Saturday, May 2, 2020




Menjadi mentor atau narasumber kelas menulis online merupakan salah satu hal baru dalam hidup saya. Bayangkan, diberi kepercayaan sekeren itu, gimana nggak exited coba? Meskipun secara online. Maklum saja, wabah yang menyerang dunia, khususnya Indonesia sejujurnya memberikan dampak plus and minus. Plusnya anak sekolah, mahasiswa, dan lainnya disuruh belajar dari rumah. Mungkin kita berpikir kalau hal ini benar-benar merepotkan. Mana harus punya paket internet banyak plus kencang. Seperti adik saya—Winny Khodijah Lubis—saban hari harus berjuang mengerjakan tugas kuliah yang tampak tak ada habisnya. Mulai dari buat video, kerjakan tes ini itu, dan masih banyak lainnya. Siswa hingga mahasiswa dituntut untuk kreatif dan inovatif. Jadi, tidak sekadar belajar ecek-ecek. Mengapa saya sebut demikian? Sebab masih banyak masyarakat di luar sana yang belum paham bagaimana sistem belajar dari rumah itu. Mereka pikir enak, bisa santai sesuka hati. Yaaa memang tergantung pribadinya sih. 

Nah, saya juga kecipratan rezeki dari kondisi yang ada saat ini. Mbak Mia dari Miya’z Script Agency memberi saya kesempatan untuk menjadi narasumber pada kelas menulis online berupa fiksi dan nonfiksi. Tidak tanggung-tanggung, tiga kelas sekaligus. Satu kelas pada bulan Maret 2020, sisanya April 2020. Menyenangkan? Alhamdulillah sangat menyenangkan. 


Menjadi mentor atau narasumber kelas menulis online, kita dituntut menyiapkan materi sesuai permintaan panitia, begitu juga CV yang nantinya diberikan pada peserta sebelum kelas dimulai. Lantas, kelasnya berlangsung di mana? Whatsapp alias WA tercinta. Media sosial kalau digunakan dengan baik, banyak banget manfaatnya. Tentu kita mengetahui hal itu. 

Beberapa hal yang saya dapatkan selama menjadi Narasumber Kelas Menulis Online antara lain:  
  • Kenalan Baru
Saya berkenalan dengan banyak calon penulis. Jangan tanya latar belakang pekerjaan, pendidikan, atau usia. Saya mah tidak ada apa-apanya. Namun di kelas ini, semua tampak sama, yakni sama-sama ingin memperdalam ilmu kepenulisan.

  • lmu Kian Berkembang
Biasanya saya menulis, ya nulis aja. Jarang ada yang suka tanya-tanya soal kepenulisan. Makanya ketika saya dibombardir pertanyaan, mau tidak mau saya harus menjawab sesuai dengan yang saya tahu. Ilmu yang biasanya disimpan seorang diri kini lebih bermanfaat sebab disebarkan melalui kelas menulis online. Rasanya sangat bahagia dan membanggakan ketika ilmu yang tidak seberapa saya bagi bisa bermanfaat bagi peserta.

  • Kobaran Semangat
Hampir keseluruhan peserta menulis memiliki minat dan tekad kuat dalam menulis. Semangat mereka ini tentu sampai pada saya. Kalau mereka aja semangat, saya harus lebih semangat, dong! Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah. Bertemu teman-teman dengan minat sama memang selalu berhasil membuat semangat kian berkobar.

  • Fee
Kalau ini bonus yang tak disangka. Dapat fee atas ilmu tak seberapa yang berhasil dibagi benar-benar alhamdulillah sekali.  

Dari satu amanah ke amanah lain. Alhamdulillah Allah kasih saya rezeki tak terduga. Berikut kelas menulis novel online yang tinggal beberapa hari lagi berlangsung, yaa. Kamu bisa kepoin kelasnya melalui website di bawah ini:

Tuesday, April 28, 2020


 
Sumber: tribunnews.com

Sampai saat ini saya masih setia menjadi penikmat Drakor. Hanya saja tidak semua Drakor saya download bahkan untuk yang terbaru sekalipun. Jadi makin ke sini, (bertambah usia maksudnya heheh) saya makin pilah-pilih tontonan termasuk Drakor. 

Untuk 2020, saya lebih banyak menuntaskan beberapa Drakor lama yang sudah sejak kapan tahun di download dan tersimpan dalam laptop. Mengapa harus Drakor lama? Soalnya belum nemu Drakor terbaru yang sreg di hati. Biasanya saya nonton barang 1 hingga 2 episode, kalau tak cocok, tak jadi dilanjut. 

Hi Bye Mama merupakan Drakor comeback-nya oenni Kim Tae Hee setelah menikah dan punya dua orang buah hati. Sejujurnya saya tidak ngefans banget sama beliau, tapi kecantikannya memang  tidak dapat dipungkiri. Udah 40 tahun tapi masih bening. Jadi ingat pas nonton Drakor beliau yang berjudul Stairway to Heaven and Love Story in Harvard. Duh, dua drama itu benar-benar daebak! Saya jatuh cinta sama kisah Drakor salah satunya karena Drama lawas itu. Kim Tae Hee mau meranin antagonis, protagonist, bagi saya selalu berhasil dengan baik.

