Monday, January 27, 2020


Tahun Baru Imlek 2020 bersama Apotek Bintang


Sabtu, 25 Januari 2020 bertepatan dengan Tahun Baru Imlek 2571. Ini adalah tahun ketiga saya ikut serta berbahagia bersama keluarga Apotek Bintang Padangsidimpuan dalam merayakan Tahun Baru Imlek. Bagi saya, Imlek adalah ajang silaturrahmi, makan bersama, sekaligus bagi-bagi angpau. 

😍
 
Apotek Bintang Padangsidimpuan sendiri selalu rutin open house dalam rangka perayaan Gong Xi Fa Cai. Tamu undangan yang hadir datang dari berbagai kalangan, mulai dari karyawan Apotek Bintang, sanak-saudara Pak Rudy Hermanto dan Ibu Lina Juswardy, rekan bisnis, sahabat, rekan juang partai PDIP, tetangga, dan masih banyak lainnya. Yang pasti, tamu melimpah ruah.

Pak Rudy, Bu Lina, dan keluarga.


Senyum dan tawa bisa ditemukan di mana-mana. Belum lagi ornamen merah yang menghiasi rumah, khas Imlek. Tahun ini bertepatan dengan sio tikus. 

πŸ’“

Makanan berupa lontong bisa dinikmati dengan baik. Enak? Tentu saja. Selain lontong, ada berbagai jenis minuman kaleng, buah, roti, dan permen yang telah disediakan oleh tuan rumah. 

Kayung, Pak Rudy, Bu Lina, dan Novia.
 
Pak Rudy Hermanto dan Ibu Lina Juswardy menyambut undangan dengan penuh kehangatan. Tak ada lelah di wajah keduanya. Sekali lagi, Gong Xi Fa Cai buat Pak Rudy dan Ibu Lina sekeluarga. Sehat selalu dan rezekinya makin banyak.πŸ’“

Thursday, January 23, 2020


Rindu momen luar biasa ini 😊

Eva Riyanty Lubis

            Jangan takut bermimpi! Meski kebanyakan orang mengatakan kalau mimpi terlalu tinggi lalu jatuh, pasti rasanya sakit sekali. Sebenarnya itu merupakan pemikiran yang terlalu dangkal. Membuat kita sebagai manusia menjadi takut sebelum memulai untuk bermimpi. Apalagi kalau kalimat itu diucapkan kepada anak-anak atau remaja. Sungguh, mental mereka akan down seketika. Bahkan pada orang dewasa sekalipun. 

            Mimpi bukan hanya sekedar mimpi. Ketika kita bermimpi ingin keliling dunia namun hanya berani memimpikannya tanpa ada action, sama saja bohong. Agar mimpi yang kita inginkan terkabul, wajib dirancang dan dikelola sebaik mungkin. Setelah dirancang dan dikelola dengan baik, kita akan bersemangat untuk meraihnya.

            Masih ingat dengan John Goddard? Pada usia 15 tahun di tahun 1940, dia telah menuliskan 127 impian hidupnya.  Lalu pada tahun 1972 ketika usianya 47 tahun, dia telah berhasil mencapai 103 dari impian yang dia tuliskan. Mimpi-mimpinya itu antara lain mengunjungi berbagai negara, mendaki gunung, menyelam ke dasar laut, menguasai banyak bahasa, bermain biola, bahkan bisa mengendari pesawat terbang. Sungguh luar biasa sekali!

Ini juga mimpi yang akhirnya terwujud di tahun 2014.


            Lalu bagaimana dengan kita? Masih sibuk merenung ingin ini itu tanpa ada tindak lanjut? Atau seperti orang-orang kebanyakan yang mengatakan hidup ini adalah takdir dan dibawa enjoy saja? Tuhan sendiri mengatakan kalau Dia tidak akan mengubah nasib suatu kaum kalau kaum itu sendiri tidak ingin berubah. So, kita tidak boleh kebanyakan nyantai dan menerima apa adanya saja.

            Untuk mengatur strategi dalam mencapai cita-cita dibutuhkan beberapa hal, yakni:
1.     Berniat dan yakin kalau kita bisa sukses
Hidup bakal efektif kalau kita memiliki perencanaan yang jelas dan memiliki target-target yang jelas pula. Namun sebelum itu, kita harus memiliki niat. Niat seseorang akan mampu memotivasinya melangkah mencapai tujuan. Setelah itu yakinkan diri kalau niat tersebut akan kesampaian. 

