Minggu, 20 Mei 2018


Sumber gambar: https://xwork.co/blog/lomba-blog/

Seiring berjalannya waktu, dunia penerbitan di Indonesia semakin bersinar dan memberikan peluang baru bagi mereka yang memutuskan untuk bergerak dibidang ini. Padahal, beberapa tahun lalu, bisnis ini hanya bisa dijalankan oleh mereka yang memiliki modal besar. Perkembangan tekhnologi memberikan kemudahan bagi siapa saja yang mampu melihat peluang. Alhasil, siapa saja bisa membuka penerbitannya sendiri dengan modal yang cukup murah dan terjangkau. Tak heran jumlah penulis di Indonesia semakin banyak. Mereka yang mencintai dunia tulis-menulis tidak harus berjuang semaksimal mungkin untuk menjadi bagian dari penerbit mayor yang ada di Indonesia, sebab sudah hadir solusi lain, yakni penerbitan indie yang mampu menerbitkan buku apa saja dalam waktu singkat dengan biaya yang tidak seberapa besar.  

Hal inilah yang menjadi pemicu lahirnya penerbitan indie. Dampak positifnya, siapa saja bisa ‘melahirkan’ buku dengan mudah dan cepat asal memiliki modal yang cukup. Penerbit indie tidak sampai di situ saja. Mereka turut berjuang agar bisa memasuki distributor-distributor besar untuk memasarkan buku. Jadi, tak perlu heran melihat jumlah buku yang melimpah ruah di toko-toko buku besar.

Semakin banyak buku yang dipajang, maka semakin berat pula bersaingan untuk bertahan di ruang display tersebut. Buku-buku dengan penjualan lambat setelah berada di ruang display selama satu hingga tiga bulan, langsung ditendang dari toko buku. Bahkan nama besar penulis berkualitas bisa saja mengalami hal ini. Itu artinya, seorang penulis harus berlomba-lomba untuk menciptakan tulisan bermutu dan terus produktif. Penulis harus terus menulis dan menungkan ide-ide baru dalam tulisannya. Tujuannya agar penulis tetap bisa survive sebab memiliki banyak judul buku setiap tahunnya. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Perumpaaan ini juga berlaku bagi mereka yang memutuskan untuk menjadi penulis buku professional. 

Jika kamu hanya memiliki satu buku terbit dan mengharapkan buku itu terjual sebanyak sepuluh ribu eks dalam enam bulan di Indonesia, percayalah itu sangat sulit. Kecuali tulisanmu sangat fantastis dan kamu memiliki keberuntungan tingkat tinggi sehingga memiliki banyak pembaca. Berbagai promosi kamu lakukan, bahkan bila harus merogoh kocek sedalam mungkin.

Oleh sebab itu, menjadi penulis #BeMoreProductive adalah suatu keharusan. Jika ingin total dalam suatu pekerjaan, maka fokus dan produktiflah. #BeMoreProductive dalam menulis, #BeMoreProductive dalam promosi, #BeMoreProductive berkomunitas, #BeMoreProductive mencari ide-ide baru, dan masih banyak lainnya.

Menjadi seorang penulis #BeMoreProductive, berarti kamu harus mampu bekerja sama yang baik dengan banyak pihak. Sebut saja editor, penerbit, toko buku, pembaca, serta masyarakat luas yang mampu menjadikanmu seorang penulis produktif. Kerja sama yang baik ini mampu membuat penulis terus survive dan menjadi lebih baik lagi ke depannya.

Kamu harus menyadari bahwa sebanyak apa pun tulisanmu, bahkan bila orang-orang di sekitarmu mengatakan kalau tulisanmu sangat bagus, bila tidak dipublikasikan, maka hal itu tidak akan menjadikanmu penulis #BeMoreProductive. Bahkan seorang penulis yang telah diterbitkan bukunya, bila tidak mendapat apresiasi dari pembaca, maka karirnya bisa tumbang begitu saja.

Artinya, menjadi seorang penulis #BeMoreProductive tidaklah semudah mengedipkan mata. Ada tata cara dan aturan berlaku yang harus diketahui dan dilaksanakan dengan baik.

PENERBITAN BUKU DI INDONESIA
Penerbitan merupakan dunia yang sangat dinamis. Seiring berkembangnya teknologi, berbagai perubahan pun terjadi. Di Indonesia, penerbitan buku sulit mengalami perkembangan sebab tingginya biaya produksi, sedang daya beli masyarakat masih terbilang rendah. Belum lagi harga kertas yang selalu mengalami kenaikan dan menjadikan biaya produksi buku turut meningkat. Tak heran hanya buku-buku yang dibutuhkan masyarakatlah yang lebih banyak diproduksi dan menjadi tren dipasaran. Dampak negatifnya adalah banyaknya tulisan-tulisan bagus yang tidak dipasarkan sebab buku tersebut belum begitu dibutuhkan masyarakat. Ditambah dengan kualitas buku yang kian menurun sebab lebih mementingkan tren pasar.

