Monday, December 30, 2019


Tinggal hitungan jam, 2019 akan berlalu. Pernahkah Anda berpikir bahwa satu tahun itu sangat cepat berakhir? Beruntunglah bagi mereka yang berhasil memanfaatkan hari demi hari dengan baik. Celaka pula bagi mereka yang menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga ini. Termasuk dalam bagian manakah, Anda? Semoga yang beruntung, ya 😍

Bagi saya sendiri, 2019 merupakan salah satu tahun penuh sukacita. Banyak anugerah dan mimpi yang berhasil terwujud. Ternyata benar, dibalik kesulitan akan ada kemudahan. Bila 2018 penuh air mata, maka tahun ini kebalikannya. Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah. Selalu percaya pada Allah Swt. maka kamu akan menuai hasil baik dari kesabaranmu. 

Kepergiaan Nenek
Nenek tahun 2012.
Lebaran terakhir bareng nenek tahun 2018.

Rabu, 09 Januari 2019 merupakan duka mendalam bagi kami sekeluarga. Nenek dipanggil Sang Pencipta. Nenek satu-satunya sejak saya memiliki ingatan. Kakek sudah meninggal ketika saya berusia satu tahun, sedangkan kakek nenek dari pihak bapak sudah berpulang sejak bapak masih duduk di bangku sekolah dasar. Satu sisi, kami bersyukur karena nenek lepas dari rasa sakitnya. Alhamdulillah nenek hadir di antara kami hingga berusia 88 tahun. Alhamdulillah tak terhingga atas hadirnya nenek. Semoga amal ibadah nenek diterima di sisi Allah Swt. Kami menyayangi nenek. Rindu selalu, Nek. 
 
Lepas dari Perpus
Free.

Setiap pekerjaan pasti ada plus minusnya. Bekerja sebagai tenaga honorer merupakan pengalaman baru. Kata orang, bekerja pakai seragam bakalan lebih dihormati. Saya sih tidak pernah berpikir demikian. Saya akan menghormati siapa saja yang memang pantas dihormati, dan atau bahkan tanpa segaram. Seragam tak menjamin apapun, say. Saya suka bekerja di sana karena banyak buku. Sisanya sungguh melelahkan. Bekerja tanpa penghargaan. Capek kerja, gaji tak ada. Siapa yang mau? Eh… banyak sih yang bakalan bertahan. But, not me

Menikah
Lebarnyaaa 😁

πŸ’“πŸ’“πŸ’“

Berjumpa dengan si dia yang sangat luar biasa. Laki-laki berwajah manis dengan tawa yang selalu kurindukan. Bersamamu, penuh kejutan dan tantangan. Ada saja hal baru yang kamu ajarkan padaku. Sungguh, ada banyak doa untuk kita. Semoga kebahagiaan selalu menghampiri kita, Uda. Bersama hingga akhir waktu kelak. Aminnnnn ya Robbal alamin.


Kehamilan.  




Setelah menikah, tak ada program hamil. Intinya kalau Allah Swt. kasih, Alhamdulillah. Kalau belum, juga Alhamdulillah. Setelah nikah, kita masih melakukan yang kata mereka bulan madu. Keliling Sumut, Sumbar, hingga Riau. Sangat luar biasa. Ternyata pulang bulan madu, ada rasa aneh pada tubuh. MasyaAllah. Padahal baru dua minggu setelah menikah. Cek ke dokter untuk memastikan, dan hasilnya positif. Saya dan suami sampai nangis saking bahagianya.


Residensi Penulis 2019
Teman saya Niko.

Kondisi hamil muda dan harus berangkat ke Papua. MasyaAllah. Luar biasa sekali. Suami dengan setia menemani istri untuk menuntaskan segala tugas. Jujur, kalau berangkat seorang diri dalam kondisi hamil muda ke daerah pedalaman Papua ini, pasti mikir panjang. Emak di rumah juga sudah pasti tidak mengizinkan. 


Lima Buku Baru
http://www.evariyantylubis.com/2019/12/follow-your-heart.html

http://www.evariyantylubis.com/2019/12/panduan-praktis-budi-daya-dan-manfaat.html

http://www.evariyantylubis.com/2019/06/buku-anak-ada-apa-dengan-keysa-eva.html


http://www.evariyantylubis.com/2019/06/panduan-lengkap-praktis-budidaya-ikan.html

http://www.evariyantylubis.com/2019/06/panduan-lengkap-dan-praktis-membuat.html


Tahun ini saya berhasil menulis delapan buku, namun yang terbit ada lima. Alhamdulillah Alhamdulilah. Semoga tahun depan bisa lebih produktif. πŸ˜πŸ™
 


😝

Tentu selain beberapa poin di atas, masih banyak anugerah lainnya yang saya dapatkan di tahun ini. Seperti berjumpa dengan orang-orang baik dan penuh inspirasi. Dari mereka saya belajar banyak hal, dan berharap tahun mendatang lebih baik dibanding tahun ini. Tak lupa berdoa, berharap, sekaligus berusaha semaksimal mungkin menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi masyarakat sekitar. 

