Jumat, 30 November 2018

Cerpen Harian Analisa - Sri dan Putrinya


pixabay.com


Dimuat pada Harian Analisa Rubrik Rebana. Minggu, 22 Juni 2014.
Eva Riyanty Lubis

            Aku seorang istri yang kehidupannya begitu bahagia. Memiliki suami yang sangat mencintaiku dan dua orang putri yang melengkapi kebahagiaan kami. Kami memang bukan keluarga yang kaya raya, namun dengan suamiku bisa mencukupi kebutuhan keluarga kami, itu sudah lebih dari cukup. Suamiku seorang pedagang kelontong. Sedang aku disibuki dengan pekerjaan rumah tangga yang tidak pernah selesai. Selain itu aku selalu mengikuti perkembangan para putriku dengan seksama. Aku ingin memastikan kalau mereka tidak kekurangan kasih sayang dan pengajaran.
            Kami tinggal di sebuah perkampungan kecil, yang artinya banyak hal yang harus aku ajarkan pada putriku sebab keterbatasan sarana dan prasarana di kampung ini. Kampung suamiku. Aku tidak mengeluh atas semua ini sebab ketika aku memutuskan untuk menikah dengannya, aku harus siap untuk ikut kemana pun dia bawa.
            Masih lekat diingatanku bagaimana pertemuanku dengan Bang Hotman. Waktu itu aku masih duduk di bangku universitas semester satu. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama ketika melihat dia berjualan di pasar tradisional kota kami, Padangsidimpuan. Parasnya yang sangat rupawan dipadukan dengan tubuh yang sempurna. Aku yakin dengan penampilannya yang diatas rata-rata, harusnya dia bisa bekerja lebih layak. Maksudku selain berjualan ikan di pasar. Namun setelah aku selidiki lebih jauh, ternyata dia berasal dari daerah yang lumayan jauh dari kotaku. Dia merantau demi mengubah nasib. Dan kuketahui pula kalau dia hanya seorang lulusan SD.
            Rasaku tidak berubah meski tahu dia hanya lulusan SD. Sebab kala aku memutuskan untuk mendekati dan berbicara dengannya, cara bicara dan pandangan hidupnya sangatlah dewasa. Rasa cintaku pun semakin dalam padanya.
            Kami mencoba untuk saling mengenal satu sama lain. Tidak butuh waktu lama ketika dia memutuskan untuk melamarku pada ibu. Satu-satunya orang tuaku kala itu. Ibu, kakak dan abangku menyambut baik berita itu. Sebab di mata mereka Bang Hotman adalah seorang lelaki yang bertanggung jawab. Dan karena masa itu keuangan keluargaku juga sangat morat-morit, terpaksa aku berhenti kuliah. Setelah itu kami menikah dan aku diboyong ke kampungnya, Pinarik.
            Aku bangga bisa menjadi bagian dari diri Bang Hotman. Satu-satunya lelaki yang mengisi hatiku hingga kini usia pernikahan kami memasuki dua belas tahun. Namun rasa bahagia itu perlahan sirna sejak suamiku pergi menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa karena serangan jantung mendadak. Penyakit yang bahkan aku sendiri tidak tahu kapan menyerang tubuh suamiku. Rasa sakit pun kurasakan kala kakak-kakak iparku mulai menunjukkan rasa tidak suka padaku dan putriku. Kata mereka, aku hanya seorang istri yang tidak tahu diri yang tidak bisa apa-apa. Hatiku benar-benar hancur. Mereka yang kukira baik ternyata bermuka dua. Mereka baik hanya waktu ada suami di sampingku. Lalu kuputuskan untuk kembali ke kota asalku.
            Lima tahun yang lalu, ibuku juga telah menghadap Yang Maha Kuasa. Sedang saudara-saudaraku sudah merantau ke luar kota. Ada yang ke Medan, Batam, Bandung, bahkan Sulawesi dengan keluarganya masing-masing. Kami memang keluarga besar. Tujuh bersaudara dan aku anak ke enam, namun tidak ada yang memutuskan untuk tinggal di Padangsidimpuan sejak ibu tiada.
Tidak ada rumah peninggalan orang tua sebab keluargaku sejak dulu tidak sanggup untuk membeli rumah.
Perlahan, kota tempatku dilahirkan seperti sebuah tempat yang mencekam bagiku. Aku gamang, selalu berpikir apakah aku bisa menjadi ibu sekaligus ayah untuk putri-putriku?

