Sabtu, 08 Desember 2018

Cerpen Harian Analisa - Senja di Tepi Pantai Coastal Area

pixabay.com


Harian Analisa Medan, Rubrik Rebana. Minggu, 12 Oktober 2014.
Eva Riyanty Lubis

            Olin, begitu aku dipanggil. Sedang nama lengkapku sendiri adalah Aulina Fazrina. Seorang perempuan berusia 22 tahun dan masih berstatus mahasiswi di salah satu perguruan tinggi swasta. Aku tinggal di Padangsidimpuan, kota kecil di Sumatera Utara. Kalau kamu tanya apa impianku, aku ingin mengelilingi Indonesia, bahkan dunia. Aku selalu ingin menikmati bentangan alam nan indah hadiah dari Sang Pencipta ini. Mungkin bagimu itu terdengar mustahil. Apalagi aku bukan anak yang terlahir dari pasangan kaya raya.
            Asal kamu tahu, aku bahkan seorang yatim. Memiliki tiga orang adik dan ibuku hanyalah seorang pedagang kelontong kecil-kecilan. Namun seseorang tetap boleh bermimpikan? Dan aku selalu ingin menggapai impian dengan caraku sendiri.
            “Kamu yakin akan pergi ke Batam?” Tanya emak[1] khawatir.
            Sejak bapak masih ada, aku sudah sering melanglang buana sendiri kemana-mana. Sudah pasti dengan danaku sendiri. Bisa dari hadiah perlombaan yang sering kuikuti atau jajan yang selalu kusisihkan.
            “Mak, aku kan sudah sering bepergian. Jadi Mak nggak usah khawatir.” Aku mencoba menenangkan emak.
            “Ya Mak tahu. Tapi kita tidak ada saudara di Batam, Olin. “
            Memang biasanya aku jalan-jalan sekalian mengunjungi saudara. Tapi aku sudah dewasa dan aku yakin bisa menjaga diri.
            “Olin bisa jaga diri, Mak. Mak tenang aja.” Ucapku dibarengi sebuah senyuman tipis.
            Sebenarnya Mak tahu, tujuan kepergianku saat ini selain berjalan-jalan adalah menghilangkan rasa sedih karena ditinggal pergi sang kekasih. Aria. Dengan teganya dia bermain di belakangku. Padahal kami sudah bersama sejak masih SMP. Bahkan kami sudah bertunangan dua bulan yang lalu.
*
            Akhirnya malam ini aku berangkat menuju Dumai dengan menaiki bus besar. Karena kotaku masih kota kecil, jadi bandara belum ada disini. Makanya bus selalu menjadi pilihan utama jika hendak pergi ke suatu tujuan.
            Malam sudah menunjukkan pukul sembilan ketika bus berangkat. Perlahan demi perlahan meninggalkan kota kecilku bersama asa menyedihkan yang tadinya hinggap di dalam dada.
            “Mau kemana, Dek?” Tanya perempuan berwajah sendu yang duduk tepat di sampingku. Membuat aku tersadar kalau aku memiliki teman sebangku yang kutaksir berusia empat puluh tahunan.
            “Eh, mau ke Batam, Bu.” Jawabku seramah mungkin.
            “Panggil Kakak saja. Kakak juga mau ke Batam.”
            “Ohh baik, Kak.” Aku menganggukkan kepala.
            “Kakak hendak menemui suami kakak. Dia merantau ke Batam lima tahun yang lalu. Namun sejak merantau, tak sekalipun dia pulang menemui kakak dan anak-anaknya.” Tiba-tiba perempuan itu meluapkan perasaannya padaku.
            Aku pun mendengar cerita perempuan itu dengan seksama. “Memangnya Kakak tinggal di mana? Padangsidimpuan juga?” Tanyaku menyela.
            “Kakak di Sibolga, Dek.”
            Aku pun menganggukkan kepala lalu kakak itu kembali menceritakan kisahnya.
            “Kakak memang bersyukur karena suami kakak selalu mengirimi kebutuhan materi kepada kami. Namun yang lebih penting dari itu, Kakak ingin dia datang menjumpai kami, keluarganya. Kamu tahu Dek, beberapa minggu yang lalu beredar kabar dari tetangga yang juga merantau di Batam kalau Abangmu sudah memiliki istri lain di sana.” Suara kakak itu pun berubah serak dengan air mata yang mulai menetes satu-persatu.
            Aku terhenyak mendengar kisahnya. Aku tidak memberi komentar apa-apa sebab aku tahu kakak itu hanya ingin berbagi perasaan yang sedang dia alami padaku. Namun tiba-tiba saja di dalam hatiku bersarang rasa benci mendalam kepada yang namanya kaum Adam.
            Malam itu pikiranku melayang antara Aria, kisah kakak yang duduk di sampingku, dan perjalanan yang hendak kulalui. Ah, hidup memang tak selamanya indah seperti yang selalu dibayangkan. Aku mendesah panjang sebelum mulai memejamkan mata sebab malampun sudah semakin larut.