Meski begitu, kita tetap harus bersyukur sebab masih banyak penerbitan besar di Indonesia yang mampu survive dan meyakinkan penulis Indonesia bahwa pekerjaan ini masih ‘layak’ untuk dijalani. Dalam satu bulan, buku terbit yang ada di Indonesia bisa mencapai angka 1.500 hingga 2.000 judul lho. Angka yang terbilang fantastis.

Punya ruangan kosong dan ingin kerja sama dengan XWORK? Tonton dulu video ini.



PENULIS BUKU DI INDONESIA
Masih banyak masyarakat awam di luar sana yang memandang aneh dengan sebutan profesi sebagai penulis. Saya sendiri mengalaminya. Ketika memutuskan untuk fokus menulis sejak tahun 2014, orang-orang di sekitar saya memandang aneh atas keputusan yang saya ambil. Bagi mereka, menjadi seorang penulis bukanlah profesi yang bisa menjamin kebutuhan hidup. Lain hal bila menulis untuk mengisi waktu luang semata. Menjadi seorang penulis professional bukanlah semudah membalikkan telapak tangan. Butuh kreativitas tingkat tinggi dan tantangan yang harus dijalani. Sama seperti pekerjaan lainnya.


Di Indonesia, ada beragam jenis penulis. Ada penulis makmur, ada pula sebaliknya. Sebenarnya apa pun profesinya, bila dilakukan dengan sungguh-sungguh, pasti membuahkan hasil yang baik. Hadapi semua tantangan dan rintangan selama menjalani suatu profesi. Insya Allah kelak sukses akan kamu raih.

Buku yang ditulis dengan baik, dari segi ide dan sebagainya. Bisa jadi tidak laku dipasaran. Sedang buku yang ditulis secara cepat, serampangan, penggarapan ala kadarnya, malah bisa melejit dan booming. Mengapa hal itu terjadi? Sebenarnya tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan ini. Tidak ada yang mengetahui mengapa buku bagus bisa jeblok, sedang buku picisan laris manis di pasaran.

Hal ini harus disadari oleh penulis Indonesia. Prediksi tren pasar tidak selalu tepat. Tak heran pasar buku disebut juga sebagai hutan rimba. Penulis, penerbit, distributor, tidak akan mampu meramalkan buku apa yang bisa laris manis di pasaran. Oleh karena itu, penerbit juga berharap agar penulis yang bukunya diterbitkan agar turut serta membantu memasarkan bukunya dengan gencar. Tujuannya agar penulis dikenal publik dan bukunya bisa menarik minat pembaca.

Andrea Hirata, Dewi Lestari, Mira W, Habiburrahman El Shirazy, Raditya Dika, Asma Nadia, dan berbagai penulis terkenal serta terkaya lainnya adalah mereka yang telah mencicipi suka dan duka dalam dunia kepenulisan. Tidak ada penulis baru yang langsung mencicipi ketenaran. Sama halnya dengan pekerjaan lain, semua butuh usaha dan kerja keras maksimal.

MENJADI PENULIS #BEMOREPRODUCTIVE
Mengapa seorang penulis harus produktif? Memangnya tidak bisa menulis satu buku saja dalam setahun? Bisa saja, asal buku tersebut dicetak ulang berkali-kali. Bila buku dicetak berkali-kali, tentu royalty yang didapatkan sudah bisa mencukupi kebutuhan hidup dalam satu tahun atau lebih. Nah, sayangnya menjual ratusan eks saja untuk satu buku susahnya minta ampun, bagaimana mungkin hanya menuliskan satu buku dalam satu satu tahun? Semakin banyak buku terbit dalam satu tahun, maka akan semakin besar royalty yang diterima. Intinya, tidak hanya fokus menulis, namun seimbangkan juga promosinya.

Menulis satu buku saja susah. Bagaimana bila harus menulis buku lainnya? Ala bisa karena biasa. Manajemen waktu dan disiplin dalam menulis. Awalnya pasti terasa sulit. Namun seiring berjalannya waktu, apalagi bila dilakukan dengan ikhlas dan sungguh-sungguh, pasti tak lagi terasa sulit.

BUTUH RUANG MEETING? XWORK SAJA!
Sumber gambar: https://xwork.co/blog/lomba-blog/

Menjadi seorang penulis, kadang kala akan tiba saatnya kita membutuhkan ruang meeting bersama kolega. Daripada sibuk mikirin #RuangMeeting terbaik, mengapa tidak XWORK saja? Ada banyak pilihan dengan beragam harga yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Pengalaman saya yang tinggal di Padangsidimpuan—salah satu kota kecil di Sumatera Utara, sangat sulit menemukan ruang meeting bersama teman-teman penulis. Seperti beberapa saat lalu, ketika kami hendak mengadakan lomba menulis. Beruntunglah kita sebab #XWORK hadir sebagai solusi.

