Minggu, 14 Oktober 2018

[Cerpen] - Dia Dia Dia


Tulisan Karya Eva Riyanty Lubis ini telah dimuat pada 
Harian Medan Bisnis, Rubrik Karya Belia. Minggu, 08 Desember 2013.

***


Dari balik pohon pinus itu, aku bisa melihat bahwa kau meluruhkan kristal bening. Padahal kau mengatakan padanya kalau itu tindakan bodoh yang seharusnya tidak dilakukan oleh kaum adam.
*
            Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Rasanya benar-benar membuatku kehilangan kata-kata. Yang kuinginkan hanya satu, ingin selalu di dekatnya. Dia sosok yang luar biasa. Ganteng, keren, alim, pintar, dan tajir. Perfect. Seorang ketua Osis dan sudah pasti merupakan salah satu siswa terpandang di sekolah ini. Bukankah semua telah ada padanya? Dan hal itulah yang membuatku terpesona. Mungkin juga sedikit tergila-gila. Ah, dia benar-benar telah berhasil menghipnotisku dalam pesonanya. Oh, tidak. Ini terjadi sudah begitu lama. Namun rasa itu kembali membuncah saat ini.
 Aku rasa banyak juga gadis yang tergila-gila padanya. Sebab tak jarang aku menemukan beberapa gadis datang secara terang-terangan untuk mendekatinya. Namun itu tidak akan menyurutkan semangatku untuk mengenalinya lebih jauh. Malah kalau bisa untuk mendapatkan hatinya. Sebab aku ingin dia menjadi milikku. Yap, nothing is impossible. Dan aku tidak boleh pesimis.
            Tidak ada yang lebih indah dari merasakan cinta. Begitulah yang kualami saat ini. Dunia seakan selalu tersenyum memandangku. Mereka turut berbahagia. Ah…. Betapa menyenangkan. Rasanya dunia ini hanya milik aku dan dia. Betapa bahagianya. Sampai tak terungkapkan dengan kata-kata. Walau aku masih menyukainya dalam diam, namun dia benar-benar sudah berhasil menguasai seluruh isi jiwaku.
             “Kamu yang namanya Luna?”
            Aku mendongakkan wajah ke arah datangnya suara. Dan seketika aku melongo. Dia. Cowok idamanku. Untung aku tidak sampai mengeluarkan isi yang ada di mulutku saking kagetnya mendapati dia karena kini berada di hadapanku.
            “Eheem….” Dia berdehem. Membuyarkan lamunanku.
            “Maaf, maaf. Iya saya Luna, ada apa?” tanyaku kemudian sambil berdiri menghadapnya. Tak etis rasanya dia berbicara padaku sedang aku masih terduduk manis di kursi kantin ini. Dag dig dug. Jantungku benar-benar tidak mengenal situasi dan kondisi untuk menunjukkan reaksinya.
            “Ikut ke ruangan OSIS sekarang!” perintahnya dan kemudian langsung ngeloyor pergi meninggalkanku yang masih menatapnya dengan bengong.
            “Kenapa aku di suruh ke ruangannya ya?” tanyaku dalam hati, bingung. Tapi sejenak kemudian pipiku malah bersemu merah. “Ini pertama kalinya dia berbicara padaku. Apa ini pertanda baik?”
*
            “Whaaaaaaaaaat? Nggak! Nggak! Nggak mau.” Aku berteriak dengan suara nyaringku.
            “Aku sudah memutuskan bahwa kamu yang harus melakukan itu!” Jawabnya santai.
            “Kok harus aku sih? Cari yang lain dong. Mana pede aku nyanyi di depan orang banyak? Lagian aku nggak bisa nyanyi. Kamu kok maksa gitu sih?” aku kembali membentaknya, kencang. Ah, dia menyebalkan. Memutuskan dengan sesuka hati.
            “Kalau kamu nggak mau, aku bisa laporin ke kepala sekolah bahwa kamu kerja di café. Aku bisa membuatnya berpikir yang tidak-tidak. Dan setelah itu kamu tahu kan akibatnya?” senyum sinis tertoreh dari sudut bibirnya yang tipis. Namun dia tetap keren di mataku. Apalagi jarak kami yang begitu dekat. Argh, menyebalkan. Mungkin ini yang namanya cinta itu buta. Jelas-jelas dia menyebalkan, tapi tetap aja aku terpesona dibuatnya.
            Karena desakan dari Alvin, terpaksa aku menganggukkan kepala. Sekolah kami akan mengadakan pensi dua minggu lagi. Hal itu bertujuan untuk mencari bakat dan kreatifitas siswa di bidang seni tingkat sekolah. Sekolah kami sudah terkenal dengan siswa-siswanya yang penuh dengan kreatifitas. Sehingga tahun ini kami dipersilahkan untuk menjadi tuan rumah. Lexus Band, nama Band sekolah kami yang akan menjadi pembuka acara pensi kali ini. Band yang namanya mulai terdengar di kancah industri musik ini beranggotakan empat orang. Alvin sebagai gitaris, Gita sebagai vokalis, Endro sebagai drumer dan Ivan sebagai pianis.
            Nah, berhubung Gita sedang terkena radang pita suara, jadi Alvin menyuruhku untuk menggantikan posisi gadis bersuara merdu itu. Yang jadi masalah, apa dia sudah pernah mendengar bagaimana suaraku kalau bernyanyi? Gimana kalau tidak cocok dengan grup band mereka? Ah, pusing.
*

