Minggu, 29 Juli 2018

Padangsidimpuan Kota Salak

Pagi adalah waktu di mana tubuh kembali beraktivitas setelah kurang lebih delapan jam terlelap dalam buaian. Pagi harus mampu membuatmu bersemangat menjalani hari. Bila mood-mu sejak pagi sudah baik, bisa dipastikan sampai malam nanti kamu akan merasakan hal yang sama.

Menjaga mood tidaklah mudah. Butuh kerjasama seluruh komponen di dalam tubuh. Tidak ada yang bisa menjaga mood-mu tetap stabil kecuali dirimu sendiri. Kendalikan tubuh dan pikiranmu, maka kamu dapat menaklukkan hari.

Taman Kota Salak Padangsidimpuan

Apa yang kamu lakukan setelah bangun tidur? Salat, beres-beres rumah, sarapan, lalu berangkat kerja? Yap. Tidak jauh dari itu. Kecuali kaum adam yang kebanyakan tidak ikut bantu beres-beres rumah, sebab disinyalir tugas itu hanya untuk kaum hawa semata. Menurut saya itu tidak benar. Tidak ada salahnya jika lelaki bantu nyapu, cuci piring, dll. Yap. Tidak ada salahnya kalau menurut saya. Eit dah. Pembahasan melebar. Maapkan saya.


Icon Kota Padangsidimpuan

Pagi adalah moment yang sangat syahdu. Ada banyak kebaikan di dalamnya. Udara jernih dan sejuk yang baik bagi tubuh, polusi belum bertebaran di mana-mana, belum tampaknya hiruk pikuk manusia, dll. Mengapa tidak kita nikmati hal itu? No time? C'mon. Tidak butuh waktu lama kok.

Warga Padangsidimpuan, let's menikmati pagi di Taman Kota Salak. Saya pikir tempat ini dibuat tidak hanya untuk memperhias kota. Mari berolahraga pagi lalu singgah sejenak untuk menikmati pagi di taman mini ini.


Cantik, kan?

Bebaskan beban di dada. Nikmati pagi walau hanya beberapa menit. Kita berhak mendapatkan itu.
Taman Kota Salak Padangsidimpuan berada tepat di tengah kota. Perpaduan warna hijau dan kuning membuatnya sedap dipandang. Belum lagi icon "salak" yang Padangsidimpuan sekali.

Kondisi Taman Kota Salak Padangsidimpuan di pagi hari 

Tempat ini ramai di pagi hari oleh anak-anak sekolah yang menunggu angkutan umum. Siang hingga malam hari, taman ini menjadi salah satu tempat nongkrong favorit masyarakat Padangsidimpuan. Jika pagi hari kondisinya bersih, maka siang hingga malam akan dipadati pedagang dan pembeli sembari duduk bersantai ria.

Sebagai warga Padangsidimpuan, sudah pernah ke sini belum? Tempat ini sangat recommended mulai pagi hingga malam. Pagi bersantai ria menikmati udara sejuk, malam hongout bersama teman sembari menikmati berbagai jenis jajanan.

Bangku taman yang sudah mulai rusak. 

But,jangan lupa menjaga kebersihan dan keindahan taman ini, ya. Kalau bukan kita sebagai warga Padangsidimpuan, siapa lagi?


Sabtu, 28 Juli 2018


Sumber: https://pixabay.com/en/woman-with-ice-cream-girl-lady-ice-2004777/

Cerpen Pria Bersenyum Manis  telah dimuat pada Harian Analisa Medan, Rubrik Rebana. Minggu, 9 September 2012.

***
Menjelang sore, di Kampus Universitas Florida, USA. Terduduk manis aku di kursi taman.

Di sebuah bangku, merenungi waktu, aku bisa membayangkan kejenuhan menahun. Orang-orang sebelumku, pernah menempatkan dirinya di taman ini. Di atas bangku, tenggelam dengan segala kisahnya. Mungkin sepasang kekasih pernah menggoda di sini. Pernah pula mahasiswa meringkas waktu dengan mengurai hatinya yang nyeri. Dan beratus meter di atas kepala... sore memantulkan cahaya emas pada tulisan ‘Florida University, USA. Hanya kemilaunya yang kutangkap dari tempatku terduduk sekarang.

