Friday, February 14, 2020



Eva Riyanty Lubis

Ketika bersamamu, waktu terkikis begitu cepat. Apa benar kebersamaan sering melenakan? Ya, mungkin saja. Yang harus kamu tahu, bahwa seberapa besar aku percaya padamu, adalah seberapa besar kutitipkan cinta pada hatimu. Maka, jangan pernah kecewakan aku. Jangan kamu lupakan atau sia-siakan hati yang telah kuberi. Lagian kamu juga telah bersumpah dihadapanku. Kamu beri aku tujuh sumpah. Dan sumpah itu sudah melekat pada diriku. Lekat. Aku dan dia menjadi satu. 

Bagiku, kamulah yang telah menghangatkan pagi. Kamu juga menyalakan hari. Bersamamu aku tak pernah takut pada apapun. Di sampingmu sepertinya semua terasa mudah dan tak ada masalah. Jadi, bisa kusimpulkan bahwa kamu adalah salah satu anugerah terbesar di dalam hidupku.

“Kamu selalu pandai merangkai kata,” ujarmu jika aku mengungkapkan rasa yang ada pada diriku. Sebenarnya tak pernah ada niat dalam hatiku untuk bermetafora padamu. Entahlah. Kalimat demi kalimat tak terduga itu selalu muncul tanpa kuperintah. Spontan.

“Aku hanya mengungkapkan apa yang tengah aku rasa. Bukankah kamu juga tahu kalau aku bukanlah tipikal orang yang pandai menyembunyikan perasaan?”

“Ya, Sayang. Ya. Aku tahu,” jawabmu dengan senyuman manis yang selalu kunantikan. Belaian lembut jemarimu di wajahku membuatku merasa nyaman, terlindungi dan dicintai.

Sadarkah kamu kalau ini kali pertama aku merasakan hal seluar biasa ini? Rasa yang membuatku bersemangat melakukan apapun. Tak takut pada apapun. Satu keinginan terbesarku saat ini, bisa hidup bersamamu secepatnya.
***
         
   “Nur, Bapak ingin bicara denganmu,” tukas lelaki paruh baya itu ketika mendapati aku tengah asyik dengan gadget di ruang tamu. Aku memandang Bapak beberapa detik sebelum menganggukkan kepala. Dengan langkah pelan, kuikuti Bapak yang memilih untuk duduk di teras rumah. Salah satu tempat favorit beliau di rumah ini.
          
  “Bapak mau bilang apa?” tanyaku setelah ambil posisi duduk di samping Bapak. Hanya ada meja kecil sebagai penghalang di antara kami.
       
     Bapak mengembuskan rokoknya sedalam mungkin. Membiarkanku menerka-nerka seputar ucapan yang hendak beliau utarakan. Bapak adalah sosok lelaki yang tak banyak basa-basi. Berbicara seperlunya saja. Dulu aku sempat membenci sikap Bapak. Namun seiring berjalannya waktu, barulah aku mengerti bahwa Bapak memang demikian adanya.
            
 “Sudah sejauh apa hubunganmu dengan si Bambang, Nur?”
           
 Pertanyaan dengan nada pelan dari bibir Bapak tersebut berhasil membuat pandanganku menjadi fokus sepenuhnya kepada beliau. Selama ini, Bapak tidak pernah komentar seputar urusan asmaraku. Lagian, aku juga sudah dewasa. Usiaku saja sudah jalan dua enam. Kini, aku bekerja di salah satu perusahaan swasta terkemuka di kota tempat aku lahir dan dibesarkan, Padangsidimpuan—Sumatera Utara.
        
    Aku mulai menjalin hubungan dengan beberapa lelaki sejak duduk di bangku sekolah tingkat atas. Tidak pernah ada hubungan yang awet. Paling lama hanya dua bulan. Begitu seterusnya sebelum aku bertemu dengan Bambang.
          
  Bambang, wartawan muda dari kota Medan yang ditugaskan di kotaku ini. Dia lebih tua setahun dariku. Parasnya tak begitu luar biasa. Penghasilannya juga. Mungkin kalau dibandingkan denganku, gajiku lebih banyak dari pada dia. Lantas, mengapa aku bisa menitipkan hati padanya?
          
