Sabtu, 22 Desember 2018

Cerpen Harian Waspada - Melodi Sendu

pixabay.com


Harian Waspada Rubrik Cemerlang. Minggu, 30 November 2018.
Eva Riyanty Lubis

            “Besok aku pulang kampung. Mungkin akan menetap selamanya disana. Kamu ikut, Merlyn?”
            Sosok lelaki bertubuh tambun itu tampak melongo.
Kanua[1] nggak salah? Kanua sudah jadi orang terkenal di Jakarta ini. Masa mau kembali ke kampung Simirik yang jadul itu? Gimana dengan kelanjutan mimpi kanua yang mau go International?” Merlyn menatap gadis cantik di hadapannya tanpa berkedip.
“Aku capek, Merlyn. Aku kangen kampung,” ucap gadis itu pelan.
“Untuk mendapatkan uang ya musti capek. Gimana sih kanua? Akika[2] juga banting tulang tau!” Merlyn menatap gadis itu kesal.
“Uang bukan segalanya. Harusnya kamu ngerti itu!” gadis itu membentak Merlyn dan kemudian berlalu dari hadapannya.
“Deeeevv!!! Jangan pergi! Kontrak kita belum habis!” teriak Merlyn. Sayang, gadis manis itu telah menghilang di balik pintu.
Sejak tamat SMA, Devi diboyong Merlyn, pemilik music production terkemuka di Jakarta. Sebenarnya Merlyn juga berasal dari kampung Simirik. Hanya saja sejak ia sukses, ia tidak lagi mengakui kampung Simirik sebagai kampung halamannya.
Ketika itu Devi sedang bermain gitar sembari bernyanyi, Merlyn yang kebetulan lewat di depan Devi, langsung tertarik dan mengajak Devi bekerja sama. Awalnya Devi menolak. Tetapi karena paksaaan bapak, akhirnya Devi mengiyakan tawaran Merlyn.

Kampung Simirik
Devi menginjakkan kakinya di kampung yang telah lima tahun ia tinggalkan. Masih sama seperti dulu. Hamparan sawah yang tengah menguning menyambut kedatangan Devi. Devi tersenyum dalam hati. Beberapa menit kemudian bocah- bocah kecil serta teman sepermainannya dulu datang menyerbunya. Mereka adalah Riski, Juliana, Basuki, Fitri, dan Mara.
Ya, mereka teman Devi. Teman senasib seperjuangan yang Devi tinggalkan. Mereka berpelukan. Tertawa bersama-sama. Sampai tidak sadar kalau mereka masih berada di pinggir jalan.
“Deviiiiiii!!!”
Devi menoleh ke arah datangnya suara.
“Kak Lamtiur, Kak Butet,” seru Devi sumringah.
“Wah…. Ternyata benaran kamu. Kamu dah besar ya. Makin cakep. Suer dah, aku aja sama Butet tadi kebingungan. Takut salah orang. Gimana di Jakarta? Katanya kamu udah jadi musisi terkenal? Wih, kirain nggak mau lagi pulang kampung,” Kak Lamtiur mengoceh panjang lebar. Sedangkan Kak Butet hanya angguk-angguk kepala.
Devi tersenyum manis. “Kak, Devi kan asli dari kampung. Devi bukan kacang lupa kulitnya.” 
“Ok, ok. Kami percaya sama kamu. Nanti kita harus foto-foto. Adek-adekmu di rumah pada ngefans sama kamu. Sanalah cepat ke rumah. Mereka pasti kaget melihat artis terkenal pulang kampung.”
Devi tersenyum manis.
“Teman-teman, reuniannya kita sambung nanti aja ya. Devi udah kangen ama Emak dan Bapak. Nggak apa-apa kan?”
*
Devi memandang rumah megah di hadapannya. Ya, rumah termegah di kampung Simirik. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan yang ia tinggalkan lima tahun lalu.
Assalamua’laikum.”
Waa’laikumsalam. Tunggu sebentar....” teriak seseorang dari balik pintu.
“Deviiii?” Emak menatap putri sulungnya nanar. Matanya seketika berkaca-kaca. Dan keduanya berpelukan dengan erat. Menumpahkan rasa rindu yang tidak terbendung.
“Devi?” kemudian seseorang memanggil Devi.
Devi melepaskan melukannya dari emak lalu beralih kepada lelaki tua yang tak jauh dari hadapannya. Devi bersimpuh di kaki lelaki itu.
“Pak, Devi udah nggak kuat. Devi pengen jadi orang biasa. Devi kangen masa-masa dulu,”
“Tidak bisa! Kamu harus kembali ke Jakarta. Kamu harus tetap menjadi penyanyi! Jangan sia-siakan kesempatan emas ini, Devi! Bapak udah bilang, ini bukan waktunya kamu menghentikan karirmu,” bentak Bapak.
Devi bangkit dan menatap bapaknya dengan sendu.
“Devi capek, Pak.”
“Keputusan Bapak sudah bulat. Kamu kembali ke Jakarta!”
“Sudahlah, Pak. Biarkan Devi memustuskan jalan hidupnya sendiri. Dia sudah dewasa,” ujar emak buka suara.
“Alah.... Kamu jangan bela dia. Kamu masih pengen dibelikan mobil terbaru kan? Kalau Devi nggak kerja, kita nggak akan punya! Makanya suruh anakmu itu kembali ke Jakarta. Kalau semua apa yang kita inginkan udah ada, baru dia boleh pulang!” Bapak menatap Devi tajam.
Hati Devi benar-benar teriris. Apa yang dia pikirkan ternyata benar. Orang tuanya gila harta. Dan dia yang menjadi korban. Memang sejak kecil Bapak tidak begitu suka dengan Devi. Katanya sejak Devi lahir, kehidupan mereka menjadi susah.
“Bapak benar-benar egois. Nggak pernah mikirin perasaan Devi!” benta Devi membuat bapak naik pitam dan hendak mendaratkan tangannya ke pipi mulus Devi.
Untunglah Salsabila muncul dari balik pintu. Akhirnya bapak tidak jadi melaksanakan aksi gilanya.

