Sabtu, 29 Desember 2018



pixabay.com

 Harian Analisa Medan Rubrik Rebana. Minggu, 07 Desember 2014.
Eva Riyanty Lubis

Mimosa, bagian dari bumi yang lebih tepatnya tidak dianggap ada.
*
Menjelang pagi di bawah kolong jembatan, udara dingin mengalah pada nyala api di atas unggun. Aku hidup di kota yang menampakkan sejuta cerita. Manis dan pahit. Namun pahit ternyata lebih unggul. Akulah, Mimosa. Mereka anggap, diriku seperti sampah kota. Pun aku memang tak mempunyai rumah tetap. Apalagi harta benda lainnya. Miskin? Ah, kamu bahkan boleh menyebut lebih dari itu.
Bagiku, kota ini palsu. Sebab, kota yang tumbuh bersama jelang harapan telah sakit. Hiruknya cakap orang terpecah bagai layar terkembang. Pagi ini, kumulai hariku tuk meraup rupiah. Aku berdiri di dekat halte pada penghujung kabut seraya membawa kotak kayu yang kukalungkan pada leher. Kotak kayu itu berisi aksesoris, hasil buatan tanganku sendiri. Aku tengah menanti orang yang berlalu lalang di depanku. Setidaknya, aku selalu berandai-andai agar daganganku terjual habis untuk hari ini. Meski itu sangat susah terjadi. Atau bahkan tidak pernah terjadi.
Dalam pandangan mataku, kabut menjadikan gedung-gedung, jembatan layang, dan pertokoan tampak samar. Seolah-olah seperti hendak mengepungku.
Lalu kulihat seorang lelaki berpakaian serba putih sedang duduk di halte. Lelaki itu tengah membaca koran hari ini seraya menghisap sebatang rokok. Asap rokok itu kian mengepul dan berarak membelai raut wajahku. Asapnya yang kata orang bisa menjalar penyakit teramat parah bila hisapan itu berkelanjut. Aku menghela napas. Sudah terbiasa. Lalu kucoba untuk mendekatinya. Berharap ada harapan untuk hari ini.
Kini aku telah berdiri tepat di hadapannya. “Pak, apakah Bapak mau membeli dagangan saya?” lelaki itu mengalihkan pandangan kepadaku, lalu melirik sebentar produk yang tengah kuperlihatkan. “Mungkin bisa diberi kepada istri atau putri Bapak.” Tambahku dibarengi sebuah senyuman termanis yang pernah kumiliki.
“Dek, mereka sudah terbiasa membeli aksesoris bermerek,” ucapanya dengan nada lemah lembut, namun tajam. Lelaki itu memeriksa arlojinya. “Saya sedang buru-buru,” ia beranjak pergi. Masuk ke dalam bis yang berhenti di depan kami.
Pada tepian hari sungguh terasa membosankan. Sepanjang hari aku selalu termangu di tepi jalan. Seperti hari-hari sebelumnya, aku harus terbiasa merasakan penatnya hidup ini. Aku bahkan tidak ingat kapan uang benar-benar berpihak kepadaku. Dan dingin pun mulai menyatu bersama kabut, mengiringi rumpun dedaunan yang tertimpa embun.
“Andai saja kedua orangtuaku masih hidup. Mungkin hidupku takkan seperti ini. Yang kulalui dengan kesendirian. Luntang-lantung tak terarah.”
Kulangkahkan kaki menyusuri jalanan kota di atas trotoar basah. Inilah Kota Metropolitan. Kota yang kejam. Cukup aku saja yang merasakan kekejaman ini. Dulu, bapak meninggal di kota ini karena amukan masa. Gara-gara dituduh sebagai maling, tapi itu tidak benar. Malah yang menuduh bapak adalah maling sebenarnya.
Lalu, aku mulai memasuki area rumah yang begitu kumuh dan terpencil. Melewati gang rumah yang panjangnya sekitar satu meter. Rumah itu diapit oleh gedung-gedung yang menjulang tinggi bak permadani istana. Jalanan becek. Genangan air mengapung di atas jalan yang berkerikil. Sejenak, kutajamkan pendengaran. Aku mendengar senandung nyanyian yang mengurai sunyi. Sangat merdu. Lalu kulangkahkan kakiku lebih jauh ke dalam gang sempit. Pula melewati area perkebunan luas.
Di beranda rumah, kulihat sosok perempuan tua yang sedang duduk di atas dipan kayu. Perempuan itu begitu renta. Rambutnya tergelung ke atas. Tampak tumbuh uban pada rambutnya. Kuperhatikan perempuan itu tengah memandangi pakaian yang sudah tak layak pakai. Nampak raut wajahnya sedang bersedih. Kuputuskan tuk menghampirinya. Sekedar bercengkerama, bilamana ia mau membagi kisah sedihnya padaku.