Thomas Carlyle mengatakan, “Seseorang dengan tujuan jelas akan membuat kemajuan, walaupun di jalan yang sulit. Seseorang yang tanpa tujuan, tidak akan membuat kemajuan walaupun di jalan yang mulus.”

2.     Detailkan rencana
Mimpi-mimpi yang ingin kita raih harus dijabarkan secara detail. Hal itu untuk memudahkan kita dalam proses pencapaiannya.

3.     Harus Gigih
Untuk mencapai sebuah impian diperlukan kegigihan. Hambatan sudah pasti akan datang. Kalau kita tidak kuat, kita bisa berhenti di tengah jalan yang akhirnya akan menimbulkan kekecewaan atau penyesalan. Sebelum itu terjadi, lakukan segala sesuatunya dengan gigih. Nikmati prosesnya meski akan memakan waktu yang cukup lama. Sebab untuk mencapai sebuah mimpi bukanlah segampang membalikkan kedua telapak tangan.

4.     Menikmati Hasil
Kita akan mendapatkan hasil yang sesuai dengan kerja keras yang kita lakukan. Tuhan itu adil dan Dia tahu siapa yang telah bekerja keras. 


Jadi kalau ingin hasil maksimal, bermimpi, berusaha, dan berdoa jugalah semaksimal mungkin. 

Nyempil bareng Najwa Sihab 😁


2020 merupakan tahun baru, semangat baru, mimpi baru, dan siap menjadi pribadi baru yang lebih baik lagi. Saya sendiri tetap memiliki banyak mimpi. πŸ˜€Beberapa di antaranya: 

  • Buku anak bergambar terbit mayor. 
  • Bantu emak supaya bisa daftar naik haji. 
  • Jalan-jalan gratis dari nulis. 
  • Memiliki aset atas nama diri sendiri (tanah, rumah, atau kendaraan).
  • Berkumpul dan berjumpa dengan para penulis di ajang kepenulisan. 
  • dsb. 

 Semoga mimpi kita dijabah oleh Allah Swt. ya teman-teman. Insya Allah tak ada yang tak mungkin kalau Dia sudah berkehendak. πŸ™πŸ™πŸ™


Padangsidimpuan
Desember, 2014

Tuesday, January 21, 2020

Bagaimana sih cara menarik naskah di penerbit?

Pernah nggak sih kamu kirim naskah ke penerbit tapi tak ada kabar? Bulan demi bulan, hingga tahun berganti nama. Tentu kita penasaran bin kesal. Mana naskah pas dikirim tak ada email pemberitahuan apa sudah sampai meja redaksi. Huhu. 

Memangnya ada ya penerbit seperti itu? Pastinya. Tapi tak semua. Bahkan beberapa penerbit besar yang bukunya banyak kita temukan di Gramedia, tetap luangin waktu balas email pas naskah kita sudah tiba di redaksi.

Biasanya setiap penerbit memiliki peraturan berbeda dalam hal masa tunggu naskah yang kita kirimkan. Ada yang tiga bulan, empat bulan, enam bulan, bahkan satu tahun. Huh! Artinya kudu sabar kalau mau jadi penulis. Itu masih nunggu kabar naskah acc tidaknya. Belum proses penerbitan kalau naskah acc. Bisa juga bertahun-tahun. Mulai dari editing, layout, cover, dan sebagainya. Jadi, tak ada yang instan.

Kalau kita punya naskah pada satu penerbit dan tidak ada kabar kelanjutannya, padahal sudah menanti lebih dari enam bulan, bisakah naskah ditarik?

Yap.

Kita punya hak menarik naskah tersebut, kemudian mengirimkannya ke penerbit lain.

Berikut contoh surat penarikan naskah ke penerbit yang bisa kamu jadikan referensi.

Penulis dengan bukunya masing-masing.


Contoh:
Kepada Yth. Redaksi Penerbit ------

Dengan Hormat,

Bersama surat ini saya beritahukan bahwa saya akan menarik keempat naskah novel yang saya kirim ke Redaksi -----

Adapun judul keempat naskah tersebut, antara lain:
1.     Ada Apa dengan Cinta? Dikirim pada 02 April 2019.
2.     Kangen. Dikirim pada 08 September 2019.
3.     Rindu. Dikirim pada 08 September 2019.
4.     Peluk. Dikirim pada 08 September 2019.