Sebuah buku tentang kriminal berada dalam dekapan. Sekalipun buku itu telah kubaca berulang-ulang, tetap saja pikiranku tidak fokus. Dengan malas aku menutup buku itu, lalu dengan kepala yang sedikit puyeng terpaksa kualihkan pandanganku ke depan, menatap senior-seniorku yang tampak bersemangat melakukan latihan cheerleader. Mereka tampak sangat bergembira melakukan atraksi yang bagiku lumayan menakutkan itu.

            Senyum tipis mulai tersungging di sudut bibirku tatkala melihat mereka berhasil membuat gerakan-gerakan yang indah. Meluik-liuk kesana kemari dengan mudah. Kaki jenjangnya berputar-putar bak gasing. Bahkan dengan mudah mereka melakukan formasi paramida. Yap, pasti dengan kerja kerus tentunya. Yang aku tahu, itu merupakan gerakan yang sangat ditunggu-tunggu oleh penonton.

            Setelah cukup puas melihat atraksi mereka, kuputuskan untuk beranjak dari tempat itu. Namun handphoneku tiba-tiba berbunyi. Dari ayahku, di Indonesia.

            “Assalamu’alaikum, Ayah. Ada apa?”

            “Wa’alaikumsalam, Marina. Bagaimana kabarmu di sana, Putriku?”

            Aku tersenyum. “Baik, Ayah. Ada apa? Tampaknya Ayah sedang galau,”

            “Hm... kau memang selalu bisa menebak isi hati Ayah. Ya Marina, Ayah benar-benar galau.”

            “Ceritakan padaku, Ayah. Kalau Ayah tidak bisa menceritakan masalah itu kepadaku sebagai seorang anak dan ayah, maka anggap aku sebaya denganmu, Ayah.”

            Terdengar olehku tawa ayah di ujung handphone.

            “Ayah selalu menantikan kata-katamu ini.”

            “Jadi, apa yang kini Ayah risaukan?” Tanyaku memulai dengan nada serius.

            “Aku telah kalah sebagai Satgas Pemberantasan Mafia Hukum. Aku lengah. Tatkala aku telah mendapatkan waktu dan kesempatan untuk mendapatkan pelakunya, hati dan nuraniku malah tersentuh bersimpati melihatnya.” Terdengar penyesalan dari suara ayah.

            “Apa yang terjadi? Aku tahu Ayah bukan orang yang tidak bisa bekerja secara profesional. Aku tahu Ayah selalu berhasil menaklukkan para mafia itu. Apa yang terjadi? Apa yang Ayah ragukan? Apa yang membuat Ayah menjadi bingung seperti ini?”

            “Jangan memberiku pertanyaan yang bertubi-tubi. Sudah lelah otakku berfikir.”

            “Itu bukan jawaban yang baik dari mulut seorang Satgas Pemberantasan Mafia Hukum.”

            “Entahlah. Aku benar-benar kehilangan jati diriku. Ngomong-ngomong, bagaimana perasaanmu apabila memiliki sahabat?”

            “Ah.... Ayah mengalihkan pembicaraan. Baiklah. Mengenai sahabat, sudah pasti aku akan sangat bahagia. Sahabat di dunia ini jarang ditemukan. Maka berbangga dan bersyukurlah tatkala Ayah menemukan sahabat sejati Ayah.”

            “Ok. Kelak kamu akan mengerti. Perbincangan kita cukup sampai di sini.”

            Setelah mengucap salam, ayah menutup teleponnya.

            Aku mendesah panjang. Usiaku baru memasuki sembilan belas tahun. Dan sungguh, walau aku telah belajar Kriminologi dan Peradilan Kriminal jauh-jauh ke Florida, tetap saja aku belum bisa menguasai segalanya. Apalagi dengan kasus besar seperti mafia. Kurasa aku belum matang untuk menalar masalah tersebut. Paling aku hanya berpedoman kepada teori.

Padahal mereka, keluargaku, telah memberikan aku tanggung jawab sebagai pengganti ayah tatkala ayah telah menghabiskan masa kerjanya kelak. Oleh sebab itu, aku harus mempersiapkan diriku dengan cepat.
*

            Hari ini Florida diliputi cuaca dingin. Dengan mantel bulu meliliti tubuhku, kulangkahkan kakiku menuju Richmond kafe, tempat favoritku untuk sekedar minum teh.

