Rabu, 26 Juli 2017

Fitri Haryani: Gadis Cantik Multitalenta

Sumber gambar: pixabay.com

Bila ada yang bertanya tentang siapa salah satu remaja sukses dari Padangsidimpuan—Sumatera Utara—yang berhasil membuktikan bahwa kemiskinan bukanlah salah satu alasan untuk meraih mimpi, maka nama Fitri Haryani Nasution bisa menjadi jawabannya. Remaja yang lahir di Padangsidimpuan, 03 Maret 1996 ini memutuskan untuk hijrah dari Padangsidimpuan setelah menyelesaikan sekolah menengah atas.
            Diterima lewat jalur PMDK pada salah satu universitas terkemuka yakni Unversitas Sumatera Utara (USU), membuatnya kian bersemangat untuk meraih mimpi. Namun semua tidak berjalan mulus seperti yang ia duga. Kepergian sang ayah delapan tahun yang lalu masih menyisakan duka mendalam. Apalagi sang ibu hanya membuka warung kecil-kecilan di depan rumah dengan modal seadanya, yang terkadang malah tidak mendapat banyak keuntungan sebab besarnya kebutuhan hidup sehari-hari.
            Tuhan memang selalu adil. Mengingat masa kecilnya yang terus selalu berjuang untuk meraih mimpi. Pergi ke sekolah tanpa jajan tidak menjadi masalah. Pun ketika ia memohon kepada ibunya agar ibunya tidak menyerah pada impiannya disebabkan oleh materi.
            Saat itu, kondisi ekonomi keluarganya tidak mencukupi untuk membiayai uang kuliahnya yang berjumlah Rp.500.000 dalam satu semester. Bayangkan, hanya Rp.500.000 /semester, keluarganya tidak memiliki uang sebanyak itu, sementara adik lelakinya yang paling kecil, Fahrul Mulia akan masuk SMP pada saat yang sama. Di tengah kebingungan dan kegalauannya, dia membanting tulang sembari menunggu pengumuman selanjutnya dari kampus pasca lulusnya dia dalam jalur PMDK.
            Dia bekerja menjadi buruh kasar di salah satu pabrik minuman mineral di kotanya. Dia harus memasangka tutup demi tutup air mineral tersebut dan mengepak gelas minuman itu dalam karton. Begitulah hingga sampai satu bulan dia bekerja, dia digaji dengan uang yang masih tidak cukup juga untuk ke Medan, untuk ke USU, untuk ke kampusnya menggapai mimpi dan gelar pendidikan yang selama ini dia idam-idamkan. Dia mendapat gaji hari itu Rp. 400.000 dengan tangan yang sudah mengelupasi karena terlalu lama terkena air, dia pulang dengan wajah yang lemah.
            Dia pulang dengan berjalan kaki, karena jarak dari pabrik air minuman itu dekat dengan rumahnya. Hanya berjarak dua ratus meter. Lalu, di tengah perjalanan merenungkan apakah dia akan mengambil kesempatan ke Medan atau tidak, sambil merenungkan gaji empat ratus ribu yang baru saja dia terima, sebuah pesan masuk ke handphonenya.
            Selamat sore Mbak Fitri. Saya Munnal, sekretaris penerbit Diva Press.     Saya ingin mengabarkan, kalau fee untuk naskah novel “Diamond Village” sudah ditransfer yah.
            Cukup dengan kata-kata itu, membuat senyuman di wajah manisnya. Dia kembali bersemangat dan impian serta cita dalam khayalannya seolah-olah telah menjadi kenyataan di hadapannya.  Dia berlari menuju rumahnya dan memeluk Ibu, kakak serta adiknya. Besok harinya adalah hari terakhir untuk membayarkan uang kuliah satu semester sebagai mahasiswa baru, Fitri langsung menghubungi Kakak kelasnya untuk membayarkanya dahulu, karena waktu itu harus langsung dibayarkan di Bank yang bersangkutan di Medan. Dan Alhamdulillah, Allah Maha Besar, melapangkan jalan hambanya yang punya impian dan harapan. Kakak kelasnya membantunya dengan mudah saat itu. Uang dua juta sebagai hasil  menulis novelnya, dibayarkan lima ratus ribu untuk uang kuliah,  lima ratus ribu untuk uang sekolah Fahrul, sisa satu juga lagi untuk berangkat ke Medan.
            Saat inilah peran Ibu sangat besar bagi Fitri. Ibu menemaninya menemui adik Ibu yang dia sebut sebagai etek[1]nya. Di rumah eteknyalah Fitri tinggal sembari merajut asanya sebagai mahasiswa baru USU, saat itu.
            “Di mana ada kemauan, di situ ada jalan.” Kalimat itu benar adanya. Puji syukur tak terkira Fitri panjatkan kepada Sang Pencipta sebab ia berhasil menjejakkan kaki di kampus impiannya, pada jurusan Antropologi. Meski harus tinggal dengan saudara yang jaraknya tergolong jauh ke kampus, Fitri tidak peduli. Meski tidak memiliki uang jajan seperti kebanyakan teman-temannya, Fitri juga tidak peduli. Ia meyakinkan hatinya bahwa semua ini akan indah pada waktunya. Semua rasa lelahnya untuk menuntut ilmu pasti terbayar lunas.   
            IPK memuaskan yang ia raih, membuat Fitri menjadi salah satu mahasiswi yang berhasil menerima beasiswa PPA dan PKPU. Disela banyaknya aktivitas kuliah dan komunitas yang diikuti, Fitri juga berhasil mengembangkan hobinya yakni menulis. Beberapa cerpen dan puisinya telah diterbitkan pada harian lokal. Sedangkan buku yang berhasil ia tulis, yakni:
·      Novel Diamond Village (Diva Press, 2013).
·      Novel Love in the Dark nest Palace (Pena House Publisher, 2016).
·      Novel Diamond in Earth (WA Publisher, 2017).
·      Buku Panduan Pencak Silat (2017).
101 Dongeng Sebelum Bobok (Coming Soon, Diva Press).