Sumber gambar: https://xwork.co/blog/lomba-blog/

Sebenarnya apa sih XWORK itu? XWORK adalah starup di Indonesia yang menyediakan meetingroom, office room, co-working room, event space, dan virtual office. XWORK tidak hanya ada di ibukota, namun juga hadir di 1.200 lebih ruang yang tersedia di XWORK. Selain itu, XWORK juga hadir dengan membawa kemudahan. Salah satunya kemudahan dalam bertransaksi yang menggunakan sistem SSL. Pemesanan juga bisa dilakukan kapan saja, dengan harga terbaik tanpa tambahan biaya lainnya sebab harga sudah termasuk pajak.

Ketika kamu memesan meeting room di XMORK, maka XWORK akan menjadi pihak ketiga yang mencari business space yang mendukung penulis menjadi #BeMoreProductive. XMORK juga mampu mengorganisir event mingguan atau bulanan, ditambah dengan persediaan makanan dan juga coffee break. Jadi, jangan takut lapar ketika melakukan meeting.

XWORK IN MOBILE
Ada yang baru nih! Bagi kamu yang malas akses XWORK via website, kamu tinggal download aplikasinya di PlayStore, lho. Siapa sih yang tidak memiliki android zaman now? So, download aplikasinya dan pesan ruang meeting, ruang kantor, co-working space, atau ruang apa pun yang kamu inginkan. Hitungan menit, kamu akan berhasil mendapatkan ruang idamanmu. 


Tampilan ketika membuka aplikasi XWORK pada mobile

Pilihan ruangan yang bisa dipesan pada XWORK 



Contoh pemesanan ruang meeting melalui XWORK di Medan Marelan

Gimana? Gampang sekali cara pemesanannya, kan? Lakukan transaksi, ruang yang kamu inginkan pun bisa kamu dapatkan. 
#BeMoreProductive? XWORK-in saja!

Kamis, 17 Mei 2018

Cerpen Eva Riyanty Lubis, dimuat pada Tabloid Gaul edisi 23 Tahun XI, 11 - 17 Juni 2012.
***
Sumber: https://pixabay.com/en/time-fantasy-dark-gothic-woman-3393818/