Hal ini terjadi dikarenakan tidak adanya jawaban dari Redaksi ------ sejak naskah saya kirimkan hingga sekarang. Sehingga saya memutuskan untuk memperbaiki naskah dan mengirimkannya ke penerbit lain.

Demikian surat ini saya sampaikan. Semoga dapat dimaklumi dan berharap kelak kita bisa bekerja sama. Atas perhatiannya, saya ucapkan terima kasih.

Hormat saya,
Nama Lengkap Penulis

-------
Demikian contoh surat penarikan naskah yang bisa kamu jadikan referensi. Semangat menulis yaa. Walau naskahmu belum dapat kabar baik, jangan patah semangat. Tetap menulis dan berkarya. InsyaAllah cepat atau lambat, kamu bakalan metik hasil dari perjuanganmu.

Saya sendiri punya banyak pengalaman soal penantian naskah. Memang ada yang bernasib baik, ada pula sebaliknya. Naskah langsung dapat kabar acc beberapa hari setelah dikirim, naskah acc setelah penantian tiga bulan, naskah acc setahun kemudian, ada pula redaksi yang tidak memberi kabar padahal sudah saya tanyakaan berkali-kali, hingga akhirnya saya putuskan untuk menarik naskah dan mengirimkannya ke penerbit lain.

Yang perlu digarisbawahi sebagai penulis adalah, pupuk rasa sabar dan tetap menulis. Jadi, kamu tak fokus pada naskah di satu penerbit.

 
Padangsidimpuan, 21 Januari 2020
Salam hangat,
Eva Riyanty Lubis

Monday, January 20, 2020


Bareng perempuan-perempuan luar biasa πŸ’—


Eva Riyanty Lubis
Setiap perempuan pasti ingin menjadi cantik dan bahagia. Seperti apa sih cantik itu? Ada yang mengatakan cantik itu dilihat dari fisik: wajah putih bersih, hidung bangir, rambut panjang hitam berkilau, badan langsing, dan beberapa kriteria lainnya. Sebaliknya, ada juga yang mengatakan cantik itu dari dalam. Bila hati cantik, dengan sendirinya tampilan luar perempuan tersebut juga cantik. Jadi, mana yang benar?

Keduanya tidak ada yang salah. Tetapi alangkah lebih baik bila kita menjadi perempuan cantik luar dalam. Bisakah setiap perempuan seperti itu? Tentu! Bagaimana caranya? 

Kala itu 2014 dengan sahabat saya DMCS.

1.     Laksanakan perintahNya dan jauhi laranganNya
Setiap orang yang beriman padaNya, pasti jiwa raganya jauh lebih kuat. Walau cobaan datang menghadang, dia tidak akan mudah menjadi pribadi yang lemah. Sehebat-hebatnya kita, semua tak ada artinya bila tidak beriman pada Sang Pencipta. Yang ada hanya hampa. Dia yang Maha Pemberi Kehidupan, dan sudah sepatutnya kita kembali dan berserah diri padaNya. 

2.     Hormat dan Sayangi Orangtua
Sebagai perempuan yang cenderung berpihak pada perasaan daripada logika, kita sering dibingungkan dengan banyaknya pilihan ataupun pemikiran. Padahal bisa jadi hal tersebut merupakan suatu hal yang tidak perlu dipusingkan. Tapi itulah kodrat kita. Selalulah terbuka pada orangtua. Minta masukan, pendapat dan juga restu.

3.     Berprestasi
Perempuan berprestasi selalu tampak cantik. Baik itu dibidang akademik, seni, olahraga, memasak, dan masih banyak lainnya. Kenali dirimu lebih dalam agar tahu apa kelebihanmu. Lalu, kembangkan sebaik mungkin. Lalukan semuanya dengan tekun dan sabar sembari menikmati prosesnya.

Terus berkarya dan berprestasi.


4.     Bila Masalah Datang, Cari Solusi Secepatnya
Setiap orang pasti memiliki masalah. Yang harus kita lakukan sebagai perempuan adalah secepatnya mencari solusi. Percayalah, tidak ada masalah tanpa solusi. Kita diberi masalah karena kita ‘dipercaya’ sanggup untuk menghadapinya. Yang penting, jangan larut dalam masalah. Sebab hal itu akan memberi banyak efek negatif.

5.     Cari Pengalaman dan Pengetahuan Sebanyak-Banyaknya
Ladies, jangan menghabiskan waktu hidupmu dengan berkurung di rumah. Cari tahu berbagai hal yang bisa membuatmu jadi perempuan yang lebih kaya pengetahuan dan pengalaman.

