rupawan dipadukan dengan tubuh yang sempurna. Aku yakin dengan penampilannya yang diatas rata-rata, harusnya dia bisa bekerja lebih layak. Maksudku selain berjualan ikan di pasar. Namun setelah aku selidiki lebih jauh, ternyata dia berasal dari daerah yang lumayan jauh dari kotaku. Dia merantau demi mengubah nasib. Dan kuketahui pula kalau dia hanya seorang lulusan SD.
            Rasaku tidak berubah meski tahu dia hanya lulusan SD. Sebab kala aku memutuskan untuk mendekati dan berbicara dengannya, cara bicara dan pandangan hidupnya sangatlah dewasa. Rasa cintaku pun semakin dalam padanya.
            Kami mencoba untuk saling mengenal satu sama lain. Tidak butuh waktu lama ketika dia memutuskan untuk melamarku pada ibu. Satu-satunya orang tuaku kala itu. Ibu, kakak dan abangku menyambut baik berita itu. Sebab di mata mereka Bang Hotman adalah seorang lelaki yang bertanggung jawab. Dan karena masa itu keuangan keluargaku juga sangat morat-morit, terpaksa aku berhenti kuliah. Setelah itu kami menikah dan aku diboyong ke kampungnya, Pinarik.
            Aku bangga bisa menjadi bagian dari diri Bang Hotman. Satu-satunya lelaki yang mengisi hatiku hingga kini usia pernikahan kami memasuki dua belas tahun. Namun rasa bahagia itu perlahan sirna sejak suamiku pergi menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa karena serangan jantung mendadak. Penyakit yang bahkan aku sendiri tidak tahu kapan menyerang tubuh suamiku. Rasa sakit pun kurasakan kala kakak-kakak iparku mulai menunjukkan rasa tidak suka padaku dan putriku. Kata mereka, aku hanya seorang istri yang tidak tahu diri yang tidak bisa apa-apa. Hatiku benar-benar hancur. Mereka yang kukira baik ternyata bermuka dua. Mereka baik hanya waktu ada suami di sampingku. Lalu kuputuskan untuk kembali ke kota asalku.
            Lima tahun yang lalu, ibuku juga telah menghadap Yang Maha Kuasa. Sedang saudara-saudaraku sudah merantau ke luar kota. Ada yang ke Medan, Batam, Bandung, bahkan Sulawesi dengan keluarganya masing-masing. Kami memang keluarga besar. Tujuh bersaudara dan aku anak ke enam, namun tidak ada yang memutuskan untuk tinggal di Padangsidimpuan sejak ibu tiada.
Tidak ada rumah peninggalan orang tua sebab keluargaku sejak dulu tidak sanggup untuk membeli rumah.
Perlahan, kota tempatku dilahirkan seperti sebuah tempat yang mencekam bagiku. Aku gamang, selalu berpikir apakah aku bisa menjadi ibu sekaligus ayah untuk putri-putriku?

Pixabay.com


            Sibujing, nama tempat aku dan putriku tinggal. Kami mengontrak rumah dengan sisa uang peninggalan almarhum suamiku. Harganya jauh lebih murah dibanding tempat lain yang telah kutanyai. Tempat yang tidak jauh berbeda dengan kampung suamiku. Orang-orangnya lebih banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak berguna. Pagi hari, aku pasti mendapati ibu-ibu sudah duduk sambil bergunjing ria di rumah tetangganya. Ah, kalau saja aku memiliki uang lebih banyak, pasti aku memilih tempat yang lebih nyaman untuk kami.      Seorang perjaka tua yang merupakan tetanggaku sering duduk di depan rumah kami. Dia sangat menyukai putri-putriku. Sama seperti putri-putriku yang menyukainya. Kadang dia membelikan putri-putriku makanan dan peralatan sekolah. Awalnya aku merasa risih, takut ada niat jahat darinya. Namun lama-kelamaan aku menjadi terbiasa. Sebab dia tidak pernah menunjukkan gelagat tidak baik pada kami.
            “Sri, ada baiknya kamu jualan di rumah ini. Bagaimana kamu akan mencukupi kebutuhanmu kalau kau tidak bekerja? Kalau hanya jualan di rumah, kau tetap bisa mengurus rumah dan anak-anakmu.” Ucap Bang Husin suatu hari. Aku memang sudah menceritakan perihal keluargaku padanya. Dan ucapannya terus terngiang-ngiang di telingaku. Memang aku sudah memikirkan tentang pekerjaan sejak urusan perpindahan sekolah putriku selesai. Namun sebelumnya tidak ada niat sedikitpun dibenakku untuk berjualan.