Namaku Lucky Lubis. Singkat jelas dan padat bukan? Aku juga terkadanng dongkol dengan namaku ini. Pertama, nama Lucky biasanya dipakai oleh laki-laki. So, I am a girl! Kedua, tidak ada embel-embel lain di belakang nama Lucky. Simple bukan? Kalau Lubis, itu margaku. Ayah turunan Batak Mandailing yang sedari remaja sudah merantau ke Jakarta. Sedang ibuku asli Betawi. Dalam Batak, anak akan mewarisi marga ayahnya. So, inilah namaku sekarang.
            Sempat kesal karena kebanyakan orang yang belum pernah mengenali wajahku pasti merasa kalau aku ini laki-laki. Huft. Dasar ayah dan ibuku pelitnya minta ampun ngasih nama. Entah dapat wangsit apa mereka dulu pas menamaiku.
            “Pa, Ma, Lucky ganti nama dong,” ucapku suatu kali ketika kami tengah makan malam bersama. Mereka berdua menatapku sambil mengernyitkan kening.
            “Lucky sering diejek di sekolah. Capek tau, Ma,” Aku menatap mereka penuh harap.
            Please ya, Ma, Pa. Kita potong kambing buat ganti nama Lucky. Mau ya?” Kupasang muka memelas.
            “Tidaaaaaaaaaak!!!” jawab mereka serentak. Gila, ini orang tua kompak banget ngucapinnya. Mana suaranya kencang.
            “Jangan teriak-teriak dong. Kalau Papa nggak masalah. Wajar orang Batak. Nah, ini Mama ikut-ikutan juga. Kuping Lucky sakit tau!” Aku ngedumel. Tapi mereka tidak menggubrisku sama sekali. Aku menatap mereka bete kemudian beranjak menuju kamar. Tempat setia yang selalu menampung keluh kesahku. Tanpa kusadari, sebenarnya mereka terkikik dengan tingkah lakuku tadi.
*
            Aku berjalan menuju ruang kelasku yang terletak paling sudut di sekolah ini. Dan seperti biasa, mereka selalu tidak pernah bosan mengatakan kalimat yang itu-itu saja. Bikin mata dan otakku gerah. Grrrrhhh....
 “Lucky.... Lucky.... Foto bareng yuk!” Ini suara si Mey Mey. Ratu gossip SMA Merah Putih.
“Lucky Sayang, udah sarapan belum? Cinta masak rendang kesukaanmu lho.” Cewek manis itu mengerlingkan matanya ke arahku. Uhh…. Ini kakak kelasku yang erornya minta ampun. Emang dia pikir aku lesbong apa?
“Lucky, aku daftar jadi asistenmu dong. Ngelap keringat juga nggak apa-apa. Boleh ya?”
“Malam minggu nanti jalan bareng Dina ya, Ky....”
“Ky, nanti temani aku ke mall dong. Aku traktir apa aja yang kamu mau.”
Aku menatap mereka satu persatu dengan tatapan tajam. “Kalian ribut banget sih! Nyebelin! Pagi-pagi udah buat moodku rusak. Minggir semua!”
Kalimatku berhasil membuat mereka menjauh hingga akhirnya aku bisa dengan leluasa melangkah ke dalam kelas.
Icha, teman sebangku sekaligus sahabatku sudah menunjukkan senyum simpul ke arahku.
“Kenapa senyum-senyum? Senang ngeliat aku menderita?” Aku menatap gadis gembul itu dengan tampang kesal.
“Salah sendiri. Harusnya kita barengan tadi datangnya. Kan bisa kuhajar mereka,” ucapnya dengan semangat empat lima.
Sorry, tadi agak telat bangun.”
“Ya rasain tuh akibatnya. Hehe….” Dia terkikik menatap wajahku yang setengah ditekuk.
Oh ya, aku seorang vokalis band remaja yang sedang naik daun di Jakarta. Kala itu nggak sengaja aku sering ngunggah video nyanyiku di you tube. Dan ini nih akibatnya. Banyak cewek yang selalu datang menyerbuku. Yapz, cewek! Karena dandananku tak jauh beda dengan cowok. Aku kurus, tinggi, dan dada lumayan rata. Sebenarnya sedikit menyedihkan. But, it’s me! Ditambah lagi dengan namaku yang beraroma cowok. Komplit deh! Sebahagian fansku malah tak percaya kalau sebenarnya aku ini cewek. Meski rambutku panjang lho. Uh....
“Kalau begini terus kapan aku punya cowok? Kapan aku bisa beruntung seberuntung namaku?” jeritku dalam hati.
*
            “Lucky, kamu sudah siap dengan lagu barumu?” tanya Pak Chogah. Manager band kami.
            Aku mengangguk. Ini kali pertama aku menyanyikan lagu sendu, malah ciptaanku sendiri. Sebelumnya aku selalu membawakan lagu yang temponya sangat cepat.
            Balai Sarbini dipadati penonton. Yap, kali ini kami sedang launching album kedua kami yang berjudul “Lucky Girl”. Hampir keseluruhan lagunya mengisahkan tentang wanita.
Everytime I try to fly I fall
Without my wings
I feel so small
I guess I need you baby 
And everytime I see
Your in my dreams
I see your face
Its haunting me
I guess I need you baby[1]
            Seluruh penonton turut bernyanyi bersamaku. Dan beberapa di antara mereka meluruhkan air mata karena laguku ini. Inilah saat-saat mendebarkan yang kurasakan tatkala aku menyanyi di depan banyak orang. Sebab terkadang aku masih takut apa laguku tersampaikan kepada mereka.
*
