Kamis, 26 April 2018

[Review Film] - Maze Runner: The Death Cure 2018

Tiga Idola
Sumber: Screen Rant

Trilogy Maze Runner berakhir sudah. Meskipun sudah berusia lebih dari seperempat abad, saya tetap menikmati film bertema Dystopian/Post Apocalypse. Selain Maze Runner, sebut saja The Hunger Game dan Divergent.  Bahkan untuk The Hunger Game, saya juga berhasil menuntaskan novelnya. 

Film seperti ini sebenarnya ditujukan bagi young adult betusia 15 hingga 20 tahun. Namun, tidak menutup kemungkinan orang dewasa turut menikmati. Terbukti film bertema seperti ini lumayan meraih keuntungan yang cukup fantastis.

Final Maze Ranner baru bisa dinikmati setelah penundaan kurang lebih tiga tahun dikarenakan cedera yang dialami oleh sang pemeran utama, Dylan O'brien.

The Maze Runner 2014 baru saya tonton pada tahun 2015. Sedang yang kedua dan ketiga saya tamatkan semalam sore. Film ini membuat detak jantung saya berdetak lebih cepat,  malah kepengen ikutan lari bareng Thomas. Hehe.

'Cobaan demi cobaan' yang mereka hadapi sangat luar biasa. Ibarat game, buka pintu ini,  keluarnya ini. Buka pintu yang lain,  cobaannya tak kalah berat. Lari lari dan lari.  Belum lagi bunyi dor-dor yang membuat suasana semakin 'panas'.

Maze Runner mengajarkan betapa pentingnya sebuah tim. Betapa pentingnya persahabatan.  Betapa pentingnya kepercayaan. Betapa pentingnya berpikir jauh ke depan.

The Maze Runner merupakan kisah sekelompok remaja yang terjebak di dalam labirin yang juga disebut The Maze. Thomas merupakan anggota bari yang mengalami amnesia.  Sedang Teresa merupakan tokoh perempuan satu-satunya. Mereka dijadikan eksperimen untuk mencari penawar dari wabah oleh organisasi besar bernama WCKD (Wicked).

Pada film nomer dua, Thomas dkk lari dari WCKD dan berjuang untuk menemukan Right Arm's.  Kelompok menentang WCKD yang berhasil kabur dari organisasi tersebut.  Sayangnya Teresa membocorkan lokasi keberadaan mereka pada WCKD.  Pertempuran kembali terjadi. Ada banyak remaja yang kembali 'diambil' WCKD,  termasuk Minho.

Maze Runner terakhir, Thomas dkk berjuang semaksimal mungkin untuk menyelamatkan Minho dan teman-teman lainnya yang diculik. Mereka mendapat bantuan dari Lawrence,  seorang pemimpin para infected namun belum menjadi Crank. 

Maze Runner merupakan kisah simpel dan mudah dimengerti.  Jadi, kamu nggak bakalan merasakan yang namanya kening berkerut.

Salah satu scene favorit saya adalah ketika Newt (Thomas Brodie) tak bisa diselamatkan. Pun ketika ia meninggalkan surat untuk Thomas di menit-menit berakhirnya film ini. Bagi saya itu mengharukan.

Minho alias Ki Hong Lee merupakan tokoh favorit saya sejak film pertama hingga akhir. Ternyata doi sudah nikah, bo. Wajahnya babyface banget.  Hehe

Di ending film Minho disiksa dengan berbagai percobaan. Senang banget saya pas Minho mengatakan Teresa penghianat dan berusaha melawannya.  Meski akhirnya Minho harus dibius.

Pahlawan baru di Maze Runner ending ini adalah kembalinya Gally alias Will Poulter. Di film pertama, dialah yang paling saya benci.  Eh di sini doi jadi sang juru selamat. 
"Tidak ada manusia yang sempurna," kalimat yang saya ingat pas Minho bertanya mengapa ia ada dan menolong mereka. So Cool! 

Saya tidak terlalu suka Teresa. Saya rasa doi tidak terlalu maksimal memerankan perannya. Jadi hasil akhirnya kurang memuaskan saya sebagai penonton. Malah tokoh perempuan yang saya suka,  Brenda alias Rosa Salazar. 

Di film kedua,  rambutnya hampir botak. Untunglah di film terakhir kecantikannya semakin bersinar. Perjuangannya luar biasa. Belum lagi aksinya yang sangat memukau. Contoh,  pas dia dan Jorge adu tembak di awal film untuk menyelamatkan Minho di dalam kereta api. Atau pas doi bawa bus yang menampung puluhan remaja. Remaja tersebut diselamatkan dari percobaan WCKD. Dia juga sering jadi sang penyelamat Thomas dikala genting.


So, sampai jumpa para Gladers.  Kalian berhasil buat saya pengen lari. 




Lari dari kenyataan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Me @evariyantylubis