Saturday, February 20, 2021


 

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Setelah "cuti" hampir tiga minggu, alhamdulillah kembali lagi menyentuh tuts-tuts si laptop dan post tulisan sana sini, termasuk di aplikasi Cwitan. Bahagianya luar biasa. Maklum saja, sejak jadi emak-emak, me time dengan menulis merupakan anugerah tak terhingga. Makanya saya suka kagum dengan emak-emak yang bocilnya banyak, namun tetap mampu melakukan berbagai hal. Ngurus suami dan anak, masak dan segala urusan rumah tangga lainnya, kerja, lakuin hobi, ikut pengajian, dll. Ini sangat luar biasa, guys! 


Mamak-mamak emang super duper kece! 



Nah, kembali lagi ke topik di atas. 



Saya memang kurang piawai menulis rutin alias update sejak punya baby. Mau buka laptop aja susah, apalagi kudu nulis tiap hari. Huhu. Ingin hati terjun ke dunia per-platform-an seperti teman penulis lainnya, apa daya tubuh dan pikiran saling tolak-menolak. Pikirannya semangat empat lima, tapi tubuh tak kuat dan minta istirahat alias tidur. Huhu.



Sebenarnya nggak nulis beberapa hari saja buat hari-hari saya kurang cerah. Nggak harus tulisan panjang. Nulis status atau quote pun sudah bahagia, sodara! 



Maka dari itu, saya membulatkan tekad untuk kembali semangat menulis. Kita mulai lagi dari awal. Jalan tak akan mudah. Cobaan akan selalu menyapa. Pastikan niatnya apa, dan tak lupa berdoa. Bismillah Bismillah Bismillah.



Per hari ini, saya kembali update di Cwitan. Alhamdulillah membuahkan hasil.



Kumpulan Cerpen NGGAK PEDE langsung masuk 10 Novel Terpopuler Minggu Ini, tepatnya Sabtu, 20 Februari 2021. MasyaAllah senangnya. Maaf norak. Ini yang pertama dan Bunda Azzu sudah sangat bahagia! 

Masih urutan 10, Sodara! Tapi saya sudah luar biasa bahagia 💓


Moms, ditunggu kunjungannya yaa. 😀


Tuesday, February 16, 2021

 

Sumber: Orami

Sejak menyandang status sebagai seorang ibu, saya memutuskan untuk berhenti mengikuti drama on going. Alasannya sepele, karena tak mampu nonton plus download drama yang belom kelar. Takutnya hati sudah kadung bertanya-tanya bagaimana kelanjutan cerita, eh masih kudu nunggu seminggu lagi buat update. Halah! Memang sayanya lagi pengen nonton Drakor lama yang sudah terbukti memiliki jalan cerita bagus.

Nah, terpilihlah Replay 1988. Dulu sebenarnya sudah sempat nonton episode satu. Kisaran dua tiga tahun lalu. Namun sreg-nya belum dapat. Eh, sekarang ditonton ulang malah setiap episodenya bikin ketagihan!


Replay 1988 merupakan salah satu Drakor populer yang juga berhasil meraih rating tertinggi. Drakor yang satu ini berlatar tahun 1988—sesuai judulnya. Berkisah tentang lima orang sahabat, satu perempuan dan empat laki-laki. Mereka adalah Duk Sun ( Hyeri), Jung Hwan (Ryoo Joon Yeol), Sun Woo (Ko Gyung Pyo), Dong Ryong (Lee Dong Hwi) dan Choe Taek (Park Bo Gum).


Sumber: kompas.com

Rumah mereka berlima berdekatan, sahabatannya juga sejak kecil. Jadi, kebayangkan gimana kentalnya persahabatan mereka yang sudah seperti saudara. Setting 1988 juga buat kita mengenang banyak hal, meskipun saya sendiri lahir 1992, tetap saja banyak kenangan yang buat saya senyam-senyum pas nonton ini drama.

Misal, kekompakan para tetangga, tuker-tukeran lauk (sekarang mana ada. Hehe), nonton TV hitam putih, rambut para ibu yang kriwil-kriwil hihi, surat-suratan, dengerin radio, dan masih banyak hal lainnya. Drama ini bukan sekadar drama biasa. Banyak pelajaran yang dapat diambil di dalamnya.

Sumber: idntimes.com


Interaksinya luar biasa. Apalagi jiwa sosial mereka, patut diacungi jempol. Ya, memang beginilah hidup di masa itu. Ketika tahun demi tahun berganti nama, maka kita mau tidak mau harus mengikuti perubahan.

Duk-Sun, sang tokoh utama, karakternya sangat kuat! Eh, nggak hanya dia deng. Semua karakter begitu melekat pada ingatan. Semua punya ciri khas masing-masing, dan itulah salah satu poin plus pada drama ini. Bahkan yang perannya sedikit pun tetap memiliki karakter kuat. Sesuka itu!!!


