Minggu, 28 Oktober 2018


Tulisan Karya Eva Riyanty Lubis ini telah dimuat pada 
Harian Analisa, Rubrik Rebana. Minggu, 12 Januari 2014.

***

Malam itu kamu hadir di hadapanku. Seperti biasa, kamu selalu tampil dengan sangat cantik. Gaun merah polos selutut dipadukan dengan cardigan hitam. Melekat dengan pas dibadanmu yang langsing. Lalu high hells dengan panjang kira-kira 15 sentimeter terpasang di kakimu yang jenjang. Rambut lurus panjangmu kamu biarkan terurai indah. Sesekali kuliat angin merecoki rambutmu. Tapi itu membuatmu semakin cantik di mataku.
            “Bud,” ucapmu pelan. Tapi bisa kusadari ada gores luka di sudut matamu. Nada suaramu juga menyiratkan kecemasan mendalam. Ah, aku tidak pernah bisa melupakan tatapan mata itu. Kedua bola mata terindah yang pernah kutemi.
            “Ada apa, Nisa? Untuk apa kamu datang ke rumahku?” Tanyaku karena kehadirannya yang tiba-tiba. Ini kali pertama kami bertemu sejak putus hubungan lima tahun yang lalu. Aku pikir aku telah salah menerima pesan beberapa jam yang lalu.
            Kamu menggelengkan kepalamu. Tiba-tiba saja ada kristal bening di kedua bola matamu. Aku tercekat. Kaget. Apa ada sesuatu yang menyakitimu, Nisa? Aku tidak pernah melihat hal seperti itu sebelumnya. Bahkan hingga kamu pergi meninggalkanku. 

