Senin, 18 Juni 2018


Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Alhamdulillah kita masih dipertemukan dengan bulan penuh berkah. Bersama merayakan Idul Fitri bersama keluarga tercinta. Saya sangat bersyukur masih bisa melaksanakan puasa di tahun 2018 ini bersama emak dan adik-adik. Setelah itu merayakan Ied Mubarak di kampung halaman ibu, Pinarik. Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah. 

Mudik ke kampung halaman merupakan perjalanan menyenangkan. "Apa enaknya mudik ke kampung yang tidak ada apa-apanya?" 

Minus Brother Ihsan 

Hey! You can't say that! Bahkan di tempat seperti inilah lebaran menjadi sangat berarti. Sudah dua kali saya lebaran di Padangsidimpuan, tanpa emak dan adik-adik. Rasanya hambar dan sedih. Saya ingat, air mata menetes kala itu. Pernah pula saya lebaran Idul Fitri bersama kakak di Batam. Bukan tidak menyenangkan. Hanya saja akan lebih menyenangkan bila emak dan adik-adik turut bersama saya. 

"Kamu childish banget sih?" 
"Whatever!" 

I love this moment. Momen di mana saya merasa bahagia. Momen di mana saya menemukan kisah demi kisah yang layak dituliskan. Momen di mana saya bisa berbagi kasih dengan sanak saudara. 

Selesai mandi pagi, nenek jepret cantik dulu yaaa. 

Pinarik, Kecamatan Batang Lubu Sutam, merupakan kampung halaman emak. Bagaimana dengan kampung halaman bapak? Sejak kecil, bapak sudah menjadi yatim piatu. Makanya kami sekeluarga tidak pernah berlebaran di kampung bapak, di Maga. Tapi, ketika saya berusia 10 tahun, bapak pernah mengajak saya berkunjung ke kampung halaman beliau. 

Rindu bapak dengan segala apa yang ada pada dirinya. Semoga Allah mengampuni dosanya. Semoga Allah melapangkan kuburnya. Semoga Allah menerima amal ibadahnya. Al-Fatihah. 

26 tahun adalah usia saya saat ini. Berarti sudah lebih 20 kali saya merayakan lebaran Idul Fitri di kampung halaman emak. Itu artinya ada banyak kisah yang telah saya dapatkan juga lalui. Sedih, senang, kecewa, dan sebagainya. Kenangan adalah memori yang kelak akan saya baca satu-persatu. 

Nenek senang banget bedakan. Suka banget lihatnya. 

Pinarik tidak menawarkan keindahan bangunan, keindahan bahasa, atau pun penduduk dengan tipikal mencolok. Tidak sama sekali. Namun desa ini hadir dengan keindahan alam yang tidak akan saya temukan di kota tempat saya tinggal. Begitu juga dengan karakter dan tingkah laku masyarakat. Bukankah membaca satu-persatu dari diri manusia adalah yang terbaik? Saya menemukan banyak hal. Saya membaca banyak hal. 

Nenek telah ringkih. Menurut catatan kelahirannya, ia telah hidup lebih dari 90 tahun. Ia tak lagi lincah. Ia tak lagi cekatan. Namun cintanya tak pernah pudar pada putra-putri, menantu, cucu, hingga cicit. Saban hari ia menceritakan banyak hal pada saya. Mulai dari pertemuan dengan ompung, bagaimana ia melahirkan, kematian putra-putrinya, kematian kakak hingga ipar, dan sebagainya. Cerita tak akan pernah habis. Waktu tidak akan pernah cukup untuk menuntaskan kisah tersebut. 

Lebaran ala anak-anak Pinarik.Muter keliling kampung halaman pakai Aviar, truk sampah, L300, atau mobil odong-odong.

Pinarik adalah tempat di mana saya bertemu dan bertatap muka dengan saudara. Mereka yang hanya bisa saya temui sekali setahun, sekali dua tahun, dan sebagainya. Kami bertukar kisah. Sesekali berbagi tawa dan canda. 

Seiring bertambah usia, semakin sulit menemukan teman yang tahu bagaimana kamu. Tahu bagaimana isi hatimu. Tahu apa yang kamu inginkan. I don't have best-friend here. But I have a cute sister. Winny Khodijah. Dia tidak hanya saudara perempuan. Ia sahabat. Ia belahan jiwa. Love you, Sis. 

Selpih cantik dulu. Sawah menghijau sepanjang mata memandang. Love it.

Mom, thanks atas semua cinta yang kamu berikan pada putrimu ini. May Allah bless you. Semoga Allah memberi kita waktu lebih lama untuk saling berbagi kasih dan sayang. Ihsan Hakim and Muhammad Riski, love you so much, bro! I am happy being your sister. 