Ada yang sakit tapi tak berdarah 


Sebagai remaja SMA, benih-benih cinta pun muncul. Duk-Sun sebenarnya tipe gadis yang gampang jatuh cinta. Apalagi ketika dikomporin dua sahabatnya di sekolah. Jadi deh dia baper. Awalnya ke Sun Woo-yang ternyata jatuh cinta pada kakak Duk-Sun, Song Bora. Beralih ke Jung-Hwan—tapi dia nggak berani sesumber seperti sebelumnya. Takut salah sangka lagi. Hihi.

Dua team pun terjadi—hal yang sering dirasakan para penikmat couple. Hhi. Ada tim Dok Sun – Jung Hwan, dan satunya lagi tim Dok Sun – Choe Taek. Kalau saya boleh milih, pastilah pilihan itu pada Babang Tampan Kesayangan saya Jung Hwan. Tapi, bila ditelusuri lebih dalam, memang Dok Sun sudah klop banget dipasangin bareng Choe Taek. Maaf!!! Review ini mengandung SPOILER!!

Dalam drama ndak berjodoh, semoga real life sampai jenjang pernikahan yaaaa...


Jung Hwan memendam cinta bertahun lamanya. Bukan dia tak berani ngungkapin cinta, tapi hatinya terlalu lembut dan nggak mau menyakiti hati sahabat yang ternyata juga suka pada Dok Sun. Hiks. Pengen peluk Jung Pal-aaaaa…. Apalagi pas episode terakhir. Tak kira dia beneran nyatakan cinta. Tenyata oh ternyataa…

Dari drama ini kita belajar bahwa perempuan butuh kepastian, guys. 

 

Sumber: mojok.co

Setiap episode dari drama ini mengandung pelajaran berharga. Jadi, bukan sekadar drama biasa. Cintanya ada, mengejar impian, jiwa sosial yang sangat kuat, hubungan antar keluarga, sahabat, tetangga, dan sebagainya. Paket komplit. Bagi kamu yang ngakunya suka Drakor, Replay 1988 tak boleh dilewatkan begitu saja. 

 

Nih saya kasih bocoran lainnya:

  • Aktor dan aktris mumpuni. Lima pemain utama tentu sudah tak asing lagi di telinga kita. Bahkan nama mereka hingga kini terus berkibar. Lee Hye-ri dengan berbagai macam drama plus karakter yang berhasil ia mainkan. Park Bo Gum—wuuu siapa yang tak kenal doi? Go Kyung Pyo yang juga berhasil bermain drama hampir setiap tahunnya. Kesayangan saya Ryu Jun Yeol—tak hanya sukses bermain film, doi juga ciamik memainkan drama. Setuju? Jangan lupakan Lee Dong Hwi yaa… Di drama ini, kalau doi berjodoh dengan Dok Sun pun, saya rela. Haha… 

    Aslinya cakepp, guyssss
    Sumber: Kumparan

  • Selain lima pemain utama, ada keluarga Dok Sun. Ayah, ibu, kakak, dan adek Dok Sun bermain dengan apik. Eh… saya sudah bilang kan kalau semua tokoh dalam Replay 1988 bermain sempurna? Hihi…


    Beberapa episode di awal, saya paling kesal ama Bo Ra. Habis kerjanya merepeeeeet terus. Hihi

  • Banyak adegan tak terlupakan dalam drama ini. Saat Ibu Jung Hwan dan Ibu Dok Sun menopause, Dok Sun ternyata memberikan perhatian luar biasa banyak ketika Choe Taek bertanding di China, cara Dong Ryong cari perhatian ke orang tuanya, pacaran diam-diamnya Sun Woo dan Bo Ra, judes dan kejamnya Bo Ra padahal ia sebenarnya baik hati, adeknya Dok Sun – No Eul yang lucu ternyata jago nyanyi wkwkwk, manisnya hubungan kakak adek Jung Hwan dan Jung Bong, gaya pacaran Jung Bong, dan lainnya.


    Sumber: today.line.me

  •  Jangan lupa kocaknya ayah Jung Hwan yaaaa, Moms. Hahha. Kalau kamu nonton Replay 1994, kamu nggak bakalan nyangka beliau ikut main lagi dan jadi anak kuliahan—bahkan menjadi couple terbaik dengan salah satu pemain utama wanitanya. Wkwkwk. Perannya luar biasa berubah dari Replay 1988.


    Kita masih nunggu pernikahan Dok Sun dan Choi Taek, lho 😆

Pokoknya nih yaa… kudu tonton drama ini. Selain Replay 1988, selanjutnya ada Replay 1994 dan Replay 1997. Tapi saya berhenti di tengah jalan pas nonton Replay 1994. Belum tahu kapan lanjut lagi. Hihi…

What about you?