  Cinta terkadang tak bisa ditafsirkan dengan kata-kata. Begitulah Bambang padaku. Dia bukanlah lelaki romantis. Bahkan bisa dibilang dia mirip dengan Bapak. Tentu saja dengan tambahan pembuktian cinta yang sangat luar biasa padaku.
          
  Dua tahun sudah kami lalui bersama. Berawal dari perkenalan singkat di salah satu toko buku yang ada di kotaku. Saat itu aku tengah mencari buku resep makanan, sedangkan dia sibuk dengan buku motivasi. Dan ucapan “Hai” mengantarkan kami ke tahap selanjutnya.
            
 “Nur?”
         
   “Seperti yang Bapak lihat. Kita serius menjalani hubungan ini,” ucapku dengan penuh keyakinan.
            
 “Kamu mencintainya?”
          
  “Tentu saja, Pak. Kalau Nur tidak mencintainya, tidak mungkin kami bisa tetap bersama. Bapak tahu sendiri bagaimana Nur sebelumnya,” sahutku dibarengi senyuman. Sebenarnya agak canggung berbicara dengan Bapak dengan topik asmara seperti ini. Biasanya, aku hanya bercerita kepada Ibu. Pada Ibu, aku bisa menumpahkan segala rasa. Ibu juga dengan senang hati menjadi pendengar setia sekaligus pemberi nasehat nomor satu untukku.
           
 Ibu adalah puisi abadi yang tak akan pernah kutemukan di dalam buku. Ah, betapa kumerindukan Ibu. Memikirkannya selalu membuat hatiku pilu. Ibu, cintaku, malaikatku, memutuskan untuk pergi menghadapNya empat bulan yang lalu. Meninggalkan aku, abang—satu-satunya saudaraku yang telah menikah dan kini tinggal di Kota Batam—, dan Bapak.
           
 Awalnya aku gamang bagaimana seharusnya aku melanjutkan hidup tanpa Ibu. Namun, Bambang selalu ada disisiku. Memberi kekuatan dan keyakinan bahwa ini adalah jalan terbaik yang harus kuhadapi.
            
 “Kamu bisa melalui ini semua, Sayang.”
            
 “Tidak… tidak… aku tak sanggup,” ucapku dengan air mata berderai kala itu.
          
  “Kamu jauh lebih kuat dari apa yang kamu duga. Aku tahu kamu, Sayang. Jangan menyerah sebab itu bisa membunuh jiwamu.”
             
Aku harus menata hati dan kehidupanku setelah kepergian Ibu. Kepergian mendadak tanpa ada sakit apalagi pamit. Tentu saja bukan hanya aku yang merasa kehilangan. Bapak juga demikian. Dia semakin diam dalam diamnya. Kami seperti dua orang asing yang tinggal di dalam satu atap. Berbicara seperlunya saja. Saling larut dalam pikiran masing-masing.

            Satu yang aku tahu pasti, Bapak mencintai Ibu teramat sangat. 

            “Kalau kamu mencintainya, begitu juga dia padamu, maka bersegeralah untuk menikah.”

            “Pasti, Pak. Kita telah membicarakan itu. Selama ini kita juga tengah menabung untuk mempersiapkan segalanya.”

            “Ya. Itu bagus. Bapak tak sabar ingin melihat kamu bahagia.”

            Sungguh, begitu terharu aku mendengar ucapan Bapak.

            “Nur juga ingin Bapak bahagia. Sejujurnya Nur merasa bersalah sebab merasa menjadi orang yang paling kehilangan atas kepergian Ibu. Padahal Bapak juga merasakan hal yang sama.”

            “Semua yang bernyawa akan kembali padaNya, Nur.”

            “Tapi…”

            “Bapak ingin kamu bahagia. Sudah saatnya, Nur. Sudah saatnya.”

            “Kalau Nur bahagia, apa Bapak juga bahagia?”

            “Tentu saja,” jawab Bapak dengan senyuman yang membuat hatiku bergetar.

            Ya Tuhan… betapa bersyukurnya aku masih ada Bapak dan Bambang di sisiku. Tanpa kuduga, kristal bening itu luruh juga. 