            Minuman telah tiba di mejaku. Setelah itu, seperti biasa aku membuka laptop dan langsung berlari ke layar yang amat kusukai. Facebook dan wordpress. Kali ini aku hanya menyapa beberapa teman di facebook. Dan aku tidak berniat untuk menuliskan cerita hari-hariku beberapa hari terakhir ini pada blogku.   

            “Indonesian?”

            Suara seorang pria menyapa. Aku mendongakkan wajahku.

            “Ya?”

            “Boleh aku duduk disini?”

            Aku memandangnya dengan teliti sebelum aku mengangguk mengiyakan. Mukanya sangat Asia sekali. Meski ditutupi oleh bulu-bulu halus di wajahnya. Setelah beberapa menit aku memandanganya, kemudian aku menutup laptopku. Tidak etis rasanya berbicara dengan seseorang sedang aku masih asyik dengan duniaku sendiri.

            “Kuliah di mana?”

            “Universitas Florida. Bagaimana kamu tahu kalau aku dari Indonesia?” Tanyaku dengan kening berkerut.

            Ia tersenyum.

            “Wajahmu sangat Asia. Mudah untuk membedakannya di antara keramaian kafe ini.”

            Aku mengangguk.

            “Aku juga dari Indonesia.”

            “Aku tahu.”

            Ia mengerlingkan matanya.

            “Wajahmu juga sangat Asia. Dan kamu bisa berbahasa Indonesia dengan fasih.”

            Ia tertawa pelan.

            “Apa yang kamu lakukan disini?”

            “Berlibur. Indonesia sungguh menjenuhkan.”

            “Maksudmu?”

            “Yah, aku butuh udara segar.”

            “Aku ingin penjelasan yang detail.”

            Ia kembali tersenyum. Manis. Usianya mungkin sudah lebih dari empat puluh. Tetapi garis-garis ketampanan masih terpampang di sana. Kalau boleh aku memanggilnya, akan kusebut dia dengan pria bersenyum manis.

            “Kekacauan terjadi di mana-mana. Pemerintahan terombang-ambing. Apalagi dengan maraknya mafia. Mereka telah menghancurkan Indonesia. Kamu tahu, kemarin aku melihat berita bahwa mafia yang menjadi buronan itu kini telah lari dari Indonesia.”

            “Itu artinya Indonesia telah lengah.”

            “Ya.” Ia kembali tersenyum. Senyum yang sangat menawan. Kemudian menyeruput teh yang sedari tadi ia pegang.

            “Mafia itu licik. Dan sudah pasti cerdas karena sampai bisa mengelabui masyarakat Indonesia. Kalau menurutku, sudah pasti ada orang dibelakangnya.”

            “Benar. Apa yang kamu ketahui tentang mafia?”

            “Mereka merugikan negara dan ingin mengacaukan pemerintahan serta semua yang ada didalamnya. Dan kebanyakan dari mereka sebenarnya orang-orang yang berpengaruh dalam pemerintahan. Yang intinya mereka menggunakan jabatan dan wewenang mereka untuk melakukan perbuatan yang merugikan bangsa ini.”

            “Sebahagian dari mereka tidak seperti itu. Mereka melakukan itu karena prihatin dengan kondisi negaranya. Makanya mereka melaksanakan aksi yang menurut mereka benar.”

            “Tetap saja caranya salah.” Aku berkilah.

            “Dan sebahagian dari mereka sebenarnya menjadi korban dari penjahat pemerintahan. Mereka diancam kalau tidak melakukan perintah mereka. Setelah mereka melakukan apa yang diminta oleh penjahat-penjahat itu, mereka dibuang. Mereka dikambing hitamkan. Mereka ditertawakan. Malah tanpa rasa belas kasihan penjahat-penjahat itu muncul kehadapan masyarakat dan mengatakan kalau mereka telah menemukan mafia tersebut setelah mendapatkan semua apa yang mereka inginkan dari mereka.”

            Nafasku tercekat dengan penjelasannya. Bukan karena kata-kata yang ia sampaikan. Tetapi karena nada suaranya. Sangat dalam. Penuh kepedihan. Apalagi dengan sorot mata hitamnya itu. Seakan-akan ingin menelanjangiku.

            “Jadi kalau mafia itu kabur untuk menyelamatkan diri, apa itu disebut salah?” Tambahnya lagi.

            Aku menggeleng pelan.

            Ia tersenyum. Kemudian kami sama-sama menyeruput sisa minuman yang telah dingin itu.

            “Aku percaya kalau kebenaran itu pasti terkuak.” Ucapku setelah beberapa menit tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya.