2019 tutup buku, 2020 mengintip malu-malu. Bismillah Bismillah Bismillah. Mari berjuang menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Semoga mimpi dan cita-cita teman-teman terwujud di tahun 2020. 
Anyway, selamat tahun baru πŸ™

Monday, December 23, 2019

Covernya saja sudah menggoda πŸ˜‡


Bahasa                      :           Indonesian
Negara                      :           Indonesia
Penerbit                   :           Bhuana Ilmu Populer
Penulis                     :           Eva Riyanty Lubis
Jumlah halaman   :           118
Tanggal rilis            :           23 October 2019.

Wortel merupakan salah satu jenis sayur populer dan banyak diminati konsumen di pasaran. Jenis sayur ini mengandung nilai gizi sangat tinggi, seperti karoten dan antioksidan. Kandungan tersebut mampu mengatasi berbagai jenis penyakit yang menyerang tubuh seperti kanker, kolestrol, darah tinggi, masalah pada mata, dan masih banyak lainnya. Selain itu, wortel juga banyak dijadikan sebagai bahan dasar masakan.

Ilustrasinya lucu sekali 😍

Dikarenakan banyaknya manfaat wortel, buku ini hadir dalam rangka mengajak Anda untuk mengetahui bagaimana sebenarnya cara sukses bercocok tanam wortel hingga proses pemanenannya. Dengan menggunakan bahasa sederhana yang mudah dimengerti, Anda akan dipandu dalam mengembangkan budi daya wortel secara terperinci sehingga mampu menghasilkan wortel dengan kualitas baik dan produksi tinggi.


NB:
Seperti apa sih nulis buku nonfiksi? Kalau bagi saya sih susah-susah gampang. Untuk naskah, saya baca beberapa buku sebagai referensi. Akan lebih baik bila Anda memang melihat langsung proses budi daya yang dilakukan. Tidak harus kebun milik Anda, sih. Bisa riset di kebun tetangga, dan lainnya. Saya biasanya seperti itu. Untuk foto, dapatkan sebaik mungkin agar hasilnya memuaskan. Beberapa foto di dalam naskah ini adalah hasil jepretan ibu saya. 

Untuk bisa menikmati buku ini, silahkan baca di Gramedia Digital dengan link sebagai berikut https://ebooks.gramedia.com/id/buku/panduan-praktis-budi-daya-dan-manfaat-wortel

Thursday, December 19, 2019




Bicara keindahan Puncak Jaya, tak ada bandingannya. 



Hidup di daerah baru, tentu fisik sekaligus jiwa raga wajib beradaptasi. Tak mudah memang, karena lokasi tempat residensi yang saya tuju berada di salah satu pedalaman Papua, tepatnya Puncak Jaya.

Suhu dingin siang malam menyapa tubuh. Belum lagi bila rasa dinginnya semakin esktrim! Huh, pegang air saja tak sanggup. Dinginnya sedingin es! Pantas saja masyarakat asli di sini banyak yang jarang mandi. 😁

Air yang ditampung adalah air hujan. Makin dingin ya, kan. Jadi kalau mau mandi, ya menggunakan air hujan yang ditampung ini. Mata air pegunungan juga ada. Tapi tak setiap rumah dialiri air mata air pegunungan. Solusi lain adalah mandi di sungai. Aih, perjalanan menuju sungai saja saya sudah tak sanggup. Jauhh, bo'! 

Dua minggu saya di sini, hujan selalu menyapa. Air pun melimpah ruah. Meski dinginnya menusuk kalbu sampai buat tubuh bergetar hebat, mau tak mau saya tetap harus 'bersentuhan' dengan air. Wong biasa mandi malah tak mandi, kan tak seru! Belum lagi harus cuci pakaian dan wudhu buat salat. 

Selpih pakai filter biar agak mulusan sedikit πŸ˜€

Setiap nyentuh air, bibir tak henti-hentinya minta dikuatkan oleh Allah. Ternyata perjuangan selama di sini sangat luar biasa!

