Sabtu, 15 Desember 2018

pixabay.com


Harian Analisa Medan, Rubrik Cerpen Puisi Rabu. Rabu, 22 Oktober 2014.
 
Eva Riyanty Lubis

            Gadis mungil itu berdiri di atas bukit Silayang-Layang. Pandangannya mengarah ke hamparan tak teratur kota Padangsidimpuan. Namun hanya matanya yang memandang. Sebab hatinya  sedang bergemuruh hebat. Berontak, atau kalau bisa dia hendak luruh dari diri gadis itu.
            Gadis itu menyilangkan kedua tangannya ke dalam dada, erat. Seolah-olah dia kedinginan. Meski panas tengah melanda kota kecil itu. Tapi, sesekali tubuhnya bergetar. Mungkin menahan isak yang selalu dipendam. Rambut lurusnya melambai-lambai tertiup angin. Tetap saja dia merasa sendiri. Walau sebenarnya dia berada di tempat yang sangat damai.
*
            “Ibu tak pernah menginginkan ini terjadi, Nak. Tak ada yang menginginkan ini terjadi. Ibu selalu menginginkan yang terbaik untuk kalian. Hanya kalian yang ibu punya di dunia ini.” Wanita paruh baya itu memeluk Indah erat.
            “Tapi seharusnya ibu bisa memilih keputusan yang lebih dewasa. Bukan seperti ini caranya, Bu. Kalau seperti ini aku dan adek Sarah yang akan tersiksa.” Ujar Indah sedih.
            “Ibu akan terus memperjuangkan kalian. Percayalah, Nak. Kita bertiga akan selalu bersama-sama.” Wanita itu meyakinkan putri sulungnya. Indah hanya mengangguk lemah. Meski dalam hati dia tidak meyakini ucapan wanita yang melahirkannya itu. Ya, untuk pertama kalinya dia kehilangan kepercayaan terhadap wanita itu.
*
            Malam itu pukul dua dini hari. Pintu berderit. Indah melihat ibunya berdiri tak jauh dari pintu.
            “Oh, Eka. Kamu belum tidur?” Ucap pria yang barusan hendak masuk secara pelan-pelan ke dalam rumah. Namun sayang, wanita itu sudah mengetahui aksinya. Jadi pria itu terlanjur tertangkap basah. Ya, seperti itulah reaksi yang dapat Indah baca.
            “Kamu pikir aku bisa tidur sementara kamu masih keluyuran tidak jelas di luar sana?” Tanya wanita itu dengan nada meninggi.
            “Ah, sudahlah Eka. Lebih baik kita tidur. Sudah lelah aku bertengkar denganmu.” Pria itu hendak merebahkan dirinya di atas kasur. Namun wanita di hadapannya itu langsung mencegat.
            “Aku muak dengan tingkahmu, Ikbal! Kau tidak pernah bersikap dewasa. Kita sudah menjadi suami istri. Anak kita sudah dua, Ikbal. Kumohon, jangan kembali bertingkah. Dewasalah, tak lama lagi anak gadis kita akan dewasa. Tidakkah kau merasa malu dengan ulahmu?” Jelas wanita itu panjang lebar.
            Pria itu tak menjawab. Hanya mendelik kesal. Kemudian berlalu meninggalkan wanita yang sudah meluruhkan kristal bening itu.
            Di balik pintu, Indah juga meluruhkan kristal bening. Deras. Namun hanya dalam diam.
*