            “Maafkan Bapak tidak bisa menjadi Bapak yang baik untukmu. Bapak tidak seperti Ibu yang bisa memberimu kasih sayang penuh.”

            “Jangan berkata seperti itu, Pak,” sahutku tak suka. Bapak adalah Bapak. Begitulah beliau.

            “Nur sayang Bapak,” ujarku tulus.

            Bapak menganggukkan kepala.

            “Masuklah ke dalam Nur. Malam sudah semakin dingin. Besok pagi kamu masih harus bekerja.”

            “Baiklah, Pak. Bapak juga jangan kelamaan duduk di teras. Nanti masuk angin. Lagian bukan Nur saja yang besok harus kerja. Bapak juga,” jawabku mengingatkan.
***

            Aku dan Bambang tengah duduk berhadapan. Kami memutuskan untuk makan malam bersama. Aku memperhatikan wajah lelakiku itu dengan seksama. Bahkan melihatnya sedemikian dekat sudah membuat rasa bahagiaku membuncah.

            “Hayooo… jangan dilihatin terus akunya.”

            “Habis aku kangen,” jawabku jujur.

            “Iya, Sayang. Aku tahu. Maaf membuatmu menunggu sampai berhari-hari.”

            Kami memang tidak bertemu beberapa hari belakangan ini sebab dia harus kembali ke kota Medan.  Katanya ada urusan pekerjaan.

            “Sebenarnya seminggu merupakan waktu yang cukup lama. Tapi karena sekarang kamu udah ada di depanku, jadi tak ada yang perlu dipermasalahkan lagi,” ucapku singkat.

            Beberapa detik kemudian, pramusaji hadir di antara kami bersama makanan yang telah dipesan.

            “Makan yang banyak. Aku nggak suka lihat kamu makin kurus.”

            “Kan aku diet, Sayang. Kamu lupa kalau aku pengen dihari pernikahan kita, aku jadi perempuan tercantik?”

            “Tanpa diet pun kamu tetap menjadi perempuan tercantik di mataku.”

            “Sudah pandai ngegombal ya sekarang?” ledekku senang.

            “Kan belajar dari kamu,” jawab Bambang tak mau kalah.

            “Sayang, boleh aku minta sesuatu darimu?”

            “Tentu saja. Apa itu?”

            “Aku ingin kita menikah secepatnya.”
***

            7 Sumpah itu masih melekat. Di hati bahkan di dinding kamarku.
1.     Aku mencintai dan menginginkanmu, Nur.
2.     Hanya kamu.
3.     Hanya kamu.
4.     Hanya kamu.
5.     Hanya kamu.
6.     Hanya kamu.
7.     Hanya kamu selamanya.


Cinta memang sering kali dibodohi dengan kata-kata. Mana yang mesti kupercaya? Kata atau mata?


“Nur, jangan melamun terus. Yuk sarapan dengan Bapak. Bapak masak nasi goreng spesial untuk kita berdua.”

Dan ternyata hingga kini, cinta sejati hanya kutemukan dari kedua orangtuaku. []

Padangsidimpuan, September 2015.

Thursday, February 13, 2020

Bareng teman kos, 2014.

Eva Riyanty Lubis

            Menjadi anak kos, tidaklah semudah yang dibayangkan. Penuh dengan godaan dan tantangan. Awalnya kita akan merasa senang bila diterima di salah satu universitas keinginan kita yang tempatnya jauh dari kota tempat tinggal. Padahal itu masih bisa dikatakan sebagai babak awal untuk memasuki kehidupan baru.

            Tidak semua orang mau tinggal bersama keluarga. Bisa dengan berbagai macam alasan. Sehingga, ngekos menjadi solusi dari masalah tempat tinggal. Di kota-kota besar, banyak ditemukan kasus-kasus mengerikan yang dialami oleh muda-mudi yang ngekos. Contohnya, free sex, mabuk-mabukan, dsb. Hal itu terjadi karena pengaruh pergaulan, kurangnya pendidikan agama, atau takut dianggap sebagai orang yang tidak gaul.

            Namun, dibalik minusnya kelakuan anak-anak kos zaman sekarang, tentu masih ada yang bisa menjaga diri dengan baik. Fokus terhadap tujuan yang ingin dicapai. Berikut hal-hal yang harus kita lakukan agar terhindar dari berbagai macam godaan dalam menjalani kehidupan sebagai anak kos. Ini berlaku bagi laki-laki dan juga perempuan.