*
            Pukul enam pagi, kami tiba di Dumai. Sebuah kota yang menurutku tak jauh berbeda dengan Padangsidimpuan. Hanya saja jauh lebih besar. Sekilas kulihat pengendara kendaraan yang begitu taat pada lampu lalu lintas. Sangat berbeda dengan kotaku yang pengendaranya kebanyakan selalu bertindak sesuka hati.
            Setelah mobil berhenti di depan loket, kami sebagai penumpang dipersilahkan untuk membeli tiket sesuai tujuan masing-masing. Aku lihat rute yang dituju dari Dumai antara lain, Bengkalis, Tanjung Buton, Selat Panjang, Tanjung Samak, Tanjung Balai Karimun, Batam, dan Tanjung Pinang.
            “Dek, tujuan kemana ini?” Tanya Bapak-bapak berkumis yang bertugas menuliskan tiket.
            Aku terkesiap karena keasyikan membaca plakat besar yang tertempel di dinding ruangan itu.
            “Tanjung Balai Karimun aja, Udak[2].” Ucapku tiba-tiba.
            Setelah membayarkan uang transportnya, tiket pun berada di dalam genggamanku. Sebuah pilihan yang menurutku juga aneh. Awalnya aku hendak pergi ke Batam, namun aku malah memutuskan untuk mengunjungi Tanjung Balai Karimun. Tapi tak apa. Setiap perjalanan yang tidak direncakanan pasti akan memberikan sensasi tersendiri. Dan aku ingin merasakan sensasi itu untuk pertama kalinya.
            Lima belas menit kemudian, kami dijemput dengan mobil jemputan kapal yang hendak kami naiki. Sebuah mini bus yang sangat bersih.
            Sesampainya di pelabuhan, penumpang langsung digiring menuju kapal sesuai dengan yang tertera di tiket.
            Perjalanan yang memakan waktu kurang lebih delapan jam kuhabiskan dengan menonton film yang tersedia di depan mata. Syukur saja filmnya sangat menarik dan membuat aku tak memejamkan mata sedikitpun selama di dalam kapal.
            Aku sampai di pelabuhan Tanjung Balai Karimun dengan senyum mengembang. Dalam hati kutekatkan kalau perjalanan ini akan menarik, semenarik perjalanan-perjalanan yang pernah kulalui. Aria pun perlahan-lahan menghilang dari benakku.
            “Ojek, Kak?” Seseorang menyapaku.
            “Berapa?”
            “Tujuannya kemana?” Tanyanya dengan kening berkerut.
            “Penginapan murah yang dekat dengan pantai.”
            “Ohhh.” Dan dia pun memberitahukan tarif ongkosnya. Setelah tawar menawar disepakati, aku pun menaiki ojek tersebut.
*
            Aku mendapatkan penginapan minimalis yang sangat bersih dan nyaman. Dari jendela kamarku, aku disuguhi pemandangan pantai yang sangat indah. Membuat hati tak sabar untuk segera mendekati pantai tersebut.
*
            “Pantai apa yang ada di depan sana?” Tanyaku sambil menunjuk pantai yang terbentang di depan mata kepada petugas penjaga penginapan.
            “Oh, itu namanya Pantai Coastal Area. Tempatnya asyik. Apalagi kalau malam hari, pasti pengunjungnya banyak.” Jelas lelaki itu dengan senyum ramah.
            Aku menganggukkan kepala. “Makasih kalau begitu, Pak. Saya ke sana dulu.” Ujarku undur diri.
            “Selamat menikmati sunsetnya ya, Dek.” Ucapnya yang membuatku kembali memberikan sebuah senyuman.
*
            Momen istimewa yang ada di depan mata kuabadikan ke dalam kameraku. Ah, rasanya menyenangkan sekali.
            “Sendiri saja?” Tiba-tiba seseorang mengagetkanku. Membuat aku menoleh kepada pemilik suara tersebut. Entah aku harus bersyukur atau bersedih, karena ‘dia’ memiliki paras yang begitu rupawan.
            Dengan tinggi kurang lebih seratus tujuh puluh sentimeter dipadukan dengan tubuh yang kokoh. Pandangan matanya tajam, hidungnya bangir, dan kulitnya hitam manis. Rambutnya yang tergolong panjang melambai-lambai tertiup angin.
            Mungkin karena dia sadar aku terus memandanginya, dia memberikan senyumnya yang menurutku mematikan. Sial! Dia sangat sempurna!
            Lalu dia mengambil posisi duduk tepat di sampingku.
            “Namaku Raja.”