Selama 24 jam, saya tak bisa minum kalau bukan air panas. Hampir setiap sore saya menghangatkan tubuh dari panas hasil bakaran kayu atau sampah.

Hari pertama fisik belum menunjukkan tanda-tanda perubahan. Namun keesokan harinya pas bangun tidur, hidung mulai berdarah. Ini terjadi selama dua minggu. Rambut rontok parah hingga ketombean. Padahal sudah lama saya tak ketombean. Terakhir ketombean pas kuliah dulu.  Enam atau tujuh tahun lalu. 

Kepolosan dunia anak

Wajah kering dan terkelupas. Mau pakai bedak? Oh yang ada malah makin buruk tampilan wajah ini. Untungnya saya bawa pelembab wajah. Lumayan menutupi kulit terkelupas, tapi lama-kelamaan terasa perih.

Besoknya, tak hanya wajah yang ganti kulit. Seluruh tubuh pun dapat bagian tanpa terkecuali.πŸ˜”

Belum lagi tangan dan kaki yang mengkerut. Kata suami sudah macam nenek-nenek. Haha. Padahal doi juga sama. Mengkerut sekaligus menua. Menghitamnya sudah pasti dong ya. Tak ada tuh pendatang yang terlihat putih mulus di sini. Semua birong alias malomlom alias menghitam. Hehe. πŸ˜€

Berlanjut tubuh terkena bentol-bentol merah yang gatalnya luar biasa. Saya berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menggaruk meskipun rasa buat garuk besaaaaar sekali. Huhuhu

Bagaimana dengan bibir? Selama di sini terkelupas parah. Boro-boro pakai sedikit polesan lipstik. Mau bicara saja malu karena terkelupasnya cukup parah. Biasanya dua tiga hari tubuh akan beradaptasi dengan baik selama di tempat baru. Tapi di Papua ini beda, bo! Residensi hampir berakhir, fisik belum kembali seperti sedia kala.

Mana saya tak bawa madu dari rumah. Di sini, saya coba cari madu tapi tak ketemu. Untungnya masyarakat di sini membesarkan hati saya dan berkata, "Itu biasa, Mama!"
Hampir seluruh masyarakat asli yang saya temui menyebut saya, "Mama", karena telah menikah. Memang, di sini semua perempuan yang telah menikah akan dipanggil dengan sebutan Mama.

Bagaimanapun kondisinya, wajib kita nikmati dan syukuri. Betul, toh? Alhamdulillah meski dengan kondisi demikian, saya tidak sampai 'tepar' di atas kasur. Alhamdulillah tak terhingga pada Sang Pencipta. Tugas dapat dilaksanakan dengan baik, petualangan pun terus berlanjut.

Jum'at, 29 November 2019
Jalan Trans Mulia - Wamena
Kabupaten Puncak Jaya

Wednesday, December 18, 2019


Sebab hati tahu apa yang sebenarnya kamu mau



Bahasa                      : Indonesian
Negara                      : Indonesia
Penerbit                   : Bhuana Ilmu Populer
Penulis                     : Eva Riyanty Lubis
Jumlah halaman   : 194
Tanggal rilis            : 23 July 2019.


KAU YANG MEMENDAM RINDU HINGGA TAHUN TERUS BERGANTI NAMA.
Tidak mudah hidup sendiri dengan hati yang tertutup rapat.
Aku memendam rasa dan terus berpura-pura bahagia.
Lelah.
Sejujurnya, semakin aku berlari, semakin sakit hati dan rasa ini.
Orangtuaku selalu berharap aku melakukan apa yang mereka pinta.
Tapi aku tidak akan pernah bisa melakukannya.
Setelah sekian lama lari dari kampung halaman, aku kembali menginjakkan kaki di tanah kelahiranku.
Kenangan demi kenangan muncul di depan mata, berikut beberapa hal yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.
Ada banyak rahasia yang akhirnya terungkap.
Dan ternyata, aku hanya perlu mengikuti kata hatiku.



NB:
Sedikit cerita seputar FOLLOW YOUR HEART. Novel ini merupakan novel romance terakhir yang saya tulis, tepatnya pada tahun 2015. Loh, jadi setelah itu belum pernah nulis novel romance lagi? Yap. Hingga kini, belum ada novel romance baru yang berhasil saya tuntaskan.  πŸ™ Semoga bisa menulis novel romance kembali di tahun mendatang. Aminnn Aminnn ya Robbal Alaminnn. 



