Wednesday, January 5, 2022

EKSOTISME BELITUNG, NEGERI LASKAR PELANGI

Eva Riyanty Lubis


Ini adalah sebuah kisah perjalanan dadakan yang sama sekali tidak direncakan. Terjadi pada 04 s/d 07 September 2014. Waktu itu adik saya mengikuti salah satu perlombaan yang dibuat oleh Pos Indonesia dan koran Republika. Tanpa disangka, dia menjadi salah satu finalis yang membuatnya harus diterbangkan ke Belitung. Kontan saja Mak menyuruh saya untuk menemaninya lantaran usianya yang masih 13 tahun dan belum pantas bepergian dari Padangsidimpuan, Sumatera Utara, seorang diri.


#IndonesiaOnly, sebab Negara kita ini pun tak kalah menarik dibanding Negara luar. Ada banyak destinasi yang luar biasa indah dan sayang untuk dilewatkan apalagi bagi kita penduduk Indonesia itu sendiri. Hanya perlu mengembangkan potensi yang ada dan menjaga kelestariannya, maka tak menutup kemungkinan keindahan pariwisata kita bisa disejajarkan dengan milik Negara asing. 


Belitung adalah salah satu impian saya. Saya benar-benar ingin menginjakkan kaki di sana. Namun tidak dalam waktu dekat. Apalagi tanpa perencanaan matang sebelumnya. Meski begitu, mau tidak mau saya tetap harus membuat liburan dadakan itu sebagai #TamasyaTelusuriRI yang sempurna.


Bermodal uang pas-pasan, karena semua biaya yang ditanggung hanya untuk finalis saja, saya pun harus bisa mengatur uang yang saat itu saya miliki dengan baik. Sebab untuk ongkos PP dari kota saya hingga ke Belitung, harus merogoh kurang lebih Rp 3.400.000.


Yang luar biasa, saya bertemu dan gabung dengan kakak-kakak yang doyan traveller. Kebetulan mereka juga sedang liburan di Belitung. Kita pun berkenalan dan langsung saja menjadi dekat.


Sesampainya saya di bandara, mereka langsung datang menjemput. Tanpa babibu, kita cap cip cus dan tujuan pertama adalah Replika SD Muhammadiyah yang menjadi salah satu icon Belitung, yang juga disebut sebagai Negeri Laskar Pelangi.


Setelah itu perjalanan berlanjut menuju Museum Kata milik Andrean Hirata. Kita lumayan lama di sana. Saya begitu terkesan melihat isi dari museum itu. Apalagi seumur-umur saya baru kali itu menginjakkan kaki ke dalam museum. Ada perasaan haru, amazing, kagum, takjub, dan tiba-tiba di dalam pikiran saya terlintas, “siapapun bisa menggapai mimpinya. Asal ada niat, usaha, dan doa.”


Saya menulusuri ruangan demi ruangan secara perlahan-lahan. Seolah-olah takut ada ruangan yang tertinggal untuk dimasuki. Kemudian kita juga menyempatkan diri untuk mencicipi kopi khas Belitung yang ada di museum milik penulis best seller, Laskar Pelangi itu.


Dari sana, kita beralih menuju Vihara Dewi Kwan Iim. Pas sampai di ruangan utamanya, kita langsung disuguhi lagu Mandarin yang memberikan sensasi damai.


Lalu berangkat menuju Pantai Burung Mandi yang kala itu penuh dengan kotoran sehingga tidak sedap dipandang mata. Kita pun memutuskan untuk pergi ke Open Pit. Sebuah pemandangan indah berupa danau berwarna hijau tosca yang didapatkan setelah berjalan beberapa puluh menit melewati bukit.


Malamnya kita memutuskan untuk makan malam di salah satu restoran terkenal di Belitung, yakni Kampoeng Duluk.


Perjalanan dilanjutkan keesokan harinya yakni berkeliling pulau-pulau eksotis. Pulau Lengkuas adalah yang paling istimewa bagi saya. Sore harinya kita menikmati senja di atas batu-batu besar, di Pantai Tanjung Tinggi. 


Tidak begitu banyak destinasi yang saya kunjungi. Namun meski begitu, saya sudah sangat bersyukur karena bisa berkenalan dengan Belitung yang indah. Mimpi saya mengelilingi Indonesia masih akan terus berlanjut. Kapan realisasinya, hanya Tuhan yang tahu. Yang jelas, saya akan terus memupuk niat dalam hati, berusaha serta tak lupa untuk berdoa.




Di depan Replika SD Muhammadiyah Laskar Pelangi



 

Bergaya di atas batu besar di salah satu pulau yang tengah dikelilingi.



 

Berfose di salah satu tempat syutingnya Laskar Pelangi.





 

Berfose di atas puncak mercusuar di Pulau Lengkuas yang menampilkan keindahan alam yang luar biasa indahnya.



No comments:

Post a Comment