            Aku mengalihkan pandangan darinya menuju matahari yang hendak menghilang dari pandangan. Berusaha mengontrol kinerja perasaanku yang bergetar tak menentu sejak pertama kali berpandangan dengannya.
            “Kamu lagi nggak punya teman makanya datang mendekatiku?” Tanyaku ketus.
            Raja terkekeh. Entah kenapa kekehannya malah membuat jantungku semakin berdebar.
            “Cewek itu nggak baik duduk seorang diri di tempat seperti ini. Bagaimana kalau kamu digoda cowok?”
            “Ya dan penggodanya itu kamu.” Balasku lagi.
            “Wow, kamu orang pertama yang mengatakan kalau aku ini seorang penggoda. Biasanya aku yang selalu digoda.”
            “Cih. Sok banget kamu ini.”
            Dan itu adalah awal mula pertemanan kami. Lalu dia dengan mudah membuat aku membuka hati, tersenyum bahkan tertawa dengan guyonan-guyonannya. Menghilangkan rasa benci dan kesal kepada kaumnya dengan mudah.
            Raja, lelaki istimewa yang datang ketika aku terpaku pada indahnya matahari yang tengah tenggelam di pelupuk mata.
*
            Perjalananku lebih menyenangkan karena Raja selalu setia bersamaku. Bak guide, dia membawaku ke tempat-tempat eksotis lainnya di pulau yang menentramkan ini.       Pantai  Pongkar, Pantai Pelawan, Makam Orang Kuat Karimun, Taman Budaya bukit Tembbok Moro, Mesjid Tua Pulau Biru dan Prasasti Pasir Panjang Batu.
            “Gimana pulauku ini? Keren banget kan, Olin? Makanya kamu harus sering-sering kemari.”
            “Iya iya. Kamu tenang aja.” Jawabku dengan nasi yang masih penuh di dalam mulut.
            Setelah selesai makan, Raja mengantarkanku ke penginapan.
            “Olin?”
            “Ya, Raja?”
            “Berjanjilan kalau kamu akan menikmati hidup ini dengan penuh kebahagiaan.”
            Aku mengerutkan kening sembari terkikik. “Kamu ini apa-apaan sih. Omongannya ada-ada aja.”
            “Kalau kamu ada masalah, kamu nggak boleh putus asa. Percaya saja kalau Tuhan memberimu cobaan karena Dia yakin kamu kuat untuk menjalani semuanya.”
            “Iya, Raja. Puas?”
            Kutemukan senyuman lebar di wajah Raja. Senyum paling indah yang pernah kutemukan.
            “Yaudah, kamu masuk gih. Udah sore. Kita seharian udah jalan-jalan kesana kemari.”
            “Padahal aku masih pengen duduk berdua sama kamu di tepi pantai Coastal Area ini.” Jawabku dengan mulut manyun.
            “Kamu udah capek, Olin. Sana mandi terus istirahat.”
            “Siap laksanakan, Komandan!” Sahutku yang membuat Raja kerkekeh geli.
*
            Senja masih terlihat kala aku telah selesai mandi. Aku tetap bersemangat untuk melihat sunset. Tak pernah ada rasa bosan padahal tiga hari ini Raja selalu setia bersamaku menikmati suasana indah itu.
            “Mau kemana Dek?” Petugas penginapan itu menghentikan langkahku.
            “Ke depan Pak. Lihat sunset.” Jawabku dengan senyuman lebar.
            “Maaf kalau Bapak menyela, selama tiga hari ini adek pergi jalan-jalan bersama siapa?” Tanya Bapak itu dengan wajah takut dan cemas.
            “Oh, teman saya, Pak. Namanya Raja. Orang sini juga.” Jawabku santai.
            “Raja?”
            Aku menganggukkan kepala dengan mantap.
*
            Senja menjadi sepi sebab Raja tak muncul lagi di dekatku. Padahal aku sudah menantinya dua hari ini. Aku merutiku diriku sendiri sebab aku tak tau banyak tentangnya. Rumah, nomor hape, bahkan tak ada satu fotonya di kameraku. Padahal dia selalu setia mengabadikanku ke dalam kamera. Lantas bagaimana caranya agar aku bisa menemukannya?
            Atau aku harus percaya pada cerita penjaga penginapan itu? Kalau Raja telah menghadap Yang Maha Kuasa tiga tahun yang lalu? Bunuh diri ditinggal pergi sang pujaan hati. Di sini, di pantai Coastal Area ketika senja tiba.


[1] Ibu
[2] Paman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Me @evariyantylubis