Sabtu, 08 Desember 2018

pixabay.com


Harian Analisa Medan, Rubrik Rebana. Minggu, 12 Oktober 2014.
Eva Riyanty Lubis

            Olin, begitu aku dipanggil. Sedang nama lengkapku sendiri adalah Aulina Fazrina. Seorang perempuan berusia 22 tahun dan masih berstatus mahasiswi di salah satu perguruan tinggi swasta. Aku tinggal di Padangsidimpuan, kota kecil di Sumatera Utara. Kalau kamu tanya apa impianku, aku ingin mengelilingi Indonesia, bahkan dunia. Aku selalu ingin menikmati bentangan alam nan indah hadiah dari Sang Pencipta ini. Mungkin bagimu itu terdengar mustahil. Apalagi aku bukan anak yang terlahir dari pasangan kaya raya.
            Asal kamu tahu, aku bahkan seorang yatim. Memiliki tiga orang adik dan ibuku hanyalah seorang pedagang kelontong kecil-kecilan. Namun seseorang tetap boleh bermimpikan? Dan aku selalu ingin menggapai impian dengan caraku sendiri.
            “Kamu yakin akan pergi ke Batam?” Tanya emak[1] khawatir.
            Sejak bapak masih ada, aku sudah sering melanglang buana sendiri kemana-mana. Sudah pasti dengan danaku sendiri. Bisa dari hadiah perlombaan yang sering kuikuti atau jajan yang selalu kusisihkan.
            “Mak, aku kan sudah sering bepergian. Jadi Mak nggak usah khawatir.” Aku mencoba menenangkan emak.
            “Ya Mak tahu. Tapi kita tidak ada saudara di Batam, Olin. “
            Memang biasanya aku jalan-jalan sekalian mengunjungi saudara. Tapi aku sudah dewasa dan aku yakin bisa menjaga diri.
            “Olin bisa jaga diri, Mak. Mak tenang aja.” Ucapku dibarengi sebuah senyuman tipis.
            Sebenarnya Mak tahu, tujuan kepergianku saat ini selain berjalan-jalan adalah menghilangkan rasa sedih karena ditinggal pergi sang kekasih. Aria. Dengan teganya dia bermain di belakangku. Padahal kami sudah bersama sejak masih SMP. Bahkan kami sudah bertunangan dua bulan yang lalu.
*
            Akhirnya malam ini aku berangkat menuju Dumai dengan menaiki bus besar. Karena kotaku masih kota kecil, jadi bandara belum ada disini. Makanya bus selalu menjadi pilihan utama jika hendak pergi ke suatu tujuan.
            Malam sudah menunjukkan pukul sembilan ketika bus berangkat. Perlahan demi perlahan meninggalkan kota kecilku bersama asa menyedihkan yang tadinya hinggap di dalam dada.
            “Mau kemana, Dek?” Tanya perempuan berwajah sendu yang duduk tepat di sampingku. Membuat aku tersadar kalau aku memiliki teman sebangku yang kutaksir berusia empat puluh tahunan.
            “Eh, mau ke Batam, Bu.” Jawabku seramah mungkin.
            “Panggil Kakak saja. Kakak juga mau ke Batam.”
            “Ohh baik, Kak.” Aku menganggukkan kepala.
            “Kakak hendak menemui suami kakak. Dia merantau ke Batam lima tahun yang lalu. Namun sejak merantau, tak sekalipun dia pulang menemui kakak dan anak-anaknya.” Tiba-tiba perempuan itu meluapkan perasaannya padaku.
            Aku pun mendengar cerita perempuan itu dengan seksama. “Memangnya Kakak tinggal di mana? Padangsidimpuan juga?” Tanyaku menyela.
            “Kakak di Sibolga, Dek.”
            Aku pun menganggukkan kepala lalu kakak itu kembali menceritakan kisahnya.
            “Kakak memang bersyukur karena suami kakak selalu mengirimi kebutuhan materi kepada kami. Namun yang lebih penting dari itu, Kakak ingin dia datang menjumpai kami, keluarganya. Kamu tahu Dek, beberapa minggu yang lalu beredar kabar dari tetangga yang juga merantau di Batam kalau Abangmu sudah memiliki istri lain di sana.” Suara kakak itu pun berubah serak dengan air mata yang mulai menetes satu-persatu.
            Aku terhenyak mendengar kisahnya. Aku tidak memberi komentar apa-apa sebab aku tahu kakak itu hanya ingin berbagi perasaan yang sedang dia alami padaku. Namun tiba-tiba saja di dalam hatiku bersarang rasa benci mendalam kepada yang namanya kaum Adam.
            Malam itu pikiranku melayang antara Aria, kisah kakak yang duduk di sampingku, dan perjalanan yang hendak kulalui. Ah, hidup memang tak selamanya indah seperti yang selalu dibayangkan. Aku mendesah panjang sebelum mulai memejamkan mata sebab malampun sudah semakin larut.

Senin, 03 Desember 2018


“I love deadlines. 
I love the whooshing noise 
they make as they go by.”
  Douglas Adams, The Salmon of Doubt



pixabay.com
Eva Riyanty Lubis 

Mungkin ada banyak di antara kita yang ingin menjadi penulis namun tidak tahu bagaimana cara memulainya. Sebenarnya mau jadi apapun kita, tak perlu ada yang dipusingkan. Mengapa? Karena semua info ada di internet. Tinggal luangkan waktu untuk memperoleh info tersebut. Jadi, harus ada niat, tekad, dan kesungguhan. 