pixabay.com

Tapi, angin apa yang telah membawamu datang ke rumah kecilku ini? Bagaimana kamu tahu kalau aku ada di sini? Dan tidakkah kamu takut ketahuan olehnya? Ya, dia. Seseorang yang telah merebutmu dariku. Ah, entahlah. Mungkin tidak pantas aku mengatakan atau sekedar membayangkan perihal tersebut.
            “Boleh aku masuk ke dalam rumahmu?” Tanyamu tidak menjawab pertanyaanku.
            Tiba-tiba saja aku tersadar. Kami berdua masih berdiri di teras rumahku. “Oh iya. Silahkan masuk.” Ucapku masih dengan nada pelan.
            Kamu melangkahkan kakimu dengan langkah bak model. Sangat anggun. Menyita seluruh perhatianku. Seperti masa-masa dulu. Bayangan masa lalu tiba-tiba menghantui pikiranku.
            *
            “Kamu yang namanya Budi?”
            Aku mendongakkan wajah kemudian menemukan seorang cewek cantik telah berdiri cukup dekat denganku. Aku sampai keringat dingin dibuatnya. Kaca mataku yang seharusnya dalam kondisi pas di hidung, tiba-tiba saja menjadi longgar sehingga aku harus berulang kali membetulkan letaknya.
            Kamu tersenyum. Sangat manis. Hatiku sampai bergetar di buatnya. Aku tahu siapa kamu. Celia Khoirunnisa. Mahasiswi jurusan komunikasi. Idola mahasiswa di kampus. Selain aktif di bidang sosial, kamu juga jago olahraga, enerjik dan juga ramah. Dan sudah pasti sangat cantik.
            “Budi….” Kamu memandangku lebih dekat. Berusaha menyadarkanku yang masih melongo dengan mimik ndesonya.
            Aku terkesiap. Menjauhkan wajahku darimu. Hal itu membuatmu tertawa kecil. Ah, cantik sekali.
            “A… a… ada apa?” Tanyaku tergugu. Akhirnya bisa juga keluar kalimat kecil itu dari mulutku. Aku berusaha sekuat mungkin untuk menetralisir keadaan. Jujur, aku tidak ingin degupan jantungku yang kencang menimbulkan keributan di dalam perpustakaan ini.
            “Aku dengar-dengar kamu itu seorang penulis ya?” Tanyamu dengan senyum ramah. Cowok mana yang tidak bergetar hatinya di berikan senyum manis seperti itu?
            Aku tidak menjawab. Hanya memberikan anggukan ringan.
            “Wow…. Great! Kamu bisa bantu aku nggak, Bud? Pleaseee….” Kamu memelas dengan wajah penuh harap.
            “Bantu a… apa, Nisa?” Tanyaku kemudian.
            “Bantu aku buat pidato dong. Aku butuh nih. Bisa kan, Bud?”
            Melihat wajahnya yang memelas, aku tak kuasa menolak. Lalu kuanggukkan kepalaku seraya mencoba memberikan sebuah senyuman tipis padanya. Dia tersenyum lebar dan berteriak kegirangan. Ibu perpustakaan sampai melerai kami. Tapi aku sangat bahagia. Bahagia melihat dia bahagia. Rasa-rasanya pada hari itu aku adalah cowok paling beruntung di dunia. Tuhan memang baik. Mengabulkan keinganku untuk bisa melihatmu secara dekat. Aih, ini sudah kuidam-idamkan sejak lama. Aku... aku mengagumimu.
            Sejak pertemuan pertama kami, aku dan dia mulai melakukan pertemuan-pertemuan selanjutnya. Ada saja yang kami bahas. Aku juga ikut dalam kegiatan sosialnya. Dan dia juga ikut dalam seminar-seminar kepenulisan yang selalu kuikuti. Bersama Nisa, aku yang pendiam menjadi banyak bicara dan tersenyum.
            Nisa menularkan energy positif dalam hidupku. Tidak bertemu sehari dengan dia saja rasa-rasanya hariku menjadi hambar. Kami berjanji menjadi sahabat selamanya. Nisa yang mengatakan itu. Padahal sungguh dalam hatiku, aku ingin memilikinya. Ah, pantaskah aku? Aku hanya bisa tersenyum membayangkan itu.
            Sudah menjadi sahabatnya saja merupakan anugrah terindah dalam hidupku.
            “Kamu siapanya Nisa, hah? Asal kamu tahu ya. Saya cowoknya! Jangan dekati dia kalau kamu masih ingin hidup bebas di kampus ini!”
            Sandi membentakku kala aku tengah asyik dengan buku-buku tekhnik di tanganku. Semua penghuni perpustakaan memandang kami dengan penasaran. Ibu Mila sampai memelototkan matanya padaku. Ah nyaliku seketika menciut. Aku tidak ada apa-apanya dibanding cowok itu. Dia tampan dan kaya raya. Sedang aku, hanya seorang manusia yang biasa-biasa saja.
            Sejak saat itu aku mulai menjauhi Nisa. Ah, sakit sekali perasaanku melakukan hal tersebut. Harusnya aku lebih dewasa dan bisa melawan Sandi. Bukankah kami memiliki hak dan dan kewajiban yang sama di kampus ini? Ya, seharusnya aku tidak takut padanya. Pun kepada orang lain. Tapi bisakah aku? Kalau bukan karena Nisa, mungkin aku masih menjadi mahasiswa yang kehadirannya tidak pernah dinggap.
            Tiba-tiba kalimat Nisa terngiang di benakku.