6.     Pintar Mengelola Keuangan
Uang memang menjadi hal yang tabu untuk dibicarakan. Tetapi, hal itu tidak bisa dipandang sebelah mata. Kita sebagai perempuan diwajibkan lebih ‘khatam’ soal mengelola keuangan dibanding kaum lelaki. Jujur saja, sejak kita duduk di bangku sekolah dasar hingga SMA, kita tidak pernah diajari bagaimana cara mengelola keuangan. Pun dibangku universitas, kecuali kita mengambil jurusan yang bersangkutan dengan masalah tersebut. Padahal dikehidupan nyata, kita tidak pernah bisa lepas dari yang namanya uang. Bila kita sampai lengah, bisa-bisa kita berada dalam golongan perempuan ‘pecinta’ hutang. Gawat sekali, bukan? Bukannya bahagia, malah stres yang datang menghampiri.

Kalau perempuan di luar sana bisa, mengapa kita tidak? So, sudah siap jadi perempuan cantik dan bahagia? πŸ’—
Padangsidimpuan, 13 Juli 2016

Sunday, January 19, 2020

Sumber: Tribun Jateng

Sebelum menghapus folder Perfume dari laptop, saya memutuskan untuk menuliskan review singkat drama keluaran 2019 ini terlebih dahulu (mumpung rajin nambah isi blog hehe). Jadi, saya baru saja selesai menuntaskan ini drama karena sejak September hingga Desember tidak sempat nonton drakor dikarenakan padatnya jadwal kerja. Cuileh. 😜

Perfume merupakan salah satu drama garapan sutradara Kim Sang Hwi dan penulis Choi Hyun Ok.

Judul
Perfume / Revised romanization: Peopyoom  / Hangul: 퍼퓸
Director
Kim Sang-Hwi
Penulis
Choi Hyun-Ok
Genre
Comedy, Romance, Family, Fantasy
Jaringan
KBS2
Jumlah Episode
32
Rilis
3 Juni – 23 Juli, 2019
Jam tayang
Senin & Selasa – Jam 22:00 KST
Negara
Korea Selatan

Adapun cast berikut karakternya, antara lain: 
Cast Perfume


Min Jae Hee merupakan ibu rumah tangga berusia 40-an bertubuh gemuk yang selalu diselingkuhi oleh suaminya. Meski ia memiliki seorang putri yang sangat cantik--Kim Jin Kyung, tetap saja tidak bisa menepiskan rasa sedih atas perlakukan suami yang sangat kejam! Suatu hari, Min Jae Hee memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri di balkon apartemennya. Sayangnya sebelum hal itu terjadi, seorang bapak tua muncul dan memberikan sebuah paket berisi parfume pada Min Jae Hee. Nah, hidupnya pun berubah atas kehadiran parfume ini. Fisik Min Jae Hee kembali pada masa muda ketika ia berusia 20-an. 

Dengan tampilan baru dan mengubah nama menjadi Min Ye Rin, ia memutuskan untuk kembali memperjuangkan mimpinya saat remaja, yakni menjadi seorang model. Di sinilah kisah cinta kocak sekaligus mengharukan dimulai.

Berikut 6 alasan mengapa Perfume cocok untuk menemani waktu luangmu: 


  1. Penuh Adegan Kocak  
    Sumber: IDN Times

    Mulai dari episode 1, penonton berhasil dibuat ngakak. Siapa lagi kalau bukan karena Seo Yi Do. Tingkahnya benar-benar kocak. Tanpa Seo Yi Do, apalah arti drama ini. Thanks, Oppa!

  2. Cerita Ringan dan Mudah Dimengerti
    Sumber: Baca

    Menjadi salah satu drama fantasy plus romance comedy, membuat drama ini mudah dimengerti. Ceritanya juga ringan alias nggak mesti buat kening berkerut.
  3. Romantis dan  Baper-in
    Sumber: Kaskus

    Meskipun drama ini terbilang kocak, adegan romantisnya tetap saja berhasil ngebaperin. Apalagi beberapa episode terakhir ketika abang adek memperebutkan Min Ye Rin dengan caranya masing-masing. Belum lagi ketika mereka tahu bahwa Min Ye Rin bukanlah Min Ye Rin sesungguhnya, namun seorang ahjumma bernama Min Jae Hee. Huaa, asyik! Pesona Min Ye Rin memang berhasil membuat orang jatuh cinta, termasuk mantan suami yang suka selingkuh itu.
  4. Penuh Informasi Seputar Dunia Model dan Desainer
    Sumber: Kumparan

    Dalam drama ini, banyak informasi seputar entertainment, khususnya dunia model, desainer, idol, dan fans garis keras. Asyik pokoknya! Poin plus lainnya adalah baju rancangan Seo Yi Do, banyak yang keren abis!