Imutnya Kim Tae Hee di Stairway to Heaven
Love Story in Harvard saya tonton kisaran 9 tahun lalu 😁

Kalau ditanya, sebenarnya saya ngefansnya sama suami beliau. Hehe. Tapi tetap salut buat Kim Tae Hee. Hi Bye Mama sebenarnya drama simple, nggak musti buat penonton mikir banyak, tokoh jahatnya juga terbilang tidak ada, yang pasti ini drama cocok buat kamu yang suka santai dan nggak pengen dipusingin oleh konflik drama.

Tampil di tvN sejak 22 Februari hingga 19 April 2020. Jadi, Hi Bye Mama masih anget-angetnya. 


  • Kim Tae Hee sebagai Cha Yuri.
  • Lee Kyu Hyung sebagai Cho Gang Hwa.
  • Go Bo Gyeol sebagai Oh Min Jung. 


Cha Yu Ri merupakan arwah yang telah meninggal sejak lima tahun lalu dikarenakan kecelakaan tragis yang menimpanya. Saat itu ia merupakan istri Cho Gang Hwa dan tengah mengandung anak pertama mereka. Kecelakaan naas itu berhasil merenggut nyawa Cha Yu Ri, namun buah hatinya dengan sang suami berhasil diselamatkan.

Selama lima tahun, Cha Yu Ri bergentayangan di sekitar orang-orang yang ia sayang. Pernah ia mengeluh kenapa secepat itu nyawanya direnggut. Padahal ia masih ingin melihat tumbuh kembang buah hatinya, Cho Seo Woo. 

Sang suami sendiri, Cho Gang Hwa memutuskan untuk kembali menikah dengan Oh Min Jung. Pernikahan mereka tidak seindah kala Cho Gang Hwa Bersama Cha Yu Ri. Meski demikian, Oh Min Jung merupakan ibu tiri yang baik, meski tidak begitu pintar menunjukkan rasa sayangnya.
Suatu hari, dewa memberi kesempatan kepada Cha Yu Ri untuk kembali hidup di tengah-tengah manusia dalam waktu 49 hari. Kesempatan ini tidak akan disia-siakan oleh Cha Yu Ri. Ia tidak ingin pergi dengan penyesalan yang sama seperti lima tahun lalu. Maka, 49 hari ia lalui dengan penuh suka-cita. 

Bisa memeluk Cha Seo Woo secara langsung merupakan anugerah terbesar baginya. Selain itu, ia juga bisa berjumpa kembali dengan Cho Gang Hwa, sahabatnya Go Hyun Jung, orangtua yang sangat merindukannya, dan masih banyak lainnya. 

Perjalanan selama 49 hari tidaklah mudah. Apalagi saat Cho Gang Hwa memintanya untuk tetap tinggal di sisinya. Awalnya Cha Yu Ri dilema. Tentu ada rasa ingin menjadi manusia seutuhnya kembali. Tapi ia tak boleh rakus. Sebab bila ia menjadi manusia, maka putrinya Cho Seo Woo selamanya akan menjadi anak yang bisa melihat arwah.

Sejujurnya ending drama ini bisa ditebak hanya dari judul. Tapi tetap layak buat dijadikan teman bersantai. Siap-siap air mata merembes, yaa. Soalnya banyak adegan sedihhh! 

Yang sudah nonton CLOY, ada Yang Kyung-won lhoo. Tentu masih ingat peran kocaknya di CLOY. Hihihi. Terus Cho Seo Woo, putri Cha Yu Ri di sini sebenarnya cowok! Luar biasa sekali, kan? Hal ini sempat viral di media sosial. Bocah cilik yang mampu berperan dengan baik menjadi gadis cilik. Mana imutttt, lagi. Aslinya ini anak lucu, kocak, dan menggemaskan. Sedangkan peran dia di drama ini sebaliknya lho. Pendiam, tidak aktif, dan kurang komunikatif. Katanya dia terpilih memerankan Cho Seo Woo karena wajahnya lumayan mirip Cha Yu Ri. 

Calon aktor besar 💔

Anyway, selamat menontonnnn yaa.

Monday, April 6, 2020


sumber: vizta.co.id

Banyak orang tentu sudah tahu apa itu Inul Vista. Franchise tempat karaoke ini sudah muncul di banyak kota di seluruh Indonesia. Jika ingin karaokean banyak orang pasti merekomendasikan datang ke sini juga. Tapi mengapa banyak orang pilih datang ke tempat ini? Secara pribadi banyak alasan yang bisa mempengaruhi hal ini.

Bagi Anda yang tertarik dan ingin tahu alasan ini, saya akan coba ceritakan beberapa alasan pribadi mengapa memilih tempat karaoke ini. Siapa tahu dari perspektif yang saya berikan ini ada beberapa hal yang informatif untuk Anda. Berikut beberapa alasan menurut pendapat saya:

 

Pilihan Lagu Banyak dan Niche

Hal yang membuat saya dan banyak orang lain sangat merekomendasikan tempat ini adalah koleksi lagunya. Pilihan lagu di sini sangat banyak. Jika Anda pernah mendengar lagu tersebut diputar di radio ataupun muncul di YouTube, biasanya lagu tersebut ada di sini.