Sumber : pixabay.com

            “Apa sih yang kamu takutkan, Bud? Kenapa harus jadi orang pendiam? Kamu boleh saja nulis semua apa yang ada di dalam pikiranmu, tapi bukankah akan lebih terasa lega kalau kamu mengungkapkannya secara langsung? Ada hal-hal yang lebih baik diungkapkan langsung ketimbang ditulis lho kalau menurut aku.”
            Aku hanya tersenyum malu mendengar ucapan Nisa kala itu. Dan detik itu juga aku berjanji untuk mulai memberanikan diri buka suara. Aku ingin kehadiranku di kampus dirasakan oleh mahasiswa lain. Jujur, sendiri itu sebenarnya tidak pernah mengasikkan.
            Beberapa hari setelah Sandi mengancamku agar tidak berhubungan dengan Nisa, gadis cantik itu malah muncul di teras rumahku.
            “Kenapa ngejauh dari aku sih, Bud? Aku ada salah sama kamu? Aku telpon nggak di angkat. Di sms apa lagi. Aku cek di kelas kamu nggak pernah ada. Kamu ada masalah?” Nisa memberiku pertanyaan bertubi-tubi. Dari sudut hatiku aku merasa kalau dia benar-benar perhatian padaku. Dan aku senang akan hal itu.
            Aku menggelengkan kepala seraya memberikan senyum tipis padanya.
            “Ih kamu gitu banget sama aku. Kita kan sahabatan, masa kamu nggak mau jujur sama aku, Bud? Atau perlu aku tanya sama ibu kamu?”
            “Eh eh jangan. Ibu lagi masak di dapur. Jangan di ganggu.”
            “Ya udah! Makanya cerita.”
            “Nggak ada apa-apa, Nisa.”
            “Bohong!”
            “Suer!”
            “Sandi bilang apa sama kamu?”
            Brrr…. Tubuhku seperti disiram dengan air dingin. Kenapa Nisa bisa tahu?
            “Udah aku bilang. Aku ini sahabat kamu meski baru beberapa bulan. Jadi aku nggak suka kalau kamu diemin aku. Aku bilangin ya Bud. Sandi itu memang pacar aku. Tapi aku lebih percaya kamu dibanding dia. Oke! Ingat itu. Sahabat segala-galanya bagi aku. Soalnya dapet sahabat itu susah!”
            Ya Tuhan…. Apa dia sadar dengan ucapannya? Ucapannya membuatku melayang tinggi. Jauh. Begitu bahagia. Semua penat di dadaku mendadak sirna. Hanya bahagia.
            Setahun persahabatan kami, tiba-tiba Nisa meninggalkanku. Tidak ada kata perpisahan dari mulutnya. Yang aku tahu, dia sudah pergi. Meninggalkan aku, kampus, Sandi, dan teman-temannya. Dan tidak ada seorang pun yang mau memberitahukan keberadaannya padaku. Termasuk orang tuanya.
*

Jumat, 26 Oktober 2018

Xpander Tons of Real Happiness

Haloooo selamat malam 😊 Alhamdulillah kali ini saya akan bercerita sedikit tentang Mitsubishi Xpander, mobil pilihan keluarga bahagia Indonesia. Sudah pada tahu belum Xpander itu seperti apa? Hayoo coba diingat. Mungkin teman-teman pernah melihat iklannya yang kian wara-wiri diberbagai media. Nah, saya sendiri pas melihat Xpander di televisi, langsung jatuh cinta. Desain dan ruang kabinnya benar-benar pas buat keluarga. Dalam hati saya berdoa, "Ya Allah, semoga saya bisa memiliki mobil sekeren ini. Kalau bukan sekarang, dua tiga tahun mendatang juga enggak apa-apa. Pasti bahagia banget bisa bawa keluarga jalan-jalan naik Xpander." 

"Jangan ngimpi punya mobil! Ntar nggak dapat, jatuhnya sedih, galau, kecewa," ucap adik saya Winny yang punya hobi usilin kakaknya. 

Tapi enggak apa-apa dong mimpi. Kan berawal dari mimpi dulu. Siapa tahu mimpi ini akan dijabah olehNya di waktu mendatang. Who knows? 

Dan taadaaaaaa..... 

Allah menjabah doa saya dengan memberikan kesempatan menghadiri event otomotif dari Mitsubishi Xpander di Medan.



Mitsubishi Xpander : Tons of Real Happiness
Jadi pengen cepat lulus nyetir biar bisa bawa mobil keren ini 😙



Saya memang belum memiliki Xpander, tapi foto bareng mobil kece ini saja sudah bahagia banget. Berawal dari kiriman info untuk mengikuti event otomotif buat blogger wilayah Medan oleh teteh saya Septia Khoirunnisa, saya pun mencoba mendaftarkan diri. Eh .... beberapa hari kemudian dapat info bahagia dari Mas Dzulfikar Al-A'la kalau saya terpilih menjadi salah satu blogger yang diundang untuk menghadiri event keren ini.

Ini pengalaman pertama diundang sebagai blogger, jadi rasanya luar biasa kereeeen!


Tidak hanya saya yang joget-joget kegirangan, emak pun turut bersuka cita. Soalnya emak kan tahu kalau saya suka banget pada mobil keluaran Mitsubishi yang satu ini. Alhasil dari kota Padangsidimpuan, berangkatlah saya ke Medan. Terdengar gila kalau kata teman saya. Soalnya kan Padangsidimpuan - Medan butuh waktu kurang lebih 9 jam menggunakan mobil. But, saya benar-benar bahagia. Ini acara keren banget! 