            “Sukses! Kalian hebat.” Pak Chogah menyalami kami setelah selesai melakukan pertunjukan di atas panggung.
            “Kamu luar biasa, Lucky. Sempurna!” Pak Chogah semringah tatkala menyalamiku.
            “Bapak berlabihan,” ucapku pendek.
            “Oh ya, ada kejutan buatmu. Kamu diajak kerja sama dengan Daniel Alfian. Cowok remaja yang usianya sama denganmu dan dia juga terkenal lewat you tube. Asal Francis itu lho. Kamu pasti sudah tau itu. Pokoknya persiapkan dirimu. Lusa kalian bertemu di studio rekaman kita.”
            Aku melongo. Daniel Alfian, cowok yang akhir-akhir ini menjadi pencarian nomor satu di dunia maya hendak bekerja sama denganku. Mimpi apa aku semalam? Dengar-dengar tak lama lagi dia akan terkenal seperti Justin Biebier. Suaranya yang merdu juga disebut sebagai suara malaikat. Meski tak seorang pun yang tahu suara malaikat itu seperti apa.
*
            “Lucky, Daniel Alfian akan datang ke Jakarta. Please minta tanda tangannya sama aku. Please!” Icha memandangku penuh harap.
            “Ih, biasa aja kali. Emang apa spesialnya dia? Gantengan juga Justin,” Jawabanku membuat gadis gembul itu mewek.
            “Iya, iya. Nanti aku mintain tanda tangannya. Sekalian fotonya bila perlu. Lagian udah punya cowok kok masih idolain cowok lain sih?” tanyaku ngedumel.
            “Cemburu ya?” Icha akhirnya kembali kesifat asalnya. Tawa renyahnya mulai tampak dan kini ia sedang menertawanku.
            “Makanya cari cowok dong, Ky!” katanya sembari kembali terkikik.
            Uhhhh…. Dasar Icha! Dia nggak tahu apa nggak nyadar sih kalau aku sebenarnya lebih tampan dari cowok?
*
            “My name is Daniel,” Cowok itu menyalamiku.
            Omaigot. Dia jauh lebih tampan dari perkiraanku. Aura kharismatiknya juga keluar. Membuatku sedikit menciut berada di sampingnya.
            Dia pun mengatakan kalau dia ingin bernyanyi bersama denganku. Lebih tepatnya duet. Katanya dia sudah mengetahui suaraku sebelum aku benar-benar terjun di dunia entertainment.
            “Kenapa harus aku? Banyak yang suaranya lebih bagus dariku di luar sana,” tanyaku tatkala tinggal kami berdua yang ada di ruangan itu.
            Dia tersenyum tipis. Namun menurutku sangat manis.
            “I like you,” ucapnya kemudian yang akhirnya berhasil membuat tampangku melongo setengah mati.
            “You’re face is so funny, Lucky,” katanya masih dengan senyum mengembang di sudut bibirnya yang tipis.
            “Ih, kamu nyebelin deh! Udah-udah, jangan ngomong itu lagi.”
*
            Malam itu Daniel Alfian membuka konsernya dengan sangat fantastis. Karena aku akan menjadi rekan duetnya, maka aku bebas masuk ke ruangan itu tanpa membayar tiket. Malah dapat kelas VIP.
            “Selamat malam Indonesia,” ucapnya fasih. Beberapa orang memandanginya takjub. Pun demikian dengan aku.
            I must say something to you. I love an Indonesian girl. Because her, I can stand up in front of you. She is my star. Aku pertama kali bernyanyi setelah mendengar suaranya di you tube. After that, aku mencari tahu keberadaannya. I also study Indonesian language. And now, I find her. Lucky, I love you more than you know.”
            Tepuk tangan membahana. Sorot lampu seketika menyapaku sedang yang lainnya menjadi gelap. Aku langsung berdiri. Kaku. Dan cowok tampan itu kini berjalan mendekatiku. Ya ampun. Apa dia tidak salah ucap? Please, someone sadarkan aku!
            I love you whatever you are. Aku mencintaimu karena dirimu. Believe me, please!” Tak ada kebohongan tampak di mata birunya. Parahnya, dia telah berhasil membuatku menganggukkan kepala. Hingga kemudian dia membawaku ke dalam pelukannya yang hangat. Penonton riuh. Ada yang bertepuk tangan, dan pasti ada juga yang mencibir. Sedangkan aku harus mengendalikan detak jantungku yang berpacu hebat, tak seperti biasanya.
*
            “Lucky, setelah Mama pikirkan, memang seharusnya namamu diubah. Luna, Emily atau Karina sepertinya bagus. Bagaimana, Pa?”
            “Boleh, Papa setuju. Lucky memang terkesan maskulin.”
            “Tidaaaaaaaaaaaaaaak!!!” Aku berteriak dan seketika mereka menutup kedua telinganya masing-masing.
            “Jangan teriak-teriak dong, Lucky!” omel ibu dengan kening berkerut.
“Turunan Papa, nggak apa-apa,” balas ayah yang seketika melanjutkan suapan ke dalam mulutnya.
            “Tak ada seorang pun yang boleh ganti nama Lucky. Titik!!”  
Mereka berdua terkikik mendengar pernyataanku.
            “Aih, pasti karena si ganteng Daniel. Kapan dia kesini lagi? Mama kangen lho sama calon menantu,”