Sabtu, 22 Desember 2018

pixabay.com


Harian Waspada Rubrik Cemerlang. Minggu, 30 November 2018.
Eva Riyanty Lubis

            “Besok aku pulang kampung. Mungkin akan menetap selamanya disana. Kamu ikut, Merlyn?”
            Sosok lelaki bertubuh tambun itu tampak melongo.
Kanua[1] nggak salah? Kanua sudah jadi orang terkenal di Jakarta ini. Masa mau kembali ke kampung Simirik yang jadul itu? Gimana dengan kelanjutan mimpi kanua yang mau go International?” Merlyn menatap gadis cantik di hadapannya tanpa berkedip.
“Aku capek, Merlyn. Aku kangen kampung,” ucap gadis itu pelan.
“Untuk mendapatkan uang ya musti capek. Gimana sih kanua? Akika[2] juga banting tulang tau!” Merlyn menatap gadis itu kesal.
“Uang bukan segalanya. Harusnya kamu ngerti itu!” gadis itu membentak Merlyn dan kemudian berlalu dari hadapannya.
“Deeeevv!!! Jangan pergi! Kontrak kita belum habis!” teriak Merlyn. Sayang, gadis manis itu telah menghilang di balik pintu.
Sejak tamat SMA, Devi diboyong Merlyn, pemilik music production terkemuka di Jakarta. Sebenarnya Merlyn juga berasal dari kampung Simirik. Hanya saja sejak ia sukses, ia tidak lagi mengakui kampung Simirik sebagai kampung halamannya.
Ketika itu Devi sedang bermain gitar sembari bernyanyi, Merlyn yang kebetulan lewat di depan Devi, langsung tertarik dan mengajak Devi bekerja sama. Awalnya Devi menolak. Tetapi karena paksaaan bapak, akhirnya Devi mengiyakan tawaran Merlyn.