Jumat, 16 November 2018

~ Biarkan orang berkata apa ~


Jangan menengok ke belakang, kecuali Anda bermaksud menuju ke sana.” 
Marck Holm



Perkenalkan, aku Eva dari Padangsidimpuan. Saat ini aku berusia 26 tahun. Itu artinya aku tak lagi muda dan aku menyadari itu. Di usia seperti ini, sudah seharusnya aku memiliki pekerjaan tetap dengan penghasilan lumayan. Ya, aku setuju dengan hal itu. Namun, ketika orang-orang di sekitarku menyarankan agar aku kerja di perusahaan, kantor, dan sebagainya, itulah yang membuatku tidak setuju. Mengapa harus kerja pada orang kalau kita bisa mencari penghasilan sendiri?
            Tahun 2010, ketika aku menyelesaikan pendidikan SMA, aku sudah bekerja menjadi karyawan salah satu perusahaan swasta di kota tempat tinggalku. Saat itu, gaji yang aku dapatkan lumayan banyak untuk ukuran remaja berusia 18 tahun. Aku juga menikmati pekerjaanku. Setahun kemudian, aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah sambil bekerja. Tugas kuliah yang semakin banyak membuatku harus menentukan pilihan. Kuliah atau kerja! Dua-duanya sama penting buatku. Namun di tahun ketiga kuliah, aku memutuskan untuk fokus pada pendidikan. Lantas bagaimana aku harus membiayai seluruh kebutuhan hidupku?
            Allah memang Maha Tahu. Sejak tahun 2012, hobi menulis yang kutekuni mulai membuahkan hasil. Awalnya menang lomba, hingga akhirnya aku berhasil menerbitkan berbagai novel yang kutulis di penerbit mayor. Tentu saja honornya lumayan besar. Jauh lebih besar dibanding gaji yang kudapatkan ketika bekerja sebagai karyawan.
            Lantas, aku memilih fokus kuliah sembari tetap menulis. Biasanya menulis hanya sebagai hobi, namun kini hobi tersebut harus bisa menghasilkan, minimal sebanyak gaji yang kudapatkan ketika bekerja dulu.
Berakit-rakit ke hulu
Berenang-renang kemudian
Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian
           