Senin, 14 Mei 2018


Cerpen Eva Riyanty Lubis, dimuat pada Harian Medan Bisnis rubrik Karya Belia. Minggu, 03 Juni 2012.
***
Sumber: https://pixabay.com/en/italy-venice-gondolas-invitation-3367960/

            “Tiga tahun lagi. Setelah kau dan aku telah menjadi sarjana, kita bertemu di tepi sungai Venesia.“
            “Haruskan aku yang datang menghampirimu? Bagaimana kalau kita bertemu di Indonesia saja? Kampung halaman kita? Atau kamu yang datang menghampiriku?”
            “Aku bekerja sambil kuliah. Tidak bisa cuti. Harusnya kamu tahu itu.“
            “Ok. Aku mengerti. Aku akan datang.“
            Itu ucapannya padaku. Alex, lelaki yang telah mencuri hatiku sejak SMA. Aku bahkan mencintainya lebih dari apapun. Tamat SMA, kami harus berpisah. Aku ke Australia, sedangkan dia ke Italia. Tetapi hal itu tidak memudarkan cintaku padanya. Malah menurutku semakin luar biasa. 
***
            Aku begitu bahagia tatkala tiba di tempat yang kami janjikan tiga tahun lalu. Aku membalikkan badan untuk memandang sungai yang dipenuhi perahu gondola. Tampaknya begitu banyak pasangan yang naik perahu tersebut. Mereka kelihatan bahagia. Ada rasa cemburu dalam hatiku. Tetapi segera kutepis. Sebab aku yakin, beberapa menit lagi aku juga akan merasaka hal yang sama. Pipiku memanas tatkala membayangkannya.
            Sejam. Dua jam. Tiga jam. Hingga malam pun menjelang, Alex tak jua muncul. Sudah puluhan sms yang kuberi padanya, tetapi tak ada satupun yang dibalas. Ku telepon, malah tidak diangkat. Aku benar-benar kesal. Beberapa menit kemudian air hangat telah mengalir dengan pelan dari pelupuk mataku.
            Ciao, Nessuno che mi può aiutare?[1]” seseorang menepuk pundakku. Aku menatapnya dengan perasaan tidak menentu. Antara kesal dan lega. Kesal karena bukan Alex yang datang. Dan lega ternyata masih ada orang yang menghampiriku. Sebab tempat ini mulai tampak sepi.
            Perché[2]?” dia tampak khawatir. Kelihatan dari sorot matanya. Aku menggeleng. Sejujurnya aku tidak bisa berbahasa Italia.
            English, please!” ucapku pelan. Akhirnya keluar juga kalimat dari mulutku.
            “Ok. Apa yang Nona lakukan di sini? Hari sudah malam. Tidak baik sendirian.”
            Bukannya menjawab, tangisanku malah semakin pecah. Dia tampak kebingungan. Beberapa menit kamudian aku sudah berada dalam pelukannya.
            “Aku tidak tahu kenapa kamu menangis. Tetapi kamu lebih baik menangis dipelukanku dari pada menangis sendirian di pinggir sungai ini. Aku tidak mau orang berpikir macam-macam tentangmu.”
            Aku kaget. Tetapi entah kenapa perlakuannya kepadaku membuatku merasa nyaman. Aku bahkan betah berlama-lama di sana. Sampai bayangan wajah Alex muncul, barulah aku tersadar dan seketika menarik diriku. Kuseka sisa air mata yang masih menempel.
            “Apakah kamu sudah merasa lebih baik?”
            Aku mengangguk. Kuberi dia senyuman walau aku yakin dia pasti tahu kalau senyumku itu merupakan senyum terpaksa.
            Dia balas tersenyum. Senyumnya begitu indah. Membuatku terpesona. Padahal ini tidak pernah terjadi sebelumnya kecuali kepada Alex.
            “Mari, aku akan membawamu ke suatu tempat.” Dia mengamit lenganku tanpa menunggu persetujuan dariku.
            Ternyata, dia membawaku berkeliling Venesia. Terasa lelah karena kami berjalan kaki, namun aku sangat menikmati. Sebab semuanya terbayar dengan keindahan kota Venesia yang begitu menakjubkan. Dia bak guide, menjelaskan setiap inci kota tersebut.
            Lampu temaram menyinari kubah-kubah gereja dan berbagai bangunan kuno sampai jembatan. Keriangan canda tawa dan alunan musik klasik datang dari berbagai kedai yang berjajar sepanjang tepi kanal. Sebuah atmosfer sempurna untuk menggambarkan Venesia di suatu malam musim panas.
            Harusnya Alex yang berada di sisiku saat ini. Berdua menikmati kota romantis. Tetapi entah mengapa, aku juga tidak merasa kecewa dengan kehadiran lelaki misterius itu. Setelah kuamati lebih jauh, ternyata perawakannya tidak jauh beda dengan Alex. Mukanya mirip dengan Kim Hyun Joon. Aktor Korea kesukaanku. Dan sudah kupastikan lelaki misterius itu juga berasal dari Korea. 
            “Apa kamu sudah capek?”
            Aku menggeleng.
            “Hebat, hampir sejam berjalan kaki kamu tetap kuat.” Dia tertawa kecil.
            “Aku bukan wanita manja.”
            “Ya, aku tahu.” Masih dengan tawa kecilnya.
            “Aku ingin mengajakmu naik perahu gondala. Bagaimana?”
            Aku tersenyum lebar dan secepatnya menangguk.
            Kini kami telah berada di atas perahu gondala. Benar-benar romantis. Apalagi kami hanya berdua. Suasana malam dengan lampu temaram di sepanjang sungai membuatku merasa sangat beruntung bisa berada di sini.
            “Siapa namamu?”
            “Bella.” Aku menjawab tanpa memandang ke arahnya. Pikiranku benar-benar terhipnotis dengan keindahan alam di sekitarku.
            “Untuk apa kamu kemari?”
            “Bertemu dengan kekasihku. Tetapi dia tidak kunjung...” belum sempat aku melanjutkan perkataanku, sosok Alex yang telah membuatku kecewa kembali merasuki pikiranku.
            “Ok. Aku mengerti. Jadi, apa kamu masih mencintainya?”
            “Cintaku tidak akan pernah luntur. Kamu tahu, aku sangat mencintainya.” Aku mulai terisak.
            “Hellow, aku tidak ingin kamu bersedih. Ayolah Nona imut, bersenang-senang denganku.” Aku bisa melihat lesung pipinya dengan jelas walau dengan lampu yang temaram. Hal itu yang membuatku kembali tersenyum.
            “Loh, ada yang lucu?”
            “Kamu. Siapa namamu?”
            “Kim Gu. Aku dari Korea.”
            “Aku tahu kamu dari Korea.” Aku tersenyum. Dia memicingkan matanya.
            “Parasmu tidak bisa menipu.” Aku mengedipkan mataku yang dibalas dengan tawa kecilnya.
            “Aku selalu berharap bisa menaiki perahu gondala dengan Alex. Itu pasti sangat romantis.” Aku bergumam pelan.
            “Tidak cukupkah aku di sampingmu?”
            “Kamu bukan Alex. Walau dia tidak pernah perhatian denganku, tidak pernah memujiku, tidak pernah perlakukan aku dengan romantis, aku tetap mencintainya. Aku tidak bisa melupakannya.”
            “Kamu yakin dia mencintaimu? Kalian tinggal di tempat yang berbeda bukan?”
            Aku mendesah, panjang.
            “Kami dijodohkan. Aku menerimanya. Aku langsung tertarik begitu aku berjumpa dengannya. Aku tidak tahu dia mencintaiku atau tidak. Dia tidak pernah menyatakannya. Tetapi dia tidak menolak perjodohan itu. Makanya aku berharap banyak padanya. Tamat SMA kami kuliah di tempat yang berbeda. Meski begitu, aku selalu menghubunginya.”
            “Mungkin kamu benar. Dia tidak pernah mencintaiku. Tidak pernah ada tanda-tanda dia menyukaiku. Tapi harusnya dia tidak boleh memberiku harapan kalau dia tidak menyukaiku,” aku menambahkan.
            “Lalu apa tujuanmu ke sini?”
            “Dia ingin mengatakan sesuatu. Di tepi sungai Venesia. Tapi yang ada malah kamu di sini,”
            “Aku menyukaimu, Bella. “
            Aliran darahku seakan berhenti. Jantungku berdetak tidak menentu. Kurasakan kalau wajahku telah memerah. Beberapa menit kemudian, sebuah kecupan hangat mendarat di keningku. Rasanya begitu indah. Jujur, aku menikmatinya. Hal yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.
            “Kim...” aku menatapnya dengan perasaan tidak menentu. Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke handphoneku. Dari Lisa. Bibiku.
            “Bella, Alex telah menikah dengan gadis Korea tahun lalu. Dia lelaki bejat. Lupakan dia. Pulanglah....”
            Handphone jatuh dari genggamanku. Kulihat Kim memungutnya. Aku juga tahu kalau dia membaca isi pesan tersebut.
            “Aku ingin mengatakan kalau aku sebenarnya adik ipar Alex, dan aku...”