            Ia kembali tersenyum. Senyum yang membuatku terus terpesona. Dan akhirnya menarik bibirku untuk ikut tersenyum.

            “Namamu siapa?”

            “Marina.”

            “Manis. Semanis parasnya. Ok, sampai jumpa Marina. Senang telah mau menemaniku berceloteh.”

            Aku mengangguk. Kemudian kuamati langkahnya dari kaca kafe hingga punggungnya menghilang di balik keramaian. Sampai akhirnya aku tersadar kalau aku belum menanyakan siapa namanya, atau bahkan di mana ia bertempat tinggal di Indonesia.
*

            Minggu pagi di Florida. Aku menghabiskan waktu di perpustakaan. Melahap habis bacaan yang berkaitan dengan kriminal. Tekadku sudah bulat, aku harus bisa seperti ayah. Malah harus lebih dari dia.

            Sedang asyik-asyiknya membaca, sebuah sms masuk ke handphoneku. Dari nomor tidak dikenal.

Kau bidadari kecil. Tak bersayap. Namun jemari pipih itu memaksa menuliskan ini. Rambutmu sepundak, meruapkan keharuman bunga. Aku berharap pesanku sampai dan terbaca dengan mata cahayamu. Aku merindukan hitamnya. Namun kau harus tahu, terkadang keindahan mengundang tamu terdekat membunuhmu!*

            Aku merinding membacanya. Nafasku melaju tidak beraturan. Selang beberapa waktu, aku mendapatkan telepon dari Winny, sahabatku di Indonesia. Dengan cepat aku bergegas keluar dari perpustakaan. Perasaanku benar-benar gundah. Aku yakin ini berkaitan dengan sms yang barusan aku terima.

            “Ada apa?”

            “Bencana yang berat telah menimpa keluargamu. Aku tidak bisa bercerita banyak. Tontonlah berita. Semua membahas masalah ini. Aku dicegah untuk memberitahumu. Tapi aku nggak bisa. Kau harus tahu masalah ini. Setelah menonton berita, kau jangan langsung pulang ke Indonesia. Tetaplah di sana.” Suaranya terdengar resah. Tidak ceria seperti biasanya.

            Badanku seketika kaku. Ada apa ini? Kemarin waktu ayah menelepon dia tidak mengatakan apa-apa. Lantas kenapa Winny berkata seperti tadi? Tetapi dia tidak mungkin berbohong. Kami sudah kenal dari kecil. Dia bukan hanya sahabatku, melainkan aku juga telah menganggapnya sebagai saudara.

            Dengan langkah cepat, aku berlari menuju apartemenku yang tidak begitu jauh dari kampus. Dalam lima belas menit aku akhirnya tiba. Segera kubuka laptop dan membuka situs berita Indonesia.

            “Ihsan Sutyo, Satgas Pemberantasan Mafia Hukum ditangkap di kediaman beliau. Hal tersebut dilakukan karena beliau terbukti sebagai tersangka yang membebaskan mafia hukum Rizky Hakim, yang tengah bersembunyi keluar negeri dan hingga kini belum diketahui keberadaannya. Beberapa pendapat juga mengatakan bahwa Ihsan Sutyo juga terlibat sebagai mafia hukum yang menggelapkan dana Indonesia sebesar lima triliun rupiah.”

            Badanku bergetar hebat. Sampai akhirnya air mataku tumpah tak terkendali. Semua situs berita Indonesia yang kutonton sedang menampilkan masalah itu. Lalu dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku mencari tahu tentang Rizky Hakim, yang disebut sebagai mafia hukum itu.

            Pertahananku roboh.

Aku menemukan wajah pria bersenyum manis itu.



Eva Riyanty Lubis 

Jumat, 27 Juli 2018

Welcome to Danau Toba
Sumber: https://pixabay.com/id/danau-toba-indonesia-langit-awan-1894746/


Seiring bertambahnya jumlah penduduk, ditambah pula dengan banyaknya industri perusahaan, kualitas sumber air pun kian menurun. Itulah yang kini dirasakan oleh masyarakat Tambun Raya. Meski Danau Toba berada di pelupuk mata, mereka tetap mengalami masalah sulitnya menemukan sumber air bersih. Saban hari, mereka harus mengeluarkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit untuk menemukan sumber air bersih.

