Minggu, 07 Oktober 2018

[Cerpen] - Acem

Tulisan Karya Eva Riyanty Lubis ini telah dimuat pada
Harian Medan Bisnis, Rubrik Art & Culture. Minggu, 07 Juli 2013.

***

“Ayah harus mengusir semua anak jalanan yang berkeliaran di seputaran Jalan Sudirman. Sungguh, mereka membuat jalanan menjadi semakin amburadul. Udah macet panjangnya minta ampun, eh malah ditambah dengan kehadiran mereka.” Jelas ayah panjang lebar dengan tampang kesal. Aku dan ibu tak menyahut, hanya saling berpandangan beberapa detik. Kemudian melanjutkan makan malam kami yang malam itu dipenuhi oleh khotbah ayah mengenai anak jalanan.
            Namaku Shinta. Aku lahir dan di besarkan dalam sebuah keluarga yang lumayan berkecukupan. Ayah seorang polisi dan ibu seorang pengusaha batik. Mereka berdua merupakan orang yang sangat sibuk. Jarang kami bisa berkumpul untuk makan malam seperti ini. Sayangnya setiap berjumpa, mereka tidak pernah membahas tentang masalah keluarga ataupun tentang sekolahku. Selalu seputar kondisi Indonesia. Jujur, kadang aku bosan mendengarnya. Aku sering merasa kesepian.
            “Menurut ibu gimana tentang anak jalanan? Apa baiknya dimusnahkan saja? Ayah bisa melakukan itu lho.” Ayah melirik ibu dan tampak sangat menanti jawaban dari bibir tipis ibu.
            Ibu meletakkan sendok dan garpunya. Kemudian melipat kedua tangannya seperti yang biasa dilakukan oleh anak SD ketika disuruh diam oleh gurunya. Lalu ibu memandang ayah lekat. Aku yang juga penasaran juga mendongakkan wajahku ke arah ibu.
            “Sama, Yah. Ibu juga tak suka anak jalanan. Mereka membuat Indonesia menjadi tampak sangat kotor. Pengangguran semakin banyak. Kalau mereka kerja kan bagus. Menambah sumber daya manusia. Ini malah nggak jelas. Gimana Indonesia ke depannya kalau anak mudanya aja seperti itu?” Jelas ibu dengan semangat berapi-api. Membuat bibir ayah mengembang tersenyum karena terlalu senang dengan jawaban ibu.
Jujur, aku mendengus kesal mendengar jawaban ibu. Mereka berdua memang sama-sama tidak suka dengan anak jalanan. Bukan berarti aku juga suka dengan anak jalanan itu lho. Tapi aku rasa mereka terlalu fanatik. Egois. Sebab pasti ada alasan mengapa anak-anak jalanan itu memilih jalan hidup mereka seperti itu.
*
            Sepulang sekolah aku memilih untuk naik kopaja. Aku menelpon Bang Tagor agar tidak usah menjemputku seperti biasa. Entah kenapa hati kecilku menyuruhku untuk melihat anak jalanan secara langsung. Aku ingin melihat bagaimana mereka sebenarnya.
            Aku sekolah di Depok. Sedang rumahku berada di Jakarta Selatan. Ketika bus berhenti beberapa kali karena ada penumpang yang hendak turun, maka naiklah beberapa orang pengamen. Dengan baju serba hitam. Gaya funklah. Ada beberapa tindikan di wajah mereka. Aku sampai bergidik ngeri melihatnya. Sedang mereka yang terdiri dari tiga orang itu hanya tersenyum sinis ke arahku. Namun begitu, tetap saja aku memberanikan diri untuk memberikan mereka beberapa lembar uang seribuan.
Tak tahan dengan tatapan mereka yang aku sendiri tidak bisa mengartikannya, aku memilih untuk turun lebih cepat dari bus. Meski aku tahu jarak untuk mencapai rumah masih sangat jauh. Paling tidak aku sudah mendapatkan gambaran tentang pengamen itu. Mereka yang juga merupakan anak jalanan.