1.     Selalu Ingat Kepada Sang Pencipta
Kerjakan apa yang diperintakanNya dan jauhi apa yang Dia larang. Hal tersebut akan membuat hatimu menjadi damai dan kamu bisa dijauhi dari perbuatan keji hingga mara bahaya lainnya. Ingatlah, Beliau adalah tempat mengadu terbaik di dalam hidup ini.

2.     Ingat Bagaimana Perjuangan Orangtua
Ibu dan Ayah adalah dua orang yang harus kamu banggakan. Selalu ingat bagaimana wajah tulus ikhlas mereka dalam memperjuangkanmu sehingga bisa bersekolah sampai saat ini.

3.     Pandai-Pandailah Bergaul
Tidak semua orang patut dijadikan teman. Maka pilihlah orang yang bisa memberikan pengaruh ke arah yang lebih baik untukmu. Bukan sebaliknya. Kalau teman bersenang-senang, pasti mudah didapatkan. Namun untuk ada di saat duka, tentu tidak gampang menemukannya. 

4.     Kondisi Kos
Dalam memilih kos, kita tidak boleh terpatok pada harganya saja. Namun pastikan juga kondisi kos aman dan nyaman untuk ditempati. 

5.     Pelajari Banyak Hal
Menjadi anak kos adalah saat yang tepat untuk mempelajari banyak hal. Bergabunglah dengan komunitas-komunitas yang kamu suka. Apalagi kalau di kota besar biasanya komunitas apapun yang kita mau, mudah-mudahan tersedia. Perbanyak jaringan sebab kelak itu akan sangat berguna.

            Jadilah anak kos yang memiliki akhlak dan tingkah laku mulia. Kalau ada niat, usaha dan doa, siapapun bisa menjadi yang seperti itu. Keep Spirit!

November, 2014.

Saturday, February 8, 2020




Eva Riyanty Lubis

            Siapa saja bisa bicara. Mengeluarkan apa yang ada di dalam pikiran. Namun tidak semua masyarakat dapat menyampaikan isi pikirannya dengan baik. Apalagi kalau berbicara di depan umum. Meskipun seseorang cakap bicara, belum tentu ketika dia naik mimbar atau podium, dia melakukan hal yang sama. Bahkan tidak menutup kemungkinan dia kehilangan kata-kata. Bisa karena gugup, gelisah, deg-degan, lidah kelu atau malu. 

            Mahasiswa sekali pun belum tentu cakap bicara. Padahal mahasiswa adalah generasi muda yang nantinya akan menumbuhkembangkan Indonesia. Apa yang salah? Tentu saja pola pikir yang masih belum maju. Perasaan takut terus menghantui. Padahal menurut penelitian, kita menggunakan 75 persen waktu untuk berkomunikasi. Jadi kalau kita tidak cakap bicara, bagaimana kita bisa mengemukakan pendapat? 

            Sangat tidak mungkin kita terus menerus berpatokan kepada rekan yang cakap bicara. Padahal bisa jadi kita memiliki ide lebih bagus namun karena tidak berani berbicara, ide tersebut akhirnya terbang begitu saja tanpa bermanfaat sedikit pun.

            Indonesia pernah mempunyai orang-orang yang sangat cakap bicara. Yakni Bung Karno dan Bung Tomo. Urator ulung dan disebut juga sebagai singa podium. Dengan penguasaan retorika prima, mereka berhasil menyadarkan bangsa kita, bahwa kita sedang terjajah. Sekaligus meyakinkan kita bukanlah bangsa tempe yang hanya bisa menunggu anugrah kemerdekaan dari Negara penjajah.

            Untuk itu kita sebagai mahasiswa diharuskan cakap bicara. Namun bukan asal bicara seperti ngegosip, ya. Tetapi berani mengungkapkan ide, pendapat, kebenaran yang bermanfaat bagi orang banyak baik itu di depan podium, atau di kalangan teman-teman. Beberapa hal yang harus kita lakukan agar cakap bicara di depan orang banyak adalah:

  • Menguasai apa yang akan disampaikan. Cari info sebanyak-banyaknya. Baik itu dari televisi, buku, koran, radio, dsb. Lalu pilah kalimat demi kalimat mana yang akan disampaikan.

