Minggu, 28 Mei 2017

Ulos Batak Angkola, Pesona Kain Adat dari Tanah Batak

Ulos Batak Angkola
Doc. pribadi

            Secara harfiah, Ulos disebut sebagai kain atau selimut. Dalam Batak Angkola, Ulos disebut juga sebagai Abit Godang atau Abit Batak. Makna, fungsi, dan guna Ulos di setiap suku Batak hampir sama, yang membedakan hanya penyebutan nama serta motif. Batak Toba, Mandailing, dan Angkola menyebut kain adat sebagai Ulos, Batak Simalungun menyebutnya Hiou, Batak Karo menyebutnya Uis, dan Batak Pakpak menyebutnya sebagai Oles.
            Sebelum masuk agama Islam dan Kristen di Angkola, masyarakatnya menganut kepercayaan Pelebegu atau memuja roh nenek moyang. Tak sedikit juga yang menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Pada masa itu, Ulos merupakan salah satu wujud ekspresi dari kepercayaan yang dianut. Nah, ketika agama Islam dan Kristen masuk pada abad ke 19 hingga kini, Ulos tetap digunakan. Batak Kristen menggunakan Ulos dalam pelaksanaan ibadah di gereja, upacara Mangulosi pada perkawinan, dan sebagainya. Pun demikian dengan Batak Muslim yang juga menggunakan Ulos dalam upacara kelahiran anak, perkawinan, khitan, dan masih banyak lainnya.

Proses Pembuatan Ulos.
Doc. pribadi
            Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan—Sumatera Utara, merupakan pusat adat dan budaya yang sejak dulu memegang peranan penting bagi Batak Angkola. Di sana kamu bisa dengan mudah menemukan pengrajin tenun dan kain adat, yang masih mempertahankan cara pembuatan secara manual.
            Pada Batak, Ulos Batak Angkola termasuk yang paling cerah dan banyak motifnya. Setiap motif memiliki arti, lho. Jadi, motif tidak sekadar motif. Berikut arti dari motif Ulos Batak yang Angkola yang digunakan pada upacara pernikahan, prosesi ini biasa disebut sebagai prosesi Mangulosi:

Rambu

Wujudnya seperti bulu atau putri melambai. Melambangkan dalam berumah tangga harus luwes mencari nafkah.




Manik-Manik Si Mata Rambu

Melambangkan suami istri harus bisa menjaga anak laki-laki dan perempuannya dengan baik.




Sirat

Melambangkan rumah tangga harus dipertahankan.





Jarak


Melambangkan semua aspek kehidupan harus ada jarak, tidak boleh terlalu dekat.




Pusuk Robung



Melambangkan bahwa sepanjang hidup kita harus bisa memberi manfaat. Ibarat pepatah, makin tinggi makin merunduk.




Luslus


Melambangkan dalam hidup manusia harus bisa bermasyarakat.




Tutup Mumbang

Melambangkan bahwa kita harus mampu menyimpan hal buruk dan tidak mengumbar hal baik.





·       Iran-Iran
Melambangkan bahwa ke manapun kamu melangkah, kamu harus meninggalkan jejak kebaikan.





Jojak Mata-Mata
Melambangkan suami dan istri harus mampu memberikan kesan baik tentang keluarganya pada mertua, begitu juga sebaliknya.




·        Yok Yok Mata Pune
Melambangkan bahwa perempuan Batak harus pintar, cerdas, dan mau belajar.





·        Ruang
Melambangkan bahwa suami istri harus berjiwa tegar, kuat, dan mampu merangkul semua pihak yang ada di sekitarnya.




·        Si Jobang
Melambangkan bahwa Mora harus bertanggung jawab terhadap seluruh aspek kehidupan orang di sekitarnya.





·        Singap
Melambangkan bahwa kita harus mampu menahan panas dan terik matahari.





·        Horas Tondi Madingin Sayur Matua Bulung
Merupakan serangkaian doa dan harapan semoga yang diUlosi selamat dan jiwanya sejuk sampai dia seperti daun yang menua.




·        Bunga
Melambangkan bahwa perempuan Batak harus mengeluarkan bau yang harum bagi sekelilingnya. Artinya bisa menjadi teladan yang baik.




·        Suri-Suri
Melambangkan bahwa keluar rumah harus merapikan diri terlebih dahulu. Artinya sebelum mengurus orang lain, urus diri sendiri terlebih dahulu.




·        Dalihan Na Tolu
Pada Batak ada tiga unsur penting yakni Mora, Kahanggi, dan Anak Boru.





·        Tugu
Melambangkan perkumpulan keluarga. Orang Batak harus bisa hidup dalam perkumpulan keluarga.





            Sebuah warisan nenek moyang yang sangat luar biasa maknanya. Ulos perlu dijaga, dilestarikan, dirawat, serta dilindungi oleh hukum dan kita sebagai masyarakat Indonesia khususnya Batak, agar terhindar dari berbagai macam hal yang ingin merusak dan menghilangkan kain adat tersebut sebagai simbol adat budaya Batak Angkola.
            Saya sendiri sangat bangga sebagai orang Batak yang memiliki kain adat berupa Ulos. Apalagi sekarang sudah banyak desainer yang membuat pakaian dengan Ulos sebagai motifnya. Tentu hal tersebut merupakan salah satu cara mengenalkan Ulos kepada banyak orang. Besar harapan saya, Ulos tidak hanya dikenal di dalam negeri, namun juga bisa diterima di luar negeri.[]

*Sumber foto motif ulos dan maknanya dari

*Diikutsertakan dalam Lomba Menulis Sahabat Gold.
#SAHABATGOLD #kisahIstimewaSahabat #pesonaIndonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Me @evariyantylubis