Sumber: LifeLoe.NET

You Drive Me Crazy adalah drama spesial berjumlah empat episode,  yang masing-masing episode berdurasi kurang lebih 30 menit. Drama ini dibintangi oleh Lee Yoo Young sebagai Han Eun Seong dan Kim Sun Ho sebagai Kim Rae Wan.

Drama ini bercerita tentang dua orang sahabat,  laki-laki dan perempuan. Kim Rae Wan seorang pelukis dan Han Eun Seong seorang penerjemah Prancis. Persahabatan delapan tahun yang mereka jalani diguncang dengan prahara 'tidur bersama'. Dua bulan berlalu,  Eun Seong kembali menemui Rae Wan di rumahnya. Dengan dalih rumah sedang mengalami masalah,  Eun Seong ingin 'nginap' beberapa malam di rumah lelaki berlesung manis itu.

Canggung sudah pasti ada. Rae Wan sebenarnya seorang playboy,  sedang Eun Seong hanya pernah memiliki satu kisah percintaan dengan seorang lelaki,  yang kini telah menikah dan memiliki anak.

Mereka mencoba bersikap biasa,  namun tidak bisa. Suatu malam,  sehabis minum,  Eun Seong mengajak Rae Wan mengambil buah persik. Terbawa suasana ketika Eun Song berhasil mengambil persik,  keduanya malah berciuman. Pertama Eun Seong,  berhenti,  eh malah diulangi Rae Wan.

Percekcokan pun terjadi. Di tengah jalan,  keduanya bertemu cowok tampan dengan gitar dipunggungnya.  Ia adalah teman Rae Wan yang berprofesi sebagai musisi, dan ternyata Eun Seong mengidolakannya. Cowok itu bernama Yoon Hee Nam.