  • Kita harus yakin pada kemampuan diri sendiri. Tidak perlu berpikir kalau kita tidak akan bisa sesempurna orang lain ketika berbicara di depan umum.

  • Kenali orang-orang yang akan menjadi pendengar kita. Hal itu untuk mengira-ngira apa yang sebaiknya kita bicarakan dan apa yang sebaiknya kita hindari.

  • Bersuara keras dan lantang. Jangan lupa untuk mengatur irama dan tempo suara dengan baik. Bila sering berlatih, mudah-mudahan hal ini tidak akan menjadi sulit.

  • Tenangkan pikiran dan emosi sebelum berbicara.

  • Jangan takut bahwa kita akan mengecewakan pendengar. Jadilah diri sendiri dan yakinkan diri kalau kita telah memberikan yang terbaik.

  •  Terus belatih dan berdoa.


Jangan pernah takut untuk memulai. Dan kalau di awal melakukan kesalahan, itu bukanlah suatu masalah besar. Yang penting terus berusaha untuk menjadi yang lebih baik dari hari ke hari. Semoga kita menjadi mahasiswa yang cakap bicara. Demi Indonesia yang lebih baik ke depannya.
Desember 2014

Thursday, February 6, 2020


💙💚💛💜💓

Eva Riyanty Lubis

            Zaman sekarang tidak punya sahabat? Apa kata dunia? Yapp! Hidup seorang diri memang tidaklah enak. Walaupun kamu cantik atau tampan, kaya, pintar, kalau tidak punya sahabat pasti akan terasa ada yang kurang. Karena bisa dipastikan tidak semua ‘rasa’ ingin kita bagikan kepada orang terdekat, seperti orangtua. 

            Sebenarnya, apa sih arti sahabat itu? Sahabat adalah orang-orang yang merasa senasib sepenanggungan, saling mengisi, saling memahami, serta saling berbagi dalam suka dan duka.

            Memang untuk menemukan sahabat tidaklah mudah. Sangat berbeda halnya ketika kita memulai pertemanan dengan orang lain. Meski begitu, kalau kita mau dan ingin, kita pasti bisa mendapatkan sahabat. Untuk mendapatkan sahabat, kita akan melewati proses dan waktu yang tidak bisa kita tentukan lamanya.

            Antara lelaki dan perempuan, siapa yang lebih membutuhkan hadirnya sahabat? Sebenarnya keduanya sama saja. Letak perbedaannya hanya ada di berbagi perasaan. Perempuan kalau sudah memiliki sahabat pasti dengan mudah mengungkapkan segala perasaan yang dia alami. Berbeda dengan lelaki. Persahabatan  bagi mereka tidak mengedepankan perasaan. Bila mereka sudah memiliki minat dan aktivitas yang sama, persahabatan akan lancar-lancar saja. Buktinya, sangat jarang kita melihat hancurnya persahabatan antara lelaki. Walau mereka memiliki prinsip dan pendapat berbeda.

            Lalu bagaimana dengan persahabatan antara lelaki dan perempuan? Sebenarnya tidak ada masalah. Hanya saja ketika perempuan dan lelaki bersahabat, tak jarang cinta hadir di antara keduanya. Kemudian timbullah perasaan cemburu dan takut kehilangan. Hal itulah yang bisa menyebabkan rusaknya persahabatan.

            Persahabatan adalah sebuah hubungan yang akan dihadapkan dengan berbagai macam keadaan. Bukankah hidup akan terus berjalan? Kalian tidak akan selamanya bisa terus berduaan ke mana pun ingin pergi. Misalnya ketika sahabatmu memutuskan untuk kuliah di kampus berbeda dan mengambil jurusan yang berbeda pula, kamu harus menerima keputusannya dengan lapang dada. Begitu juga ketika dia sukses terlebih dahulu dibanding kamu dengan impiannya. Sebagai sahabat sejati, kamu pasti ingin melihat dia bahagia. Dan tentunya kamu juga harus merasakan kebahagiaan atas apa yang terjadi padanya.

