Tuesday, August 31, 2021



Berikut beberapa kebiasaan penulis dalam dan luar negeri:

πŸ’— Seseorang ingin menjadi penulis, tetapi selalu fokus pada kisah selebriti di media sosial.

πŸ’—Seseorang ingin menjadi penulis, tetapi membuang banyak waktu menggunakan media sosial yang tidak berkaitan dengan bidang kepenulisan. 

πŸ’—Seseorang ingin menjadi penulis, tetapi lebih banyak menggunakan waktu luang dengan menonton.

πŸ’—Seseorang ingin menjadi penulis, tetapi lebih fokus mencari tahu aktivitas idolanya (bukan penulis).


Apakah orang yang demikian bisa menjadi seorang penulis?

Bisa! Tapi sulit.


Mengapa? 

Karena kalau kita ingin menjadi penulis, maka kita harus melihat kebiasaan penulis, bukan fokus pada yang lain.


Semua penulis rata-rata memiliki kebiasaan.

Apa itu?

1. MEMBACA.

If you want to be a writer, you must do two things above all others: read a lot and write a lot.” (Stephen King)

If you don’t have time to read, you don’t have time to write. Simple as that.” (Stephen King)

Reading great novel is crucial to the development of any novelist, and there is no substitute for reading voraciously.” (Dan Brown)

“You need to read. You can’t be a writer if you’re not a reader.” (Madeleine L’Engle)

Untuk menjadi seorang penulis, jangan hanya fokus membaca novel. Baca juga nonfiksi, sejarah, biografi, sains, puisi, drama, dan lainnya. Semua teknik menulis bisa dilihat dari karya yang dihasilkan oleh si penulis. Curi ilmu itu!


2. DISIPLIN

“If you want to be a writer, you have to write every day.” (Walter Mosley)

Sebagai seseorang yang ingin menjadi penulis, kamu harus memiliki jadwal menulis. Wajib pasang target dan harus dilaksanakan dengan disiplin. Misal, satu cerpen perhari. 


3. CATAT

Ide terkadang tidak datang dua kali. Jadi, selalu sediakan catatan di mana pun kamu berada. Sekarang ndak perlu bawa note book. Cukup catat pada ponsel.



 

Monday, August 30, 2021

Yuk, nulis!


Ernest Hermingway menyebutkan bahwa, “There is no rule on how to write.” 


Lantas, apa saja aturan dalam menulis yang harus kita jadikan rujukan?

1. Tidak ada aturan dalam menulis. Kita bebas menulis apa saja. Mau tulisan kontroversi, penuh penderitaan, atau apapun itu. Apalagi buat kamu yang sudah level tinggi dalam menulis. Terkadang tulisan di luar karya kebanyakan malah bisa menjadi trend sekaligus best seller. 

"Aku mau nulis kisah hidupku yang penuh cobaan!"

Yuk, silakan!


2. Beberapa aturan boleh dilanggar asal konsisten. Misal, penulisan kata sholat, Al-Qur’an, da’wah, dan lainnya.


3. Bebas berinovasi. Mau menggunakan POV 1, POV 3, atau gabungan keduanya. Yang penting eksekusinya lancar.


4. Ide biasa yang berhasil ditulis jauh lebih bagus dibanding ide keren yang hanya ada dalam pikiran. 

"Jadi, jangan kebanyakan nyinyir atas tulisan orang lain, ya. Kasih kritik sah-sah saja asal sesuai ketentuan. Bukan nyinyir nggak ada ujungnya yang bisa buat penulis sakit hati."


5. Show don’t tell. Penulis bertugas menyampaikan, pembaca yang menyimpulkan. 

Contoh:

Tell : Saya takut. 

Show : Jantung saya berdetak cepat. Keringat dingin mulai mengucur. 

Raditya Dika sendiri menyebutkan buat penulis untuk menghindari kata sifat


6. Hindari adverb. 

Contoh: sangat, sekali, sungguh, benar-benar. 

Cari sinonim lain yang memiliki makna lebih tinggi. 

“Dia sangat pintar matematika.” 

Menjadi : 

“Dia piawai memaikan angka.” 



Sunday, August 22, 2021

Sumber: suara.com


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Selamat malam, Sahabat Drakor.... 😍



Setelah sekian lama vakum mengisi review Drakor, akhirnya muncul kembali. Maklumlah ya. Emak-emak dengan rutinitas padat kerjaan nggak ada habisnya. Alasan saja ya, kan? Padahal mah karena lupa punya blog sendiri 😁 


Jadi, tadi pagi--Minggu, 22 Agustus 2021. Saya berhasil menuntaskan salah satu drama fenomenal beberapa minggu terakhir ini. Apa lagi kalau bukan Nevertheless. Drama yang berjumlah sepuluh episode ini dibintangi oleh Han So Hee dan Song Kang. Kalau visual mah tak perlu diragukan lagi. Cakep! Meski bukan favorit saya. Saya sukanya yang Ahjussi, sih. Ketahuan ya emak-emaknya πŸ˜ŽπŸ˜‹


Dua bintang utama bermain dengan apik. Berhasil memainkan emosi penonton! Sebelumnya saya tahu Han So Hee dari The World of the Married, sedangkan Song Kang dengan Sweet Home-nya. Peran mereka tentu saja berbeda dari drama yang sebelumnya saya tonton. Han So Hee yang sebelumnya identik dengan peran pelakor, berhasil lepas dari bayang-bayang drama tersebut. Begitu juga dengan Song Kang. Wajar ya doi dapat banyak drama beberapa tahun terakhir ini. Mainnya apik, sih! Saya belum nonton dramanya yang lain, tapi dari review, rata-rata menyebutkan keren dan wajib tonton! 