 
            Aku dan Lexus Band mulai latihan. Awalnya aku merasa segan kepada mereka. Namun karena mereka orangnya asyik dan welcome, jadi aku mulai terbiasa. Eh, kecuali si Alvin deng. Dia dingin banget kepadaku. Sedih jadinya.
            “Suaramu bagus, Luna. Pokoknya jangan mengecewakan band dan sekolah kita.” Ucap Endro tersenyum manis.
            “Besok hari H, persiapkan dirimu ya Luna. Jangan grogi deh pokoknya. Ingat, kamu ujung tombak penampilan kita lho.” Ivan menambahkan.
            “Kalian lebay banget sih.” Alvin mendengus kesal. Aku mengerutkan kening mendengar perkataannya.
            Hari H tiba.
            “Duh, gimana nih? Aku memang biasa nyanyi kalau di cafe. Tapi penontonnya kan sedikit? Oh Tuhan, help me!” aku menggenggam kedua tanganku yang mulai berkeringat.
            “Kamu pasti bisa, Luna. Kerahkan semua kemampuanmu. Jangan menyia-nyiakan waktumu yang sudah habis untuk latihan.”
            Aku melongo. Kemudian berbalik badan untuk mendapati si pemilik suara.
            “Alvin,” ucapku pelan, sedikit terkejut.
            Dia tersenyum, amat sangat manis. Meski hanya beberapa detik.
            Kami memasuki panggung yang sudah ditunggu oleh berpuluh-puluh, eh ralat, beratus-ratus penonton yang berasal dari berbagai macam sekolah. Di antara mereka banyak yang meneriaki nama Alvin. Huh, sampai siswa sekolah lain juga mengenalnya.
            Aku mulai bernyanyi. Because of You milik
Kelly Clarkson
mengalir dengan lancar dari mulutku. Sebahagian penonton larut dalam nyanyianku. Sebahagian lagi ikut bersenandung.
Because of you
I'll never stray too far from the sidewalk
Because of you
I learned to play on the safe side
So I don't get hurt
Because of you
I find it hard to trust
Not only me, but everyone around me
Because of you
I am afraid
            Lagu berakhir, tepuk tangan membahana terdengar sepenjuru sekolah. Aku terpaku. Belum begitu yakin dengan apa yang kusaksikan. Alvin menepuk-nepuk pundakku. Dia tersenyum sangat manis.
            You get it.” Ucapnya pelan. Air mataku sedikit demi sedikit mulai meleleh. Aku berhasil.
*
            “Alvin,” teriakku sambil mengejar Alvin yang tengah berjalan ke parkiran untuk mengambil motornya.
            Dia menoleh. Oh my God, rambutnya yang lurus melambai-lambai tertiup angin. Mata elangnya menatapku dengan tajam. Rupawan.
            “Ada apa?” tanyanya dengan gayanya yang kembali cool.
            “Hm…. Aku mau bilang sesuatu sama kamu.” Ucapku pelan.
            “Mau bilang apa?”
            “Aku... aku... aku suka sama kamu.” Akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulutku. Bisa kurasakan bahwa pipiku mulai memanas.
