Selasa, 01 November 2016

Ayo Peduli Sampah!

Eva Riyanty Lubis

Sumber Gambar: Kaskus


            “Buanglah sampah pada tempatnya.” Kalimat yang selalu dikatakan dan ditanamkan pada pikiran kita sejak kecil. Waku itu kita akan takut dengan hukuman yang diberi bila membuang sampah sembarangan. Namun seiring bertambahnya usia, banyak orang yang tidak peduli dengan kalimat itu lagi. Bahkan menutup mata perihal sampah.

            Sehingga dari hari ke hari, bulan ke bulan, hingga tahun berganti tahun, sampah semakin menumpuk. Apalagi di kota-kota besar seperti Medan. Padahal sampah itu sendiri akan menjadi ancaman persoalan lingkungan bila tidak diatasi dengan baik.

            Permasalahan sampah tidak akan selesai hanya karena dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) lalu dibakar. Sampah organik seperti daun, sisa-sisa makanan, dll dapat menimbulkan pencemaran berupa bau hingga ujung-ujungnya mempengaruhi kualitas air. Sedangkan sampah non organik berupa plastik, kaleng, logam, aluminimun, dsb akan memenuhi bumi karena tidak mudah terurai dan bila terbakar akan mengeluarkan gas beracun. Pertanyaan paling penting untuk kita, siapa yang akan menjadi korban karena kesalahan kita tersebut? Tentu saja kita dan anak cucu kelak yang akan merasakan dampak buruknya.

            Sebenarnya, siapa sih yang patut disalahkan karena menumpuknya sampah? Pabrik? Petugas kebersihan? Pengusaha? Atau pemerintah? Dan sebelum menjawab pertanyaan itu seharusnya kita berkaca pada diri kita sendiri. Kita sebagai manusia diberi akal dan pikiran oleh Sang Pencipta. Karena itu, kita seharusnya lebih pandai dalam memecahkan persoalan perihal sampah.

            Seperti kita ketahui, masyarakat sekarang ini terlalu konsumtif dan boros energi. Dan hal tersebut sudah pasti menambah tumpukan sampah. Beberapa tahun yang lalu, sapu tangan dan sarbet adalah pilihan utama dalam mengelap. Namun sekarang ini, hal tersebut mulai terlupakan. Orang-orang beralih menggunakan tisu. Padahal kita sendiri tahu dari mana tisu berasal dan apa efek yang dihasilkan kalau terus-menerus menggunakan tisu. Masih banyak contoh lainnya yang membuat bumi kita overload.

            Sampah memang tidak mungkin dihilangkan. Namun kita masih memiliki kesempatan dalam pengurangan sampah. Kalau dalam sehari kita membuang sampah sebanyak 3 liter, maka kurangi menjadi 2 liter, hingga seminimal mungkin. Sedikit demi sedikit kita telah berkontribusi mengatasi persoalan sampah.

            Solusi lainnya yang bisa kita lakukan adalah mengurangi penggunaan atau pembelian bahan-bahan yang berpotensi menjadi sampah, memakai kembali barang-barang yang dapat digunakan, mendaur ulang barang yang sudah tidak bisa dipakai, dan mengganti barang yang digunakan dengan barang yang bahan dasarnya ramah lingkungan.


            Bila semua masyarakat Indonesia melakukan hal ini, tentu saja sampah kita tidak akan semenumpuk sekarang. Belum lagi efek-efek lain yang membuat kita jauh lebih rugi dibanding pola pengaturan hidup seperti yang telah dipaparkan di atas. Ayo peduli sampah dan selamatkan bumi lebih cepat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Me @evariyantylubis