Kampung Simirik
Devi menginjakkan kakinya di kampung yang telah lima tahun ia tinggalkan. Masih sama seperti dulu. Hamparan sawah yang tengah menguning menyambut kedatangan Devi. Devi tersenyum dalam hati. Beberapa menit kemudian bocah- bocah kecil serta teman sepermainannya dulu datang menyerbunya. Mereka adalah Riski, Juliana, Basuki, Fitri, dan Mara.
Ya, mereka teman Devi. Teman senasib seperjuangan yang Devi tinggalkan. Mereka berpelukan. Tertawa bersama-sama. Sampai tidak sadar kalau mereka masih berada di pinggir jalan.
“Deviiiiiii!!!”
Devi menoleh ke arah datangnya suara.
“Kak Lamtiur, Kak Butet,” seru Devi sumringah.
“Wah…. Ternyata benaran kamu. Kamu dah besar ya. Makin cakep. Suer dah, aku aja sama Butet tadi kebingungan. Takut salah orang. Gimana di Jakarta? Katanya kamu udah jadi musisi terkenal? Wih, kirain nggak mau lagi pulang kampung,” Kak Lamtiur mengoceh panjang lebar. Sedangkan Kak Butet hanya angguk-angguk kepala.
Devi tersenyum manis. “Kak, Devi kan asli dari kampung. Devi bukan kacang lupa kulitnya.” 
“Ok, ok. Kami percaya sama kamu. Nanti kita harus foto-foto. Adek-adekmu di rumah pada ngefans sama kamu. Sanalah cepat ke rumah. Mereka pasti kaget melihat artis terkenal pulang kampung.”
Devi tersenyum manis.
“Teman-teman, reuniannya kita sambung nanti aja ya. Devi udah kangen ama Emak dan Bapak. Nggak apa-apa kan?”
*
Devi memandang rumah megah di hadapannya. Ya, rumah termegah di kampung Simirik. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan yang ia tinggalkan lima tahun lalu.
Assalamua’laikum.”
Waa’laikumsalam. Tunggu sebentar....” teriak seseorang dari balik pintu.
“Deviiii?” Emak menatap putri sulungnya nanar. Matanya seketika berkaca-kaca. Dan keduanya berpelukan dengan erat. Menumpahkan rasa rindu yang tidak terbendung.
“Devi?” kemudian seseorang memanggil Devi.
Devi melepaskan melukannya dari emak lalu beralih kepada lelaki tua yang tak jauh dari hadapannya. Devi bersimpuh di kaki lelaki itu.
“Pak, Devi udah nggak kuat. Devi pengen jadi orang biasa. Devi kangen masa-masa dulu,”
“Tidak bisa! Kamu harus kembali ke Jakarta. Kamu harus tetap menjadi penyanyi! Jangan sia-siakan kesempatan emas ini, Devi! Bapak udah bilang, ini bukan waktunya kamu menghentikan karirmu,” bentak Bapak.
Devi bangkit dan menatap bapaknya dengan sendu.
“Devi capek, Pak.”
“Keputusan Bapak sudah bulat. Kamu kembali ke Jakarta!”
“Sudahlah, Pak. Biarkan Devi memustuskan jalan hidupnya sendiri. Dia sudah dewasa,” ujar emak buka suara.
“Alah.... Kamu jangan bela dia. Kamu masih pengen dibelikan mobil terbaru kan? Kalau Devi nggak kerja, kita nggak akan punya! Makanya suruh anakmu itu kembali ke Jakarta. Kalau semua apa yang kita inginkan udah ada, baru dia boleh pulang!” Bapak menatap Devi tajam.
Hati Devi benar-benar teriris. Apa yang dia pikirkan ternyata benar. Orang tuanya gila harta. Dan dia yang menjadi korban. Memang sejak kecil Bapak tidak begitu suka dengan Devi. Katanya sejak Devi lahir, kehidupan mereka menjadi susah.
“Bapak benar-benar egois. Nggak pernah mikirin perasaan Devi!” benta Devi membuat bapak naik pitam dan hendak mendaratkan tangannya ke pipi mulus Devi.
Untunglah Salsabila muncul dari balik pintu. Akhirnya bapak tidak jadi melaksanakan aksi gilanya.

Sabtu, 15 Desember 2018

pixabay.com


Harian Analisa Medan, Rubrik Cerpen Puisi Rabu. Rabu, 22 Oktober 2014.
 