  5. Love Your Self
    Sumber: Sinopsis Film

    Drama ini mengajarkan bahwa kita harus bisa mencintai dan menerima diri kita apa adanya. Bagaimana pun kekurangan kita, pasti ada kelebihan yang kita miliki. Min Jae Hee memang memiliki tubuh gemuk dan kehilangan pesona, tapi ia merupakan seorang ibu dengan hati tulus, pintar memasak, beres-beres rumah, dan yang tak kalah penting, mendedikasikan hidup bagi keluarga semaksimal mungkin. Terkhusus pasangan, janganlah luntur rasa cinta hanya karena perubahan fisik yang tak lagi cantik seperti saat muda. Kalau punya uang, kan, bisa suruh istri perawatan, olahraga bareng, dan lain sebagainya. Bahkan tanpa uang pun hal ini bisa dilakukan. Bukan sebaliknya, menjadikan istri depresi hingga ingin mengakhiri hidup.
  6. Acting Memukau
    Sumber: IDN Times
    Perfume berhasil hadir di tengah penonton dengan para pemain yang mampu menampilkan penampilan terbaik mereka. Seperti suami Min Jae Hee yang cilik dan kejam, putri Min Jae Hee yang cantik dan anggun, Yoon Min Seok sang idol yang polos dan ramah, Kim Yi Doo sang asisten Seo Yi Do yang lucu dan baik hati, dan masih banyak lainnya. 


    Akhir kata, selamat berakhir pekan dengan Perfume, yaa teman-teman pecinta Drakor πŸ˜ƒ

Saturday, January 18, 2020

 
Sumber: Doc. pribadi
Seiring berjalannya waktu, minat baca anak kian rendah. Hal tersebut salah satunya dilatarbelakangi oleh orang tua yang lebih senang memanjakan anak dengan barang-barang elektronik dari pada buku bacaan. Sedangkan aktivitas mendongeng ketika anak-anak hendak tidur di malam hari tidak lagi dilakukan oleh orang tua. Alasannya beragam. Lelah karena bekerja seharian, tidak terbiasa mendongeng, dan sebagainya.
Sehingga ketika anak-anak ditanya buku apa saja yang sudah mereka baca selain buku pelajaran, jawabannya bisa jadi membuat hati kita teriris. Belum lagi kalau kita tanya seputar pahlawan atau nama-nama nabi. Mereka belum tentu bisa menjawab.
Anak-anak tak lagi memiliki memori tentang bacaan. Walaupun hampir semua sekolah memiliki perpustakaan, namun pihak pengajarnya belum mengajarkan anak-anak untuk cinta baca. Kalaupun ada anak-anak yang suka membaca, bacaanya tidak dikawal, tidak diperhatikan dan cenderung diabaikan. Sedangkan perpustakaan didirikan seolah-olah hanya sebagai pelengkap fasilitas sekolah.  
Masih lekat di ingatan saya ketika saya duduk di bangku sekolah dasar dan saya tertarik untuk meminjam buku di perpustakaan, yang ada malah saya tidak diizinkan untuk membaca buku tersebut. Alasannya karena pihak sekolah takut kalau saya meminjam buku, nantinya kondisi buku yang saya pinjam tidak lagi bagus. Karena hal itu, saya dan teman-teman yang lain memilih untuk meminjam buku di taman bacaan. Di sana, kami bebas memilih bacaan apa yang kami mau. Saat itu kami belum mengerti mana bacaan yang baik dan pantas dibaca untuk anak seusia kami.
Apa yang saya rasakan dulu masih terjadi hingga sekarang ini. Anak-anak tumbuh dan berkembang dengan apa yang mereka baca tanpa sepengetahuan guru dan orang tua. Ketika tingkah laku anak-anak salah dimata mereka, bukannya dinasehati dan diarahkan ke jalan yang benar, anak-anak malah dimarahi bahkan sampai menggunakan kalimat kasar.
Hal itu jualah yang membuat hubungan anak dengan guru—di sekolah—atau anak dengan orang tua tidak harmonis. Sehingga di sekolah, yang mereka yakini hanya sekadar bagaimana mendapat nilai yang baik.
Sebenarnya sekarang ini sudah banyak buku yang terbit khusus untuk anak-anak. Ditulis dengan bahasa ringan sesuai usia mereka. Anak-anak diajak masuk dalam imajinasi dan dunia yang dikisahkan penulis, dengan disisipi pesan untuk mendapat pembinaan watak yang baik. Contohnya buku-buku anak karya penulis Indonesia, Watiek Ideo; Indahnya Negeriku, Kisah Seru Hari Penting Sedunia, Jangan Panik 20 Cerita Saat Situasi Darurat, Kumpulan Cerita Anak Kreatif, dan masih banyak judul lainnya.
Ketika membaca buku tersebut, pelan-pelan anak akan menangkap maksud cerita yang mengandung nilai moralitas dan kebaikan. 