            Sahabat sejati adalah seseorang yang membuatmu terus bersemangat menjalani hidup. Dia tidak pernah lelah memberi motivasi dan mendukung impian-impianmu. Ketika kamu jatuh, dia ada di sampingmu. Ketika kamu bahagia, dia juga merasa menjadi orang yang paling bahagia. Dia tidak melihat kamu terlahir dari keluarga kaya atau miskin. Dia juga tidak peduli bagaimana fisikmu. Yang dia tahu, hadirmu adalah anugrah yang diberi Tuhan untuknya.

            Bagaimana dengan seseorang yang mengaku sahabat namun suka membujuk untuk melakukan hal-hal negatif? Belum lagi berkadang di depan dia berkata manis, namun di belakang menikam? Sungguh, dia bukanlah sahabat yang baik.

            Jikalau memang sahabatmu masih memiliki sifat dan sikap negatif, tugasmulah untuk membawanya ke jalan yang lebih baik. Sebab sahabat yang baik adalah seseorang yang terus menularkan kebaikan kepada sahabatnya.
Berikut beberapa tips untuk mendapatkan sahabat:

  1. Jangan habiskan waktu antara rumah, sekolah atau kampus saja. Tetapi sisipi juga waktu luangmu dengan bergabung di komunitas-komunitas yang sesuai dengan bakat dan minatmu.
  2. Jika kamu merasa seseorang itu pantas menjadi orang yang dekat denganmu, maka lakukanlah. Ajak dia berkenalan. Jadilah orang pertama dalam memulai langkah persahabatan.
  3. Terbukalah pada orang-orang yang menarik minatmu.
  4. Kamu juga harus menjadi pendengar yang baik.
  5. Sama sesekali tidak boleh menyombongkan diri.
  6. Jujurlah selalu. Jadi dirimu apa adanya.
  7. Nikmati proses pendekatan dengan orang-orang yang akan kamu jadikan sahabat.
Tidak semua orang bisa berjumpa dengan sahabat sejatinya. Jadi, ketika kamu sudah bertemu sahabat sejatimu, banyak-banyaklah bersyukur kepada Sang Pencipta dan semoga persahabatan kalian langgeng sampai akhir hayat. 

Salam kangen untuk sahabatku yang jauh di mata namun dekat di hati. Septia Khoirunnia.


Padangsidimpuan, Februari 2015.


Wednesday, February 5, 2020


Ekspresi cih apa sih?

Eva Riyanty Lubis
           
Malam-malamnya mendadak menyeramkan. Embusan angin yang biasanya dia cintai tak mampu lagi membuatnya tenang. Apalagi kerlap-kerlip bintang di langit. Baginya, mereka seolah tersenyum sinis. Tak ada teman. Satu-persatu menjauhinya. Entahlah. Dia yang menjauh, atau dia yang dijauhi.

            Dinda telah berubah. Tidak lagi riang. Tidak ada tawa bahagia. Senyum simpulnya padam seketika. Tubuh mungilnya pun mendadak semakin mengecil. Seolah bumilah yang membuat dia seperti ini. Matanya menebar ketakutan. Harapannya pupus satu persatu.

*
            “Kau benaran suka pada lelaki itu?” tanya Siti dengan kening berkerut. Malam itu mereka tengah duduk berdua di balai taman kota sembari menyeruput minuman kalengnya masing-masing.

           
Dinda menyipitkan mata seraya berujar, “Ada yang salah?”

            “Nda, aku nggak habis pikir deh. Sudah empat tahun kita merantau di kota Medan ini. Ada banyak lelaki yang suka dan mendekatimu. Sebahagian dari mereka aku kenal dengan baik. Masalahnya, kenapa sekarang kamu bisa suka dengan lelaki yang baru kau kenal? Dua hari, Dinda!”

            Dinda tertawa kecil. Sudah menduga kalimat yang akan keluar dari bibir Siti, sahabatnya itu.

            “Siti, cinta itu bisa datang kapan saja, di mana saja dan pada siapa saja,” kata Dinda diplomatis.

            “Jiah! Sejak kapan kau percaya dengan kalimat murahan itu?” Siti geleng-geleng kepala tidak percaya. “Dari awal aku kurang setuju dengan hobby travelling-mu itu. Masa capek-capek kerja dari Senin sampai Jum’at, Sabtu sama Minggunya selalu kau habiskan dengan jalan-jalan?”