Xpander Tons of Real Happiness merupakan event kelima yang diselenggarakan di Medan lho, guys. Sebelumnya event yang diselenggarakan oleh Mitsubishi Motors ini telah diadakan di Bekasi, Semarang, Surabaya, dan Makassar. Lantas, apakah event ini telah berakhir di Medan? 

Blogger Invasion Medan 19 - 21 Oktober 2018 😍
Pic by Bang Dzul.


No! No! No!
Xpander Tons of Real Happiness oleh Mitsubishi Motors masih bisa kamu nikmati di empat kota lagi. Pekanbaru, Bandung, Palembang, dan Tangerang. Wahhhh.... keren banget yaa. Buat warga Pekanbaru, siap-siap bergabung dengan kita di SKA Mall Pekanbaru, Jl. Soekarno - Hatta, RT.03/RW.03, Delima, Tampan, Kota Pekanbaru, Riau, 28292 tepatnya 02 - 04 November 2018.

Blogger Invasion Medan bareng Bang Rifat Sungkar
Pic by Bang Dzul.



Siapa saja yang bisa gabung event keren ini? Berikut ketentuannya:  

Pemilik unit Xpander. (masuk melalui loket pendaftaran 1)
  • Pemilik unik Xpander menunjukkan STNK original Xpander.  
  • Petugas ToRH akan mengecek STNK original dan mengambil gambar STNK tersebut.  
  • Pemilik unit Xpander mengisi form yang telah disediakan.  
  • Petugas ToRH akan menyerahkan tiket yang nantinya berlaku untuk maksimal 4 orang.   

Pemegang SPK Xpander (masuk melalui loket pendaftaran 1)
  • Pengunjung menunjukkan kode booking via SMS/SPK Original dan KTP/SIM. 
  • Nama pengunjung harus sesuai dengan yang tertera di SPK dan ID.
  • Petugas ToRH mengambil gambar SPK dan ID.
  • Pengunjung pemegang SPK mengisi form registrasi. 
  • Petugas Menyerahkan tiket yang berlaku untuk maksimal 4 orang. 

Pengunjung yang sudah mendaftar melalui WEB ID sebelum mendaftar ke venue (masuk melalui loket pendaftaran 2 - 5)
  • Pengunjung sudah mendaftar dan mempunyai WEB ID sebelum datang ke lokasi acara. 
  • Menunjukkan WEB ID kepada petugas ToRH untuk dilakukan pengecekan. 
  • Setelah data sesuai, pengunjung akan mendapat tiket berlaku maksimal empat orang. 

Pengunjung datang langsung dan belum memiliki WEB ID (masuk melalui loket pendaftaran 2 - 5) 
  • Buka halaman www.tonsofrealhappiness.com 
  • Isi formulir data diri dengan lengkap. 
  • Screen capture halaman "Terima Kasih" setelah register berhasil. 
  • Tunjukkan tiket kepada loket pendaftaran serta mengisi formulir yang telah disediakan. 
  • Petugas ToRH akan menyerahkan tiket yang berlaku maksimal 4 orang.

Kode registrasi alias WEB ID itu contohnya seperti apa sih? 
MPVKURDW adalah kode WEB ID yang saya gunakan ketika hadir di event bergengsi ini. 


Seperti yang saya sebutkan di atas, event ini merupakan event otomotif pertama yang saya ikuti, baik secara umum ataupun blogger. Rasanya sangat bersemangat, fantastis, wonderfull, dan berharap akan terus merasakan ke-luarbiasa-an ini hingga di masa mendatang. 

Xpander Tons of Real Happiness yang diadakan di Plaza Medan Fair 19 - 21 Oktober 2018 berlangsung dengan sukses. Saya sendiri hadir pada hari kedua, 20 Oktober 2018. Tepatnya pada pukul 14.00 Wib. Kebayang dong cuaca lagi panas-panasnya. Biasanya di tempat saya tinggal, anak mudanya lebih memilih berlindung dari paparan sinar matahari. Lah, di sini masyarakat Medan antusias menikmati segala yang dihadirkan oleh Mitsubishi Xpander. Baik itu dari wahana permainan yang telah disediakan, test drive Xpander secara langsung, dan sebagainya. Semua menikmati acara ini tanpa kenal lelah apalagi panas! Sangat luar biasa bagi saya! 

 
Event keren ini pas banget buat ngisi waktu weekend-mu. Bisa bareng keluarga, teman, atau pasangan.