Strategi menjadi penulis dapat dibagi menjadi empat, yakni:
  • Temukan Potensi
  • Kembangkan
  • Tentukan Positioning
  • Konsisten
Semakin sering Anda menulis, Anda akan semakin tahu di mana letak kekuatan dan kelemahan dalam menulis. Misalnya saya lebih produktif menulis bila sudah melakukan jalan-jalan terlebih dahulu. Nggak sanggup jalan-jalan jauh, cukup memandang hamparan sawah. Nah, bagaimana dengan Anda?

Minggu, 02 Desember 2018


pixabay.com


Pernah nggak sih kesal karena sudah kirim naskah ke satu penerbit namun tak ada kabarnya? Boro-boro kabar baik, kabar naskah sudah diterima redaksi saja tidak ada. Sedih? Pasti. Kecawa? Lumayanlah. Apalagi jika penantian panjang hingga bertahun-tahun. Saya sendiri pernah merasakan hal ini. Bahkan sering banget. Dulu pernah ngirim novel ke penerbit A. Mereka balas email sih. Katanya tunggu sampai enam bulan untuk mendapatkan kepastian diterima tidaknya. Tiba di hari H, nggak ada email masuk dari mereka. Saya mencoba bersabar dan terus menunggu hingga sembilan bulan--kalau hamil udah ngelahirin ini mah. Hehehe

Karena tetap tidak ada kabar, saya pun berinisiatif untuk mengirim email terlebih dahulu. You know, mereka malah balas kurang lebih seperti ini: 


Haduh, Mbak. Sepertinya naskah Mbak kelelep saking banyaknya naskah masuk. Bisa kirim ulang?


Hellow? Sudah nunggu berbulan-bulannya nasibnya malah setragis ini. Alhasil saya memutuskan untuk menarik naskah yang telah saya kirimkan kepada mereka, kemudian memutuskan untuk mengirimkan 'anak' saya tersebut ke penerbit lain. 

Dari pengalaman di atas saya bertekad untuk menarik naskah yang sudah lebih enam bulan tidak ada kabar. Kecuali penerbitnya memang kelas kakap yang butuh waktu hingga satu tahun untuk memberikan kabar diterima tidaknya tulisan kita. Contoh: Gramedia. Namun menurut teman-teman penulis di sana, terkadang malah dapat keputusan diterima tidaknya hanya dalam tiga bulan. Rezeki penulisnya masing-masinglah ya. 

Surat penarikan naskah yang saya kirim tidak terlalu rumit, malah sederhana sekali. Silahkan kamu cek di bawah ini.

Sabtu, 01 Desember 2018

pixabay.com


Majalah Gadis edisi 25, 16 - 25 September 2014. 
 
Eva Riyanty Lubis

            Hari yang melelahkan bagi Indri. Karena setiap hari Sabtu mereka ada pelajaran olahraga. Dan seperti hari ini, anak cewek dapat bagian bermain basket dan yang cowok bermain sepak bola. Indri yang memang menyukai olahraga tentu tidak akan ketinggalan bagian.
            Indri sedang duduk di salah satu bangku kantin sekolah ketika Gina datang menghampirinya.
            “Indri, masih ingat kan janji kita dua minggu yang lalu?” Tanya Gina dengan wajah sumringah.
            Indri mengerutkan keningnya. “Janji yang mana?”
            “Kamu nginep di rumah aku. Kan Kak Aldo bakalan datang dari Singapura. Dia cuma sehari lho ke sininya. Gimana sih? Kok bisa lupa? Kamu sudah nggak naksir kakak aku lagi?” Tatap Gina dengan mata menyipit.
            Indri menepuk jidatnya. “Ya ampunnnn…. Aku sampai lupa. Jadi dong. Masa nggak jadi?”
            “Oke deh.” Gina kembali tersenyum. “Habis pulang sekolah kamu langsung ikut aku atau masih pulang dulu ke rumahmu?”
            “Aku nyusul deh Gin. Kamu duluan aja. Eh, Kak Aldo datangnya jam berapa?”
            “Kalau nggak ada halangan sore dia udah sampai rumah.”
            “Oke oke. Aku harus ketemu sama Kak Aldo.” Ucap Indri bersemangat.
            Gina menganggukkan kepalanya. “Baik kalau begitu.”
            Indri sudah suka dengan kakak kecenya Gina sejak dua tahun yang lalu. Sayangnya Kak Aldo memutuskan untuk melanjutkan study di Negara tetangga. Jadinya kesempatan untuk jumpa apalagi pedekate sangat sedikit.

Follow Me @evariyantylubis