Minggu, 14 Mei 2017

Bentang Huraba, Saksi Sejarah di Tapanuli Selatan

Monumen Perang Kemerdekaan BenHur


Selamat datang di Monumen Benteng Huraba, ya! 

Sebenarnya, Sumatera Utara kaya akan tempat pariwisata. Salah satu yang terkenal adalah Benteng Huraba atau terkadang disebut dengan sebutan Benhur. Tempat pariwisata yang juga merupakan saksi sejarah ini terletak di Kecamatan Batang Angkola, Kabupaten Tapanuli Selatan. Dari Padangsidimpuan, butuh waktu kurang lebih empat puluh menit menggunakan sepeda motor.
Si cantik Winny lagi berpose :D

Setelah mengalami renovasi, BenHur jadi jauh lebih indah dan bersih.
Jikalau teman-teman ingin pergi ke Aek Sijornih, salah satu tempat pariwisata yang terkenal di Panyabungan, pastilah melewati Bentang Huraba.  Benteng Huraba ini sendiri terletak pas di tepi jalan. Berada di sebelah kanan kalau kita berangkat dari Padangsidimpuan. Jika kita teliti, kita akan menemukan plakat bertuliskan Bentang Huraba di pinggir jalan tersebut.
Nama Benteng Huraba sendiri diambil dari nama desa letak benteng ini berada. Peletakan batu pertama benteng ini dilakukan oleh Kepala Daerah Kepolisian Sumatera Utara, Brigadir Jendral Polisi JFR Montolalu pada 4 September 1980.
Benteng yang diresmikan pada 21 November 1981 oleh Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jendral Polisi DR Awaloedin Djamin MPA  ini merupakan monumen peristiwa perjuangan merebut kembali kemerdekaan Republik Indonesia pada 5 Mei 1949 setelah Belanda kembali menyerang karena tidak menerima kemerdekaan Indonesia.
 Bentuk Benteng Huraba seperti kerucut. Kita harus menaiki kurang lebih dua puluhan anak tangga untuk tiba di atas. Tempat ini dikelilingi pagar besi yang dicat berwarna hitam dengan panjang kurang lebih satu meter. Ketika kita tiba di atas, kita akan menemukan meriam bercat hitam, yakni di sebelah kanan dan kiri tempat tersebut. Meriam yang ada di sebelah kiri ketika kita masuk, bentuknya lebih utuh ketimbang yang berada di sebelah kanan. Dulu, meriam itu digunakan para pejuang untuk melawan Kolonial Belanda.
Di tengah tempat ini terdapat satu bangunan mirip kastel dengan tinggi kurang lebih enam meter, namun dikelilingi oleh rantai. Di situ kita akan menemukan tulisan yang mengatakan kalau ada 27 orang pejuang bangsa yang gugur. Yakni dari angkatan darat 16 orang dan POLRI 11 orang.
Di sisi belakang tempat ini, di luar pagar besinya, dibuat tembok berbentuk persegi panjang dengan relief perjuangan dan bacaan, “Maju Terus Pantang Mundur.”
Maju Terus Pantang Mundur!
Kobarkan semangat merah putihmu!

Untuk memasuki Bentang Huraba, kita tidak akan dipungut bayaran alias gratis. Entah mungkin karena gratis, tempat ini menjadi kurang terawat. Sampah terlihat berserakan. Belum lagi coretan-coretan tak penting di dinding-dinding monumen.
Sungguh ironis. Sebab banyak pengunjung yang tidak berpikir jauh ke depan. Padahal pariwisata sejarah seharusnya dijaga sebaik mungkin agar tetap utuh hingga anak cucu kita kelak bisa mengetahui sejarah yang terjadi di tempat tinggal atau negaranya sendiri. Contoh kecil yang bisa kita lakukan saat ini adalah dengan tidak membuang sampah sembarangan.

Sebagai warga Negara yang baik, kita wajib mengetahui jejak-jejak sejarah yang ada di Negara kita. Bagi teman-teman yang berminat untuk mendatangi Tapanuli Selatan, jangan lupa untuk menikmati pariwisata sejarah ini. Selain mengetahui banyak hal dari jejak sejarah ini, kita juga akan dimanjakan oleh pemandangan alam yang menyejukkan. Jauh dari polusi dan macet. Udara yang benar-benar bagus untuk tubuh kita. 
Benteng Huraba saat ini.

Benteng Huraba sebelum direnovasi. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Me @evariyantylubis