Lagu populer yang muncul sebagai pilihan karaoke tentu baik, tapi hal yang lebih spesial lagi adalah lagu niche juga tersedia di sini. Saya dan teman – teman pernah iseng – iseng cari lagu acara anak – anak jaman dulu. Di Indonesia, acara Ultraman Tiga pernah diputar sekitar awal 2000-an. Lagu ini tentu sulit dicari, tapi ternyata ada di Inul Vista. Pengalaman ini merupakan surprise plus nostalgia untuk saya pribadi.

 

Harga Relatif Ramah Kantong

Untuk harga, menurut saya sudah pas. Memang dibandingkan karaoke kecil – kecilan, harga Inul Vista terlihat tinggi. Tapi di sisi lain Anda dapat koleksi lagu yang lebih banyak, tempat yang nyaman dan juga terawat.

Soal harga, tempat karaoke ini juga sering memberikan kupon. Kupon ini bisa berupa potongan harga ataupun diskon jika datang lagi di waktu lain. Tentu kupon tersebut ada masa berlaku-nya, tapi biasanya bisa satu sampai dua minggu baru tidak terpakai. Jadi, bagi Anda yang sering hangout dan suka karaokean bersama teman seperti saya, hal ini sangat menguntungkan.

 

Peraturan Tidak Terlalu Ketat

Berbeda dengan tempat karaokean lain, peraturan di sini tidak terlalu memaksa. Memang di Inul Vista ini membawa makanan ataupun minuman dari luar di larang, tapi setelah masuk booth karaoke, Anda tidak akan terlalu diganggu. Jadi, bagi Anda yang ingin lebih irit, bisa coba membawa camilan sendiri daripada beli di sini.

Saya dan teman – teman sering membawa tas ransel kecil saat bepergian. Karena masih mahasiswa, kami tentu tidak bisa banyak keluar uang, karena itu kami membawa botol minuman dan camilan makanan kering sendiri dalam tas itu. Inul Vista yang ada di area kami tidak terlalu mengecek isi tas dan kami bisa senang – senang karaoke sambil menikmati camilan yang kami bawa.

Tapi ingat, Anda juga tidak boleh meninggalkan barang bukti. Saat ada botol minum dan bungkus makanan, lebih baik di simpan di tas terlebih dahulu lalu dibuang di luar tempat karaoke. Jika ketahuan, Anda biasanya akan ditegur dan bisa saja di mark saat kunjungan berikutnya.

 

Tempat Nyaman dan Privat

Alasan berikutnya untuk datang ke sini adalah tempatnya yang nyaman. Walaupun tidak fancy dan terlihat seperti ruang tamu biasa, sofa dan suasana ruangan terasa cukup nyaman. Lampu yang ada di sini juga bisa diatur sesuai kebutuhan. Ingin yang seperti disko ataupun static pencahayaan terang, bisa disetting sesuai keinginan.

Untuk privasi Anda biasanya tidak akan diganggu setelah masuk booth karaoke. Jika dicek, biasanya saat ada keluhan ataupun saat pesanan makanan Anda datang. Petugas biasanya juga mengingatkan waktu jika tinggal 10 menit lagi. Hal ini dilakukan untuk memastikan Anda ingin tambah jam atau tidak.

 

Buka Sampai Malam

Hal yang terakhir sebagai alasan pilih tempat ini adalah waktu bukannya. Saya sebagai anak kuliah tentu memiliki banyak waktu luang, tapi teman saya sudah ada yang bekerja. Jadi menentukan waktu hangout bersama sedikit sulit. Untungnya Inul Vista buka sampai malam.

Saat teman sudah pulang kerja sekitar jam 7 malam, saya dan kawan lain menyusun jadwal kumpul antara jam 8 sampai 9 untuk kumpul di situ. Waktu malam ini merupakan waktu luang pas untuk kumpul saat semua kesibukan sudah selesai. Hitung – hitung waktunya refreshing setelah bekerja dan kuliah seharian sebelumnya.




Bagaimana menurut Anda tentang alasan – alasan yang berdasarkan pengalaman pribadi saya tersebut? Mudah – mudahan dengan bahasan itu, Anda bisa tentukan pilihan apakah Inul Vista cocok untuk tempat hangout karaoke Anda. Terima kasih sudah membaca!

Friday, March 20, 2020


Puncak Jaya Papua dengan Segala Keindahannya


Jika keberanian, waktu, dan uang kompak bertemu, berkunjunglah ke Puncak Jaya Papua. Jangan sampai orang lain lebih paham tempat ini dibanding kita, masyarakat asli Indonesia.

Keanekaragaman budaya dan alam di Tanah Papua merupakan daya tarik tersendiri dibanding daerah lain di Indonesia. Menjadi pulau terbesar di Indonesia, Papua menawarkan keindahan sempurna. Beberapa ikon yang tak akan lekang oleh waktu, antara lain Raja Ampat dan berbagai gugusan pulau-pulau kecilnya, the bird of paradise: cenderawasih, bakar batu, tas noken yang mendunia, kerajinan lukisan kayu, dan masih banyak lainnya.