            “Aduhhh Sitiiii…. Stop deh! Jangan kaya emakku. Aku itu suka jalan-jalan. Dan kamu juga tahu kalau salah satu impian terbesarku adalah keliling Indonesia. Aku ingin menikmati keindahan alam yang diberikan Sang Pencipta ini.”

            “Oke-oke. Aku terima. Kembali ke topik utama. Aku nggak setuju kalau kamu suka sama lelaki itu. Siapa namanya?”

            “Karno,” tegas Dinda cepat.

            Whatever-lah! Pokoknya aku nggak setuju. Tampangnya aja tua gitu. Jangan-jangan udah punya bini. Ihhhh seraaaam!”

            Dinda memang sudah menunjukkan foto Karno kepada Siti. Waktu itu Dinda pergi ke Gunung Simeru. Di sanalah dia bertemu dengan Karno. Orang Jawa yang sedari kecil tinggal di Bali. Sesungguhnya tidak ada yang begitu istimewa dari Karno. Tubuhnya tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek. Badannya tidak gemuk dan tidak juga kurus. Kulitnya sawo matang. Pas bertemu Dinda, cambangnya malah sedang awut-awutnya. Wajahnya pun benar-benar khas Asia.

            Jadi, apa yang membuat Dinda jatuh cinta pada pandangan pertama kepada lelaki itu?

            “Haduh, Siti. Seharusnya kamu ngasih support kepadaku. Bukan malah berpikiran negative seperti ini.”

            Hari-hari Dinda semakin berwarna. Karena ada Karno disisinya. Meski mereka hanya bisa berhubungan jarak jauh, dia memberikan harapan besar pada hubungan itu.
*

            Dinda tengah terserang dingin teramat akut kala Karno menemukannya. Lelaki bercambang itu menutupi tubuh Dinda dengan jaket tebal miliknya. Dinda telah kehilangan tenaga. Namun dia masih sanggup untuk memandangi sang penolong.

            Tanpa banyak bicara, Karno memapah Dinda untuk masuk ke dalam tendanya. Sedang tenda milik Dinda bermasalah sehingga tidak bisa didirikan. Waktu itu, Dinda hanya seorang diri ke gunung Simeru. Dia memang terbiasa sendiri. Menurutnya solo traveller tidak selamanya seorang diri. Sebab dia pasti akan menemukan banyak orang selama perjalanan. Namun untuk perjalanan kali ini, seharusnya dia memang tidak seorang diri.

            Karno memberikan air hangat kepada Dinda. Dinda meneguk sebanyak yang dia butuhkan.

            “Istirahatlah. Semua bakalan baik-baik saja,” ucap Karno setengah berbisik.

            Dan setelah itu, tiba-tiba saja Dinda terlelap dalam mimpi indahnya.

            Keesokan paginya, Dinda sudah berhasil mendapatkan kembali tenaganya. Dia mencari sang penyelamat.

            “Terima kasih,” kata Dinda tulus.

            Karno pun membalas dengan senyuman terbaiknya. “Tidak masalah. Kau sudah baikan?”

            “Ya.”

            “Bersyukurlah padaNya.”

            Dinda kembali menganggukkan kepala.

            “Kau seorang diri?” tanya Karno kemudian.

            “Tidak. Ada kau dan yang lainnya di sini,” jawab Dinda sembari memandang orang-orang disekeliling mereka.

            Karno terkekeh. “Aku tahu kalau kau itu perempuan yang tangguh.”

            “Aku tidak bilang seperti itu,” jawab Dinda dengan rona merah yang tiba-tiba menjalari wajahnya.

            “Kau selalu seorang diri?”

            “Hmmm…. Lebih sering, iya.”

            Karno menganggukkan kepala. “Sudah kuduga. Oh ya, kau pasti lapar. Aku ada kue. Silahkan dimakan dulu. Perjalanan masih panjang.” Karno menyodorkan dua bungkus roti kecil kepada Dinda. Dinda pun menerimanya dengan senang hati.