            Tidak mudah mendapatkan penghasilan dari menulis. Apalagi waktu itu aku pindah kampus ke Medan, tidak lagi di kota tempat tinggalku. Itu artinya biaya yang kubutuhkan semakin banyak. Biaya kost, transportasi, makan, uang kuliah, dan sebagainya. Pagi hingga sore, aku fokus belajar. Lalu malamnya kembali menulis. Tidak ada waktu untuk berleha-leha. Sebab aku harus berjuang untuk hidupku.
            Hasil memang berbanding lurus dengan pengorbanan dan perjuangan. Aku berhasil menyelesaikan kuliah dengan IPK Cumlaude, bahkan salah satu terbaik di kampusku. Maha Besar Allah dengan segala bantuan yang Ia berikan padaku.
            Hidup tidak sampai di situ. Aku kembali pulang ke kampung halaman dan memutuskan untuk tetap fokus pada bidang kepenulisan. Saban hari, aku fokus dengan laptop. Kalau tidak perlu, aku tidak keluar rumah. Jika orang kantoran bekerja 8 jam perhari, maka aku juga harus bisa seperti itu. Awalnya tidak mudah. Butuh niat, disiplin, dan kerja keras.
            Namanya penulis or freelancer, penghasilan yang didapatkan tidak tetap setiap bulannya. Kadang dapat jutaan, kadang malah ratusan ribu. Meski begitu, aku menikmati dan mensyukuri apa yang telah aku dapatkan hingga kini.
            Namun, ada saja yang julid dan kepo kepadaku.
            “Kapan kerja? Kok di rumah melulu?”
            “Sekolah tinggi-tinggi jatuhnya cuma di rumah melulu. Tuh si A, teman SDmu dulu sudah kerja di bank.”
            “Tamat SMA kamu diterima di perusahaan swasta. Lah, ini cuma ngeram di rumah. Harusnya kamu malu dong, Va. Adek-adekmu masih kecil. Butuh banyak biaya. Sebagai anak pertama kamu kudu kerja dan dapat penghasilan banyak.”
            Jangankan masyarakat tempat tinggalku. Guru, dosen, bahkan saudara-saudaraku menyayangkan keputusanku yang menurut mereka lebih memilih ‘ngeram’ di rumah. Ya Allah, pengen banget teriak kalau aku di rumah juga cari duit. Bukan berleha-leha atau malas-malasan. Setiap aku jelaskan kalau aku ini penulis, mereka tidak pernah mengerti.
            “Kapan bisa kaya kamu kalau nulis?”
            “Emangnya dapat berapa sih kalau nulis buku?”
            “Ngapain kuliah kalau ilmunya tidak dipergunakan?”
            “Kuliah mahal-mahal tapi tidak membuahkan hasil.”
            “Udah, nulisnya jadi hobi aja. Mumpung kamu masih dua puluhan, masih ada kesempatan buat jatuhin lamaran kerja.”
            Seberapa keras aku berusaha untuk ngejelasin, semakin sering mereka kepoin aku. Kadang aku mikir, mereka nggak ada kerjaan lain, apa? Tapi kalau diambil pusing, jatuhnya malah stress. Entar malah nggak bisa nulis. Nggak bisa dapat penghasilan. Jadi, seiring berjalannya waktu, aku cuma kasih senyuman buat mereka yang bertanya kapan aku kerja.
            Sayangnya hal itu tidak berhenti sampai di situ. Mereka malah beralih pada emak. Bertanya mengapa putri sulungnya dibiarkan menentukan hidup sesuka hati. Untungnya emak bukan tipe beperan. Dengan santai emak menjawab,
            “Zaman sekarang kerja nggak cuma di kantor. Di rumah juga bisa dapat penghasilan. Lagian kasihan kalau dia kerja kantoran kalau gajinya nggak seimbang dan dia nggak bisa mencintai pekerjaannya. Sebagai orangtua, kita harus mendukung keputusan anak. Apalagi yang saya lihat, anak saya benar-benar mencintai pekerjaannya. Masalah rezeki, sudah diatur yang di Atas.”
            Duuuhh emak, selalu terharu dengar ucapan emak. Makasih sudah bela putrimu ini, mak. Emak merupakan single parent. Bapak sudah pergi menghadapNya delapan tahun lalu. Itulah mengapa kami berjuang semaksimal mungkin untuk keluarga kami. Kami memang bukan keluarga berada. Namun kami punya harga diri. Kami tidak pernah meminta-minta. Seberapa pun rezeki yang kami dapatkan, insyaAllah halal dan berkah.
            So, guys, jangan terlalu mudah nge-judge seseorang dalam bidang apapun, termasuk pekerjaan, ya. Kita tidak pernah tahu sejauh apa perjuangannya dalam mencari pekerjaan, ataupun sejauh apa proses yang telah ia lalui untuk itu.

“Pergilah dengan keyakinan menuju cita-citamu. Jalanilah hidup yang kau bayangkan.” 
Henry David Thoreau



Eva Riyanty Lubis 
Barangkali ditulis beberapa bulan lalu ~

Kamis, 15 November 2018




Saya baru tahu ada yang namanya Jambore Literasi sejak bekerja di Dinas Perpustakaan Kota Padangsidimpuan. Saya kira Jambore cuma ada buat anak Pramuka. Ke mana aja ane yak? Jambore Literasi pertama yang saya ikuti ini dihadiri oleh puluhan pegiat literasi dari setiap kota dan kabupaten yang ada di Sumatera Utara. 



Nah, ane sendiri merupakan perwakilan Dinas Perpustakaan Kota Padangsidimpuan bersama dengan Ibu Kadis, Ibu Dijah, Ibu Halima, dan Bang Putra. Selain dari Dinas, kita juga mengajak teman-teman dari Rumah Baca Bercahaya, Bang Syapar, Vina, dan Kak Irdes. Ditambah dengan dua penulis produktif, Bang Budi Hutasuhut dan Sunaryo Jw. Kuota undangan sepuluh orang pun terpenuhi. 



Jambore Literasi 2018 kali ini diadakan di Hotel Torsibohi Sipirok. Acara diadakan sejak Kamis, 01 November 2018 s/d Sabtu, 03 November 2018. 

Satu kata yang saya beri buat panitia acara ini adalah : TERLALU.