Kabut di antara pegunungan Puncak Jaya

Puncak Jaya sendiri merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Papua, dengan ibukota terletak di distrik Kota Mulia. Puncak Jaya terdiri dari dari delapan distrik, yakni Distrik Mulia, Distrik Ilu, Distrik Fawi, Distrik Mewoluk, Distrik Yamo, Distrik Tingginambut, Distrik Torere, dan Distrik Jigonikme. Adapun suku asli yang mendiami kawasan pegunungan tengah ini antara lain Suku Dani, Suku Lani, Suku Damal, Suku Dawa, Suku Nduga, Suku Turu, dan Suku Wano. Sedangkan sisanya berupa pendatang dari berbagai daerah. 

Bandara Ilu Puncak Jaya Papua

Puncak Jaya bukanlah salah satu destinasi favorit pecinta traveling. Bila ditelusuri melalui internet, tempat ini tergolong rawan alias tidak disarankan bagi pendatang. Kasus pertumpahan darah banyak terjadi di sini. Tak heran pecinta traveling, ketika ‘dolan-dolan’ ke Papua, bakalan memilih Raja Ampat, Danau Sentani, Lembah Baliem, dan beberapa icon lainnya sebagai destinasi tujuan. 

Puncak Jaya Papua dari udara.

Namun, saya berpendapat lain. Tempat lain sudah pasti bagus hingga kabar beritanya sampai ke luar negeri. Berbeda hal dengan Puncak Jaya, salah satu kabupaten yang jarang dikunjungi pecinta traveling. Pertama kali menginjakkan kaki di sini, puji syukur tak terhingga kepada Sang Pencipta terus keluar dari bibir. Tempat ini luar biasa indah! MasyaAllah MasyaAllah MasyaAllah….

Udara segar namun dingin menyambut saya. Usut punya usut, ternyata Puncak Jaya adalah salah satu daerah paling dingin di Indonesia, lho. Jadi, saya sudah tidak kaget ketika turun dari pesawat kecil dan tiba di Bandara Ilu, Puncak Jaya Papua. Memang sebelum mengunjungi suatu tempat, wajib hukumnya mencari segala informasi seputar tempat tersebut, agar lebih mudah beradaptasi. 

Menyelami keindahan Puncak Jaya Papua bersama suami.


Saya pejamkan mata beberapa detik, menikmati udara yang masuk ke seluruh tubuh, seolah menyambut kedatangan saya. Ketika mata terbuka, saya pandang sekeliling. Ada banyak masyarakat asli Puncak Jaya di sini. Woi! Mimpi apa saya bisa melihat dan bercengkrama secara langsung dengan masyarakat asli Papua? MasyaAllah… ini adalah mimpi yang akhirnya terwujud. 

Di depan honai, rumah adat Papua.


Kata orang, mereka menyeramkan. Tapi bagi saya, mereka ramah, hangat, dan penuh cinta. Saya disambut dengan baik, padahal ada banyak perbedaan di antara kami. Mulai dari suku, budaya, pakaian, bahasa, dan sebagainya. Setelah mengenal mereka beberapa hari, bisa saya simpulkan bahwa mereka memiliki hati yang luar biasa hangat. Setiap berjumpa dengan para tetua, saya selalu dapat pelukan. Apakah mereka menganggap saya berbeda, khususnya karena mengenakan hijab? Tidak sama sekali. Saya seperti keluarga yang telah terpisah lama. Ketika bertemu, rindu menggunung pun lumer satu demi satu. MasyaAllah.


Pegunungan Eksotis dari Puncak Jaya Papua

Dikelilingi pegunungan.

Sepanjang mata memandang, kamu akan menemukan pegunungan nan eksotis. Sebutan Papua destinasi wisata hijau memang pantas disematkan bagi provinsi ini. Sebelumnya, tidak pernah saya temukan tempat dikelilingi gunung indah seperti ini. Pantas saja nama kabupaten ini Puncak Jaya, ya. Tempatnya di puncak J Pegunungan nan hijau  berhasil membuat mata, hati, dan pikiran jadi segar. Rasanya ingin memeluk gunung tersebut, saking dekatnya dia dari jangkauan. 

Banyak masyarakat asli Puncak Jaya yang tinggal di pegunungan tersebut, lho. Padahal untuk menaiki gunung, butuh waktu berjam-jam. Belum lagi jalanan penuh bebatuan yang mereka lalui setiap hari tanpa alas kaki! Wow! Selain itu, para mama[1] biasanya membawa buah hati dalam noken. Jadi, bebannya sungguh berat. Berjalan melintasi sungai? Itu biasa. Pantas saja badan mereka kuat, ya. Perjuangan menuju rumah saja naik turun gunung. Coba tanya pada diri sendiri, sanggup seperti itu? Saya sih angkat tangan. 

Di pegunungan Puncak Jaya, ada banyak pepohonan yang bisa dijadikan sebagai kerajinan tangan oleh masyarakat asli Papua, khususnya para mama. Jadi, suami naik gurung mencari bahan-bahan untuk dibuat kerajinan tangan, kemudian istri yang mengerjakannya. Makanya jangan heran, hasil kerajinan tangan mereka tidak ada duanya. Sebut saja tas noken, koteka, rok Papua, aksesoris, dan sebagainya. Harganya cukup mahal, sesuai dengan hasil yang didapatkan. Maklum, seluruh bahan pembuatan asli dari gunung. Jadi, wajar bila harganya mahal. Proses pembuatannya juga memakan waktu cukup lama. Pendatang biasanya tak lupa untuk membeli kerajinan tangan mereka untuk dijadikan oleh-oleh atau kenangan. 