Sumber: http://asianwiki.com/You_Drive_Me_Crazy!_(Drama_Special)

Flashback dua bulan sebelumnya. Eun Seong dan Rae Wan sedang minum sembari nonton berdua di rumah si cowok. Eun Seong galau berat karena ditinggal kekasih menikah tepat di hari ulang tahunnya. Padahal mereka telah pacaran lima tahun lamanya. Nah,  di sinilah 'insiden' itu terjadi. Si cewek mengatakan kalau hal itu tidak perlu diingat-ingat lagi. Tapi dari tatapannya,  si cowok tidak bisa melakukannya. Ia sudah jatuh cinta pada Eun Seong, tapi Eun Seong tidak menyadarinya.

Seiring berjalannya waktu,  barulah hati menemukan jawabannya. Akankah cinta mereka bersatu? 

Tre Deng Deng.......

Yang mau jawabannya,  sila ditonton drama mini ini. Kalau kata saya sih agak membosankan. Untung oppanya manis. Apalagi lesung pipi di wajahnya. Ihhhhhh gemessss! Ending juga tidak terlalu memuaskan kalau kata saya, mah. Terlalu gampang ditebak. But, drama spesial dari MBC ini lumayan buat menemani waktu luang. 


Minggu, 13 Mei 2018

Cantiknya Padmaavat
Sumber : Something Haute

Padmaavat adalah salah satu film India yang berhasil mengundang kontroversi. Maklum saja,  film ini bercerita tentang Alauddin Khilji, seorang raja Muslim pada abad ke-16 yang jatuh cinta kepada Padmavati, istri Raja Ratan Singh yang menganut agama Hindu.
Padmaavat kembali mempertemukan Ranveer Singh dan Deepika Padukone, setelah sebelumnya berhasil mensukseskan film berlatar belakang sejarah,  Goliyon Ki Raasleela Ram-Leela dan Bajirao Mastasi.

Selain Deepika dan Ranveer,  film ini juga dibintangi oleh Shahid Kapoor yang berperan sebagai suami sekaligus Raja Ratan Singh.

Sumber : Firstpost

Dengan durasi 163 menit,  penonton dimanjakan dengan efek film yang menurut saya lumayan menarik. Belum lagi acting Ranveer Singh sebagai seorang raja yang keras,  tegas,  dan selalu berusaha semaksimal mungkin mendapatkan apa yang ia mau,  meskipun dengan cara tidak halal. Untuk menjadi seorang raja, Sultan Alauddin Khilji membunuh dengan keji Sultan sebelumnya. Padahal Sultan tersebut merupakan mertuanya lho,  guys. Kebayang gimana sedihnya perasaan sang istri. Tapi sang istri tetap berusaha tegar meskipun sang ayah telah tiada, ditambah fakta bahwa sang suami ternyata tidak mencintainya.

Di daerah lain,  Raja Ratan Singh dan Padmaavat hidup bahagia. Raja Ratan Singh adalah seorang raja yang bijaksana,  sedang sang ratu begitu pintar,  elegan,  berkelas,  dan cantik! Meskipun Padmaavat merupakan istri kedua.
Lagian siapa sih yang meragukan kecantikan Deepika?  Menurut saya kecantikannya kian terpancar bila memainkan peran berlatar belakang sejarah. Baju-bajunya,  bo!  Elegan dan glamor banget. Pas ditubuhnya. Perfect!

Padmaavat merupakan salah satu film mahal yang pernah dibuat cineas India. Tapi kalau menurut saya,  Ram-Leela masih jauh lebih menyentuh hati.

Di sini,  Ranveer Singh sangat mendominasi. Perannya yang tergolong 'brutal' dimainkan dengan apik. Belum lagi tampilan wajah serta fashionnya yang menurut saya oke punya.

Karena suatu hal,  Alauddin Khilji menginginkan Padmaavat. Padahal ia sudah punya istri,  sedang Padmaavat memiliki suami. Berbagai cara termasuk berperang pun ia lakukan untuk bisa menemui Padmaavat. Tentu saja sang suami geram. Apalagi di masa itu seorang ratu tidak boleh keluar dari kerajaannya apalagi bertatap muka dengan lelaki dari luar kerajaan.

Padmaavat mulai dapat banyak scene hampir di pertengahan cerita. Ia berjuang untuk membebaskan suaminya yang ditahan Alauddin di kerajaannya. 

Sumber: Australasian Muslim Times

Ending cerita lumayan menegangkan. Setelah Raja Ratan Singh berhasil dibunuh oleh Alauddin,  Padmaavat beserta seluruh perempuan di istana tersebut melakulan Jauhar,  yakni pengorbanan diri secara massal untuk menghindari perbudakan dan perkosaan.

Mereka membakar diri karena pasangan mereka kalah di medan perang.  Hal itu juga termasuk salah satu bukti kesetiaan mereka pada suami.

Kasihan sekalilah si Alauddin ini. Udah perang mati-matian,  eh tak jua bisa memiliki Padmaavat. Itu artinya,  jangan terlalu egois. Kalau udah ada kata 'terlalu',  pasti endingnya not good.

Follow Me @evariyantylubis