Eva Riyanty Lubis

            Gadis mungil itu berdiri di atas bukit Silayang-Layang. Pandangannya mengarah ke hamparan tak teratur kota Padangsidimpuan. Namun hanya matanya yang memandang. Sebab hatinya  sedang bergemuruh hebat. Berontak, atau kalau bisa dia hendak luruh dari diri gadis itu.
            Gadis itu menyilangkan kedua tangannya ke dalam dada, erat. Seolah-olah dia kedinginan. Meski panas tengah melanda kota kecil itu. Tapi, sesekali tubuhnya bergetar. Mungkin menahan isak yang selalu dipendam. Rambut lurusnya melambai-lambai tertiup angin. Tetap saja dia merasa sendiri. Walau sebenarnya dia berada di tempat yang sangat damai.
*
            “Ibu tak pernah menginginkan ini terjadi, Nak. Tak ada yang menginginkan ini terjadi. Ibu selalu menginginkan yang terbaik untuk kalian. Hanya kalian yang ibu punya di dunia ini.” Wanita paruh baya itu memeluk Indah erat.
            “Tapi seharusnya ibu bisa memilih keputusan yang lebih dewasa. Bukan seperti ini caranya, Bu. Kalau seperti ini aku dan adek Sarah yang akan tersiksa.” Ujar Indah sedih.
            “Ibu akan terus memperjuangkan kalian. Percayalah, Nak. Kita bertiga akan selalu bersama-sama.” Wanita itu meyakinkan putri sulungnya. Indah hanya mengangguk lemah. Meski dalam hati dia tidak meyakini ucapan wanita yang melahirkannya itu. Ya, untuk pertama kalinya dia kehilangan kepercayaan terhadap wanita itu.
*
            Malam itu pukul dua dini hari. Pintu berderit. Indah melihat ibunya berdiri tak jauh dari pintu.
            “Oh, Eka. Kamu belum tidur?” Ucap pria yang barusan hendak masuk secara pelan-pelan ke dalam rumah. Namun sayang, wanita itu sudah mengetahui aksinya. Jadi pria itu terlanjur tertangkap basah. Ya, seperti itulah reaksi yang dapat Indah baca.
            “Kamu pikir aku bisa tidur sementara kamu masih keluyuran tidak jelas di luar sana?” Tanya wanita itu dengan nada meninggi.
            “Ah, sudahlah Eka. Lebih baik kita tidur. Sudah lelah aku bertengkar denganmu.” Pria itu hendak merebahkan dirinya di atas kasur. Namun wanita di hadapannya itu langsung mencegat.
            “Aku muak dengan tingkahmu, Ikbal! Kau tidak pernah bersikap dewasa. Kita sudah menjadi suami istri. Anak kita sudah dua, Ikbal. Kumohon, jangan kembali bertingkah. Dewasalah, tak lama lagi anak gadis kita akan dewasa. Tidakkah kau merasa malu dengan ulahmu?” Jelas wanita itu panjang lebar.
            Pria itu tak menjawab. Hanya mendelik kesal. Kemudian berlalu meninggalkan wanita yang sudah meluruhkan kristal bening itu.
            Di balik pintu, Indah juga meluruhkan kristal bening. Deras. Namun hanya dalam diam.
*