Ketika pikiranku masih berkutat tentang anak jalanan, tiba-tiba seseorang menjambret tas sekolahku. Aku kaget dan langsung berteriak minta tolong. “Jambreeeeeeeeet…. Jambreeeeeeeeeet….” Teriakku histeris. Namun para manusia yang menatapku dengan tampang kasihan tidak ada yang bereaksi. Jelas-jelas mereka hanya memberikan tatapan kasihan kepadaku.
Air mataku pun meleleh. Sebenarnya bukan karena ada barang mahal atau berharga lainnya di dalam tas itu. Namun ada dua buah novel yang baru kudapatkan langsung dari penulisnya plus dengan tanda tangannya. Hadiah karena aku berhasil menjawab pertanyaan sang penulis ketika seminar kepenulisan berlangsung beberapa hari lalu. Tadi pagi aku memamerkannya kepada teman-teman dan mereka memang sangat cemburu melihat hal itu. Membuatku tak henti-hentinya untuk terkikik.
Aku duduk di tepi jalan sambil menghapus sisa-sisa air mata yang masih menempel di wajahku.
“Ini milikmu?”
Seseorang mengagetkanku. Aku menoleh ke samping dan mendapati seorang pemuda yang menurutku usianya tak jauh beda denganku. Pemuda dengan sorot mata tajam. Meski bajunya lusuh dan tubuhnya tampak sangat tidak terurus, namun dia memiliki kharisma yang luar biasa. Seakan-akan langsung menyihirku untuk tak henti menatapnya. Aku langsung berdiri dan kemudian melihat tasku yang kini sudah ada di dalam genggamannya.
“Kamu nemuin tasku?” Tanyaku dengan memandangnya lekat.
“Kalau jalan hati-hati. Jangan kebanyakan bengong.” Jawabnya cuek.
Aku terenyuh mendengar kalimatnya. Lalu menerima tasku dengan perasaan tak menentu. “Makasih ya.” Ujarku tulus.
“Sama-sama.” Jawab pemudia itu seraya berbalik dan berjalan meninggalkanku.
Aku yang bengong langsung mengejarnya.
“Hei, nama kamu siapa? Kamu anak jalanan ya?” Tanyaku langsung tanpa melihat perubahan raut wajahnya yang tampak mengeras.
“Bukan urusanmu!”

 

Sumber: Pixabay
            Meski pemuda itu tampak tidak senang denganku, aku tetap saja mencari tahu keberadaannya. Dan kini, hampir setiap hari aku memilih untuk pulang ke rumah dengan menaiki kopaja atau angkot. Aku tak perduli dengan ceramahan kedua orang tuaku yang marah karena sikapku itu.
Lalu suatu hari aku berhasil menemukannya sedang menjajakan beberapa botol minuman mineral kepada pengendara ketika lampu merah sedang menyala. Dengan gesitnya dia meliuk kesana kemari. Aku sampai berdecak kagum. Aku memandangnya lekat dari pinggiran jalan.
            “Kamu keren banget.” Tukasku jujur ketika dia berjalan menghampiriku.
            “Kamu maunya apa sih? Kamu hobby stalker ya?” Tanyanya dengan jutek.
            Aku merengut kesal. Namun beberapa detik kemudian aku sudah menjulurkan tanganku ke arahnya. “Namaku Shinta. Nama kamu siapa? Kita bisa jadi teman, kan?”
            Pemuda itu melirik sebentar. Masih dengan tampang juteknya. Tapi dia mau juga membalas ucapanku. Meski tidak mau bersalaman denganku. “Acem.”
            “Wow, nama yang unik. Kamu sudah lama jadi anak jalanan?” Tanyaku kemudian.
            Acem menatapku tajam. “Kamu kenapa sih nanya anak jalanan mulu dari kemarin? Emang ada yang salah sama anak jalanan itu? Kamu rugi kalau aku jadi anak jalanan? Nggak kan? Kamu nggak perlu urus apa yang aku kerjakan!” Jawabnya dengan nada keras. Aku sampai kaget mendengar intonasinya. Jujur ini pertama kalinya aku dibentak oleh cowok.