Peranan Orang tua
Bersama orang tua mileneal. πŸ’—

Orang tua sudah pasti berperan penting dalam hal ini. Buku harus dijadikan sebagai teman anak. Bukan alat elektronik yang lebih banyak efek negatifnya bagi anak-anak. Boleh saja anak-anak menggunakan gadget, namun waktunya disesuaikan. Misalnya ketika libur tiba, atau ketika tugas sekolah sudah selesai. Penggunaanya pun harus dipantau dan diawasi. Zaman sekarang ini serbuan teknologi yang semakin murah tak jarang membuat anak jadi kecanduan games dan hiburan lain di dalamnya.
Bila anak sudah kecanduan, seringkali mereka susah untuk dikendalikan. Yang ada anak justru melawan dengan cara mereka sendiri. Hal ini ditegaskan pula oleh Edward de Bono dalam bukunya THINK before it’s late (2010 :82). Perkembangan komputer dengan kemampuan supernya, dalam mengolah informasi, telah memperburuk permasalahan yang ada. Apa yang terjadi jika seorang anak yang masih sangat muda diberi komputer? Mereka  mengembangkan kebiasaan mencari jawaban yang mereka butuhkan. Mereka tidak perlu lagi berpikir, mereka hanya mencari jawabannya.”

Pihak Sekolah dan Pemerintah
Gambaran Winny Khodijah

Buku-buku di perpustakaan cenderung hanya itu-itu saja. Padahal semakin banyak buku, anak-anak akan semakin suka dan penasaran. Apalagi jika cover dan isi di dalamnya menarik. Kebanyakan pengurus perpustakaan hanya memenuhi tugasnya sebagai pengurus administrasi semata. Mereka tidak memberi rekomendasi, saran, atau cerita menarik yang pantas dibaca anak-anak. Sewajarnya pengurus perpustakaan pun harus dipilih yang benar-benar kompeten dibidangnya. Dia bisa memenuhi tugasnya sekaligus memang mencintai bacaan.
Sedangkan pemerintah belum juga mengurusi secara konsisten tentang bacaan anak dan menumbuhkan semangat membaca pada anak. Mereka lebih suka mengurusi buku pelajaran. Seolah nasib anak bergantung pada buku pelajaran. Anak-anak memerlukan bacaan lain selain buku pelajaran. Dengan membaca, anak-anak akan dibangun jiwa dan karakternya. Hal itu juga membuat mereka semangat bersekolah. 

Harapan
πŸ’—πŸ’—πŸ’—

Ada banyak cara memotivasi anak-anak agar cinta membaca. Contohnya dengan cara mendongeng dengan buku bergambar yang gambarnya menarik, sering-sering membaca buku di depan anak,  minimal dua kali dalam sebulan orang tua membawa anaknya ke toko buku, update buku-buku di perpustakaan, dekorasi perpustakaan semenarik mungkin, menjelaskan betapa banyaknya manfaat yang didapatkan bila membaca buku, memberikan penghargaan atau hadiah bila anak gemar membaca, dan masih banyak lainnya.
Orang tua, guru, dan pemerintah harus saling bekerja sama untuk mengatasi masalah ini. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Anak-anak harus ‘diselamatkan’ sekarang juga! Tentu kita tidak ingin hanya karena kelalaian kita, anak-anak menjadi tumbuh berkembang tidak seperti yang kita harapkan. 

Eva Riyanty Lubis - September 2015.