Para Mama mengenakan tas noken buatan sendiri


Para Mama di Puncak Jaya Papua, Gemar Bercocok Tanam

Hasil panen para mama dijual di pasar.

Orang Papua asli, khususnya para mama, gemar bercocok tanam. Hasil panen mereka memang tidak melimpah, tapi sangat baik sebab tanpa bantuan pupuk kimia. Otomatis hasil panennya segar dan bagus buat kesehatan. Ada kentang, tomat, rica[2], bawang pere, daun sup, ubi jalar, ubi kayu, bayam, mentimun, dan masih banyak lainnya. Meskipun ikan dan daging susah ditemukan di sana sebab jaraknya yang cukup jauh dari perkotaan. Jadi, kalaupun ada ikan dan daging, harus dikirim menggunakan pesawat dari Nabire, Wamena, atau Jayapura. Meskipun susah memperoleh lauk di sana, tapi masyarakatnya tidak banyak mengeluh. Makan pakai sayur saja sudah Alhamdulillah. Hal ini merupakan salah satu pelajaran yang saya dapatkan dari mereka. Untuk terus bersyukur atas segala keadaan yang ada.

Puncak Jaya Papua, Destinasi Wisata Hijau 

Kebun keladi.

Menilik keindahan Puncak Jaya Papua, pantaslah tempat ini disebut sebagai destinasi wisata hijau. Keindahan tiada tara yang membuat siapa saja jatuh cinta. Bila kamu berkunjung ke sini, bisa dipastikan kamu jatuh cinta dan tak ingin cepat kembali ke kampung halaman. Suasana asri, damai, tentram, ditambah pesona lingkungan yang tidak ada duanya. Sebagai masyarakat Indonesia pecinta traveling dan alam, sudah sewajarnya berkunjung ke Puncak Jaya. Selami keindahan pegunungan sekaligus hutannya hingga cintamu pada Papua kian bertambah. 

NB:
Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog Wonderful Papua dengan tema Papua, Destinasi Wisata Hijau oleh EcoNusaFoundation dan Blogger Perempuan Network.

#BeradatJagaHutan 
#PapuaBerdaya  
#PapuaDestinasiHijau 
#EcoNusaXBPN  
#BlogCompetitionSeries 




Padangsidimpuan, 20 Maret 2020
Eva Riyanty Lubis



[1] Sebutan bagi perempuan Papua yang telah menikah.
[2] Sebutan cabai

Tuesday, March 10, 2020




Sebelum bercerita seputar oli motor terbaik, saya bagi kisah ketika awal memiliki sepeda motor dulu, ya.  Cerita ini merupakan awal mula saya berkenalan dengan Oli Pertamina Enduro.

Memiliki sepeda motor merupakan salah satu mimpi yang harus saya capai. Keadaan ekonomi keluarga pas-pasan membuat saya mengurungkan niat untuk memiliki kendaraan tersebut. Alhasil, sejak tamat SMA, saya memutuskan untuk kuliah sambil bekerja. Rezeki akan selalu menyertai bila kita terus berusaha semaksimal mungkin. Alhamdulillah, saya percaya hal tersebut. Puji syukur tak terhingga, saya berhasil memiliki sepeda motor sendiri pada tahun 2012 saat usia masih 19 tahun. Duhhh… senangnya tak terkira!

Ke sana kemari menggunakan sepeda motor memunculkan rasa bangga pada diri sendiri. Olala… ternyata punya motor tidak sekadar punya motor. Wajib ada yang namanya perawatan. Suatu hari, saya mengalami peristiwa naas yang benar-benar buat saya belajar banyak dari pengalaman tersebut.

Ketika saya pulang dari salah satu urusan pekerjaan, motor saya tiba-tiba ngadat! Bayangkan, ngadatnya di tengah jalan besar! Mana ada banyak kendaraan di belakang saya. Mulai dari sepeda motor, mobil, bahkan tronton! Klakson bertubi-tubi membuat keringat dingin mengucur deras. Saya coba berkali-kali menghidupkan sepeda motor, tetap tidak bersahabat. Ya Tuhannnn! Whats wrong? Untung—masih untung juga—saya tidak tertabrak kendaraan di belakang karena motor berhenti mendadak. Kalau sampai terjadi, bagaimana nasib saya?

Bersyukurlah saya sebab seorang bapak tua tiba-tiba berlari mendekat dan membantu mendorong sepeda motor saya ke pinggir jalan.
“Habis minyak, dek?” tanya bapak tersebut.
“Tidak, Pak. Minyaknya baru saya isi penuh,” jawab saya masih dilanda panik.
“Coba bawa motornya ke bengkel. Biar dicek masalahnya di mana,” saran bapak tersebut.
“Baik, Pak. Makasih sudah bantu saya, Pak,” tukas saya tulus.
Selanjutnya saya mendorong motor ke bengkel yang tak jauh dari tempat saya berdiri. Lalu, apa yang terjadi pada motor saya?