Pixabay.com


            Sibujing, nama tempat aku dan putriku tinggal. Kami mengontrak rumah dengan sisa uang peninggalan almarhum suamiku. Harganya jauh lebih murah dibanding tempat lain yang telah kutanyai. Tempat yang tidak jauh berbeda dengan kampung suamiku. Orang-orangnya lebih banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak berguna. Pagi hari, aku pasti mendapati ibu-ibu sudah duduk sambil bergunjing ria di rumah tetangganya. Ah, kalau saja aku memiliki uang lebih banyak, pasti aku memilih tempat yang lebih nyaman untuk kami.      Seorang perjaka tua yang merupakan tetanggaku sering duduk di depan rumah kami. Dia sangat menyukai putri-putriku. Sama seperti putri-putriku yang menyukainya. Kadang dia membelikan putri-putriku makanan dan peralatan sekolah. Awalnya aku merasa risih, takut ada niat jahat darinya. Namun lama-kelamaan aku menjadi terbiasa. Sebab dia tidak pernah menunjukkan gelagat tidak baik pada kami.
            “Sri, ada baiknya kamu jualan di rumah ini. Bagaimana kamu akan mencukupi kebutuhanmu kalau kau tidak bekerja? Kalau hanya jualan di rumah, kau tetap bisa mengurus rumah dan anak-anakmu.” Ucap Bang Husin suatu hari. Aku memang sudah menceritakan perihal keluargaku padanya. Dan ucapannya terus terngiang-ngiang di telingaku. Memang aku sudah memikirkan tentang pekerjaan sejak urusan perpindahan sekolah putriku selesai. Namun sebelumnya tidak ada niat sedikitpun dibenakku untuk berjualan.