Sabtu, 08 Desember 2018

pixabay.com


Harian Analisa Medan, Rubrik Rebana. Minggu, 12 Oktober 2014.
Eva Riyanty Lubis

            Olin, begitu aku dipanggil. Sedang nama lengkapku sendiri adalah Aulina Fazrina. Seorang perempuan berusia 22 tahun dan masih berstatus mahasiswi di salah satu perguruan tinggi swasta. Aku tinggal di Padangsidimpuan, kota kecil di Sumatera Utara. Kalau kamu tanya apa impianku, aku ingin mengelilingi Indonesia, bahkan dunia. Aku selalu ingin menikmati bentangan alam nan indah hadiah dari Sang Pencipta ini. Mungkin bagimu itu terdengar mustahil. Apalagi aku bukan anak yang terlahir dari pasangan kaya raya.
            Asal kamu tahu, aku bahkan seorang yatim. Memiliki tiga orang adik dan ibuku hanyalah seorang pedagang kelontong kecil-kecilan. Namun seseorang tetap boleh bermimpikan? Dan aku selalu ingin menggapai impian dengan caraku sendiri.
            “Kamu yakin akan pergi ke Batam?” Tanya emak[1] khawatir.
            Sejak bapak masih ada, aku sudah sering melanglang buana sendiri kemana-mana. Sudah pasti dengan danaku sendiri. Bisa dari hadiah perlombaan yang sering kuikuti atau jajan yang selalu kusisihkan.
            “Mak, aku kan sudah sering bepergian. Jadi Mak nggak usah khawatir.” Aku mencoba menenangkan emak.
            “Ya Mak tahu. Tapi kita tidak ada saudara di Batam, Olin. “
            Memang biasanya aku jalan-jalan sekalian mengunjungi saudara. Tapi aku sudah dewasa dan aku yakin bisa menjaga diri.
            “Olin bisa jaga diri, Mak. Mak tenang aja.” Ucapku dibarengi sebuah senyuman tipis.
            Sebenarnya Mak tahu, tujuan kepergianku saat ini selain berjalan-jalan adalah menghilangkan rasa sedih karena ditinggal pergi sang kekasih. Aria. Dengan teganya dia bermain di belakangku. Padahal kami sudah bersama sejak masih SMP. Bahkan kami sudah bertunangan dua bulan yang lalu.
*
            Akhirnya malam ini aku berangkat menuju Dumai dengan menaiki bus besar. Karena kotaku masih kota kecil, jadi bandara belum ada disini. Makanya bus selalu menjadi pilihan utama jika hendak pergi ke suatu tujuan.
            Malam sudah menunjukkan pukul sembilan ketika bus berangkat. Perlahan demi perlahan meninggalkan kota kecilku bersama asa menyedihkan yang tadinya hinggap di dalam dada.
            “Mau kemana, Dek?” Tanya perempuan berwajah sendu yang duduk tepat di sampingku. Membuat aku tersadar kalau aku memiliki teman sebangku yang kutaksir berusia empat puluh tahunan.
            “Eh, mau ke Batam, Bu.” Jawabku seramah mungkin.
            “Panggil Kakak saja. Kakak juga mau ke Batam.”
            “Ohh baik, Kak.” Aku menganggukkan kepala.
            “Kakak hendak menemui suami kakak. Dia merantau ke Batam lima tahun yang lalu. Namun sejak merantau, tak sekalipun dia pulang menemui kakak dan anak-anaknya.” Tiba-tiba perempuan itu meluapkan perasaannya padaku.
            Aku pun mendengar cerita perempuan itu dengan seksama. “Memangnya Kakak tinggal di mana? Padangsidimpuan juga?” Tanyaku menyela.
            “Kakak di Sibolga, Dek.”
            Aku pun menganggukkan kepala lalu kakak itu kembali menceritakan kisahnya.
            “Kakak memang bersyukur karena suami kakak selalu mengirimi kebutuhan materi kepada kami. Namun yang lebih penting dari itu, Kakak ingin dia datang menjumpai kami, keluarganya. Kamu tahu Dek, beberapa minggu yang lalu beredar kabar dari tetangga yang juga merantau di Batam kalau Abangmu sudah memiliki istri lain di sana.” Suara kakak itu pun berubah serak dengan air mata yang mulai menetes satu-persatu.
            Aku terhenyak mendengar kisahnya. Aku tidak memberi komentar apa-apa sebab aku tahu kakak itu hanya ingin berbagi perasaan yang sedang dia alami padaku. Namun tiba-tiba saja di dalam hatiku bersarang rasa benci mendalam kepada yang namanya kaum Adam.
            Malam itu pikiranku melayang antara Aria, kisah kakak yang duduk di sampingku, dan perjalanan yang hendak kulalui. Ah, hidup memang tak selamanya indah seperti yang selalu dibayangkan. Aku mendesah panjang sebelum mulai memejamkan mata sebab malampun sudah semakin larut.

Senin, 03 Desember 2018


“I love deadlines. 
I love the whooshing noise 
they make as they go by.”
  Douglas Adams, The Salmon of Doubt



pixabay.com
Eva Riyanty Lubis 

Mungkin ada banyak di antara kita yang ingin menjadi penulis namun tidak tahu bagaimana cara memulainya. Sebenarnya mau jadi apapun kita, tak perlu ada yang dipusingkan. Mengapa? Karena semua info ada di internet. Tinggal luangkan waktu untuk memperoleh info tersebut. Jadi, harus ada niat, tekad, dan kesungguhan. 

Strategi menjadi penulis dapat dibagi menjadi empat, yakni:
  • Temukan Potensi
  • Kembangkan
  • Tentukan Positioning
  • Konsisten
Semakin sering Anda menulis, Anda akan semakin tahu di mana letak kekuatan dan kelemahan dalam menulis. Misalnya saya lebih produktif menulis bila sudah melakukan jalan-jalan terlebih dahulu. Nggak sanggup jalan-jalan jauh, cukup memandang hamparan sawah. Nah, bagaimana dengan Anda?