“Nak Salsabila,” ucap Bapak kikuk.
“Maaf Mak, Pak. Salsabila datang di saat nggak tepat.” Gadis ayu itu hendak berbalik pulang. Wajahnya benar-benar pucat pasi. Mungkin tidak menyangka akan apa yang dia lihat barusan.
“Oh, tidak ada apa-apa kok. Ada apa gerangan? Eh, duduk dulu, Nak. Moso di pintu aja,” emak mempersilahkan Salsabila duduk. Tetapi gadis itu tetap berdiri.
Devi menatap Salsabila tajam. Begitu juga sebaliknya.
“Ada berita apa toh?” Tanya bapak.
“Langsung aja, Salsabila ngundang Emak sama Bapak ke acara pernikahan Salsabila hari Minggu.” wajah gadis itu merona merah.
“Lah, kok tiba-tiba? Siapa yang beruntung mendapatkan hatimu, Nak?” Ujar Emak antusias.
“Budi.” Jawab Salsabila malu-malu sambil menundukkan wajahnya.
Devi yang sedari tadi masih berdiri di hadapan mereka seketika shock.
“Budi nggak mungkin nikah sama kamu!” bentak Devi tiba-tiba.
“Tapi faktanya demikian!” Salsabila mencibir Devi. “Mak, Pak, Salsabila pulang aja ya. Di sini gerah banget. Jangan lupa datang ke pesta Salsabila.”
Dulu Devi dan Salsabila merupakan sahabat karib. Tetapi sejak Budi menyatakan cinta pada Devi, Salsabila mulai membenci Devi.
Setelah Salsabila pergi, Bapak kembali melakukan serangannya.
“Kau sudah dengar, Devi? Kampung Simirik bukan tempatmu lagi. Pulanglah ke Jakarta. Lakukan kegiatan sebagaimana yang kau lakukan lima tahun terakhir ini. Buat Mak dan Bapak bangga,”
“Jadi sampai sekarang kalian tidak pernah bangga padaku? Aku berjuang di perantauan demi kalian. Hanya kalian,” air mata yang menggantung di sudut mata Devi akhirnya tumpah.
“Izinkan aku disini. Walau hanya sehari. Aku benar-benar ingin di sini. Aku rindu kampung ini,” Devi memelas.
*
“Apa kau bahagia, Budi?”
“Ya, aku bahagia berjumpa denganmu, Devi.”
“Tidak, kau memilih Salsabila, orang yang sangat membenciku. Padahal aku masih setia padamu.”
“Kupikir kau tidak mau lagi pulang ke sini.”
“Ini kampungku. Asalku. Tidak akan pernah kulupakan.”
“Tapi kau sudah menjadi penyanyi terkenal. Tidak layak bersanding denganku.”
“Ah, kau terlalu banyak alasan. Padahal kau juga tahu isi hatiku padamu.” Desah Devi.
“Tapi....”
“Kau berubah. Padahal kau salah satu alasanku untuk kembali kesini. Anyway, semoga kau bahagia....”
*
“Maaaaak, Paaaaaaak. Kak Devi nggak ada di kamar.” Teriak si bungsu, Ayumi.
*
Kanua pasti datang. Sudah akika duga. Kampung bukan tempat yang layak bagi kanua. Malam ini kanua ada show di Bandung. Semua sudah disiapkan.”
*
“Selamat malam untuk semua sahabat Devieee. Ini lagu terbaru gue…. Khusus buat lo!”
Devi mulai memainkan gitarnya. Semua terhanyut dalam melodi yang Devi nyanyikan.
is anybody out there?
Hello! Hello!
Broken hearts like promises are left for lesser known’s
is anybody out there?
Alone! Alone!
Cause the coldest winters thrive[3]
*
            “Indonesia kembali menangis. Musisi yang baru saja naik daun, Devi. Ditemukan tewas di kamar riasnya setelah beberapa jam selesai melakukan pertunjukkan di Lapangan Sarapura, Bandung. Tidak ada tanda-tanda aneh sebelum kepergiannya. Hanya saja, gadis yang mahir memainkan gitar itu, biasanya menyanyikan lagu yang cenderung bahagia. Tiba-tiba di akhir pertunjukannya, dia membawakan sebuah lagu baru yang terbilang sedih.” Ujar Aisyah, pembaca berita WR TV. 


[1] Kanua : Kamu. Bahasa Banci.
[2] Akika : Aku. Bahasa Banci.
[3] Hello Alone, Anberlin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Me @evariyantylubis