Sorry jika terlalu kasar. But, panitia acara memang tidak mempersiapkan acara dengan baik. Koordinasi kepada undangan tidak dilakukan secara menyeluruh. Alhasil, kita yang berasal dari Padangsidimpuan tidak tahu menahu seputar penginapan yang seharusnya di Hotel Torsibohi berubah menjadi Hotel Sitamiang Padangsidimpuan. Hellow? Itu artinya kita bolak-balik dong setiap harinya? 



Beberapa buku di pameran. Penulisnya rata-rata teman facebook semua ☺

Memang hal ini tidak hanya dialami oleh undangan dari Kota Padangsidimpuan saja. Beberapa undangan dari kota/kabupaten lain juga mengalami hal sama. Ini bukan acara main-main, lho. Yang mengadakan Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sumatera Utara. Gubernur dan Bupati Tapanuli Selatan saja diundang. Masa segala persiapan tidak dilakukan dengan matang?

Untunglah dihari kedua, kekesalan di hari pertama sedikit terobati. Meskipun kita harus 'kehilangan' Bang Budi Hutasuhut dan Sunaryo JW yang tidak ingin lagi menghadiri acara ini. 


Sedari kita tiba di lokasi, hujan terus menetes. Belum lagi suhu udaranya yang dingin, membuat saya dan teman-teman bergegas untuk mencari makanan hangat. Alhamdulillah, ketemu juga Uak penjual lontong yang ramah tamah di pasar tradisional di belakang Alun-Alun Sipirok. Karena kita tiba lebih awal di lokasi, bolehlah kita sarapan sejenak di sana.

Selesai sarapan, kami kembali menuju Alun-Alun Sipirok, tempat dilangsungkannya pembukaan acara Jambore Literasi. Segala persiapan telah dilakukan. Mulai dari karpet merah, stand per kota/kabupaten, MC, penari dengan pakaian adatnya, tempat duduk undangan, dan sebagainya. 

Setelah pembukaan oleh beberapa tokoh dan akhiri dengan dongeng oleh Aldi, acara pun diakhiri dengan jepret sana-sini. Pukul 15.00Wib, talkshow seputar literasi diadakan di Gedung Serbaguna Kantor Bupati Tapanuli Selatan.



Talkshownya lumayan bermanfaat. Apalagi narasumbernya sudah berkompeten dan professional dibidangnya. Hanya saja bagi saya yang tidak terlalu suka talkshow nuansa formal, kegiatan ini terbilang boring or membosankan. Sangat kaku khas acara pemerintahan. Untung ada Kak Irdes dan Vina yang bisa diajak sharing seputar banyak hal.  



Bagaimanapun ceritanya, saya tetap mengajak masyarakat Indonesia, khususnya remaja muda kreatif, untuk terus bergiat dalam dunia literasi. Mari budayakan baca sejak dini. Ajak adek-adek untuk cinta buku. Jangan biarkan mereka larut dalam kecanggihan teknologi hingga lupa budaya dan membaca buku. Menebar kebaikan itu tidak sulit asal ada niat dan kemauan.

Salam Literasi, Ayo Membaca!


Selasa, 13 November 2018


Mencari Pekerjaan Tidak Semudah Membalikkan Kedua Telapak Tangan. Butuh niat, usaha, dan kerja keras. 

Mencari pekerjaan bisa terasa sulit bagi banyak orang di Indonesia. Sudah ke sana kemari, belum tentu juga menemukan pekerjaan sesuai keahlian. Tak heran ada banyak pekerja yang harus banting setir untuk bekerja apa saja, yang penting tidak dicap sebagai pengangguran. Masih lekat dibenak saya kala menemukan banyak pekerja di salah satu perusahaan swasta tempat saya dulu bekerja. Mereka sangat bahagia bisa bekerja di perusahaan tersebut, padahal ketika saya mengetahui latar belakang pendidikan mereka, saya benar-benar heran dan tak habis pikir. Bayangkan saja, seorang lulusan keperawatan bekerja sebagai penjaga gudang. Lulusan sarjana hukum sebagai supir, dan sebagainya. 

            Menjadi pengangguran memang tidak menyenangkan. Sudah susah payah menyelesaikan pendidikan, eh malah tidak mendapat pekerjaan yang sesuai dengan keahlian. Apalagi bila Anda tinggal di tempat yang minim fasilitas. Tidak banyak perusahaan, berarti tidak banyak lowongan yang tersedia. Tempat tinggal saya juga demikian. Lowongan pekerjaan sangatlah terbatas. Bisa saja skill yang dimiliki hilang ditelan waktu sebab ketidaktersediaan pekerjaan yang sesuai. 