Enduro Oli Andalan Semua 
Sumber: grab.com

Motor yang baru beberapa bulan saya beli ternyata butuh oli baru, kawan-kawan! Malu sekali ketika abang tukang bengkel berujar demikian.

“Motornya baru, yang punya anak gadis, oli motor kok tidak diperhatikan, de?” ucapnya yang disambut tawa oleh beberapa orang lain di bengkel tersebut.

Saya balas dengan senyum kecut. Duh, mana saya tahu kalau sudah jadwalnya ganti oli? Namanya juga baru punya motor. Emak dan adik-adik di rumah juga belum pernah punya motor yang alhasil tidak tahu seluk beluk perawatan motor. Setiap hari saya harus ke kampus dan kantor. Tak sempat juga mikirin perawatan motor selain mencucinya hingga mengilap.

“Kan ada buku panduan?”
Tetap saja saya belum sempat baca. Huhuhu.

“Adek, olinya pakai Enduro saja ya, biar tarikannya halus dan kencang,” saran si abang tukang bengkel.
“Siap, Bang. Pokoknya kasih oli terbaik,” jawab saya cepat.

Alhasil, hingga bulan dan tahun berganti nama, saya menjadi salah satu pelanggan oli motor terbaik, Enduro. Beberapa orang pernah bertanya pada saya, “kok bisa sih percaya pada Oli Pertamina Enduro? Kan banyak tiruannya,” tukas mereka dengan kening berkerut.

Memang hingga saat ini banyak Oli Pertamina Enduro palsu beredar di pasaran. Tapi ada tips buat kita agar tidak terjebak membeli produk palsu, ya. Berikut tiga ciri utama Oli Motor asli Pertamina Enduro:

  1. Angka ditutup botol dan badan botol harus sama. 
  2. Angka ditutup botol dan badan botol harus sejajar atau lurus.
  3. Ada logo Pertamina dibalik label oli.


Oli Pertamina Enduro, Touring Motor Lebih Berkesan

Sumber: https://www.pertamina.com/en/meanings-of-the-logo

Sejak menggunakan Oli Pertamina Enduro, saya tidak pernah khawatir membawa motor bahkan untuk perjalanan jauh sekali pun. Menggunakan Oli Pertamina Enduro, perjalanan lebih luar biasa. Tak ada mogok mendadak di jalan apalagi munculnya rusak pada mesin. No, no, no! Jangan sampai hal itu terjadi. 




Touring bareng adik tercinta dari Padangsidimpuan menuju Danau Siais.

Mengapa  harus Oli Motor Matic Enduro 10W-30?
  • Mampu menjadikan mesin motor tetap bersih. 
  • Tarikan lebih lembut dan halus.
  • Memaksimalkan penggunaan bahan bakar. 
  • Harga yang sangat terjangkau semua kalangan. 
  • Menjadikan suhu tetap terjaga. 
  • Mengurangi gesekan ketika sepeda mptor berada dalam kecepatan tinggi.
  • Sudah sesuai dengan standar JASO MB dan API SL.

Dengan segudang kelebihan Oli Pertamina Enduro, masih ingin berpindah ke lain hati?

Touring bareng suami dari Padangsidimpuan menuju Padang Lawas.

