Jumat, 16 November 2018

Meski Aku di Rumah Melulu, Bukan Berarti Aku Tidak Kerja

~ Biarkan orang berkata apa ~


Jangan menengok ke belakang, kecuali Anda bermaksud menuju ke sana.” 
Marck Holm



Perkenalkan, aku Eva dari Padangsidimpuan. Saat ini aku berusia 26 tahun. Itu artinya aku tak lagi muda dan aku menyadari itu. Di usia seperti ini, sudah seharusnya aku memiliki pekerjaan tetap dengan penghasilan lumayan. Ya, aku setuju dengan hal itu. Namun, ketika orang-orang di sekitarku menyarankan agar aku kerja di perusahaan, kantor, dan sebagainya, itulah yang membuatku tidak setuju. Mengapa harus kerja pada orang kalau kita bisa mencari penghasilan sendiri?
            Tahun 2010, ketika aku menyelesaikan pendidikan SMA, aku sudah bekerja menjadi karyawan salah satu perusahaan swasta di kota tempat tinggalku. Saat itu, gaji yang aku dapatkan lumayan banyak untuk ukuran remaja berusia 18 tahun. Aku juga menikmati pekerjaanku. Setahun kemudian, aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah sambil bekerja. Tugas kuliah yang semakin banyak membuatku harus menentukan pilihan. Kuliah atau kerja! Dua-duanya sama penting buatku. Namun di tahun ketiga kuliah, aku memutuskan untuk fokus pada pendidikan. Lantas bagaimana aku harus membiayai seluruh kebutuhan hidupku?
            Allah memang Maha Tahu. Sejak tahun 2012, hobi menulis yang kutekuni mulai membuahkan hasil. Awalnya menang lomba, hingga akhirnya aku berhasil menerbitkan berbagai novel yang kutulis di penerbit mayor. Tentu saja honornya lumayan besar. Jauh lebih besar dibanding gaji yang kudapatkan ketika bekerja sebagai karyawan.
            Lantas, aku memilih fokus kuliah sembari tetap menulis. Biasanya menulis hanya sebagai hobi, namun kini hobi tersebut harus bisa menghasilkan, minimal sebanyak gaji yang kudapatkan ketika bekerja dulu.
Berakit-rakit ke hulu
Berenang-renang kemudian
Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian
           
            Tidak mudah mendapatkan penghasilan dari menulis. Apalagi waktu itu aku pindah kampus ke Medan, tidak lagi di kota tempat tinggalku. Itu artinya biaya yang kubutuhkan semakin banyak. Biaya kost, transportasi, makan, uang kuliah, dan sebagainya. Pagi hingga sore, aku fokus belajar. Lalu malamnya kembali menulis. Tidak ada waktu untuk berleha-leha. Sebab aku harus berjuang untuk hidupku.
            Hasil memang berbanding lurus dengan pengorbanan dan perjuangan. Aku berhasil menyelesaikan kuliah dengan IPK Cumlaude, bahkan salah satu terbaik di kampusku. Maha Besar Allah dengan segala bantuan yang Ia berikan padaku.
            Hidup tidak sampai di situ. Aku kembali pulang ke kampung halaman dan memutuskan untuk tetap fokus pada bidang kepenulisan. Saban hari, aku fokus dengan laptop. Kalau tidak perlu, aku tidak keluar rumah. Jika orang kantoran bekerja 8 jam perhari, maka aku juga harus bisa seperti itu. Awalnya tidak mudah. Butuh niat, disiplin, dan kerja keras.
            Namanya penulis or freelancer, penghasilan yang didapatkan tidak tetap setiap bulannya. Kadang dapat jutaan, kadang malah ratusan ribu. Meski begitu, aku menikmati dan mensyukuri apa yang telah aku dapatkan hingga kini.
            Namun, ada saja yang julid dan kepo kepadaku.
            “Kapan kerja? Kok di rumah melulu?”
            “Sekolah tinggi-tinggi jatuhnya cuma di rumah melulu. Tuh si A, teman SDmu dulu sudah kerja di bank.”
            “Tamat SMA kamu diterima di perusahaan swasta. Lah, ini cuma ngeram di rumah. Harusnya kamu malu dong, Va. Adek-adekmu masih kecil. Butuh banyak biaya. Sebagai anak pertama kamu kudu kerja dan dapat penghasilan banyak.”
            Jangankan masyarakat tempat tinggalku. Guru, dosen, bahkan saudara-saudaraku menyayangkan keputusanku yang menurut mereka lebih memilih ‘ngeram’ di rumah. Ya Allah, pengen banget teriak kalau aku di rumah juga cari duit. Bukan berleha-leha atau malas-malasan. Setiap aku jelaskan kalau aku ini penulis, mereka tidak pernah mengerti.
            “Kapan bisa kaya kamu kalau nulis?”
            “Emangnya dapat berapa sih kalau nulis buku?”
            “Ngapain kuliah kalau ilmunya tidak dipergunakan?”
            “Kuliah mahal-mahal tapi tidak membuahkan hasil.”
            “Udah, nulisnya jadi hobi aja. Mumpung kamu masih dua puluhan, masih ada kesempatan buat jatuhin lamaran kerja.”
            Seberapa keras aku berusaha untuk ngejelasin, semakin sering mereka kepoin aku. Kadang aku mikir, mereka nggak ada kerjaan lain, apa? Tapi kalau diambil pusing, jatuhnya malah stress. Entar malah nggak bisa nulis. Nggak bisa dapat penghasilan. Jadi, seiring berjalannya waktu, aku cuma kasih senyuman buat mereka yang bertanya kapan aku kerja.
            Sayangnya hal itu tidak berhenti sampai di situ. Mereka malah beralih pada emak. Bertanya mengapa putri sulungnya dibiarkan menentukan hidup sesuka hati. Untungnya emak bukan tipe beperan. Dengan santai emak menjawab,
            “Zaman sekarang kerja nggak cuma di kantor. Di rumah juga bisa dapat penghasilan. Lagian kasihan kalau dia kerja kantoran kalau gajinya nggak seimbang dan dia nggak bisa mencintai pekerjaannya. Sebagai orangtua, kita harus mendukung keputusan anak. Apalagi yang saya lihat, anak saya benar-benar mencintai pekerjaannya. Masalah rezeki, sudah diatur yang di Atas.”
            Duuuhh emak, selalu terharu dengar ucapan emak. Makasih sudah bela putrimu ini, mak. Emak merupakan single parent. Bapak sudah pergi menghadapNya delapan tahun lalu. Itulah mengapa kami berjuang semaksimal mungkin untuk keluarga kami. Kami memang bukan keluarga berada. Namun kami punya harga diri. Kami tidak pernah meminta-minta. Seberapa pun rezeki yang kami dapatkan, insyaAllah halal dan berkah.
            So, guys, jangan terlalu mudah nge-judge seseorang dalam bidang apapun, termasuk pekerjaan, ya. Kita tidak pernah tahu sejauh apa perjuangannya dalam mencari pekerjaan, ataupun sejauh apa proses yang telah ia lalui untuk itu.

“Pergilah dengan keyakinan menuju cita-citamu. Jalanilah hidup yang kau bayangkan.” 
Henry David Thoreau



Eva Riyanty Lubis 
Barangkali ditulis beberapa bulan lalu ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Me @evariyantylubis