Fitri Haryani Nasution
Sumber gambar: Facebook Fitri Haryani 

Selain prestasi menulis, prestasi lain yang ia dapatkan selama kuliah antara lain:
·      Juara 1 Lomba Menulis Cerpen Tingkat Fisip USU, 2014.
·      Juara 1 Lomba Debat Demokrasi dan Pemilu, 2014.
·      Juara I Mawapres FISIP USU, 2015.
·      Juara 3 Pidato Bahasa Inggris Tingkat Nasional, 2016.
·      Surveyor Pilkada Aceh oleh Metro TV, 2016.
·      Eminator Survei Pasar Raya MMTC.
            Fitri merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Dua kakak perempuannya sekarang sudah bekerja. Kakak pertama bernama Rizki, menjadi guru pada salah satu sekolah swasta. Kakak kedua bernama Lenni, bekerja sebagai karyawan Indomaret. Sedangkan adik bungsunya bernama Fahrul, kini duduk di bangku SMK.
            Ekonomi keluarga mereka memang belum sepenuhnya membaik. Namun selangkah demi selangkah, Fitri berkeyakinan kalau ia pasti bisa meraih kesuksesan dan berhasil membuat bangga orangtua, juga kakak serta adiknya.
            Saat ini Fitri sudah berhasil menyelesaikan sidang dengan gelar S.Sos yang ia dapatkan. Jalan untuk meraih kesuksesan masih panjang. Masih ada banyak mimpi yang ingin ia raih. Diantaranya menjadi penulis fantasi terfavorit, memiliki bakery and cake shop, membuka salon, dan penerbitan.
            “Don’t waste your time, thinking positive, and believe God. Law of attraction is real. Hidupmu adalah hasil dari yang kamu pikirkan. Jadi, selalulah berpikir apa yang kamu inginkan. Never give up dan selalu bersyukur,” ujar Fitri memberi pesan kepada teman-teman di luar sana agar selalu berjuang untuk menggapai mimpi.[]
❤Eva Riyanty Lubis❤
Padangsidimpuan, 22 Mei 2017.




[1] Bibi

4 komentar:

  1. Omg. It makes me shy. Thank you for this memorable story. Yes. Thats true, law of attraction. What you want you will get it as long as you do effort and thinking positive. Thank you for your writing makes this story immortal sis^_^. It makes me cry to read this story.
    Ps. I ever dream as a banker. And I always think that. now I will start to build my dream in Jakarta. I accepted in BNI Life. Law of attraction succed again^_^.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huahhh proud of you sekali adikku. Sukses selalu yaa. Jangan pernah menyerah pada mimpimu. :)

      Hapus
    2. Of course kk^_^. I know you too

      Hapus
  2. Terima kasih sudah menularkan virus-virus semangat dan motivasi. Kiss from Sidimpuan buat adek cantik yang sekarang stay in Jakarta yaaa.

    BalasHapus

Follow Me @evariyantylubis