Semangat masyarakat Medan dan juga teman-teman sesama blogger turut tersampaikan pada saya yang masih sangat baru didunia per-blogger-an ini. Bersama adik saya, Winny Khodijah, kami menikmati wahana yang tersedia dengan penuh tawa. Saya jadi ingat pas mencoba permaianan Swing Carousel. Jadi kan seumur hidup saya belum pernah naik wahana ini. Nah, karena penasaran, saya coba naik. Olalaala.... di saat adik saya tersenyum bahkan cekikikan sambil video call bareng temannya, saya malah pusing tujuh keliling dan teriak kepada abang yang bertugas buat hentiin ini wahana. Hahaha.... si abang sampai tertawa geli melihat saya. But, pengalaman ini indah buat dikenang. Hihi.

Ada banyak wahana yang tersedia, lho. Mulai dari Ferrish Wheel, Carousel, Swing Carousel, Mini Xpander Traffict Park, Balloon Pool, Balloon Castle, 360 photo booth, dan berbagai aktivitas seru lainnya. 

Permainan seru buat si kecil

Selain wahana yang tersedia, event keren ini juga turut menghadirkan Keluarga Sasono sebagai "Agent of Happiness", Rifat Sungkar, DJ Yasmin, Zara Leola, Fitra Eri, Ridwan Hanif, dan Diandra Gautama. Penyelenggaranya keren, bintang tamunya berkelas, acaranya menyenangkan. Tak heran dong kalau saya sebut acara ini luar biasa fantastis? 💗

Keluarga Sasono sebagai Agent of Happiness
Pic by Bang Dzul.


Bareng Bang Rifat Sungkar

Mitsubishi Xpander dengan campaign "Xpander Tons of Real Happiness" muncul di televisi sejak 01 Juli 2018. Jadi, masih terbilang baru. Event yang diadakan di sembilan kota besar dalam rangkaian roadshow ini bertujuan untuk menunjukkan keunggulan Xpander sebagai satu-satunya small MPV dengan fitur lengkap, tenaga besar, dan mampu membawa berton-ton kebahagiaan bagi keluarga Indonesia. 

Mengapa harus Mitsubishi Xpander?


Xpander merupakan small MPV yang diperkenalkan pada gelaran GIIAS 2017 dengan keunggulan sebagai berikut: 

  1. Desain atraktif, kombinasi desain eksterior tangguh dan dinamis. Sedangkan desain interior bergaya mewah, modren, lapang, dan memiliki banyak fungsi dan kegunaan. Selain itu, Xpander memiliki body kuat, kokoh, headlamp atraktif, LED position lamp, sekaligus desain Dynamic Shield.  
  2. Ruang kabin lapang dan nyaman, membuatnya menjadi mobil keluarga bahagia pilihan terbaik di Indonesia. 
  3. Interior fungsional dengan ketersediaan penyimpanan serbaguna, sistem operasi, dan berbagai penunjang suasana kabin yang baik untuk penumpang dan pengemudi di dalamnya. 
  4. Kenyamanan dan keamanan berkendara, ditunjang dengan performa berkendara stabil dan nyaman. Ruang kabin senyap, mesin bertenaga efisien, dan beragam fitur keamanan yang tersedia. 



Penghargaan yang Diterima Xpander
  1. Favorite Car by Survey, Gridito Awards 2018. 
  2. Best Low MPV, Gridito Awards 2018. 
  3. Car of The Year, Forum Wartawan Otomotif (FORWOT) Awards 2018.
  4. Car of The Year, Otomotif Awards 2018. 
  5. Carvaganza Editor's Choice Awards 2018. 
  6. Best of The Best MPV, Otomotif Awards 2018. 
  7. Best Low MPV, Otomotif Awards 2018.
  8. New Kid on The Road of The Year, ICar Asia People's choice Awards 2017. 
  9. 1st Winner Favorite Car, GIIAS 2017. 


Pada akhirnya, saya dan adik saya sangat menikmati acara yang diselenggarakan oleh PT. Mitsubishi Motors ini. Saya berharap semoga bisa semakin banyak keluarga yang bisa turut berbahagia bersama Mitsubishi Xpander : Tons of Real Happiness berton-ton kebahagiaan yang dibawa oleh Mitsubishi Xpander untuk keluarga Indonesia. 