Monday, March 9, 2020


Dok. pri

Eva Riyanty Lubis

            Tugas Nunik berubah sejak ia menanggalkan status lajangnya tiga tahun terakhir ini. Setiap pagi sebelum Bang Ikbal bangun dari tidurnya, ia akan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri yang baik. Sholat subuh, mandi, membereskan rumah, lalu memasak. Ia tidak pernah membeli makanan di luar meskipun ia sakit sebab ia tahu kalau suaminya sangat tidak suka masakan yang dibeli di luar.
            Nunik tahu awalnya berat baginya untuk melakukan semuanya karena sejak ia kecil, kedua orang tuanya tidak pernah memaksa atau menyuruhnya untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Kerjanya hanya belajar dan belajar hingga gelar S3 pun berhasil di raihnya dari salah satu universitas terbaik di Amerika. Sebelumnya, ia juga tidak pernah mempunyai hubungan dekat dengan lelaki manapun karena ia hanya ingin fokus pada pendidikan dan karirnya sebagai dosen.
            Meski begitu, Nunik sadar, ia hanyalah seorang wanita yang kelak akan menjadi istri dan bertanggung jawab melayani suami serta menjadi ibu rumah tangga yang baik. Karirnya sebagai dosen di Amerika ia tanggalkan dengan ikhlas dan kembali pulang ke kampung halaman sesuai dengan permintaan kedua orang tuanya.
*
            Nunik masih ingat bagaimana kedua orang tuanya dulu menyuruh ia untuk duduk bersama dengan mereka sebab ada yang hendak mereka bicarakan. Waktu itu adalah malam pertama Nunik untuk tidur di rumahnya setelah sebelumnya ia hanya pulang sekali dalam setahun ketika waktu lebaran tiba, sebab sejak SMA ia sudah mendapatkan beasiswa di Amerika. Mulanya ibu bercerita tentang saudara-saudara yang sangat bangga mempunyai saudara seperti Nunik. Gadis kampung yang berhasil di Negara Adikuasa. Kemudian dilanjutkan dengan ayah yang bercerita tentang sulitnya ekonomi saat ini. Apalagi keempat adiknya juga masih sekolah. Ical dan Sari masih duduk di bangku universitas di Kota Bandung, Minah SMA di Jakarta, dan Ridwan pesantren di Gontor.
            Sesungguhnya keluarga mereka bukanlah keluarga yang miskin. Bahkan mereka tergolong sebagai keluarga terkaya di kampung sebab ayah memiliki kebun sawit dan karet yang melimpah. Namun ayah bercerita kalau sudah banyak kebun sawit dan karet yang terpaksa dijual untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang terus meningkat.
            Nunik mendengar semuanya dengan seksama. Ia tahu dan sadar kalau ia belumlah banyak membantu keuangan keluarganya. Sebab di Amerika ia juga membutuhkan biaya yang banyak.
            Lalu tibalah pada kalimat yang membuat mata Nunik membesar.
            “Nunik, kamu putri pertama kami. Putri yang sangat kami banggakan. Namun alangkah lebih baik kalau kamu segera menikah. Kamu sudah sangat pantas untuk menikah, Nak,” ucap ayah dengan nada suaranya yang tenang.
            Bukannya Nunik tidak pernah berpikiran ke sana. Namun ia tidak menyangka kalau orang tuanya akan menyuruhnya menikah di saat ia masih senang-senangnya berkarir di Negara orang. Lagian ia merasa kalau ia belumlah terlalu tua hingga harus secepatnya menikah. Astaga! Usianya bahkan masih 27 tahun.           
Meski begitu, Nunik tak kuasa menolak. Dengan pasti seraya meyakinkan hatinya kalau ia bisa menjalani semuanya dengan baik, ia pun menganggukkan kepala dengan perlahan-lahan. Hingga kemudian ia dapatkan senyum manis nan lega di wajah kedua orang tuanya.
*
            Nunik dikenalkan ayah dan ibunya kepada Bang Ikbal. Anak dari juragan sawit terkaya di Indonesia. Seorang pria parlente dengan jas yang melekat di badannya. Tubuhnya atletis dengan tinggi lebih dari 170 cm. Wajahnya berwarna kuning langsat dengan rahang yang kokoh. Tatapan matanya tajam dengan bola mata berwarna hitam pekat. Alis matanya lebat seperti semut yang beriringan. Rambutnya gelombang dengan warna yang juga hitam pekat. Pada pandangan pertama, Nunik jatuh cinta. Dadanya semakin berdebar kala menemukan senyuman di wajah pria itu. Dua buah lesung pipi terlukis di sana.
            Bang Ikbal, usianya sudah 35 tahun. Namun ketampanan masih tampak wajahnya. Nunik tahu kalau lelaki itu disukai banyak perempuan. Terbukti banyaknya perempuan yang hadir di pesta pernikahan mereka dengan wajah yang sengaja dibuat semanis mungkin. Tetapi, Nunik tahu kalau mereka tengah cemburu. Hal itu membuat Nunik semakin bangga dan bahagia bisa bersanding dengan Bang Ikbal.
            Sikap Bang Ikbal yang ramah padanya sebelum pesta pernikahan mulai berubah sejak mereka tinggal di rumah mewah milik suaminya tersebut. Lelaki itu suka memerintah, ini dan itu. Nunik juga tidak diperbolehkan keluar dari rumah kecuali bersamanya. Untuk berlanja dapur saja Bang Ikbal hanya mempercayakan Mak Minah. Perempuan paruh baya yang menjadi pembantu di rumah mereka. Meski begitu, Nunik merasa kalau ia lah yang seperti pembantu sebab pekerjaan Mak Minah hanyalah berbelanja. Selebihnya Nunik yang mengerjakan. Sesuai dengan perkataan Bang Ikbal padanya pada malam pertama.
            “Aku tidak akan menyentuhmu sampai saatnya tiba. Bersikaplah layaknya seperti ibu rumah tangga yang baik. Jangan mengandalkan pembantu. Tapi kamu boleh belajar darinya. Aku tahu kamu belum terbiasa melakukan pekerjaan rumah karena pekerjaanmu hanya belajar dan belajar. Tapi itu tidak berlaku di rumah ini!”