            Alvin mengertakkan giginya. Lalu mendengus kesal. “Kamu bisa ya bilang seperti itu padaku?”
            “Maksudmu?” tanyaku bingung.
            “Udah, lupakan!”
            “Alvin,” mukaku memelas. Aku benar-benar penasaran dengan kalimatnya barusan.
            Dia berjalan lebih dekat ke arahku. “Dulu kamu pergi meninggalkanku, Luna. Dan sekarang kamu tiba-tiba muncul di sekolah ini. Selalu berusaha mendekatiku. Kamu pikir aku tidak tahu kelakuanmu yang suka menguntitku? Kamu mencari tahu semua hal yang aku lakukan dari teman-temanku. Kamu menjijikkan. Bahkan dengan mudahnya kamu mengganti namamu. Untuk membohongiku, Luna?”
            Air mataku mulai meleleh.
            “Ketika kunyatakan cinta dua tahun yang lalu, kamu menolakku. Bahkan kamu pergi meninggalkanku. Andien Ramadhini. Itulah namamu yang sebenarnya bukan?”
            Aku geleng-geleng kepala. Tangisku semakin kencang. Alvin hendak beranjak, namun kalimatku membuat badannya kaku.
            “Aku kembaran Andien. Tidakkah Andien mengatakan hal itu padamu? Aku tinggal bersama ayah sedang ia bersama ibu. Karena waktu itu ibu meninggal, Andien kami bawa ke Bandung. Aku bahkan melihat kalian berdua ketika Andien pamit kepadamu. Kamu lupa?”
            “Andien sudah meninggal, Vin. Dia terkena radang otak. Penyakit yang sama dengan yang ibu alami. Aku datang ke Jakarta untuk mengatakan hal itu padamu. Tapi aku nggak bisa. Kamu selalu menjauhi aku. Dan aku sudah terlanjur jatuh cinta kepadamu.”
            Alvin berbalik badan dan menatapku tajam. “Luna, kamu bohong!”
            Aku menggeleng.
            “Andien suka padamu. Tapi dia nggak bisa mengungkapkannya. Dia sakit dan dia nggak mau kamu tahu, Vin. Jangan berpikiran buruk padanya. Kumohon,”
            Air mataku semakin deras. Tiba-tiba Alvin merangkul tubuhku. “Maafkan aku, Luna. Maafkan aku. Aku belum bisa menerima cintamu. Tapi maukah kamu menemaniku ke tempat Andien?”
*
            Alvin menangis memandangi makam Andien. Aku mengelus pundak Alvin pelan.
            “Jangan nangis. Bukannya kamu yang bilang kalau laki-laki nggak boleh cengeng? Aku dengar pembicaraan kalian waktu itu lho. Dan Andien nggak mau kalau kamu sedih.” Aku mencoba untuk tersenyum kepadanya.
            “Aku belum bisa mencintai orang lain selain Andien, Luna.”
            Hatiku meringis kesakitan. “Ya, aku tahu.” Ucapku pelan.

2 komentar:

  1. Jikalah cinta bisa menggantikan cinta
    Mengapa harus menolak cinta???

    Bagus ceritanya...aku syuuka

    BalasHapus

Follow Me @evariyantylubis