Jaya selalu Mitsubishi Xpander 💓

Mitsubishi Xpander: Tons of Real Happiness!

Sampai jumpa di Pekanbaru 02 - 04 November 2018 yaaaa.  😘
 

Minggu, 21 Oktober 2018


Tulisan Karya Eva Riyanty Lubis ini telah dimuat pada 
Harian Analisa, Rubrik cerpen & puisi. Rabu, 08 Januari 2014.

***

Seisi dunia menyambut detik-detik pergantian tahun. Penuh dengan suka cita. Ada yang merayakan pergantian tahun bersama keluarga, kekasih, atau sahabat. Kembang api dengan suara menggelegar dipertontonkan kepada masyarakat. Tanda tahun sudah berganti. Sangat cantik dan indah. Membuat kebanyakan orang terpesona. Tersenyum dan tertawa riang. Ada yang berpelukan penuh haru, dan ada yang menangis pilu. Mengingat tentang apa yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya.

Pixabay.com

            Seharusnya aku merayakan malam pergantian tahun bersama Saddam, rekan kerja yang beberapa bulan belakangan ini dekat denganku. Namun ketidakhadirannya di kantor beberapa hari terakhir ini membuatku menjadi uring-uringan. Jadi saat ini, saat kembang api terdengar kencang, aku masih duduk di tepi ranjangku. Sesekali menatap kerlap-kerlip bintang dan kembang api itu sendiri di langit yang tampak jelas dari jendela kamarku. Namun sungguh, ada perasaan pilu serta kehilangan di sudut hatiku.
            Ajakan keluarga untuk merayakan tahun baru di alun-alun tidak kuhiraukan. Aku sedang teringat olehnya. Seseorang yang datang tiba-tiba dalam hidupku dan memberiku sebuah rasa yang kusebut dengan cinta.
            Sejam yang lalu aku memberanikan diri untuk menuliskan sebuah pesan singkat kepadanya.
            Assalamu’alaikum. Abang apa kabar? Sudah enam hari tidak masuk kerja. Ada apa gerangan? Malam ini malam tahun baru dan semoga semua baik-baik saja. Nisa
            Lima menit berlalu, tidak ada respon. Sepuluh menit, dua puluh menit, sampai enam puluh menit aku menanti, tapi tetap jua tidak ada respon. Dadaku berdebar kencang. Ada apa dengan Saddam? Apa ada sesuatu yang buruk tengah menimpanya? Tapi kenapa dia tidak memberi kabar kepadaku? Apakah salah jika aku berharap?
            Tetapi Pak Mursal, bos di kantor pasti akan memberitahuku kalau sesuatu tengah terjadi pada Saddam. Karena semua karyawan kantor juga tahu kalau mereka memiliki ikatan keluarga. Tapi hingga kini aku tidak mendapatkan jawaban dari siapapun.
            Aku masih ingat akan kalimat yang dia ucapkan pas terakhir kali kami bertemu. Kalimat demi kalimat yang dia utarakan berhasil membuatku merasa sebagai wanita paling beruntung dimuka bumi ini.
            “Dik, ada waktu untuk bicara sebentar?” Tanya Saddam kala aku masih berkutat dengan berbagai macam kertas laporan di atas mejaku. Waktu memang sudah menunjukkan jam pulang. Namun aku jarang memperdulikan itu. Yang aku tahu, aku harus menyelesaikan pekerjaanku dengan segera. Aku sangat tidak suka menunda-nunda pekerjaan.
            Sedang Saddam merupakan sales di kantor kami. Kadang kala dia bekerja di luar kota. Dan sebahagian harinya dia bekerja di dalam kota.
            Aku mendongakkan wajahku seraya menatap matanya yang hitam pekat. Mata yang selalu berhasil membuatku terjerat kepadanya. Aku selalu berusaha untuk tidak kontak mata terlalu lama dengannya. Sebab aku tahu kalau pesonanya begitu mudah merasuki diriku.
Saddam Husein. Badannya tinggi besar dengan rambut hitam bergelombang. Wajahnya khas Asia. Kuning langsat. Ada lesung pipi di wajahnya. Sangat manis. Sejak pertama kali bekerja di kantor ini, sejak itu pula aku sadari kalau ada banyak kaum hawa di kantor ini yang terpikat akan pesonanya. Dan meski aku tidak mengakuinya, aku juga termasuk dalam salah satu dari mereka. Terkadang hanya membayangkannya saja sudah membuat aku senyum-senyum sendiri.