            Alhamdulillah pada Tuhan Yang Maha Esa karena seiring dengan perkembangan teknologi, mencari pekerjaan juga bisa dilakukan secara online. Jika Anda jeli, ada banyak situs pencari lowongan kerja di internet. Berbagai lowongan kerja ditampilkan. Tinggal bagaimana kita berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan lowongan pekerjaan tersebut.

            Mencari pekerjaan secara online? Memang ada? Yap. Sebut saja JobStreet, salah satu website terbesar di Indonesia yang menampilkan lowongan kerja terbaru. Situs loker lainnya yang direkomendasikan pada Anda selain JobStreet adalah JobsDb, Karir.com, Kalibrr, dan Glints.

Bekerja Membuat Hidup Lebih Berarti 

Mengapa Harus JobStreet?
            JobStreet merupakan salah satu situs pencari kerja online terbesar di Indonesia, bahkan Asia. Selain di Indonesia, situs ini juga membuka cabang di Malaysia, Filipina, Singapura, dan Vietnam. Hadir sejak tahun 1997, JobStreet tercatat memiliki lebih dari 800 tim professional yang terus berusaha mengembangkan situs ini untuk menjadi yang terbaik. Adapun kelebihan lainnya berupa: 


  1. Lowongan kerja yang ditampilkan sangatlah up to date.
  2. Puluhan ribu lowongan kerja yang bisa dipilih sesuai dengan skill dan background.  
  3. Anda bisa memilih lokasi kerja berikut dengan posisi yang ingin diperoleh. 
  4. Ketika lamaran kerja online diajukan, Anda bisa mengetahui apakah perusahaan tersebut telah melihat CV Anda. 
  5. Ketika perusahaan memberikan undangan untuk melakukan interview, infonya akan dikirim melalui email atau sms.


            Untuk mendapatkan pekerjaan dari JobStreet, Anda harus berjuang semaksimal mungkin. Tidak jauh berbeda kala Anda mencoba mendapatkan pekerjaan secara offline. Bedanya, persaingan dalam mendapatkan pekerjaan dari banyak perusahaan berkualitas dari JobStreet jauh lebih tinggi. Bayangkan saya, Anda harus bersaing dengan ratusan pelamar online lainnya. Apalagi lowongan kerja dari perusahaan paling terpercaya alias perusahaan top brand. Sebut saja PT. Astra, PT. Telkom, PT. Mitsubishi, PT. Sharp, dan sebagainya. Pelamar untuk setiap posisi bisa mencapai ribuan! Nah, siapkah Anda bersaing dengan mereka?

Tips Sukses Mendapatkan Pekerjaan di JobStreet 

  1. Pastikan Anda mengisi informasi secara detail. Mulai dari CV, pengalaman, keahlian, kelebihan, posisi yang diinginkan, gaji, dan sebagainya. 
  2. Banyak lowongan berkualitas di JobStreet namun tidak menerima pelamar yang baru saja menyelesaikan kuliah. Jadi, jangan sia-siakan waktu untuk apply lamaran, karena kemungkinan Anda tidak akan diterima. Pastikan Anda memiliki pengalaman dibidang tersebut sebelum memutuskan untuk apply lamaran kerja. Lain halnya bila mereka mencantumkan bahwa mereka terbuka bagi seluruh pelamar, termasuk fresh graduate. 
  3. Pastikan Anda mencantumkan gaji sesuai keahlian dan keinginan. Gaji dari perusahaan yang satu dengan lainnya pasti tidak sama, apalagi dengan perbedaan lokasi. Cari tahu hal ini lebih dahulu. Sebagai contoh, sangat tidak mungkin Anda meminta gaji sebesar Rp 20.000.000 perbulan pada perusahaan baru buka, sedang Anda juga belum memiliki pengalaman pekerjaan pada posisi tersebut.
  4. Banyak berdoa dan tidak menyerah ketika lamaran pekerjaan belum diterima.


Bagaimana Dengan Website Pencari Kerja Lainnya?