Ini hanya sedikit cerita dari libur lebaran in this year. Happy Ied Mubarak. Mohon maaf lahir bathin. Semoga amal ibadah kita diterima di sisi Allah. Semoga kita lahir menjadi pribadi yang lebih baik lagi. InsyaAllah we can do that! 

Mohon maaf lahir bathin from our Bro Ihsan Hakim Lubis.

Ps: Bagi kamu yang merantau nun jauh di sana, jangan lupa mudik ya. Mari berkumpul bersama keluarga. Orangtua tidak menunggu kamu sukses untuk pulang. Orangtua tidak menunggu oleh-oleh darimu. Orangtua hanya ingin berjumpa kamu. Menatap dan memeluk buah hatinya.  

Pinarik, 18 Juni 2018. 
9:18 Wib. 

With Love, 
Eva Riyanty Lubis 




Senin, 11 Juni 2018


Cerpen Eva Riyanty Lubis, dimuat pada Medan Bisnis rubrik Art & Culture. Minggu, 29 Juli 2012
 
Sumber : https://pixabay.com/en/man-soledad-only-landscape-summer-1156543/

Aku meringkuk kedinginan di balik ruangan berukuran 2x2 meter itu. Di sudut ruangan itu, kudekapkan kaki ke tubuhku yang tinggal terbungkus tulang. Erat. Tetapi tubuhku tetap berpeluh. Menggigil. Aku berusaha membendungnya, bersikap biasa, namun semua bagian tubuhku tidak mau berkompromi. Tetap bergetar hebat.
*
Aku memandang mata bening itu beberapa saat. Berusaha mencerna kata demi kata yang keluar dari bibir mungilnya. Wajahnya merona merah tatkala menceritakan hal itu kepadaku. Dan bisa kupastikan, dia sedang mengalami masa-masa bahagia.
“Kamu setuju kan, Sayang?”
Aku masih terdiam. Atau lebih tepatnya mulutku lah yang enggan untuk berkomentar. Aku hanya memandangnya dengan tatapan kosong.
Aku mencintainya dengan sangat. Tapi aku yakin, dia tidak merasakan itu. Ah… ataukah aku yang tidak merasakan cintanya kepadaku? Setahuku, cinta anak dan ibu amatlah erat. Namun, kini aku merasa ada benteng pemisah di antara kami. Ataukah kami sendiri yang membuat benteng itu, aku tidak tahu.
Aku merasa pusing setiap kali memikirkan kehidupan kami. Menurutku, kehidupan kami ini kehidupan tanpa cinta. Membosankan. Dan lambat laun, aku merasa malas untuk menghadapinya. Aku merasa hidup ini hanyalah pengulangan. Hari demi hari, tanpa ada yang spesial. Sangat membosankan…. Apa masih bisa aku berharap?
“Sayang, kamu dengerin Ibu nggak sih? Kok dari tadi cuma natapin Ibu aja? Kamu nggak setuju?” matanya mengerling menatapku.
Aku menggeleng. Kemudian kudapati senyum manis bertengger di sudut bibir mungilnya. Ah…. Kapan terakhir kali aku memandanganya sebahagia ini? Aku bagitu merindukan masa-masa itu. Dan tidaklah mungkin aku merusak kebagiaan orang yang telah melahirkanku.
“Makasih ya, Sayang. Beberapa hari lagi Ibu dengan Om Asrul akan mengadakan pernikahan. Kita buat acara yang sederhana. Maaf kalau ini mengagetkanmu. Namun kita berdua sudah memutuskan kalau inilah yang terbaik untuk kita. Bukankah kamu juga masih menginginkan sosok seorang ayah?”
Lagi-lagi aku mengangguk. Aku sudah tidak ingat bagaimana cara untuk berbicara banyak dengannya. Yang kuinginkan adalah segera mengakhiri pembicaraan ini dan kemudian aku bisa terlelap dalam mimpi indahku.
*
Saya terima nikahnya dan kawinnya Nur Rizka binti Muhammad dengan mas kawin tersebut tunai.
            Di mesjid itu, para undangan menjadi saksi lahirnya pasangan pengantin baru. Semua tampak berhagia. Kecuali aku mungkin.
            “Kamu Icha kan? Putrinya Bunda Rizka? Aku akan menjadi kakakmu. Kalian akan tinggal di rumah kami. Oh ya, namaku Yunita. Kami boleh memanggilku dengan sebutan Yuni. Ah…. Pasti Bunda sudah menceritakan tentangku kepadamu kan, Cha?” gadis manis itu menyodorkan tangannya kepadaku. Aku hanya terpaku. Tak tahu apa aku harus menerima uluran tangannya. Namun beberapa detik kemudian, dialah yang menarik tanganku ke dalam jemarinya.