 
            Tak butuh waktu lama, aku pun membuka warung di depan rumah kontrakan kami. Syukur saja halamannya masih luas dan bisa didirikan warung kelontong. Aku sadar kalau aku tidak memiliki keahlian lain sebab sejak aku hidup, tidak pernah sekalipun aku bekerja. Dulu hanya sesekali aku membantu suamiku berjualan.
            Tuhan memang adil. Aku yang hanya seorang pendatang dari kampung bisa diterima di tempat tinggal baruku. Jualanku pun mulai laris. Namun satu hal yang harus aku sadari. Setiap ada kebahagian, pasti akan dibarengi dengan kesedihan.
            Tetanggaku yang hanya berjarak dua rumah dariku membuka warung dengan jualan yang sama sepertiku. Bahkan jualannya jauh lebih banyak. Tentu saja rasa sedih, gusar dan kecewa bersarang di hatiku. Apalagi aku sudah menganggap dia sebagai kakakku di kota ini.
            “Hakku kalau aku mau berjualan yang sama denganmu. Lagian rumah-rumahku kok. Jadi kau nggak usah sewot.” Ucapnya suatu hari padahal aku tidak mengucapkan apa-apa padanya.
            Rezeki orang memang berbeda. Namun dengan dia berjualan yang sama denganku, sudah bisa dipastikan pendapatanku berkurang drastis. Aku hanya bisa mengurut dada. Dalam benakku, bila aku sudah memiliki uang lebih, aku akan membawa anakku untuk pindah dari tempat ini.
            Apalagi tempat ini sudah terkenal dengan orang-orangnya yang berperilaku buruk. Narkoba, judi, minuman keras, sudah tidak asing lagi didengar. Bahkan akhir-akhir ini aku mendengar desas-desus kalau banyak gadis yang menikah muda di sini lantaran sudah hamil duluan. Ya Tuhan, ini benar-benar mengerikan.
            Satu hal yang harus aku pahami, orang-orang tampaknya membuat semua itu menjadi sesuatu yang wajar. Tidak perlu dilebih-lebihkan. Namun jika pendatang baru membuat kesalahan di tempat ini, pastilah akan segera mendapat hukuman. Sangat tidak adil!
            “Sri, apa kamu masih berniat untuk menikah?” Tanya Bang Husin suatu hari.
            Aku terkekeh. Dia orang pertama yang menanyakan hal itu padaku sejak aku mendapat gelar janda. “Untuk saat ini belum, Bang. Abang sendiri? Aku dengar-dengar dari tetangga Abang belum pernah menikah.”
            “Menemukan orang yang pas untuk mendampingi hidup itu tidak mudah, Sri.”
            “Abang punya pekerjaan menjanjikan dan juga punya uang banyak.” Sahutku. Bang Husin seorang pegawai bank swasta di kota ini. Namun dia sudah sering dipindah tugaskan. Jadi hidupnya selalu berpindah-pindah. Dia tidak terlalu bercampur baur dengan orang-orang sini. Namun bila ada kemalangan atau pesta pernikahan dan lainnya, dia pasti ikut berpartisipasi.
            “Tidak menjamin, Sri.”
            “Apanya yang tidak menjamin, Bang? Aku pikir Abang cukup bertanggung jawab untuk menjadi seorang suami.”
            “Kata siapa, Sri?”
            “Kataku, kata putri-putriku.” Sahutku dengan seutas senyuman.
            Bang Husin tersenyum. Sebuah senyuman hangat. Tampak dia menjalani hidup dengan penuh syukur dan suka cita.
            “Kalau kamu mau, mungkin kita bisa me…”
            Belum sempat Bang Husin menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba banyak orang datang ke rumahku. Pak RT, Pak Lurah, Pak Kepala Lingkungan, tetangga depan rumah baik yang perempuan dan laki-laki bahkan yang tidak kukenal sekalipun. Beberapa muda-mudi yang sering nongkrong di warungku juga ikut ambil bagian. Wajah mereka terlihat bengis. Seperti hendak menerkam kami.
            Semuanya menarik dan menyeret Bang Husin.
            “Perjaka tua tak tau diri!”
            “Kumpul kebo! Kamu pikir kami tak tau ulahmu dengan wanita janda ini?”
            “Keluar dari rumah ini!”
            Aku menangis. Ingin aku berteriak dan menolong Bang Husin yang aku tahu tidak bersalah sama sekali. Ya, aku sama sekali tidak berbuat macam-macam dengannya. Bahkan putri-putriku sedang ada di dekat kami menonton televisi kala itu.
Aku masih ingat bagaimana dia berteriak ditengah caci makian yang dilontarkan orang-orang padanya. “Kalian tidak tahu malu! Kesalahan kalian, kalian simpan rapat-rapat. Kalian benar-benar mengkambing hitamkan orang yang tidak bersalah!”
*
Hidup ini terkadang begitu keras. Aku tahu ada banyak tetangga yang cemburu melihat kedekatan keluargaku dengan Bang Husin. Padahal aku hanya menganggapnya sebagai salah satu tetangga yang perduli pada keluargaku. Namun cara mengusir mereka sungguh keji.
Kadang, kutemui putri-putriku menangis karena rindu pada Bang Husin. Pun sama denganku. Aku belum bisa melupakan kepingan-kepingan kelam itu dalam hidupku.
Seminggu kemudian, aku memutuskan untuk kembali merantau ke luar kota bersama buah hatiku. Telah kusadari kalau kota kelahiranku sudah tidak bersahabat lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Me @evariyantylubis