Benarkah air Danau Toba telah tercemar? Bisa ya, bisa tidak. Sayangnya fakta di lapangan menyebutkan bahwa lebih banyak masyarakat yang mengakui air Danau Toba telah tercemar, sehingga mereka tidak mau memanfaatkannya lagi untuk menopang kebutuhan penggunaan air.


Air merupakan kebutuhan primer yang tidak bisa ditunda pemenuhannya. Manusia sebagai makhluk hidup sangat membutuhkan air, khususnya untuk minum. Ada banyak sumber air di dunia ini. Sayangnya hal tersebut tidak berbanding lurus dengan jumlah air yang dapat dikonsumsi. Ketersediaan air bersih layak konsumsi semakin hari semakin berkurang. Padahal kebutuhan air minum semakin meningkat. Tak heran di beberapa tahun mendatang, kelangkaan air secara pasti bisa dirasakan oleh masyarakat Indonesia.

Doc. Pribadi Kak Remli Nelmian Simarmata

Siapkah kita menghadapi masalah ini? Tentu tidak. Sebelum hal buruk itu terjadi, sudah sewajarnya kita menemukan solusi. Sebagai masyarakat Tambun Raya, tanamkan dipikiran bahwa air Danau Toba tidak tercemar dan masih layak dikonsumsi. Masyarakat harus bisa memanfaatkan air dari danau terluas di Indonesia ini. Tidak boleh terlalu mudah memutuskan sesuatu yang belum benar adanya. Toh nantinya kita juga yang merugi.

Jadi, tidak akan ada masalah bila mengkonsumsi air Danau Toba? Tunggu dulu! Sebelum air dari danau dengan ekosistem mempesona ini digunakan, ada tahap yang harus dilakukan terlebih dahulu. Apa itu? Teknologi filter. Teknologi ini adalah cara pengolahan air hingga benar-benar layak dan aman untuk dikonsumsi. Setelah melalui beberapa tahapan dan berhasil lolos uji dari Balai Besar Laboratorium Jakarta, air Danau Toba siap dipanen! Ternyata hanya butuh sedikit sentuhan teknologi.

Wah, ribet sekali ya. Harus diuji segala. Bagaimana melakukannya? Bersyukurlah kita sebagai masyarakat Tambun Raya atas kehadiran filter air bersih yang saat ini sudah bisa dimanfaatkan untuk penggunaan air bersih yang bersumber dari Danau Toba.

Dengan filter air bersih ini, masyarakat tidak perlu lagi jauh-jauh mencari sumber air. Air Danau Toba siap dipanen hingga anak cucu kelak sebagai penopang penggunaan air bersih. Meski demikian, sebagai masyarakat yang peduli lingkungan, kita juga wajib ikut serta dalam menjaga kebersihan dan ekosistem Danau Toba. Insya Allah perlakuan sederhana ini akan menjadikan kehidupan jauh lebih baik ke depannya.

Horas!

 

Kamis, 26 Juli 2018

Sumber: https://pixabay.com/en/board-heart-play-over-love-off-1820678/


Pernahkah kamu merasa hidupmu membosankan?
Tidak ada gairah.
Tidak ada passion.
Tidak tahu arah dan tujuan.
Seperti orang linglung.
Hidup segan mati tak mau.

Itulah beberapa bulan terakhir ini yang kini aku rasakan.

Aku merasa sedih akan diriku. Sedih atas apa yang menimpa diriku. Sedih akan perlakuan yang harus kurasakan. Mengapa aku harus merasa seperti ini? Dan berbagai pertanyaan lainnya. Semakin kupikirkan, semakin aku tak kuasa membendung air mata.

Pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Sesuatu yang seharusnya terjadi satu kali seumur hidup. Ketika memutuskan untuk menikah, doaku adalah menjadi pasangan dunia akhirat dari suamiku. Sayang sungguh sayang. Kita hanya bisa berencana, namun jalan hidup Tuhan yang memutuskan.

Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk bertahan di tengah cobaan bertubi-tubi yang melemahkan iman. Ya! Seriously I tried very hard. Yang namanya manusia pasti memiliki tingkat sabar berbeda. Ketika aku tak sanggup, maka aku tak lagi sanggup. Please forgive me, God. You know my heart. You know all of me.

Pernikahan yang seharusnya menjadi ladang mencari kebaikan, ladang memperoleh berkah, dan sebagainya berubah menjadi neraka. Teriakan, caci maki, dan sebagainya menjadi makanan sehari-hari.

