Wednesday, January 29, 2020

Be Rich So You Have No Limits!



Eva Riyanty Lubis

            Setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi kaya. Permasalahannya, tidak semua orang tahu cara mencapai hal tersebut. Banyak juga orang yang terkurung dengan pemikirannya bahwa hidup itu harus dijalani apa adanya. Mau miskin, mau kaya, semua diserahkan pada nasib dan takdir. Padahal dalam salah satu surah Al-Qur’an disebutkan bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa yang ada pada diri mereka. 

            Indonesia adalah salah satu Negara dengan penduduk terbanyak di dunia. Sayangnya tingkat kemiskinan di Negara kita ini sangat tinggi. Padahal kita kaya akan sumber daya alam. Mengapa hal itu bisa terjadi? Sebenarnya ada banyak faktor. Mulai dari minimnya pendidikan sehingga membuat kita tidak bisa berpikir jauh ke depan, pola pikir yang menerima apa adanya, tidak memiliki tujuan hidup, tidak ada ambisi, kesehatan yang buruk, mudah menyerah, masa kecil yang suram, malas, takut keluar dari zona aman, tidak bisa disiplin, tidak bisa mengelola waktu, salah memilih pasangan, paranoid, suka berkhianat, dan masih banyak faktor lainnya. 

            Bagaimana kita bisa kaya kalau diri kita sendiri belum diperbaiki? Mengapa kita cemburu melihat keberhasilan orang sedangkan kita tidak bisa introspeksi diri? Mengapa yang kaya semakin kaya sedangkan yang miskin semakin miskin? 

            “Ah, tak perlu kaya. Biar miskin asal bahagia.”

Benarkah itu? Faktanya, orang kaya akan berpeluang memperoleh kebahagian lebih banyak ketimbang orang miskin. Mereka bisa menghabiskan banyak waktu dengan keluarga karena ada pihak-pihak yang sudah dipercaya untuk mengelola bisnis, mereka bisa mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi bahkan mampu mempekerjakan chef handal, mereka bisa memperoleh pendidikan setinggi mungkin, mereka bisa melakukan banyak kegiatan amal dan sosial, mereka bisa menghabiskan waktu liburan kemana pun mereka mau, dan masih banyak lainnya. Sedangkan orang miskin harus mati-matian banting tulang agar bisa survive dari hari ke hari. Suami istri kerja setiap hari, siang malam, bahkan harus mengorban waktu dengan anak.

            Sebenarnya saya tidak menjudge orang miskin, tetapi saya benci dengan kemiskinan. Kemiskinan membuat kita tak berdaya, tidak percaya diri, tidak bisa melakukan banyak hal, bahkan menjadi pribadi dengan hutang menumpuk. Kalau kita memiliki peluang untuk menjadi kaya, mengapa harus miskin? Pertanyaannya adalah bagaimana cara mendapatkan uang lebih banyak, lebih cepat, dengan cara halal agar hidup menjadi lebih indah, lebih bahagia, dan lebih berfaedah?

            Jadi, mulai sekarang tanamkan pada pikiran kalau kamu bisa kaya. Saya berhak menjadi kaya! Saya berhak menjadi pemberi bukan penerima! Pohon tidak akan bertanya seberapa tinggi ia akan tumbuh, melainkan ia tumbuh saja setinggi mungkin selama ia bisa. Begitu juga dengan kita. Kenali dirimu, kembangkan segala potensi yang ada, dan kerahkan segala kemampuanmu semaksimal mungkin. Jangan sesekali membatasi dirimu. Kamu tidak akan pernah tahu betapa luar biasanya dirimu setelah berhasil mendapatkan uang lebih dari yang kamu bayangkan.

            Orang kaya tidak selamanya lahir dari keluarga kaya raya. Kamu bisa berkaca pada Ray Kroc—pendiri McDonald’s. Dia berkata, “I commit to being the very best at what I do.” Dia memerlukan motivasi, disiplin, hasrat, dedikasi, dan sikap pantang menyerah hingga akhirnya bisa menggenggam kesuksesan.

            Bila ingin kaya, maka fokuslah. Berjuang semaksimal mungkin. Bahkan tidak sedikit orang yang berhasil mencapai sukses untuk mengesampingkan kesenangan pribadinya. Dia berkorban karena dia tahu, bila sukses telah diraih, dia bisa melakukan apa saja. Dia bisa mendapatkan kesenangan yang lebih luar biasa. Apa jadinya bila Michael Jordan memilih untuk bersantai dan bermain ke sana-kemari ketika harus berlatih untuk pertandingannya?

            Nasib ada ditangan kita. Berani mengambil resiko dan mempertanggungjawabkan segala keputusan yang kita ambil. Banyak orang di luar sana yang berhasil menjadi jutawan. Jadi, mengapa kita tidak berusaha untuk mendapatkan hal yang sama?

            Memang, menjadi orang kaya tidaklah semudah membalik telapak tangan. Butuh proses yang sangat panjang. Beberapa contoh yang bisa dilakukan adalah dengan menyisihkan minimal 10% pendapatan setiap bulannya. Membeli barang yang dibutuhkan, bukan yang diinginkan. Menginvestasikan tabungan. Tidak berpura-pura kaya—tak perlu mengeluarkan banyak uang agar terlihat kaya di mata orang banyak, karena itu benar-benar sebuah kesalahan fatal. Mendapat income tambahan. Yang pasti, jangan habiskan waktu dengan sia-sia. Patutlah dikatakan bahwa waktu adalah uang. Setiap orang diberikan jatah waktu yang sama. 24 jam sehari. Yang menjadi pembeda adalah bagaimana kita mengelola waktu tersebut dengan benar dan bermanfaat.

            “Kalau kaya, bakalan sombong dan pelit.”

            Siapa bilang? Semua tergantung pada pilihan masing-masing. Yang pasti, menjadi kaya memberikan kesempatan dan kebebasan untuk menjadi lebih baik dalam segala hal. Jadilah orang kaya yang menebar kebaikan. Jadilah orang kaya yang berjalan di jalanNya. Kamu bisa menjadi apapun yang kamu inginkan. Kunci dari setiap perubahan dan perbaikan hidup itu adalah tindakan dan sekarang. 

Padangsidimpuan, 04 Januari 2017

2 comments:

Follow Me @evariyantylubis