            “Aku hanya ingin tahu kenapa kamu memilih hidup sebagai anak jalanan.” Ucapku pelan. Hampir tidak terdengar.
            Acem mendecak beberapa kali. “Jadi kamu pengen tahu bagaimana anak jalanan itu? Oke. Akan kutunjukkan.”
            Aku mengangguk senang. “Makasih ya, Acem.” Jawabku sembari memberikan dia senyum termanisku.
            “Oke. Dasar cewek bawel.” Ujarnya pelan.
            “Kamu bilang apa tadi?” Selidikku karena aku yakin dia sudah mengataiku.
            “Nggak bilang apa-apa.”
*
            Setiap pulang sekolah, Acem membawaku kemana pun dia pergi. Mengamen di dalam bus dan menjajakan minuman di jalanan. Sungguh, awalnya berat. Malu kalau sampai ketahuan sama keluarga dan teman-teman. Tapi aku benar-benar ingin tahu bagaimana anak jalanan itu. Mengapa kedua orang tuaku sampai-sampai sangat membenci mereka.
            Dan yang aku rasakan, menjadi anak jalanan itu tidak mudah. Butuh mental sekuat baja.
            “Penghasilan hari ini sangat dikit. Hanya lima belas ribu rupiah. Cuma cukup beli nasi satu bungkus.” Jawab Acem pelan sambil menatap uang yang ada di dalam genggamannya dengan tatapan tak menentu.
Aku menelan ludah, getir. Seperti inikah hidupnya? Sudah seharian bekerja namun hanya mendapatkan lima belas ribu rupiah. Bahkan uang itu hanya sepertiga dari jajanku setiap harinya.
“Untukmu saja.” Ucapnya sambil menyodorkan uang seribuan itu.
            Aku menggeleng cepat. “Itu uangmu. Aku nggak berhak.”
            Acem menatapku sebal. Namun akhirnya dia tetap membeli nasi satu bungkus dan dua gelas air mineral.
            “Makan di mana?” Tanyaku setelah dia tiba dari warteg. Lalu Acem membawaku ke sebuah lapangan yang tampak dipenuhi oleh rumput yang sudah meninggi. Ada sebuah pondok kecil di sudut lapangan itu. Dan disitulah kami kini. Rumah mungil berukuran 1,5 x 1,5 meter. Sangat mungil. Dan jangan harapkan kamu bisa mendapatkan perabotan di dalam rumah itu.
Acem menyuruhku memakan nasi bungkus yang dia beli. Sedang dia sendiri hanya meminum minuman gelas itu. Aku sudah berkali-kali menolak, namun dia tetap pada pendiriannya.
            “Aku bukan anak orang miskin. Kedua orangtuaku malah sangat kaya. Hanya saja aku nggak tahan dengan sikap mereka. Mereka seolah menganggapku sebagai boneka. Aku memang suka uang. Tapi aku lebih ingin mendapatkan kasih sayang dari mereka. Itu yang kurindukan yang memang hingga kini tidak kudapatkan.”
            Aku menatap Acem nanar. Sungguh, aku juga merasakan hal yang sama. Lalu dia melanjutkan kalimatnya tanpa sedikit pun menoleh ke arahku.
            “Di jalanan, aku berjuang untuk hidupku sendiri. Meski nggak ada lagi yang perduli padaku, aku akan terus berjuang. Sebab aku masih ingin merasakan hidup di dunia ini.” Jawab Acem dengan diakhiri sebuah senyum yang sangat manis.
            “Orang selalu menganggap buruk kepada anak jalanan. Padahal aku yakin anak jalanan punya potensi yang luar biasa. Jujur aku risih mendengar orang yang selalu memandang remeh pada kaum kalian. Mau kuberi masukan?” Tanyaku sembari menatap Acem penuh harap.