            Senyumnya sangatlah manis. Parasnya membuat orang yang memandangnya langsung tertarik. Matanya bulat, dengan bola mata berwarna coklat bening. Alisnya hitam lebat. Hidunganya bangir. Kulitnya putih bersih. Wanginya mengeluarkan semerbak yang membuatku betah ada di sampingnya. Namun entah mengapa, aku tidak ingin mengakui hal itu. Atau malah aku sedikit cemburu kepadanya?
            “Icha kalau perlu apa-apa, bilang sama kakak ya,” ucapnya sebelum meninggalkanku dengan memberikan kerlingan manis kepadaku. Dan beberapa meter dari sini, aku lihat dia tengah menyambut kedatangan teman-temannya. Mereka tampak sangat bahagia. Dan dia begitu kelihatan spesial di antara orang-orang itu.
            “Kamu adenya Yuni?” seseorang tiba-tiba mengagetkanku. “Ah… kenapa jantungku berdetak menjadi tidak karuan begini? Dag dig dug. Detakannya semakin keras. Apa dia mendengarnya? Ah…. Pasti sangat memalukan.”
            “Boleh kenalan?” tanyanya. Aku hanya menundukkan wajahku. Berusaha menutupi rona merah yang kurasakan telah timbul di wajahku.
            “Icha?” dia memanggilku. Aku bergeming. Lalu dengan langkah cepat, aku berlari meninggalkannya. Aku sudah tidak perduli dengan tanggapannya tentangku.
            *
            Hari ini hari penerimaan rapor. Orang tua diwajibkan untuk ikut.
            “Icha, Ibu sama Ayah mau ke sekolah Yuni dulu. Nanti habis dari situ kami akan datang ke sekolah Icha. Nggak apa-apa kan, Sayang?”
            Aku menatap mereka dengan tatapan tak menentu. Namun, aku anggukan juga kepalaku. Setelah itu aku mendapati senyuman dari keduanya.
            Aku menunggu Ibu dan Ayah. Sampai hanya aku yang tertinggal di dalam kelas, mereka tak jua datang. Air mataku hendak luruh. Namun segera kutahan, agar tak jatuh.
            “Icha, Mamanya nggak bisa datang ya, Sayang?” ucap Bu Fatimah. Guruku yang baik hati.
            Aku mengangguk sambil tersenyum. Aku tahu dia bisa melihat bahwa senyumanku hanyalah sebuah senyum terpaksa.
            “Hm…. Yaudah, nggak apa-apa. Ini rapor kamu.” Dia menyodorkan rapor berwarna abu-abu itu kepadaku.
            “Nilaimu terus menerus menurun, Cha. Bahkan sepuluh besar pun kamu tidak masuk. Ibu nggak tahu apa masalah yang sedang menimpamu. Namun Ibu harap, kamu harus mengerjar semua ketinggalanmu. Sekarang kamu kelas dua SMA, Cha. Tugas akan semakin banyak.”
            Aku kembali mengangguk.
   *         
            Di rumah
            “Icha, aduh maaf ya, Sayang. Ibu dan Ayah tidak bisa datang. Tadi kita bertiga lagi merayakan keberhasilan kakakmu. Yuni berhasil meraih juara umum satu di sekolahnya. Kami hendak menjemputmu, namun kita nggak punya waktu banyak, soalnya Ayah mau berangkat ke luar kota.” Ibu tampak menunjukkan wajah penuh penyesalan kepadaku.
            “Nggak apa-apa,” ucapku sembari berjalan meninggalkan Ibu dan Yuni di ruang tamu.
            “Apa Icha marah, Bunda?” tanya Yuni.
            “Tidak, Yuni. Icha memang begitu orangnya. Pendiam.”
            *
            “Mana boneka beruangku?” tanyaku pada ibu dan Yuni yang tengah duduk berdua menonton televisi. Ah…. Andaikan ibu tahu, aku juga merindukan saat-saat berdua dengannya. Namun kenapa malah Yuni yang selalu ada bersamanya? Kenapa mereka tidak pernah mengajakku untuk bergabung? Kenapa hanya Yuni yang dielus rambutnya? Suasana hatiku mendadak panas.
            “Oh, dipinjam ama Yuni, Cha. Dia suka. Jadi Ibu izinkan dia mengambilnya dari kamarmu.”
            “Tidak ada yang boleh menyentuh bonekaku!!!!” aku membentak mereka. Kulihat mereka terkejut.
            “Ambil bonekaku sekarang!” aku menatap tajam ke arah Yuni.