            “Alam ini sangat indah,” ucap Karno sembari tidak melepaskan pandangan pada hamparan hijau di sekeliling mereka.

            “Ya. Tidak ada yang lebih indah selain menikmati keindahan alam hadiah dari Sang Pencipta ini.”

            “Akan lebih baik kalau menikmatinya dengan pasangan,” sahut Karno terkekeh.

            “Hmm…. Aku kurang setuju,” jawab Dinda tegas.

            “Apalagi perempuan seperti kamu. Kejadian tadi malam sudah sangat fatal. Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu sedangkan kamu hanya seorang diri ke sini?”

            Dinda terdiam. Memang selama ini dia tidak begitu merasa bermasalah bepergian seorang diri. Namun yang dialaminya kemarin malam benar-benar di luar perkiraannya.

            “Oh ya, aku Karno.”

            “Din… Dinda,” jawab Dinda gelagapan.
*

            Setelah itu, Dinda memutuskan untuk jatuh cinta kepada Karno. Tanpa pertimbangan apapun. Yang dia tahu, Karno telah berhasil menyentuh hatinya yang terdalam dengan waktu yang sangat singkat. Ya, Karno berhasil membuka hati Dinda yang telah terkunci sekian lama.
*

            “Kamu pacaran dengan lelaki yang tidak jelas!” gusar ibunya Dinda kala Dinda pulang ke kampung halamannya, Semarang.

            “Siapa bilang tidak jelas sih, Bu?”

            “Kalau jelas, dia seharusnya datang ke rumah kita. Memperkenalkan diri pada Ibu, Bapak dan saudara-saudaramu!”

            “Dia lagi sibuk, Bu!” jawab Dinda tidak ingin Karno disalahkan.

            “Pokoknya Ibu ingin kamu segera menikah! Ingat usiamu, Dinda!”

            Dinda memang anak tertua. Dia memiliki lima orang adik yang rata-rata kesemuanya masih bersekolah.

            “Bu, Dinda belum ingin menikah. Dinda masih harus bekerja. Ibu yang sabar dong! Lagian zaman sekarang ini menikah muda lebih banyak efek negative-nya. Ibu nggak lihat di tivi banyak kasus perceraian karena menikah muda?” tanya Dinda tak ingin disalahkan.

            “Kamu tidak muda lagi, Nda! 27 tahun! Sebaiknya kamu berhenti merantau dari Medan dan pulang ke sini. Nikah dan jadi ibu yang baik. Toh selama merantau uangmu selalu kamu hamburkan dengan jalan-jalan nggak jelas itu.”

*

            Pertemuan kedua Dinda dengan Karno. Dinda berkunjung ke Bali sesuai keinginan lelaki yang telah menjadi kekasihnya itu. Seharian mereka habiskan dengan berjalan-jalan ke sana kemari. Melepaskan rindu yang telah menggunung.

            Malamnya, tanpa pikir panjang, Dinda menyerahkan diri seutuhnya kepada lelaki itu.
*

            Karno menghilang. Dinda sudah menelusuri jejak lelaki itu. Namun dia tetap tidak menemukannya. Perasaannya hancur lebur seketika. Sedangkan janin di dalam kandungannya kian hari kian membesar.

            Ketika usia kehamilan Dinda memasuki enam bulan, dia menemukan fakta menyakitkan. Karno sudah memiliki istri. Namun selingkuhannya bertebaran di mana-mana. Dinda meminta pertanggungjawaban, sayang permintaannya ditolak oleh Karno. Hati Dinda remuk. Apalagi tidak ada lagi orang yang ada di saat dia kesusahan seperti ini.            

 Semua menjauh. Memandang rendah kepadanya. Seolah dia kotoran paling menjijikkan di atas bumi.

            Dia tak lagi ingin apa-apa dari bumi. Dia ingin ditelan. Tenggelam bersama asa. Karena menurutnya, itulah yang terbaik baginya saat ini.

            Lalu Tuhan menjawab pinta Dinda. Ketika proses persalinan Dinda selesai, dia pergi menghadap Yang Maha Kuasa. Sedang bayi perempuannya menangis hebat sepanjang malam.        


Terbit di Majalah Purakasastra Edisi 6. 
Februari 2016.
 


Follow Me @evariyantylubis