  1. JobsDb juga termasuk salah satu situs pencari online yang banyak diminati di Indonesia. Yang menjadi pembeda dengan JobStreet adalah, JobSteet memiliki lowongan pekerjaan lebih banyak dibanding JobsDb.
  2. Karir.com juga dipercaya sangat professional sebab sudah beroperasi sejak tahun 1999. 
  3. Kalibrr berdiri sejak tahun 2012. Meski tergolong baru, situs ini sudah berhasil menarik banyak minat pelamar. Go-Jek, PT. Bank Central Asia, dan sebagainya telah bergabung menjadi mitra Kalibrr.
  4. Glints berpusat di Singapura dan menjadi yang termuda di antara JobStreet, JobsDb, Karir.com, dan Kalibrr. Berdiri sejak tahun 2013 dan terus berusaha membantu pekerja menemukan karir impian mereka.
   

Jumat, 09 November 2018

pixabay.com

Pernah nggak sih kamu ngerasa rezekimu seret? Buat yang dapat gaji bulanan pasti jarang mengalami hal ini. Palingan mereka bermasalah dengan cara mengelola pemasukan. Baru gajian, eh duit wes entek kabeh.

Lain cerita bagi mereka yang memilih  bekerja sebagai freelance. Gaji masuk tak menentu. Kudu dapat proyek dulu. Saya sudah merasakan hal ini. Kadang satu bulan hanya dapat beberapa ratus ribu, bulan berikutnya dapat jutaan. Pokoknya enggak tentu. Kudu pintar cari job. Alhamdulillah kalau ditawari job tiap bulan. Itu artinya ada penghasilan yang diharapkan kedatangannya.

Sebagai penulis, saya harus kirim tulisan ke berbagai media. Baik itu media online, lokal dan nasional. Tidak cukup sampai di situ, saya juga fokus menulis buku. Alhamdulillah selain 'nyodorin' tulisan ke penerbit, saya juga dapat job menulis buku dari mereka setiap bulan. Tak kemanalah saya menuntaskan satu buku satu bulan.

Cukupkah mendapat penghasilan dari situ?

Cukup, pasti cukup. Tergantung bagaimana kita mengelola keuangan. Hanya saja selagi saya masih bisa melakukan banyak hal dan mencintai pekerjaan itu, maka saya akan terus berusaha lebih dan lebih.

Selain menulis di media dan buku, saya juga banting setir *maafkan bahasa saya*  menjadi seorang blogger. Masih junior banget memang. Tapi alhamdulillah memyenangkan. Dari blog sederhana ini,  Allah telah memberi saya pemasukan yang bisa dibilang lumayan.

pixabay.com


Dari beberapa proses yang saya lalui, saya percaya hasil tidak akan mengingkari proses. Tidak ada perjuangan yang sia-sia. Rezeki tidak akan tertukar, kalau tertukar bukan rezeki namanya.

Mengapa saya memaparkan sedikit bagaimana proses saya memperoleh pemasukan?  Karena malam ini saya memperoleh 'hal' yang jauh dari nalar.

Seseorang mengatakan saya telah mengambil rezekinya. Karena saya dia kehilangan pekerjaan. Sakit?  Tentu saja. Padahal saya tidak pernah mengemis meminta kerja. Toh selagi kita baik dan menjalin hubungan kerja sama profesional, pekerjaan akan datang menghampiri.  Saya percaya hal ini sejak dulu. Hukum sebab akibat akan terus berlaku.

Yang ingin saya tekankan di sini, jangan sampai memaksakan sesuatu yang sudah jelas bukan milik kita. Bekerjalah secara profesional. Perjuangankan sesuatu yang memang pantas diperjuangkan. Kalau kali ini bukan rezeki kita, bersabar saja dan tetap terus melakukan yang terbaik.

Misal, saya sudah nulis puluhan buku. Lempar ke penerbit yang satu dan lainnya namun tetap tidak mendapat kabar baik. Sedihkah saya?  Padahal saya rasa tulisan saya sudah bagusss banget. Pasti!  Hanya saja tidak larut di dalamnya. Kalau saya terus-menerus bersedih, belum tentu buku saya berhasil terbit mayor dan bisa didapatkan di seluruh Gramedia. Benar,  tidak?

Begitu juga dengan 'kasus' yang saya hadapi di atas. Menjelaskan panjang lebar juga tidak ada guna bagi mereka yang sudah terkotak-kotak otaknya.

Mari menanggapi segala hal dengan bijak. Terus bekerya and be the best in your life.

Follow Me @evariyantylubis