Monday, February 15, 2021

 

Sumber Foto : http://sekolah.data.kemdikbud.go.id/index.php/chome/profil/403A9FD9-2EF5-E011-A2C2-21DA23805AC1

Eva Riyanty Lubis

 

Jika waktu dan kesempatan masih ada, tuntutlah ilmu sebanyak mungkin. Jangan sampai orang lain menguasai negeri ini karena minimnya pendidikan kita, masyarakat asli Indonesia.

 

Pendidikan merupakan poin penting dalam meningkatkan kualitas masyarakat sekaligus negara. Itu artinya, maju tidaknya suatu negara dapat dilihat melalui keseriusan pemerintah mengelola pendidikan.

Kon ginjang do sikola niba so jadi alak[1],” ucap Emak. Saking seringnya kalimat ini beliau lontarkan, putra-putrinya sampai hapal luar kepala. Beliau paling kesal pada anak yang malas belajar dan memilih bolos sekolah. Apalagi bertemu orang tua yang menganggap pendidikan bukan hal penting.


Seiring berkembangnya zaman, sudah semakin banyak orang tua yang menganggap pendidikan merupakan salah satu tangga untuk mencapai kesuksesan. Sebut saja orang tua saya. Meski lahir dari keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah, beliau selalu mengingatkan putra-putrinya untuk terus belajar. Menuntut ilmu setinggi mungkin agar impian dapat diraih. Padahal kalau dilihat dari kondisi ekonomi, tidak memungkinkan rasanya untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang universitas. Tapi beliau yakin, Allah selalu memberi kemudahan pada hamba-Nya yang berjuang menuntut ilmu. Tidak masalah miskin harta, asal berpendidikan. Anak-anak ‘dipaksa’ harus jadi sarjana. Jangan mengulang hal sama seperti kebanyakan orang tua dulu, yang menganggap pendidikan bukan hal penting.


Ada penyesalan di lubuk hati terdalam ibu saya, mengapa dulu tidak berhasil menuntaskan pendidikan di jenjang universitas. Padahal kalau beliau berjuang sedikit lagi, meski dengan ekonomi terbatas, impiannya menjadi seorang pegawai pemerintah mungkin bisa diraih. Itulah mengapa ia mewajibkan putra-putrinya semangat meraih ilmu. Salah satunya agar tak muncul penyesalan dikemudian hari.

 

YPBU-SIT Bunayya Padangsidimpuan

Sebagai orang tua, pasti ingin anaknya meraih pendidikan di sekolah terbaik. Fasilitas sekolah yang mumpuni, guru yang menguasai mata pelajaran yang ia ajarkan sekaligus mengajar dengan baik. Mengajar dengan baik ini seperti apa? Teringat pas saya sekolah dulu, bertemu beragam tipe guru. Ada yang hobinya menyuruh murid mencatat sampai tangan pegal, ada yang doyan ngasih PR menggunung, ada pula yang hobi menghukum murid bila melakukan kesalahan. Tentu tidak semua guru seperti ini. Ada beberapa guru yang hingga kini tetap berkesan di hati saya. Mereka mengajar penuh totalitas. Menganggap murid tidak sekadar murid, namun juga sebagai teman dan sahabat. Sistem mengajar kaku tidak dimainkan. Murid-murid dapat menikmati proses belajar dengan menyenangkan.


Di zaman era digital ini, pendidikan berbasis agama merupakan pilihan terbaik buat anak-anak. Jadi, dunia dan akhirat mendapat porsi sama. Sering kita menemukan anak-anak yang pintar akademik, namun tidak memiliki sopan santun. Padahal, ini jauh lebih pending dibanding pengetahuan akademik yang ia kuasai.


YPBU-SIT Bunayya Padangsidimpuan hadir menjawab keresahan para orang tua. Alhamdulillah di usianya yang kian matang, eksistensinya pun semakin berkibar hingga luar kota Padangsidimpuan. Saya sendiri sudah bercita-cita memasukkan anak saya ke sekolah ini sejak ia masih di dalam kandungan. Beberapa teman mengatakan kalau saya terlalu ngimpi. Anak masih bayi, namun pendidikannya sudah dipikirkan. Ya! Bagi saya ini wajib hukumnya. Kalau bukan orang tuanya yang memikirkan pendidikan anaknya kelak, lantas siapa?


Kalau sekolah sekadar sekolah tanpa memperhatikan kualitas sekolah itu sendiri, hasil yang diperoleh anak tidak akan sesuai harapan kita sebagai orang tua. Pendidikan adalah motor perubahan, maka pilihlah sekolah yang paling baik di antara yang yang terbaik.