            “Aku tahu semua itu. Kamu mau kasih masukan apa? Perasaan kamu beruntung banget karena sudah mendengar kisah hidupku.” Katanya kembali ke sifat juteknya. Aku hanya terkikik.
            “Membuat sebuah perubahan. Kamu dan teman-temanmu pasti bisa melakukannya.” Aku meyakinkan.
            “Jujur, Acem. Aku juga merasakan hal yang sama denganmu. Kedua orang tuaku selalu sibuk dengan urusannya. Aku anak tunggal. Dan aku sering merasa kesepian. Tapi tetap saja aku tidak bisa berontak seperti kamu. Karena aku pikir itu bukan solusi yang bagus. Maka dari itu aku juga menyibukkan diriku dengan berbagai hal. Karena aku percaya, semuanya akan indah pada waktuNya.”
*
            Dua bulan kemudian.
“Bu, akhir-akhir ini para anak jalanan udah mulai tidak keliatan batang hidungnya di jalanan. Ada apa ya?” Tanya Ayah dengan wajah ditekuk.
“Loh, bukannya Ayah senang dengan perubahan itu?” Aku ambil suara. Mereka berdua menatapku tak percaya. Sebab dari dulu aku memang tidak pernah ikut ambil suara ketika mereka mendiskusikan tentang anak jalanan.
“Anak jalanan itu punya potensi yang besar, Ayah. Hanya perlu arahan dan bimbingan. Harusnya Ayah dan semua yang bekerja di bidang pemerintahan lebih peka terhadap mereka. Jangan malah selalu berfikiran negatif.” Tambahku lagi menjelaskan.
Kedua orang tuaku masih menatapku tak percaya.
*
            Acem berhasil menghimpun teman-temannya untuk berkumpul dan mendirikan rumah baca. Aku juga berhasil memperkenalkan beberapa guru kesenian kepada mereka. Sebab beberapa di antara mereka mahir dalam bermusik. Ada juga yang senang menjahit. Pokoknya mereka itu sebenarnya sangat luar biasa.
            Aku selalu tak bisa menghentikan senyumku ketika melihat mereka fokus dengan aktivitas barunya. Jadi teringat ucapanku dan Acem beberapa bulan lalu.
            “Kamu nggak mau dicap sebagai anak jalanan yang tak tau diri terus kan? Masyarakat selalu berpikiran negatif tentang kalian. Urak-urakan, minum, judi, ngerampok, dan sebagainya.”
            “Aku tidak seperti itu!”
            “Makanya buat perubahan dong. Buat perubahan yang bisa membuka mata rakyat Indonesia tentang kalian. Kalian bisa melakukan yang terbaik meski latar hidup kalian sangat memprihatinkan.”
            “Oke, siapa takut!”
*
            Anak jalanan itu orang yang berjuang demi hidup mereka. Apapun mereka lakukan di tengah kerasnya hidup. Bahkan bisa berbuat kriminal. Sebab mereka sudah lama lupa kalau mereka sebenarnya masih memiliki keluarga. Masih memiliki tempat bernaung. Tapi apa boleh buat, ada beberapa keluarga yang sudah tidak peduli dengan kehadiran anak-anaknya disebabkan kesibukan dunia.
            Tapi sungguh, mereka bukannya tidak bisa apa-apa. Mereka sebenarnya masih mempunyai bakat yang karena keadaan harus mereka kubur jauh-jauh. Mereka sungguh berkompetensi. Banyak kok di antara mereka yang berhasil membuktikan kalau jalanan juga bisa membawa mereka sukses.
            Intinya masyarakat harus membuka mata lebar-lebar. Terlebih dengan pemerintah. Mereka asset Negara. Sebab mereka merupakan para pemuda yang nantinya akan meneruskan perjuangan bangsa ini.
*
            Acem memandangiku lekat. Tersenyum sangat manis. Di atas podium, dia menyampaikan kalimatnya yang membuat kami meneteskan air mata. Acem, anak jalanan yang berhasil membuktikan pada Indonesia kalau dia berhasil menjadi salah satu musisi muda berbakat di Indonesia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Me @evariyantylubis