pixabay.com

Ah, pantaskah aku bersamanya?
“A…a… ada apa, Bang?” Tanyaku tergagap. Kadang aku masih tidak bisa menguasai diriku akan kehadiran dirinya. Padahal kami sudah sering bercakap-kacap meski hanya seputar pekerjaan. Lalu pada malam hari kami juga sering saling mengirimi pesan singkat.
“Boleh kita bicara di luar?” Tanyanya dengan senyum yang masih terpampang di wajahnya.
Aku menganggukkan kepalaku. Kemudian kuseret kakiku mengikuti pria itu. Kami tiba di sebuah taman kecil yang terletak di samping kantor. Taman yang sengaja dibangun khusus bagi karyawan bila penat sudah menghampiri. Hari ini taman itu kosong. Hanya ada kami berdua. Aku berdiri di depannya dengan jantung yang berdetak tidak menentu.
Apa yang hendak dia katakan? Pertanyaan itulah yang terus hadir di dalam benakku.
Saddam tampak salah tingkah. Sesekali dia mengacak-acak rambutnya yang tidak kusut. Cengiran lebarnya tidak pernah hilang dalam pandanganku.

Jumat, 19 Oktober 2018

 
Potong kuenyaaaaa ....
Ini kali kedua saya ikut merayakan ulang tahun Apotek Bintang. Sebelumnya pada perayaan ulang tahun yang ke-20 diadakan di Hotel Sitamiang. Sedangkan tahun ini kita berbahagia bersama atas perayaan ulang tahun Apotek Bintang di Sibio-Bio. Salah satu tempat wisata alam yang lagi nge-hits di Tapanuli Selatan. 


Kado dari karyawan apotek buat Apotek Bintang. Kreatif yaaa

Tidak butuh waktu lama untuk tiba ditujuan. Kurang lebih memakan waktu 40 menit. Pemandangannya yang indah membuat siapa saja jatuh cinta dan merasa betah di sana. 


Ladies in action!

Kekompakan keluarga Apotek Bintang tampak sepanjang hari. Sebenarnya bukan hari ini saja sih. :) Keluarga Apotek Bintang selalu kompak di mana pun berada. 

Kita yang terbaik!

 Semoga Apotek Bintang makin jaya, Bu Lina dan Pak Rudy diberi kesehatan, begitu pula dengan seluruh karyawannya. Sukses untuk kita semua. :)

Pasangan terkece parah! :)
 Yang mau dengar Pak Rudy Hermanto nyanyi, bisa cek di sini ya :D 

 

Elsa bareng cowok-cowok kece :D

 
Bunga dan model sama-sama cantik


Pemandangan ini nih yang bikin kangen 
Lagi syantik!


Pengarah gaya by Pak Rudy Hermanto :D

Overall, Apotek Bintang pecah banget!! 
Selamat ulang tahun apotek kesayangan ^_^
Selalu menjadi yang terbaik buat masyarakat Padangsidimpuan.

Minggu, 14 Oktober 2018


Tulisan Karya Eva Riyanty Lubis ini telah dimuat pada 
Harian Medan Bisnis, Rubrik Karya Belia. Minggu, 08 Desember 2013.