 

 

YPBU-SIT Bunayya, Bersemi di Masa Pandemi

Munculnya pandemi Covid-19 berdampak di segala bidang, khususnya pendidikan. Proses belajar-mengajar yang biasanya tatap muka, dialihkan menjadi daring. Ada rasa sedih, sebab proses belajar seperti ini belum terasa nyaman bagi anak-anak. Orang tua juga turut kewalahan dengan tugas anak yang mau tak mau harus ikut membantu. Apalagi tak semua orang tua dan anak memiliki gadget. Tapi keadaan membuat semuanya harus mengikuti aturan ini. Secara tidak langsung pandemi Covid-19 memaksa kita untuk melek teknologi. Mulai dari yang muda hingga tua. Sebab segala sesuatunya lebih banyak dilakukan secara online, khususnya pendidikan.


Beruntungnya anak-anak, YPBU-SIT Bunayya menjadikan sekolah daring tetap asik dan menyenangkan. Apalagi pengajar, para ustadz dan ustadzah membimbing murid sebaik mungkin. Jadi, tidak ada alasan proses belajar-mengajar terhambat meski kondisi pandemi Covid-19 seperti saat ini.


Semoga YPBU-SIT Bunayya terus berkibar hingga tahun demi tahun berganti nama. Menjadi sekolah terbaik yang mampu mendidik anak menjadi generasi Rabbani. Amin Amin ya Robbal Alamin. 

 

Padangsidimpuan, 04 Desember 2020



[1] Sekolah yang tinggi agar jadi orang.

Sunday, February 14, 2021

Ini Imlek 2020, pas Azzu masih dalam perut Bundanya 😍

 

Happy Chinese New Year!

Gong Xi Fa Cai buat teman-teman yang ngerayain...

 

Dari dulu sampai sekarang pasti punya teman, rekan, tetangga, dan yang sudah dianggap saudara ngerayain Imlek. Tahun ini kembali diundang Imlek di rumah Pak Rudy Hermanto dan Ibu Lina Juswardy—Apotik Bintang Padangsidimpuan.

Alhamdulilah karena sudah kerja di sana sejak 2017. Imlek identik dengan merah. Meriahhh pokoknya. Kita ngumpul di sana dengan penuh suka cita. Jadi, bukan Chinesenya saja, ya. Suku budayanya beragam. Kalau tak pandemi Covid 19, sudah pasti tamu undangan Bapak Anggota DPRD Sumut ini melimpah ruah. Tapi tahun ini kumpul keluarga dan pekerja saja sudah alhamdulilah.

Kita sebagai undangan wajib memenuhi protokol kesehatan, yakni cuci tangan yang memang sudah disediakan di depan toko Apotik Bintang, menggunakan masker dan tetap jaga jarak.

 

Lontong, kue, dan berbagai makanan lainnya sudah terhidang dan siap disantap. Yummyyyyy.


Kalau dulu saya datang bareng Winny Khodijah saja—adik saya yang kini menggeluti dunia influencer per-instagram-an, kini ada si lucu mungil imut Az-Zuhrah. Hihi. Yeppy. Ini kali pertama Azzu ke Apotik Bintang dan melihat   banyaknya ornaments merah. Eitsss ndak lupa dapat angpau pertama. Hihihi.

Bagi saya, Imlek itu seru karena:

  1. Kumpul bareng teman. Hal ini jarang terjadi. Kebersamaan itu memang menyenangkan, Moms. Apalagi buat saya. Moment ini langka. Maklum, saya kan kalau kerja sendiri mulu. Jadi, kumpul-kumpul keitung jarilah.

  2. Makan bareng. Nah, ini masih berkaitan dengan poin di atas. Memang yang namanya kumpul-kumpul identik dengan makan dan camilan, kan? Hihi

  3. Raut bahagia sang empunya hajatan. Melihat orang lain senang, eh senangnya malah ketularan ke kita. Ngerasa nggak sih, Moms?

  4. Angpau! Angpau dengan amplop merahnya nggak bakalan kelupaan. Hanya momen Imlek yang seperti ini.

Nah, ini keseruan kami Imlek 2021. Kita berdoa yang banyak agar Indonesia lebih baik lagi, yaa. So, doanya ndak hanya fokus ke diri sendiri. 

 

Tahun ini kudu pakai masker 💗

 

Btw, kalau dulu menuju Imlek, pasti kita menemukan Barongsai. Atraksinya di depan toko selalu buat kita bahagia. Saya pas kecil—Sd sampai Smp, pasti nggak mau ketinggalan ikut nonton Barongsai. Seru, sih! Terus ada bagi-bagi permen dan uang receh dari pihak toko. Kita bakalan berlomba-lomba buat dapatin itu. Haha…

Ada momen unik pas Imlek? Boleh share, yaa…