            “Kamu apa-apaan sih, Cha? Kan cuma boneka! Lagian bonekanya kan sudah jelek,” jawab ibu.
            “Tapi kalian tidak punya hak untuk mengambilnya. Kalian boleh mengambil semua barang yang ada di kamarku. Tapi bukan dengan boneka itu! Sekarang cepat ambil bonekaku!”
            Yuni langsung berlari menuju kamarnya. Mungkin dia kaget dengan ucapanku barusan.
            *
            Aku mencekik lehernya. Kuat. Dia merintih. Berusaha melepaskan diri. Namun tak ada sedikit celah yang kuberikan kepadanya. Kembali dia mengerang. Nafasnya terpenggal-penggal.
            “Ichaaaaaaaaa.... Lepaskan kakakmu! Lepaskan!!!” Ibu dan Ayah muncul di belakangku dan berusaha melepaskanku dari tubuh Yuni.
            Aku terpelanting. Tenaga ayah jauh lebih kuat dariku. Aku diseret menuju sebuah tempat yang membuatku bergidik ngeri. Sedang sebuah ambulans melaju hebat membawa Yuni beserta ibu.
            Dan di sinilah aku kini.
            *
            Tepat sebulan, aku keluar dari balik jeruji besi itu. Ayah penguasa di sini. Dan katanya dia sudah bermurah hati dengan memberiku hukuman hanya sebulan.
            “Kau sudah membuatku malu! Kau mencoreng mukaku, Cha! Anak macam apa itu namanya?”
            Aku menatapnya tajam. Dia juga memandangku dengan emosi yang meluap-luap. Dia, anaknya serta ibuku. Mereka memandangku dengan sinis. Seakan-akan aku merupakan seonggok najis.
            “Minta maaf pada Ayahmu, Cha!” Ibu ikut membentakku.
            Aku menatap mereka berang. Seharusnya mereka tahu, aku juga butuh perhatian. Aku butuh kasih sayang. Sejak ayah meninggal lima tahun lalu, aku tidak pernah lagi mendapatkan kasih sayang. Ibu hanya sibuk dengan usahanya.
            Ketika kutahu dia ingin menikah, sebenarnya hatiku sakit. Tapi aku masih berharap mendapat kasih sayang darinya. Mungkin dengan kehadiran ayah baru, dia tidak lagi sibuk mencari uang dan bisa berbagi denganku.
            Namun aku salah. Posisiku telah diambil oleh Yuni. Bahkan ibu menuruti semua keinginannya. Boneka beruangku, hadiah terakhir dari ayah, dengan entengnya ibu mengizinkan Yuni untuk menyentuh serta memilikinya.
            *
            Sore itu, ibu dan Yuni sedang asyik bercanda gurau. Aku mendatangi mereka. Dan kulihat mereka memandang sinis kepadaku. Lalu Yuni berdiri dari duduknya dan kemudian menghampiriku. Sedang Ibu membuang mukanya.
            “Kau sudah tidak diinginkan di sini, adek manis!”
            Kalimatnya itu membuatku semakin membencinya. Aku terus menatapnya tak berkedip. Dia balas menatapku, dengan seringainya yang menurutku menjijikkan. Keindahan fisiknya sangat bertentangan dengan perangainya.
            Dan beberapa detik kemudian dia jatuh tersungkur. Merintih dan menatapku ketakutan.
Senyum kemenangan telah menghampiriku. Sebab pisau yang kuselipkan di balik tanganku berhasil melakukan pekerjaannya seperti yang kuperintahkan.

Tulisan telah terbit di Harian Online SetaraPost.com, Senin (11/06). 
Bisa dicek pada link berikut ini. 



Berbagi kebahagiaan di bulan suci Ramadhan dengan melaksanakan buka puasa bersama karyawan dan keluarga karyawan merupakan hal rutin yang selalu dilakukan Apotek Bintang setiap tahunnya. Tahun ini, kegiatan buka puasa bersama dilakukan di J&J Café Padangsidimpuan, Minggu (10/06).

"Acara buka puasa bersama di bulan suci Ramadhan rutin kita gelar setiap tahunnya. Hal ini bertujuan untuk mempererat tali silaturrahim sekaligus mengakrabkan hubungan kekeluargaan antar karyawan toko, sahabat, serta rekan-rekan sehingga lebih mengenal satu sama lain," tukas Lina Juswardy, pemilik Apotek Bintang sekaligus istri dari anggota DPRD Padangsimpuan Rudy Hermanto.

Follow Me @evariyantylubis