Ketika aku lelah menangis, aku memutuskan untuk berteriak. Berteriak sekuat yang aku bisa. Kulepaskan semua amarah, kecewa, sedih, dan gemuruh di dada. Aku lelah diperlakukan tidak adil. Aku lelah tidak dianggap sebagai pasangan terbaik. I know that I am not the best. But, I tried my best, Allah.

Aku mencoba kuat menghadapi segalanya. Tidak banyak yang tahu apa isi hatiku. Orang-orang di sekitarku merasa aku baik-baik saja. Maklum, seperti apapun isi hatiku, badanku tetap tidak pernah kurus. Lol. Makanya mereka bilang diriku baik-baik saja. Dasar! Mereka malah nggak tahu kalau aku, semakin sedih maka semakin membesar. Sad-nya berkali lipat, ya. Ahaha.

Hidup hanya sekali. Hidup harus diisi dengan hal-hal bermanfaat agar tidak terjadi penyesalan dikemudian hari. Kita berharga dan tidak selayaknya diperlakukan tidak adil. Hanya karena aku perempuan, maka harga diriku harus diinjak-injak? Tidak! It’s not true.

Aku memutuskan untuk berpisah, tak lagi bertahan. Sedih, takut, marah, kecewa, mulai hilang dariku untuknya. Aku merasa jauh lebih bebas. Jauh lebih baik. Jauh dari tekanan. Jauh dari ketakutan. Alhamdulillah ibu dan adik-adik masih setia bersamaku. Mendukung dan terus memberi kekuatan. Tangis perlahan-lahan mulai menghilang. Berganti dengan canda-tawa.

Allah, thanks for this chance.

Senin, 16 Juli 2018

Putri Ping

Judul                           : PUTRI PING
Penulis                         : Eva Riyanty Lubis
Penerbit                       : Lintang (Kelompok Penerbit Indiva Media Kreasi), Maret 2014
Halaman                      : 152 hal
ISBN                           : 978-602-1614-06-8


 Sinopsis
Gadis itu bernama Aurora Ping. Orang-orang sering memanggilnya Ping. Ping merupakan putri Raja Andrian. Tetapi, sang raja tidak pernah menganggap Ping sebagai putrinya. Sebab penampilan Ping tidak seperti putrinya yang lain. Dia benar-benar berpenampilan sederhana layaknya rakyat biasa.
Ping tidak berputus asa hanya karena masalah penampilan. Karena keberanian dan kebaikan hatinya, seluruh keluarga akhirnya mencintai dan sangat bangga pada Ping. Mereka akhirnya sadar bahwa penampilan bukanlah segalanya.
Selain “Putri Ping”, masih ada 19 cerita menarik lainnya yang sayang untuk teman-teman lewatkan. Jadi, baca sampai akhir ya? Dan temukan banyak ‘keajaiban’ dalam buku ini. Selamat membaca!
Perfect Day
Bisa pesan di sini.
Perfect Day

Penulis : EVA RIYANTI LUBIS
Penerbit : Elex Media Komputindo
ISBN : 9786020254944
Bahasa : Indonesia
Terbit : 15 Desember 2014
Sampul : Softcover
Ketebalan : 192 halaman
Ukuan : 12.52 x 19.50 cm

Sinopsis
Emily dan selena kakak beradik kembar yang terlahir dari keluara yang saling mengasihi. Sayangnya kehidupan yang penuh kasih itu mengalami guncangan ketika Dimas Anggoro menginginkan Emiliy untuk dijadikan istri kedua. Tak terima dengan penolakan Emily utnuk dijadikan istri kedua, dendam untuk menghancurkan keluarga mereka dimulai dengan kasus pemerkosaan terhadap selena. Emily yang menjadi saksi dari kehancuran keluarganya sendiri mencoba bangkit dan berniat untuk membalas semua perbuatan Dimas Anggoro.
Kehadiran Keenan -putra tunggal Dimas Anggoro- yang tergila-gila pada Emily memudahkan rencana Emily untuk balas dendam. Emily ingin agar Keenan yang terkenal playboy jatuh ke dalam genggamannya. Tapi, semua tidak berjalan sesuai rencana. Selena yang kembali ‘hidup’ tidak menginginkan balas dendam. Terlebih, Emily tidak mampu membohongi perasaannya sendiri terhadap Keenan.

Follow Me @evariyantylubis