FOLLOW YOUR HEART saya tulis ketika masih duduk dibangku universitas, disela-sela tugas skripsi. Novel ini selesai dalam waktu satu bulan. Proses penulisannya sangat saya nikmati. Membayangkan saya sebagai tokoh utama *cuieh*

Tapi benar, lho. Membayangkan kita masuk dalam tokoh yang kita ciptakan, akan lebih mudah dalam proses penulisannya. Sebelum terbit ebook di BIP Digital, saya sudah pernah mengirim naskah ini ke Penerbit Gramedia. Menunggu hingga satu tahun lamanya, ternyata tidak ada jawaban, jadilah saya kembali menarik naskah ini dan akhirnya berjodoh dengan BIP Digital. 

Silahkan dinikmati ya, teman-teman.

Tuesday, December 17, 2019

 


Sebelum berita duka ini saya terima, sudah ada beberapa teman nge-WA kalau Radaksi Analisa bakalan melakukan pengurangan rubrik dan tidak ada lagi honor bagi penulis. Jujur, saya sedih. Sedihhh sekali. Bahkan sebelum teman nge-WA, beberapa tulisan berhasil saya layangkan ke Analisa. Analisa merupakan salah satu media kebanggaan Sumatera Utara dan menurut saya, media ini pulalah yang paling loyal bagi penulis.

Analisa tidak memandang tulisan dari penulis baru atau yang sudah lama berkecimpung dibidang ini. Asal tulisan layak, insyaAllah pasti dimuat. Tulis, kirim, lupakan. Jadi, sembari menanti tulisan dimuat, kita sebagai penulis wajib baca dan nulis lebih banyak lagi. Tujuannya agar tidak fokus menanti kabar naskah yang tengah berjuang dengan naskah lainnya di meja redaksi.

Analisa merupakan media yang menghantarkan saya menuju mimpi. Mimpi menjadi seorang penulis. Tulisan pertama saya adalah cerpen berjudul, “Pria Bersenyum Manis,” terbit di Rubrik Rebana pada hari Minggu, 09 September 2012. Pak Idris Pasaribu merupakan redaktur rubrik tersebut. Dari beliau pulalah saya belajar banyak seputar kepenulisan, hingga sempat bergabung di Komunitas Sastra Indonesia Medan, kisaran tahun 2014 – 2015. Kita selalu diskusi pada Hari Sabtu di bawah pokok asam, Taman Budaya. Kenangan indah itu tiba-tiba terbersit dibenak saya….

Pertama kali ke Analisa tahun 2012 sekaligus jumpa redaktur fenomenal, Pak Idris Pasaribu.

Terhitung sejak 2012-2019, tulisan saya yang dimuat di Harian Analisa terdiri dari:
  • 1 Resensi (Rubrik Resensi Rabu)
  • 7 Cernak (Rubrik Taman Riang)
  • 11 Humor (Rubrik TRP)
  • 11 Tulisan Pariwisata (Rubrik Pariwisata)
  • 24 Artikel (Rubrik TRP)
  • 24 Puisi (Rubrik Rebana dan Puisi Rabu)
  • 31 Cerpen (Rubrik Rebana, TRP, dan Cerpen Rabu)

Analisa merupakan teman berjuang kala saya menempuh pendidikan dibangku universitas. Kuliah dengan biaya sendiri sungguh tidak mudah. Butuh perjuangan ekstra maksimal. Untuk mencukupi biaya kuliah sekaligus biaya hidup, saya menulis ke berbagai media cetak.  

Analisa, terima kasih tak terhingga.
Terima kasih telah mewujudkan mimpi saya.
Terima kasih telah memberikan kesempatan emas yang sungguh luar biasa.
Dari Analisa saya berkenalan dan bertemu dengan banyak penulis.
Dari Analisa saya bisa sedikit ‘pamer’ atas tulisan yang dimuat kepada keluarga dan teman-teman.
Dari Analisa saya dapat pemasukan yang membuat saya bangga pada diri sendiri.

Zaman yang kian canggih, menjadikan media cetak mati satu demi satu, digantikan oleh media online yang kini lebih dicintai netizen. Semoga kita bisa ‘berbaur’ dengan dunia ini.  Sungguh, tak ada yang abadi dan semua ada masanya.

Akhir kata, terima kasih dari hati paling dalam kepada Harian Analisa Medan, khususnya para redaktur. Pak Idris Pasaribu, Pak Anthony Limtan, dan Pak Kwa Tjen Siung.


Padangsidimpuan, 17 Desember 2019
Salam sastra,
Eva Riyanty Lubis