***


Dari balik pohon pinus itu, aku bisa melihat bahwa kau meluruhkan kristal bening. Padahal kau mengatakan padanya kalau itu tindakan bodoh yang seharusnya tidak dilakukan oleh kaum adam.
*
            Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Rasanya benar-benar membuatku kehilangan kata-kata. Yang kuinginkan hanya satu, ingin selalu di dekatnya. Dia sosok yang luar biasa. Ganteng, keren, alim, pintar, dan tajir. Perfect. Seorang ketua Osis dan sudah pasti merupakan salah satu siswa terpandang di sekolah ini. Bukankah semua telah ada padanya? Dan hal itulah yang membuatku terpesona. Mungkin juga sedikit tergila-gila. Ah, dia benar-benar telah berhasil menghipnotisku dalam pesonanya. Oh, tidak. Ini terjadi sudah begitu lama. Namun rasa itu kembali membuncah saat ini.
 Aku rasa banyak juga gadis yang tergila-gila padanya. Sebab tak jarang aku menemukan beberapa gadis datang secara terang-terangan untuk mendekatinya. Namun itu tidak akan menyurutkan semangatku untuk mengenalinya lebih jauh. Malah kalau bisa untuk mendapatkan hatinya. Sebab aku ingin dia menjadi milikku. Yap, nothing is impossible. Dan aku tidak boleh pesimis.
            Tidak ada yang lebih indah dari merasakan cinta. Begitulah yang kualami saat ini. Dunia seakan selalu tersenyum memandangku. Mereka turut berbahagia. Ah…. Betapa menyenangkan. Rasanya dunia ini hanya milik aku dan dia. Betapa bahagianya. Sampai tak terungkapkan dengan kata-kata. Walau aku masih menyukainya dalam diam, namun dia benar-benar sudah berhasil menguasai seluruh isi jiwaku.
             “Kamu yang namanya Luna?”
            Aku mendongakkan wajah ke arah datangnya suara. Dan seketika aku melongo. Dia. Cowok idamanku. Untung aku tidak sampai mengeluarkan isi yang ada di mulutku saking kagetnya mendapati dia karena kini berada di hadapanku.
            “Eheem….” Dia berdehem. Membuyarkan lamunanku.
            “Maaf, maaf. Iya saya Luna, ada apa?” tanyaku kemudian sambil berdiri menghadapnya. Tak etis rasanya dia berbicara padaku sedang aku masih terduduk manis di kursi kantin ini. Dag dig dug. Jantungku benar-benar tidak mengenal situasi dan kondisi untuk menunjukkan reaksinya.
            “Ikut ke ruangan OSIS sekarang!” perintahnya dan kemudian langsung ngeloyor pergi meninggalkanku yang masih menatapnya dengan bengong.
            “Kenapa aku di suruh ke ruangannya ya?” tanyaku dalam hati, bingung. Tapi sejenak kemudian pipiku malah bersemu merah. “Ini pertama kalinya dia berbicara padaku. Apa ini pertanda baik?”
*
            “Whaaaaaaaaaat? Nggak! Nggak! Nggak mau.” Aku berteriak dengan suara nyaringku.
            “Aku sudah memutuskan bahwa kamu yang harus melakukan itu!” Jawabnya santai.
            “Kok harus aku sih? Cari yang lain dong. Mana pede aku nyanyi di depan orang banyak? Lagian aku nggak bisa nyanyi. Kamu kok maksa gitu sih?” aku kembali membentaknya, kencang. Ah, dia menyebalkan. Memutuskan dengan sesuka hati.
            “Kalau kamu nggak mau, aku bisa laporin ke kepala sekolah bahwa kamu kerja di café. Aku bisa membuatnya berpikir yang tidak-tidak. Dan setelah itu kamu tahu kan akibatnya?” senyum sinis tertoreh dari sudut bibirnya yang tipis. Namun dia tetap keren di mataku. Apalagi jarak kami yang begitu dekat. Argh, menyebalkan. Mungkin ini yang namanya cinta itu buta. Jelas-jelas dia menyebalkan, tapi tetap aja aku terpesona dibuatnya.
            Karena desakan dari Alvin, terpaksa aku menganggukkan kepala. Sekolah kami akan mengadakan pensi dua minggu lagi. Hal itu bertujuan untuk mencari bakat dan kreatifitas siswa di bidang seni tingkat sekolah. Sekolah kami sudah terkenal dengan siswa-siswanya yang penuh dengan kreatifitas. Sehingga tahun ini kami dipersilahkan untuk menjadi tuan rumah. Lexus Band, nama Band sekolah kami yang akan menjadi pembuka acara pensi kali ini. Band yang namanya mulai terdengar di kancah industri musik ini beranggotakan empat orang. Alvin sebagai gitaris, Gita sebagai vokalis, Endro sebagai drumer dan Ivan sebagai pianis.
            Nah, berhubung Gita sedang terkena radang pita suara, jadi Alvin menyuruhku untuk menggantikan posisi gadis bersuara merdu itu. Yang jadi masalah, apa dia sudah pernah mendengar bagaimana suaraku kalau bernyanyi? Gimana kalau tidak cocok dengan grup band mereka? Ah, pusing.
*

Follow Me @evariyantylubis