            Nunik tertegun. Tidak menyangka akan mendengar kalimat yang membuat hatinya terasa sakit dari suaminya sendiri. Namun ia tidak akan menyerah begitu saja. Ia pun belajar banyak dari Mak Minah. Mak Minah juga dengan sabar mengajari Nunik.
            Tiga tahun berlalu namun Nunik sadar kalau Bang Ikbal masih belum menganggapnya sebagai seorang ibu rumah tangga yang baik. Bahkan pria itu belum juga menjamahnya. Seperti yang dilakukan seorang suami pada istrinya. Hingga suatu hari Nunik memberanikan diri untuk bertanya.
            “Bang, apakah ada yang salah denganku? Abang tidak senang kalau aku yang menjadi istri Abang?” tanya Nunik kala suaminya itu sedang sarapan pagi bersamanya. Ia tahu mereka bukanlah pasangan romantis. Mereka hanya bersama kala ada acara keluarga. Di sana mereka bersikap seolah-olah mereka adalah pasangan yang sangat bahagia. Setelah itu berakhir, Bang Ikbal kembali seperti semula. Nunik merasa kalau tugasnya sebagai istri di samping Bang Ikbal hanyalah sebagai pelengkap. Seperti sebuah boneka. Dimainkan sesuka hati.
            Yang menyakitkan hati Nunik, Bang Ikbal mulai sering tidak pulang ke rumah. Hal itu terjadi setelah enam bulan pernikahan mereka. Nunik selalu ingin bertanya, namun Bang Ikbal langsung buka suara sebelum mendengar pertanyaan dari Nunik dan berkata kalau ia tengah disibukkan dengan pekerjaannya.
            “Apa maksudmu?” Lelaki itu malah balik bertanya dengan sorot matanya yang tajam.
            “Kita tidak seperti pasangan lain, Bang. Apa Abang tidak merasa seperti itu?” tanya Nunik dengan nada suaranya yang pelan. Ia tidak ingin membuat suaminya marah dengan meninggikan nada suara. Walau bagaimana pun, Bang Ikbal adalah suaminya dan ia menghormati suaminya tersebut.
            Bang Ikbal terkekeh. Lalu sebuah senyum sinis terpampang di wajahnya. Seolah ia mengejek Nunik dengan pertanyaan yang baru saja ia dapatkan. “Nunik, dari awal aku tidak suka padamu. Kalau bukan karena kedua orangtua kita yang menjodohkan, aku tidak akan mau denganmu. Sudahlah! Lebih baik kau bersikap seperti biasa saja!”
            Nunik merasa seolah dunia dilanda gempa. Ia tiba-tiba menjadi pusing dan linglung.
            “Dari dulu aku tidak suka pada perempuan bergelar banyak. Apalagi kau sampai S3 sedang aku hanya lulusan S1. Aku lebih suka pada wanita yang biasa-biasa saja. Mudah diatur sesuka hatiku. Seharusnya kau bersyukur karena aku mau menikah denganmu.  Kau pikir akan ada pria lain di Negara ini yang mau menikah denganmu? Mendengar gelarmu saja laki-laki udah lari terbirit-birit. Cukup ini yang terakhir kalinya. Kau jangan bertanya apa-apa lagi!”
            Air mata Nunik akhirnya luruh. Air mata yang sejak dulu selalu ia tahan. Dengan cepat ia berlari ke dalam kamarnya. Menumpahkan sesak di dada yang kian menggunung. Ingin rasanya ia mengadu pada kedua orang tuanya. Namun Nunik tahu ia tidak bisa menambah beban orang tuanya sebab keluarga mereka juga sedang mengalami musibah. Adik kecilnya baru saja mengalami kecelakaan.
            Nunik mencoba bertahan. Namun sikap Bang Ikbal semakin menjadi-jadi. Dini hari ia akan pulang ke rumah sembari membawa perempuan yang berbeda. Bang Ikbal membawa perempuan itu ke dalam kamar tamu. Kikikan, erangan dan desahan dari dalam kamar itu bisa Nunik dengar dengan jelas. Nunik hanya bisa menangis dan berdoa dalam sujudnya.
            Nunik sudah tidak kuasa untuk bertahan. Bukan keluarga seperti ini yang ia inginkan. Kala Bang Ikbal tidak ada di rumah, ia mencoba untuk kabur. Namun kemana pun Nunik pergi, Bang Ikbal selalu berhasil menemukannya. Biasanya hati Nunik yang selalu disakiti, namun kini tubuhnya juga mendapat berbagai macam pukulan. Tubuh putih mulusnya mendadak penuh luka dan lebam.
            Nunik hendak mengadu pada ibu dan ayahnya. Namun Bang Ikbal mengancam akan menghancurkan keluarganya jika ia berani melakukan itu. Bang Ikbal juga memarahi Mak Minah jika ketahuan membantu membersihkan luka Nunik. Mereka pun dipisahkan. Mak Minah dipulangkan ke kampung halamannya dan diberikan uang yang lumayan banyak sebagai pesangon. Nunik kini sendiri.
            Meski begitu, Nunik masih ingin bertahan. Ia mencoba memperbaiki nasibnya dengan mengadukan kejahatan suaminya kepada mertua dan polisi. Namun tidak ada yang percaya. Nunik sedih. Tidak adil! Sangat tidak adil!
            Kedua orangtua Nunik meminta maaf dan tidak menyangka kalau putri mereka tidaklah sebahagia yang mereka kira. Berbekal tabungan milik mereka, mereka menyuruh Nunik untuk meninggalkan Indonesia sesegera mungkin.
*
            Nunik kembali menjadi dosen di Amerika. Negara itu tetap menerima Nunik karena mereka tahu potensi besar yang dimiliki oleh Nunik. Nunik mulai menata hidupnya lebih baik dan mencoba melupakan masa-masa kelam yang pernah ia rasakan.
            Dan suatu ketika, ia sudah bisa tersenyum puas kala menemukan berita kalau Bang Ikbal telah meninggal dunia karena menderita HIV Aids.

NB: 
Tulisan telah dimuat pada Harian Medan Bisnis rubrik Art and Culture. 
Minggu, 07 Juni 2015.

 

Follow Me @evariyantylubis