Entar pas luang, saya mau nonton drama Song Kang lainnya! 


Okay, balek lagi ke Nevertheless. Apakah kamu berbahagia dengan endingnya? Hayoo... jujur!!!


Sebenarnya saya tim Kang Kentang. 😒 Tapi lagi-lagi doi harus bersabar untuk mendapatkan sang pemeran utama. Huhu. Tiga drama doi yang saya tonton berakhir sama--cinta sepihak. Sisyphus: The Myth, The Witch's Dinner, dan Nevertheless ini. Yang sabar ya Oppa Chae Jong Hyeop. Meski baru kenal, saya sudah jatuh cinta dengan senyummu yang meneduhkan. Ditunggu drama barunya sebagai pemeran utama dengan cinta berakhir bahagia 😍


Mengapa Nevertheless menjadi salah satu drama populer? 

  1. Adaptasi Webtoon populer. Meski cerita pada webtoon dan drama selalu memiliki perbedaan.
  2. Pemain bertabur visual. Cantik dan tampan. 
  3. Pemilihan jurusan yang unik. Jarang kita nemu drama dengan jurusan seni, ya kan? Seru aja lihat Song Kang buat kupu-kupu 😁
  4. Pemilihan kisah cinta yang unik. Park Jae Eon - Yu Na Bi. Oh Bit Na - Nam Gyu Hun. Yoon Sol - Seo Ji Wan. 

Park Jae Eon - Yu Na Bi 


Sumber: JTBC


Sejujurnya, saya tak suka peran Song Kang di sini. Duh, penebar janji manis! Manis di mulut doang! Play boy kelas kakap! Sukanya mempermaikan perasaan perempuan! Kalau sudah dapat, bosan, lalu dibuang! Ada orang yang seperti ini? Tentu ada. Banyak banget, malah! 

Bagaimana dengan Yu Na Bi? Seorang mahasiswi yang terkesan kurang kasih sayang. Maklum, doi kurang dekat dengan ibu kandungnya. Selain itu, pernah memiliki pengalaman buruk dengan sang mantan. Pas Park Jae Eon datang, jadi deh dia dimabuk kepayang. Padahal sudah tahu tabiat si cowok bagaimana. 

Episode satu sampai delapan, luar biasa greget! Na Bi terkesan lemah dalam menentukan sikap. Ya, dia jatuh cinta pada Park Jae Eon. Tapi cowoknya brengsek! Tak mau berkomitmen. Maunya bercinta doang. Giliran Kang Kentang datang, baru deh mulai terasa bagaimana hidupnya tanpa si Yu Na Bi ini. Faktanya, seorang playboy tidak akan berubah secepat itu. Butuh waktu yang tidak singkat. Tapi, mau bagaimana lagi. Writernim telah menjadikan Park Jae Eon sebagai seorang playboy tobat. 


Oh Bit Na - Nam Gyu Hun

Sumber: https://huimangi.tumblr.com/post/656197735058374656/yang-hye-ji-as-oh-bit-na-and-kim-min-gwi-as-nam


Ini pasangan favorit saya. Manis-manis gimanaa, gitu. Saya suka ketika Oh Bit Na kalang kabut saat Nam Gyu Hun memutuskan menjauh darinya. Berusaha mencari perhatian dari sahabat yang menjadi kekasih hatinya itu. Saat Oh Bit Na mendapati nama dirinya sebagai Oh Matahariku pada ponsel Nam Gyu Hun, ia luar biasa bahagia. Ternyata masih ada cinta dari lelaki itu untuknya. Nam Gyu Hun yang terlihat cuek dan cool sebenarnya perhatian, baik hati, dan penuh kasih sayang. Cocoklah buat Bit Na.


Yoon Sol - Seo Ji Wan

Sumber: JTBC 



Du du du. Ada pasangan sesama jenis di sini! Padahal di awal saya lebih suka Yoon Sol dibanding pemeran wanita lainnya. Tapi setelah tercium aroma-aroma ia mencintai sahabatnya sendiri, saya pilih no! Beralih ke Bit Na aja. πŸ˜†


Pasangan Senior


Sebenarnya tanpa mereka berdua, drama ini juga bisa berjalan dengan baik. Hehe. Mungkin penulis ingin memperlihatkan bagaimana jenis-jenis percintaan anak muda zaman sekarang. Pasangan senior juga termasuk manis. Kisah mereka tak begitu banyak. Tapi lumayan asik, lah. Macem pengantin baru 😁


Sumber: Kompasiana.com


Selamat berbahagia buat semua pasangan. Aku tetap pada Kang Kentang. Tetap semangat, ya! Kelak kita bersua kembali dengan kisah cinta happy endingmu. πŸ’—




Salam, 

Emak-emak yang me-time-nya ngedrakor