Minggu, 02 Desember 2018


pixabay.com


Pernah nggak sih kesal karena sudah kirim naskah ke satu penerbit namun tak ada kabarnya? Boro-boro kabar baik, kabar naskah sudah diterima redaksi saja tidak ada. Sedih? Pasti. Kecawa? Lumayanlah. Apalagi jika penantian panjang hingga bertahun-tahun. Saya sendiri pernah merasakan hal ini. Bahkan sering banget. Dulu pernah ngirim novel ke penerbit A. Mereka balas email sih. Katanya tunggu sampai enam bulan untuk mendapatkan kepastian diterima tidaknya. Tiba di hari H, nggak ada email masuk dari mereka. Saya mencoba bersabar dan terus menunggu hingga sembilan bulan--kalau hamil udah ngelahirin ini mah. Hehehe

Karena tetap tidak ada kabar, saya pun berinisiatif untuk mengirim email terlebih dahulu. You know, mereka malah balas kurang lebih seperti ini: 


Haduh, Mbak. Sepertinya naskah Mbak kelelep saking banyaknya naskah masuk. Bisa kirim ulang?


Hellow? Sudah nunggu berbulan-bulannya nasibnya malah setragis ini. Alhasil saya memutuskan untuk menarik naskah yang telah saya kirimkan kepada mereka, kemudian memutuskan untuk mengirimkan 'anak' saya tersebut ke penerbit lain. 

Dari pengalaman di atas saya bertekad untuk menarik naskah yang sudah lebih enam bulan tidak ada kabar. Kecuali penerbitnya memang kelas kakap yang butuh waktu hingga satu tahun untuk memberikan kabar diterima tidaknya tulisan kita. Contoh: Gramedia. Namun menurut teman-teman penulis di sana, terkadang malah dapat keputusan diterima tidaknya hanya dalam tiga bulan. Rezeki penulisnya masing-masinglah ya. 

Surat penarikan naskah yang saya kirim tidak terlalu rumit, malah sederhana sekali. Silahkan kamu cek di bawah ini.

Sabtu, 01 Desember 2018

pixabay.com


Majalah Gadis edisi 25, 16 - 25 September 2014. 
 
Eva Riyanty Lubis

            Hari yang melelahkan bagi Indri. Karena setiap hari Sabtu mereka ada pelajaran olahraga. Dan seperti hari ini, anak cewek dapat bagian bermain basket dan yang cowok bermain sepak bola. Indri yang memang menyukai olahraga tentu tidak akan ketinggalan bagian.
            Indri sedang duduk di salah satu bangku kantin sekolah ketika Gina datang menghampirinya.
            “Indri, masih ingat kan janji kita dua minggu yang lalu?” Tanya Gina dengan wajah sumringah.
            Indri mengerutkan keningnya. “Janji yang mana?”
            “Kamu nginep di rumah aku. Kan Kak Aldo bakalan datang dari Singapura. Dia cuma sehari lho ke sininya. Gimana sih? Kok bisa lupa? Kamu sudah nggak naksir kakak aku lagi?” Tatap Gina dengan mata menyipit.
            Indri menepuk jidatnya. “Ya ampunnnn…. Aku sampai lupa. Jadi dong. Masa nggak jadi?”
            “Oke deh.” Gina kembali tersenyum. “Habis pulang sekolah kamu langsung ikut aku atau masih pulang dulu ke rumahmu?”
            “Aku nyusul deh Gin. Kamu duluan aja. Eh, Kak Aldo datangnya jam berapa?”
            “Kalau nggak ada halangan sore dia udah sampai rumah.”
            “Oke oke. Aku harus ketemu sama Kak Aldo.” Ucap Indri bersemangat.
            Gina menganggukkan kepalanya. “Baik kalau begitu.”
            Indri sudah suka dengan kakak kecenya Gina sejak dua tahun yang lalu. Sayangnya Kak Aldo memutuskan untuk melanjutkan study di Negara tetangga. Jadinya kesempatan untuk jumpa apalagi pedekate sangat sedikit.

Follow Me @evariyantylubis